Chapter 4
TABIR: Ibuku dan Mbah Darto - 28 Juni 2026 - 1.343 kata
Aku mendorong pintu itu pelan-pelan.
"kiiiieeetttt...."
Engsel kayu tua berderit panjang, suara yang terdengar terlalu keras di telingaku.
Cahaya sore dari belakangku langsung menyusup masuk, terang keemasan, membutakan sejenak.
Dunia luar masih hidup — sawah yang menguning, angin yang berhembus pelan di antara rumpun bambu, suara kodok yang mulai bersahut-sahutan. Tapi begitu cahaya itu menyentuh dalam rumah, semuanya berubah.
Di dalam sini gelap.
Udara di dalam terasa berat, menyesakkan dada. Bau kayu lapuk bercampur aroma minyak urut yang menyengat, ditambah sisa wangi kemenyan yang tertinggal di sudut ruangan. Saat itu, aku merasa seolah baru saja melangkah masuk ke sebuah tempat terlarang yang seharusnya tidak pernah aku ketahui keberadaannya.
Mataku butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan remang.
Dan saat itu, aku melihat Ibu.
Ia menoleh ke arahku.
Wajahnya memerah sampai ke telinga.
Kerudungnya sudah melorot ke satu bahu, rambutnya berantakan menempel di keringat yang mengalir di dahi dan pelipisnya.
Daster merah kesayangannya — daster yang biasa ia pakai saat di rumah, yang biasa aku peluk saat tidur — kini terbuka lebar di bagian dada. Dua kancingnya lepas, sisanya longgar. Kainnya basah kuyup oleh minyak urut yang mengkilat di bawah cahaya teplok kecil di sudut bilik, menempel ketat di kulit tubuhnya yang montok, mencetak lekuk payudara dan perutnya yang naik-turun cepat.
Di depan Ibu, Mbah Darto duduk setengah telanjang. Kaus tipisnya sudah dilepas, hanya tersisa kolor hitam yang menonjol jelas. Tubuh kurus legamnya berkilau minyak.
Tangan kasarnya yang besar masih berada di pinggul Ibu, jari-jarinya mencengkeram pelan tapi tegas, seolah tidak ingin melepaskan.
Ia tidak terlihat panik.
Matanya kecil dan tajam menatapku tanpa rasa bersalah. Bukan tatapan orang yang tertangkap basah. Bukan tatapan orang yang takut. Melainkan tatapan dingin orang yang sudah terbiasa menguasai situasi.
Aku yang pada saat itu masih kecil hanya bisa membeku di ambang pintu.
Kaki telanjangku dingin menyentuh lantai semen yang anyep. Jantungku berdegup begitu keras sampai terasa seperti dentuman palu di dada kecilku — dug… dug… dug… — menggema sampai ke kepala.
Tangan kananku masih menggenggam plastik es cekek yang sudah hampir habis, cairan merahnya menetes pelan ke lantai, titik… titik… titik…, seperti darah yang menandai sesuatu yang tidak bisa dikembalikan.
Aku tidak mengerti apa yang kulihat.
Tapi tubuhku sudah mengerti.
Dada ini terasa sesak. Tenggorokan ini tercekat. Dan di suatu tempat yang sangat dalam di kepala kecilku, sesuatu mulai retak pelan-pelan, tanpa suara.
Ibu membuka mulut, seolah ingin berkata sesuatu. Tapi tidak ada suara yang keluar.
Hanya napasnya yang pendek-pendek, dan tatapan matanya yang memelas, penuh ketakutan yang tidak bisa ia sembunyikan.
Mbah Darto tidak bergerak. Ia hanya berdiri di sana, tangannya masih di tubuh Ibu, menatapku dengan senyum tipis yang tidak pernah sampai ke matanya.
Dan aku tetap berdiri di ambang pintu, antara terang dan gelap, antara dunia yang kukenal dengan dunia yang baru saja aku rusak dengan membuka pintu itu.
Ibu turun dari kasur dengan gerakan yang agak tergesa dan lemah.
Lututnya seolah goyah sesaat sebelum ia berhasil berdiri.
Daster merahnya masih basah kuyup, menempel erat di tubuhnya yang montok, mencetak setiap lekuk yang seharusnya tidak terlihat oleh anaknya.
Bau minyak urut yang pekat langsung mengikuti langkahnya, bercampur dengan keringat dan sesuatu yang hangat dan lengket.
Ia mendekatiku.
Aku masih berdiri di ambang pintu, kaki telanjangku belum sempat mundur. Ibu berhenti tepat di depanku. Jarak kami sangat dekat. Aku bisa melihat dengan jelas bagaimana minyak urut mengalir pelan di antara payudaranya yang terbuka sebagian, bagaimana kain basah itu menempel di perutnya, dan bagaimana napasnya masih belum teratur.
Tangan Ibu yang hangat dan gemetar naik ke kepalaku. Jari-jarinya yang biasa merapikan rambutku sebelum sekolah, kini mengusap pelan—sangat pelan—seperti sedang membelai sesuatu yang rapuh.
“Le…” suaranya parau, nyaris seperti bisikan yang tertahan di tenggorokan. “Bayuku sayang…”
Ia tersenyum. Senyum itu kecil, getir, dan bergetar di ujung bibirnya.
Matanya memelas, berkaca-kaca, menatapku dengan ketakutan yang disamarkan sebagai kasih sayang.
Ia tidak bertanya kenapa aku mengintip; ia justru menarikku lebih dekat, seolah ingin menyembunyikan sesuatu di balik tubuhnya.
“Kenapa masuk?” bisiknya, suaranya terdengar seperti permohonan. “Ibu udah bilang tunggu di luar, kan?”
