Chapter 3
TABIR: Ibuku dan Mbah Darto - 28 Juni 2026 - 1.169 kata
“Bayuuu…”
Nada itu tidak keras. Tapi berbeda dari tadi. Bukan marah, bukan juga sekadar menegur. Lebih seperti Ibu takut aku terus bertanya.
Mbah Darto mundur sedikit, memberi jalan untuk Ibu. “Masuk dulu, Bu. Nanti keburu magrib.”
Ibu masih berdiri di tempatnya. Untuk beberapa detik, ia tidak melangkah. Tangannya meremas bahuku pelan, lalu melepasnya.
“Kamu tunggu di sini dulu, Yu,” katanya. “Sebentar aja.”
Aku menatap wajahnya. “Aku ikut.”
“Ibu bilang tunggu.”
Kali ini suaranya lebih pendek.
Aku terdiam.
Ibu merogoh lipatan kainnya, mengeluarkan uang dua ribu yang sudah lecek, lalu menyelipkannya ke telapak tanganku.
“Nih. Ke warung yang deket, tadi ada di pinggir jalan. Beli es atau ciki.”
Aku melihat uang itu, lalu menatap Ibu lagi. “Aku disuruh pergi?”
Wajah Ibu berubah sedikit.
Mbah Darto tidak bicara. Ia hanya berdiri di ambang pintu, menunggu.
“Ibu bukan nyuruh pergi,” kata Ibu pelan. “Ibu nyuruh kamu jajan.”
“Tapi aku bisa tunggu di sini.”
“Ke warung dulu.”
“Kalau Ibu lama?”
“Ibu nggak lama.”
Mbah Darto tersenyum samar. “Nggak lama, Le. Ibumu cuma diurut badannya.”
Ibu menoleh cepat ke arah Mbah Darto.
Lintang GelapHanya sebentar.
Tapi cukup untuk membuat kalimat itu terasa jatuh terlalu berat di antara kami.
Waktu itu Aku tidak mengerti apa yang salah. Aku hanya tahu Ibu terlihat tidak suka Mbah Darto ikut menjawab.
“Udah,” kata Ibu, kembali menatapku. Tangannya mengusap rambutku yang sebenarnya tidak berantakan. “Beli jajan dulu. Habis itu balik.”
“Janji?”
Ibu menelan ludah.
“Iya... Janji.”
Aku menggenggam uang itu sampai kusut. Saat turun dari teras, aku masih sempat menoleh.
Ibu berdiri di ambang pintu. Mbah Darto di belakangnya. Mereka tidak saling menyentuh, tidak juga mengatakan apa-apa. Tapi jarak di antara mereka terasa terlalu dekat untuk dua orang yang seharusnya hanya saling kenal sebagai tukang urut dan orang yang datang karena pegal.
Lalu pintu kayu itu bergerak pelan.
Berderit.
Dan tertutup, menyisakan celah tipis yang hanya cukup untuk melepas bau minyak urut ke luar rumah.
Aku berjalan menjauh dari rumah Mbah Darto dengan uang dua ribu yang sudah mulai lembek di telapak tangan.
Awalnya, aku masih menoleh beberapa kali.
Pintu rumah itu belum benar-benar tertutup ketika aku turun dari teras, tapi semakin jauh langkahku, semakin kecil pula celah yang bisa kulihat. Ibu tidak keluar lagi. Mbah Darto juga tidak.
Yang tertinggal hanya pagar bambu miring, daun-daun kering di halaman, dan bau minyak urut yang seolah masih menempel di hidungku meski aku sudah berjalan melewati beberapa tikungan kecil.
Jalan menuju warung kecil di ujung jalan itu lebih sepi daripada yang kuingat.
Aku mempercepat langkah.
Di kiri kanan jalan, rumpun bambu bergesekan ditiup angin.
Daun-daunnya kering, berbisik panjang di atas kepala. Sesekali sandal jepitku menginjak lumpur yang masih lembek, membuat bunyi kecil yang membuatku ingin terus menoleh.
Setelah beberapa ratus meter, aku melihat warung kecil di tepi jalan.
Warung itu tidak ramai. Seorang perempuan yang tidak kukenal duduk di kursi pendek di balik meja, tangannya sibuk merapikan barang-barang kecil di atas etalase. Ia melirikku sekilas ketika aku mendekat, lalu kembali ke pekerjaannya.
Aku berhenti di depan warung, napasku masih sedikit tersengal.
“Beli apa, Le?” tanyanya singkat.
“Es sama taro.”
“Es yang mana?”
Aku menunjuk deretan renteng minuman saset. “Yang itu.”
Ia mengambil satu, menyeduhnya dengan sedikit air di gelas plastik, lalu menuangkannya ke dalam kantong plastik kecil berisi bongkahan es batu. Ia kemudian mengambil sebungkus taro dari rak dan menyodorkannya bersama es cekek itu padaku.
“Dua ribu.”
Aku menyerahkan uang dua ribuan yang sudah kusut. Ia menerimanya tanpa banyak bicara, lalu memasukkannya ke dalam kaleng kecil di bawah meja.
