Chapter 2
TABIR: Ibuku dan Mbah Darto - 28 Juni 2026 - 998 kata
Hari itu, aku dan ibuku tidak langsung berangkat.
Setelah sarapan, Ibu masih mencuci piring, menyapu ruang tengah, memeriksa tungku, lalu beberapa kali masuk kamar tanpa membawa apa-apa.
Aku menunggu di teras sambil menggambar garis-garis di tanah dengan ranting. Dalam kepalaku, garis itu menuju sungai, tempat Joko mungkin sudah menungguku dengan pelepah pisang.
Menjelang sore, langit desa mulai kelabu. Udara terasa lembap, berat, dan berbau tanah basah.
Ibu akhirnya keluar dari kamar dengan pakaian yang lebih rapi daripada biasanya.
Lintang GelapKerudungnya sudah dipasang, kainnya dililit hati-hati, dan dompet kain kecil tergenggam di tangannya.
“Ayo, Yu.”
Aku mendongak. “Sekarang bu?”
“Iya. Sebelum gelap.”
“Nanti aku masih boleh main sama Joko?”
“Kalau pulangnya belum magrib.”
“Kalau udah magrib?”
“Ya besok.”
“Besok sekolah.”
Ibu melirikku sambil mengambil kunci dari paku dekat pintu.
Aku cemberut. “Kan tadi katanya habis makan.”
“Tadi Ibu masih ada kerjaan.”
“Dari tadi Ibu cuma bolak-balik.”
Ibu berhenti sebentar, menatapku dengan mata yang membuatku langsung menunduk.
“Bayu...”
Biasanya setelah berkata begitu, Ibu akan tersenyum kecil. Sore itu, senyumnya tidak muncul. Ia hanya mengunci pintu depan, menariknya dua kali, lalu memeriksa jendela dapur sebelum menghampiri motor tua Bapak.
Motor itu jarang dipakai sejak Bapak ke Papua. Ketika Ibu mengengkolnya, mesin hanya batuk pendek.
Lintang GelapIa mengengkol lagi. Mesin akhirnya menyala dengan suara kasar. Aku naik ke belakang, memeluk pinggang Ibu.
Punggungnya hangat, berbau sabun cuci, asap tungku, dan keringat yang mulai keluar karena udara sore yang pengap. Bau itu membuatku tenang.
Dulu, bagiku, selama masih bisa mencium bau Ibu, semuanya terasa belum terlalu jauh dari rumah.
Motor bergerak meninggalkan halaman. Roda depannya melewati genangan kecil dekat pagar.
“Pegangan yang bener,” kata Ibu.
“Udah.”
“Jangan lihat kanan-kiri terus.”
“Aku lihat kambing… tuuh”, jawabku polos sambil menunjuk kambing milik tetangga.
“Kambing nggak usah dilihat. Dia juga nggak kenal kamu.”
Aku hampir tertawa di punggungnya. Untuk sesaat, Ibu terdengar seperti Ibu yang biasa; cerewet soal sandal, kuku, baju kotor, dan semua hal kecil yang menurutku tidak penting.
Tapi setelah rumah terakhir di ujung kampung terlewati, suara Ibu mulai hilang.
Jalan desa menyempit, diapit sawah yang baru dipanen.
Batang-batang padi tersisa mencuat dari lumpur seperti jarum kuning pendek.
Sesekali ada petani pulang membawa cangkul, tapi mereka hanya menoleh tanpa menyapa. Di desa kami, orang bisa bertanya terlalu banyak tanpa membuka mulut.
“Bu, masih jauh ya?”
“Sebentar lagi.”
“Sebentar itu berapa lama?”
“Ya sebentar.”
Aku menempelkan pipi ke punggungnya. “Mbah Darto baik nggak?”
Ibu tidak langsung menjawab.
“Baik,” katanya kemudian.
Semakin jauh kami melaju, rumah-rumah mulai jarang.
Sawah berganti rumpun bambu yang tumbuh rapat di kiri kanan jalan.
Batangnya tinggi, kurus, dan saling bersentuhan di atas kepala. Angin melewati sela-selanya, menghasilkan suara desir panjang seperti bisik-bisik yang tidak selesai.
“Bu.”
“Hm?”
“Kok sepi?”
“Ini sudah masuk desa sebelah.”
“Pulangnya nggak malem, kan?”
Ibu diam sebentar.
“Nggak,” katanya akhirnya. “Nggak malem.”
Dulu aku percaya karena Ibu yang mengatakannya.
Setelah belokan terakhir, rumah Mbah Darto mulai terlihat.
Rumah itu berdiri agak menyendiri di balik pagar bambu yang sudah miring.
