Chapter 1
TABIR: Ibuku dan Mbah Darto - 22 Juni 2026 - 2.524 kata
Ingatanku tentang rumah selalu bermuara pada baunya.
Asap kayu bakar dari dapur belakang, tanah basah sehabis hujan sore, kain lap lembap yang menggantung dekat pintu, dan aroma tubuh Ibu yang seperti menjadi separuh nyawa dari rumah itu. Bau keringatnya menyerap ke bantal kapuk kami yang mengempis, tertinggal di kebaya rumahnya yang pudar, dan menempel pada benda-benda yang disentuhnya sejak subuh.
Rumah kami ringkih dan sempit. Dindingnya hanya susunan papan kayu yang mulai merenggang, dengan celah-celah kecil yang bersiul setiap kali angin sawah datang. Lantainya semen kasar. Kalau hujan turun terlalu lama, air akan menyusup dari bawah pintu belakang dan membuat dapur menjadi licin, anyep, dan dingin sampai menusuk telapak kaki.
Tapi bagi Bapak, semua itu sudah cukup.
Cukup untuk menampung hidup kami bertiga.
Dulu, aku percaya begitu saja.
…
Bapakku bernama Bambang. Buruh proyek yang tubuhnya tidak pernah benar-benar lepas dari bau semen dan matahari. Sudah hampir dua tahun ia bekerja di Papua, mengerjakan proyek jalan yang katanya hanya sebentar. Katanya, kalau kontrak selesai, ia akan pulang membawa cukup uang untuk memperbaiki rumah dan hidup kami.
Aku tidak benar-benar paham proyek itu seperti apa. Dalam kepalaku waktu itu, Papua hanyalah tempat yang sangat jauh; penuh hutan besar, tanah merah, hujan, dan laki-laki berhelm kuning seperti gambar di kalender toko bangunan. Setiap kali Bapak pulang, kulitnya tampak lebih gelap, telapak tangannya makin kasar, dan tas hitamnya membawa bau yang selalu sama: rokok, solar, baju lembap, dan sabun colek.
Namun, kepulangan Bapak tidak pernah lama. Kadang tiga hari, kadang lima hari, paling lama seminggu. Selama ia di rumah, Ibu akan memasak lebih banyak dari biasanya. Nasi selalu hangat, sambal selalu baru diulek, kopi hitam sudah tersedia sebelum Bapak sempat meminta. Rumah kami yang biasanya hanya berisi suara tungku dan sapu lidi tiba-tiba penuh oleh suara laki-laki: batuk Bapak, langkah Bapak, sendawa Bapak setelah makan, juga dengkur beratnya dari kamar sebelah.
Lalu setiap kali Bapak pergi lagi, rumah itu kembali sepi.
Ibu selalu mengantarnya sampai jalan depan. Ia berdiri lama dengan ujung kerudung tergenggam di dada, menatap bus antar kota menjauh sampai hilang di tikungan. Aku berdiri di sampingnya, merasakan genggaman tangannya yang terlalu erat. Waktu itu aku mengira Ibu hanya tidak suka ditinggal. Baru lama setelah semuanya lewat, aku mengerti bahwa ada orang-orang yang menggenggam sesuatu bukan karena ingin menahan yang pergi, melainkan karena takut dirinya sendiri roboh.
Lintang GelapSetelah Bapak pergi, hari-hari di rumah kami kembali panjang. Ibu bangun sebelum ayam tetangga berkokok, menimba air, menyalakan tungku, mencuci piring, menyapu halaman, menjemur pakaian, lalu duduk sebentar di bangku dapur dengan napas yang berat. Kalau ada tetangga lewat, ia tersenyum. Kalau ditanya kabar Bapak, ia menjawab singkat. Kalau ditanya kapan pulang, jawabannya selalu lebih singkat lagi.
“Belum tahu.”
Itu jawaban yang paling sering keluar dari mulut Ibu.
Belum tahu kapan Bapak pulang.
Belum tahu kapan uang kiriman datang.
Belum tahu kapan rumah diperbaiki.
Belum tahu sampai kapan ia harus mengurus rumah ini sendirian.