Ibu mengusap pipiku dengan ibu jarinya. Hangat. Lembut. Namun, bau minyak urut yang menyengat dari tangannya langsung menempel di kulit wajahku, menusuk hidung dengan aroma yang asing dan kotor.
“Ibu cuma ndak mau kamu lihat Ibu kaya gini.. ibu malu Bayu...” lanjutnya, matanya menatapku tajam, seolah memohon agar aku tidak bertanya lebih jauh.
Ia mendekat, napasnya yang hangat menerpa wajahku.
“Jangan bilang siapa-siapa ya, kalau kamu lihat Ibu di sini? Bapak pasti sedih kalau tahu Ibu sampai minta tolong Mbah Darto. Kamu mau kan, jaga rahasia Ibu?”
Ia menunduk, lalu mencium keningku. Lama. Terlalu lama.
Bibirnya panas, dan di sana, di antara aroma minyak urut dan keringat yang bercampur, aku mencium bau lain—bau yang tidak bisa kupahami, namun membuat perutku mual hebat.
Ciuman itu terasa seperti sebuah permohonan, atau mungkin, sebuah perpisahan.
“Tunggu di luar ya, Le? Sebentar lagi selesai. Habis ini kita pulang.... janji?”
Aku mengangguk patuh. Saat itu, aku tidak tahu bahwa sesak di dadaku bukan karena aku merasa bersalah telah mengganggu Ibu. Itu adalah insting—sebuah alarm purba yang berteriak bahwa ada sesuatu yang salah, sesuatu yang jauh lebih gelap daripada sekadar urusan pijat Mbah Darto.
~
Dulu, aku hanya melihat Ibu sebagai sosok yang rapuh; seorang wanita yang memikul rindu sendirian di rumah kayu yang pengap, menanti Bapak yang tak kunjung pulang. Aku memuja ketegarannya, tanpa sadar bahwa di balik senyum lelah yang ia paksakan itu, Ibu sedang perlahan-lahan menyerahkan kewarasannya. Ia menukar harga dirinya sebagai tumbal, hanya demi sentuhan yang ia kira bisa mengobati lubang menganga di hatinya.
~
Aku mundur selangkah. Kaki kecilku seolah terpaku pada tanah yang lembap. Ibu baru saja menatapku—tatapan yang bukan milik Ibu yang kukenal. Itu tatapan seseorang yang sedang memohon pada sesuatu yang tidak terlihat.
Pintu itu menutup. Derit engselnya terdengar seperti erangan panjang yang memutus duniaku menjadi dua: dunia di luar yang dingin, dan dunia di dalam yang menyimpan rahasia yang tak seharusnya memiliki nama.
Aku duduk di bangku kayu.
Plastik es di tanganku sudah mencair, menyisakan tetesan air yang jatuh ke lantai semen retak.
Lalu, suara itu datang lagi. Bukan sekadar suara pijatan.
Itu suara gesekan kayu yang dipaksakan, napas yang tertahan, dan bisikan yang merayap di sela-sela dinding.
“Mbah… Bayu tadi lihat. Gimana ini, Mbah? Gimana kalau dia kasih tau ke bapaknya?” Suara Ibu bergetar, tipis seperti kertas yang hampir terbakar.
Jawaban Mbah Darto tidak terdengar seperti suara manusia. Itu rendah, berat, dan terasa memenuhi seluruh ruangan. “Aman.... Anakmu belum ngerti... Dia ndak bakal paham... wes... ndak usah dipikir...”
Aku berdiri, kakiku bergerak sendiri menuju dinding kayu yang lapuk. Ada celah di sana, lubang hitam yang seolah memanggil mataku untuk mengintip ke dalam kegelapan. Aku menempelkan wajahku ke dinding yang kasar.
~
Di sinilah benih kehancuran itu ditanam, sebuah memori yang kini menjadi parasit, menggerogoti kewarasanku setiap kali aku mencoba memejamkan mata.
Aku tidak sekadar melihat; aku sedang menyaksikan bagaimana martabat seorang ibu dilucuti, perlahan-lahan, hingga yang tersisa hanyalah bangkai harga diri yang membusuk di bawah jemari pria tua itu.
~
Di dalam, cahaya lampu minyak yang temaram menari-nari di atas kulit Ibu yang berkilau oleh minyak. Daster merahnya tergeletak di lantai, seperti kulit yang sengaja ditanggalkan.
Ia membungkuk di atas Ibu, tangannya yang kasar dan legam tidak menekan otot seperti orang yang mengurut.
Tangan itu bergerak di atas tubuh Ibu dengan pola yang aneh — pelan, melingkar, seolah sedang merajut sesuatu yang tak kasat mata ke dalam kulit Ibu.
Jari-jarinya kadang mencengkeram, kadang mengusap dengan gerakan yang tidak pantas untuk seorang dukun urut.
“Gimana… enak tah?” suara Mbah Darto terdengar lagi, rendah dan penuh arti.
“Mmpphh… enak… Mbah…” jawab Ibu dengan suara tertahan, napasnya berat.
Mbah Darto terkekeh pelan. Suaranya terdengar puas.
“Kamu sih… malah sama Bambang… ditinggal teruskan…”
“Mmpph… ouuhh… ga gitu Mbah…” suara Ibu terdengar lemah, setengah memohon, setengah pasrah.
Aku menempelkan wajah lebih dekat ke lubang.
Jantungku berdegup sangat kencang.
Waktu itu, Aku masih belum mengerti apa yang sedang terjadi.
Tapi aku tahu itu bukan urut biasa.
Ini sesuatu yang salah.
Sangat salah.
Dan di lubang kecil itu, aku terus mengintip.
Tanpa bisa bergerak.
Tanpa bisa berteriak.
Hanya bisa menonton.
Lintang Gelapbersambung…
Konten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.