Atapnya kusam, beberapa bagiannya ditumbuhi lumut. Dinding kayunya gelap oleh usia dan lembap.
Di halaman depan, daun-daun kering berserakan seperti tidak pernah benar-benar disapu.
Ada bangku panjang di teras, kayunya menghitam, dan sebuah kendi besar di sudut yang permukaannya berlumut tipis.
Ibu memarkir motor di depan pagar. Begitu mesin dimatikan, keheningan langsung turun.
Tidak ada suara orang. Tidak ada radio. Tidak ada anak-anak bermain. Hanya angin yang bergesekan dengan daun bambu, dan suara kodok yang mulai bersahut-sahutan dari sawah.
Aku turun dari motor sambil menatap rumah itu.
“Ini rumahnya, Bu?”
“Iya.”
“Sepi banget.”
“Namanya juga rumah orang tua.”
Bau minyak urut sudah tercium dari teras. Pekat, panas, dan menempel di hidung.
Lintang GelapIbu berjalan lebih dulu melewati pagar bambu. Aku mengikuti di sampingnya. Di depan pintu yang setengah terbuka, Ibu berhenti. Tangannya merapikan kerudung, lalu kainnya, lalu kerudung lagi.
Dari dalam rumah terdengar suara batuk laki-laki. Berat. Serak. Dekat.
Aku merapat ke sisi Ibu.
“Bu,” bisikku. “Mbah Darto serem ngga?”
Ibu menoleh cepat. “Nggak. Jangan ngomong sembarangan.”
Sebelum aku sempat menjawab, dari dalam terdengar suara bangku bergeser. Lalu langkah kaki. Lambat. Berat. Menyeret sedikit di lantai.
Pintu terbuka lebih lebar.
Mbah Darto berdiri di ambang pintu.
Tubuhnya kurus, tapi tampak keras seperti batang kayu tua. Rambutnya putih di beberapa bagian, kulit wajahnya gelap, dan matanya kecil namun tajam. Ia memakai kaus tipis yang warnanya sudah pudar, dengan sarung lusuh dililitkan di pinggang. Bau minyak urut seperti keluar bersama napasnya.
“Bu Bela,” katanya.
Nada suaranya pelan, tapi bukan seperti orang yang baru menyambut tamu. Lebih seperti orang yang sudah tahu siapa yang berdiri di depan pintunya sejak tadi.
Ibu mengangguk. “Iya, Mbah.”
Mbah Darto menatap Ibu beberapa saat lebih lama dari yang seharusnya. Matanya turun sebentar ke kain Ibu, lalu kembali ke wajahnya.
“Agak sore ya...”
“Iya, Mbah,” jawab Ibu cepat. “Tadi... ada yang harus diberesin dulu.”
Mbah Darto tersenyum tipis. “Saya kira nggak jadi.”
Kalimat itu membuat Ibu menunduk sedikit.
Aku menatap mereka bergantian. Waktu itu aku hanya merasa ada yang aneh dari cara Mbah Darto bicara. Ia tidak terdengar seperti orang yang sedang bertanya. Ia terdengar seperti orang yang menagih sesuatu yang sudah lama disepakati.
“Jadi,” kata Ibu pelan.
Mbah Darto membuka pintu lebih lebar. Dari dalam rumah, bau minyak urut langsung keluar, pekat dan panas.
Baru setelah itu matanya turun ke arahku.
“Bawa Bayu?”
Tangan Ibu yang semula menggantung di sisi tubuhnya tiba-tiba menyentuh bahuku.
“Iya. Nggak ada yang jaga Mbah.”
Mbah Darto masih memandangku. Senyumnya tidak hilang, tapi berubah sedikit.
“Anak lanang udah gede sekarang.”
Aku mengerutkan kening.
Waktu itu Aku tidak ingat pernah bertemu dengannya, tapi cara ia mengatakannya membuatku merasa seolah ia tahu lebih banyak tentangku daripada yang kukira.
Ibu cepat-cepat berkata, “Dia nunggu di luar aja.”
Aku langsung menoleh. “Lho?”
Mbah Darto tertawa kecil. “Iya, Le. Duduk di luar aja. Di dalam sempit.”
Aku memegang ujung kain Ibu. “Aku ikut.”
“Ibu mau diurut,” kata Ibu.
“Aku duduk aja di dalam.”
“Di luar aja.”
“Kenapa?”
Ibu tidak langsung menjawab. Matanya bergerak sebentar ke arah Mbah Darto, lalu kembali kepadaku.
“Di dalam pengap.”
“Aku gapapa.”
“Bayu...”
bersambung…
Konten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.