Telepon dari Bapak biasanya datang malam-malam. Rumah kami tidak punya telepon sendiri. Di kampung kami waktu itu, telepon hanya ada di wartel kecil milik Pak Karso dekat balai desa. Kalau Bapak menelepon dari Papua, anak Pak Karso akan berlari ke rumah kami, berdiri di halaman, lalu berteriak dengan suara cemprengnya.
“Bu Bela! Telpon dari Papua!”
Setiap kali mendengar panggilan itu, Ibu selalu berhenti melakukan apa pun. Kalau sedang mencuci, busa sabun masih menempel di pergelangan tangannya. Kalau sedang memasak, api tungku ia kecilkan seadanya. Kalau sedang menyisir rambutku, sisir itu langsung ia letakkan begitu saja di lantai. Setelah itu, ia menyambar kerudung, menarik tanganku, lalu berjalan cepat ke wartel, seolah suara Bapak bisa habis kalau kami datang terlambat sedikit saja.
…
Malam sebelum kami pergi ke rumah Mbah Darto, panggilan itu datang lagi.
Hujan baru saja berhenti. Jalan kampung masih becek, dan sandal jepitku berkali-kali terbenam lumpur. Ibu menarik tanganku tanpa banyak bicara. Kainnya sedikit terangkat agar tidak terlalu kotor, sementara napasnya terdengar berat di antara langkah-langkah yang tergesa.
Wartel Pak Karso tampak muram malam itu. Lampu neonnya berkedip-kedip, menerangi papan tarif telepon yang tulisannya mulai pudar. Di belakang meja, Pak Karso duduk sambil menghitung uang receh. Begitu melihat kami datang, ia menunjuk bilik kayu di pojok ruangan.
“Masih nyambung, Bu Bela... langsung aja.”
Ibu masuk ke bilik itu dan mengangkat gagang telepon dengan dua tangan. Aku berdiri di luar, menempelkan pipi ke kaca buram yang penuh bekas jari. Dari balik kaca, aku melihat punggung Ibu yang sedikit membungkuk, juga kabel telepon hitam yang melingkar-lingkar seperti usus plastik.
Suara Bapak terdengar pecah dari gagang telepon.
“Bu?”
Ibu mendekatkan gagang itu ke telinganya. “Iya, Pak.. ini aku.”
“Kedengeran?”
“Kedengeran.. agak kecil, tapi kedengeran.”
“Bayu ikut?”
Mendengar namaku disebut, aku menegakkan badan di luar bilik. Ibu menoleh sedikit ke arahku. Bibirnya bergerak, mencoba tersenyum, meski Bapak tidak mungkin melihat senyum itu dari Papua.
“Ikut, ini berdiri di luar.”
Dari seberang sana, Bapak tertawa pendek. Suaranya serak dan jauh.
“Bayu masih bandel nggak?”
“Bandel..,” jawab Ibu cepat, masih dengan senyum kecil. “Makin susah disuruh mandi.”
Aku ingin membantah, tapi Pak Karso duduk tidak jauh dari situ. Jadi aku hanya menunduk dan menggesek-gesekkan sandal ke lantai semen. Aku tidak merasa bandel. Aku juga tidak susah disuruh mandi. Tapi Ibu selalu mengatakan hal-hal seperti itu saat bicara dengan Bapak, seolah kenakalanku adalah bahan yang bisa membuat Bapak tertawa dan membuat percakapan mereka tidak terlalu kosong.
Setelah tawa pendek itu, sambungan telepon kembali dipenuhi suara kresek. Ada jeda panjang, lebih panjang dari biasanya, sampai akhirnya suara Bapak muncul lagi.
“Bu.”
“Iya, Pak?”
“Maaf, ya. Bulan ini kayaknya aku belum bisa pulang.”
Aku melihat punggung Ibu mendadak diam.
Saat itu aku belum tahu cara menamai diam seperti itu. Yang kutahu, tubuh Ibu seketika kaku. Ia masih berdiri di dalam bilik, masih memegang gagang telepon, tapi seperti ada sesuatu yang berhenti bergerak di dalam dirinya.
“Katanya kemarin, bulan ini balik,” suara Ibu terdengar rendah.