Aku tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia juga tidak bertanya apa-apa.
Aku lalu mengisap es cekek itu sambil berjalan kembali ke arah rumah Mbah Darto. Rasa manisnya terlalu kuat, dinginnya membuat gigiku ngilu. Di tangan kiri, sebungkus ciki kugenggam tanpa kubuka. Aku tidak terlalu ingin makan. Aku hanya ingin cepat kembali.
Jalan kembali terasa lebih panjang.
Aku mengisap es cekek pelan-pelan sambil berjalan.
Setiap kali rasa dinginnya memenuhi mulutku, aku merasa sedikit lebih berani.
Tapi keberanian itu hilang ketika rumah Mbah Darto kembali terlihat di ujung jalan.
Pintu depannya tertutup.
Bukan setengah terbuka seperti tadi. Bukan menyisakan celah tipis. Tertutup rapat.
Aku berhenti di depan pagar bambu.
Untuk beberapa saat, aku hanya berdiri sambil menggenggam es cekek yang mulai mencair di tanganku.
Di teras, bangku kayu panjang tetap kosong. Kendi besar di sudut masih diam. Tidak ada suara orang bicara. Tidak ada langkah kaki. Tidak ada tanda bahwa Ibu akan segera keluar seperti janjinya tadi.
Aku menelan sisa es di mulutku.
“Bu..?”
Suaraku kecil. Terlalu kecil untuk sampai ke dalam rumah.
Aku melangkah melewati pagar. Tanah halaman terasa lembek. Setiap langkah membuat sandal jepitku sedikit tertahan. Aku naik ke teras pelan-pelan, masih memegang ciki dan es cekek, seolah dua benda itu bisa menjadi alasan kalau ada orang bertanya kenapa aku kembali terlalu cepat.
Di depan pintu, aku berhenti.
Bau minyak urut lebih kuat dari sebelumnya.
Aku mendekatkan telinga sedikit ke daun pintu.
Awalnya, aku hanya mendengar sunyi.
Lalu ada suara.
"Mphhhhh... pelan-pelan mbah..."
Suara itu Pelan.
Tertahan.
Seperti napas yang ditahan terlalu lama, lalu pecah menjadi rintihan kecil.
Aku membeku.
"ouhhh...."
Suara itu terdengar lagi.
Kali ini lebih jelas.
“Ibu…?”
Tidak ada jawaban.
Dadaku mulai terasa penuh. Aku tidak tahu apakah Ibu sedang kesakitan, apakah Mbah Darto sedang menekan bagian tubuh yang salah, atau apakah orang dewasa memang biasa mengeluarkan suara seperti itu saat diurut.
Di kepalaku waktu itu, semua kemungkinan masih bercampur menjadi satu. Yang kutahu hanya suara itu milik Ibu. Dan suara Ibu tidak terdengar seperti biasa.
Aku meletakkan bungkus ciki di atas bangku kayu. Es cekek masih ku genggam, tapi aku sudah lupa meminumnya. Cairan merah menetes dari ujung plastik yang kugigit, jatuh ke lantai teras setitik demi setitik.
Dari dalam, terdengar suara Mbah Darto.
Tidak jelas katanya apa.
Hanya rendah. Dekat. Seperti bisikan yang sengaja ditekan agar tidak keluar dari rumah.
"iyaa mbah... oouuhh..."
Lalu suara Ibu lagi.
Kali ini lebih pendek.
Lebih lemah.
Aku melangkah mundur setengah langkah. Ada bagian dari diriku yang ingin lari ke warung, atau kembali ke jalan, atau duduk di bawah pohon sampai Ibu keluar sendiri. Tapi bagian lain, bagian yang lebih kecil dan lebih keras kepala, tidak mau pergi.
Ibu tadi menyuruhku balik.
Ibu bilang sebentar.
Tanganku naik ke gagang pintu.
Kayunya terasa dingin dan sedikit lengket. Aku menelan ludah. Di dalam dada, jantungku berdegup terlalu keras, sampai aku takut orang di dalam bisa mendengarnya.
“Ibu?” panggilku lagi, kali ini sedikit lebih keras.
Suara di dalam mendadak berhenti.
Hening jatuh begitu cepat sampai telingaku berdenging.
Aku menunggu.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu dari dalam, terdengar gerakan tergesa. Sesuatu bergeser di atas lantai. Ada suara napas yang berubah. Ada bisikan Mbah Darto, lebih tajam dari sebelumnya.
Aku tidak mengerti apa yang terjadi.
Aku hanya tahu tubuhku sudah bergerak sebelum pikiranku sempat melarang.
Pelan-pelan, aku mendorong pintu itu.
Engselnya berderit.
Celah gelap terbuka sedikit demi sedikit.
Bau minyak urut menyerbu keluar, pekat dan panas, bercampur dengan udara pengap dari dalam rumah.
Mataku berusaha menyesuaikan diri dengan gelap.
Dan tepat saat celah pintu itu cukup lebar untuk memperlihatkan isi ruangan—
aku melihat Ibu menoleh ke arahku.
bersambung...
Konten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.