“Iya. Tapi mandornya bilang molor lagi. Alat berat belum masuk. Jalan masih susah. Kalau kupaksa pulang sekarang, nanti baliknya repot.”
Ibu menunduk. Jari-jarinya mulai memainkan kabel telepon, memutarnya pelan di antara telunjuk dan ibu jari.
“Berapa lama lagi?”
“Belum tahu. Mungkin dua bulan. Bisa tiga.”
Pak Karso sempat mengangkat wajah dari balik meja. Matanya bergerak ke arah bilik, lalu cepat-cepat turun lagi ke uang receh di hadapannya. Dulu aku hanya mengira ia sibuk. Sekarang, kalau mengingatnya lagi, aku merasa orang dewasa di kampung kami terlalu pandai pura-pura tidak mendengar.
“Uangnya masih cukup?” tanya Bapak dari seberang.
“Cukup.”
“Kalau kurang, bilang.”
“Cukup, Pak.”
“Jangan malu.”
“Iya.”
“Kamu sehat?”
“Sehat.”
“Jangan kecapekan. Kalau badan pegal, minta urut saja. Jangan ditahan-tahan.”
Setelah kalimat itu, Ibu mengangkat wajahnya sedikit. Dari balik kaca buram, aku melihat matanya menatap lurus ke depan, tapi bukan ke arahku, bukan pula ke arah Pak Karso. Pandangannya seperti masuk ke tempat lain. Dulu aku tidak paham. Aku hanya merasa Ibu tiba-tiba menjadi jauh, padahal tubuhnya masih berada beberapa langkah dariku.
“Bela?” suara Bapak terdengar lagi.
Ibu berkedip. “Iya, Pak.”
“Kamu denger?”
“Denger.”
“Jaga badan, ya.”
“Iya.”
“Jaga Bayu.”
“Iya.”
“Kamu jangan banyak pikiran.”
Pada kalimat terakhir itu, Ibu tidak langsung menjawab. Ia hanya memegang gagang telepon lebih erat, sampai buku-buku jarinya tampak menonjol. Baru setelah suara Bapak memanggil namanya sekali lagi, Ibu mengangguk, meski Bapak tidak bisa melihat.
“Iya, Pak. Aku nggak mikir apa-apa.”
Percakapan itu selesai tidak lama kemudian. Telepon dari Bapak memang selalu begitu. Seperti ada banyak hal yang ingin ia katakan, tapi begitu suara Ibu muncul, semuanya berubah menjadi pertanyaan-pertanyaan pendek. Sehat? Uang cukup? Bayu sekolah? Genteng masih bocor? Ibu juga begitu. Ia seperti menyimpan banyak hal di dada, tapi yang keluar hanya iya, tidak, sudah, belum.
Mereka suami istri.
Tapi setiap kali bicara lewat telepon, suara mereka terdengar hati-hati, seolah ada banyak hal yang tidak boleh keluar dari mulut masing-masing.
Sepulang dari wartel, Ibu tidak banyak bicara. Ia berjalan di depanku dengan payung yang tidak lagi dibuka, meski rintik kecil masih turun dari daun-daun pisang di pinggir jalan. Ujung kainnya basah terkena cipratan lumpur. Aku mengikuti dari belakang sambil menghitung bekas kaki kami sendiri, satu besar, satu kecil, berdampingan di tanah becek.
Di rumah, Ibu menyalakan lampu minyak di ruang tengah. Setelah melepas kerudung dan menggantungnya di paku dekat pintu, ia duduk di kursi kayu depan rumah. Aku duduk di lantai, memainkan tutup botol bekas kecap yang kugelindingkan di antara kedua kakiku.
Dari tempatku, aku bisa melihat wajah Ibu dari samping. Matanya menatap sawah yang sudah gelap. Mulutnya tertutup rapat. Kedua tangannya saling meremas di atas pangkuan, pelan, berulang, seperti sedang memeras kain yang tidak pernah kering.
Aku berhenti memainkan tutup botol.
“Bu.”
Ibu tidak langsung menoleh, matanya masih menatap sisa hujan di halaman. “Hm?”
“Bapak pulang kapan?”
Ibu mengedip beberapa kali, seperti baru ditarik dari tempat yang jauh. Ia menunduk, lalu menarikku duduk di dekat kakinya. Tangannya yang kasar mengusap kepalaku pelan.
“Ibu, belum tau.”
“Bulan depan ya?”
“Bisa aja.”
“Kalau bapak nggak jadi pulang?”
Ibu mengusap pinggangnya sendiri yang linu, lalu menatapku dengan senyum tipis.
“Ya nunggu lagi. Kan ada kamu yang nemenin Ibu di sini.”
Aku mengangguk. Dulu aku mudah percaya pada jawaban orang dewasa, meski sebenarnya mereka tidak menjawab apa-apa.
Malam itu Ibu tidur lebih larut. Aku tahu dari suara di kamar sebelah. Kasur yang berderit pelan. Lemari yang dibuka dan ditutup. Air di gayung belakang rumah. Lalu hening sebentar. Lalu derit kasur lagi.
Aku sempat bangun tengah malam untuk kencing. Saat melewati ruang tengah, aku melihat Ibu duduk sendirian di dekat jendela.
Lampu minyak hampir habis. Rambutnya terurai, bahunya sedikit membungkuk, dan di tangannya ada kain kecil yang biasa ia pakai untuk mengelap keringat. Cahaya kuning yang hampir padam membuat wajahnya tampak lebih tua daripada biasanya. Bukan tua karena umur, melainkan karena sesuatu yang berat dan tidak bisa ia letakkan di mana pun.
“Ibu belum tidur?” tanyaku.
Ibu menoleh cepat. Matanya membesar sebentar sebelum ia menarik napas dan melembutkan wajah.
“Kamu kenapa bangun?”
“Mau pipis.”
“Ya udah. Hati-hati”
Aku berjalan ke belakang. Setelah selesai, aku kembali melewati ruang tengah. Ibu masih duduk di tempat yang sama, menatap keluar jendela yang gelap. Aku ingin bertanya kenapa ia tidak tidur, tapi ada sesuatu pada punggungnya yang membuatku menelan pertanyaan itu. Dulu aku hanya merasa Ibu sedang tidak ingin diganggu. Sekarang, ingatan itu terasa lain. Punggungnya seperti terlalu penuh oleh hal-hal yang tidak punya tempat untuk diletakkan.
…
Pagi berikutnya, rumah kami kembali seperti biasa.
Hari itu Minggu. Aku tahu bukan karena melihat kalender, melainkan karena seragam sekolahku masih tergantung di paku dekat kamar, tidak disentuh Ibu sejak kemarin sore. Sepatuku juga masih terbalik di bawah meja, penuh tanah kering dari hari sebelumnya. Kalau hari sekolah, Ibu biasanya sudah ribut sejak subuh, menyuruhku mandi, menyisir rambut, dan memastikan aku tidak berangkat dengan kuku hitam.
Tapi pagi itu, suaranya tidak setajam biasanya.
Ayam tetangga berkokok terlalu dekat dari dapur. Ember seng beradu dengan bibir sumur. Kayu kering dipatahkan. Tungku dinyalakan. Wajan diletakkan di atas api. Rutinitas membuat rumah kami tampak baik-baik saja. Baru lama kemudian aku mengerti: rumah yang hampir retak pun bisa terlihat utuh selama setiap pagi masih ada nasi dimasak, pakaian dicuci, dan lantai disapu.
Aku keluar dari kamar sambil mengucek mata. Ibu sedang jongkok di depan tungku, mengenakan daster lama bercorak bunga yang warnanya sudah pudar. Rambutnya diikat asal, dan di dekat kakinya ada baskom berisi kangkung yang belum dipetik.
“Bangun, Yu,” ucap Ibu tanpa menoleh dari tungku.
Aku duduk di ambang pintu dapur, masih berat membuka mata. “Kan Minggu, Bu.”
“Memangnya Minggu boleh tidur ampe jadi karung beras?”
Aku menguap. “Aku masih ngantuk.”
“Cuci muka dulu..”
“Airnya dingin.”
“Udah jangan jawab terus”
Biasanya, kalau Ibu menjawab begitu, aku akan tertawa atau pura-pura merajuk. Tapi pagi itu suaranya hanya terdengar setengah hadir. Mulutnya bicara padaku, sementara pikirannya seperti tertinggal di tempat lain.
Aku mencuci muka di belakang. Air sumur menggigit kulit sampai tubuhku menggigil. Ketika kembali ke dapur, sepiring nasi goreng sisa semalam sudah diletakkan di meja. Nasinya agak keras, beberapa butir menggumpal karena terlalu lama di dalam bakul, tapi aku makan saja. Di rumah kami, makanan jarang ditanya enak atau tidak. Yang penting ada.
Ibu duduk di seberangku dengan secangkir kopi hitam. Ia tidak langsung meminumnya. Jarinya mengetuk pelan pinggir cangkir, nyaris tak terdengar di antara suara api tungku, tetapi gerakan itu terus berulang sampai aku memperhatikannya.
Aku mengunyah nasi sambil melirik tangannya.
“Bu.”
“Hm?”
“Habis makan aku boleh ke sungai sama Joko?”
Ibu masih menatap cangkirnya. “Ngapain ke sungai pagi-pagi?”
“Main.”
“Main apa?”
“Ya main, Bu.”
“Main kok jawabannya ya main.”
Aku menyendok nasi lagi. “Joko kemarin bilang mau bikin perahu dari pohon pisang.”
“Terus nanti pulang-pulang baju kamu basah semua?”
“Engga kok. Aku janji nggak masuk air.”
Ibu akhirnya menoleh. Matanya menatapku sebentar, seperti ingin menegur, tapi ujung mulutnya bergerak sedikit.
“Kamu itu kalau sudah lihat air sungai, pasti lupa.”
Aku nyengir kecil. “Berarti boleh?”
Ibu tidak langsung menjawab. Matanya bergerak ke pintu belakang yang terbuka. Dari sana tampak jemuran kami bergoyang pelan. Kebaya putih Ibu tergantung paling ujung, masih setengah basah. Angin membuat ujung kainnya bergerak seperti tangan orang yang sedang memanggil dari jauh.
Aku mengikuti arah pandangannya, lalu kembali menatap Ibu.
“Bu?”
Ibu seperti baru sadar aku masih menunggu jawaban. Ia mengangkat cangkir, meniup kopinya, lalu menurunkannya lagi tanpa meminum sedikit pun.
“Hari ini ikut Ibu dulu.”
Aku berhenti mengunyah. “Ke mana?”
“Ke desa sebelah.”
“Rumah siapa?”
Ibu menggeser duduknya. Bunyi kaki kursi menggaruk lantai semen.
“Rumah Mbah Darto.”
Nama itu membuatku memandang Ibu lebih lama.
Aku tahu Mbah Darto. Semua orang desa tahu Mbah Darto. Rumahnya ada di sebelah desa, setelah sawah menguning dan jalan kecil dekat rumpun bambu. Orang-orang bilang tangannya manjur. Bayi yang salah urat dibawa ke sana. Kuli bangunan yang pinggangnya sakit dibawa ke sana. Perempuan habis melahirkan juga kadang dipijat di sana. Bapak pernah sekali ke sana waktu pulang cuti. Sepulangnya, Bapak bilang boyoknya terasa enteng, meski bau minyak urut menempel di bajunya sampai dua hari.
“Ngapain ke Mbah Darto, Bu?”
“Urut.”
“Ibu sakit?”
“Pegel.”
“Pegel di mana?”
Ibu menyeruput sedikit tehnya. Setelah itu ia meletakkan cangkir dengan hati-hati, seolah takut bunyinya terlalu keras.
“Boyok. Pinggang. Kaki.”
“Kalau Ibu diurut, aku ngapain?”
“Duduk.”
“Lama ngga?”
“Nggak lama.”
“Kalau lama, aku boleh main di luar?”
“Boleh. Tapi jangan jauh-jauh.”
“Di sana ada sungai juga?”
Ibu menatapku. Kali ini benar-benar menatap, seperti baru menyadari betapa sibuknya aku mencari alasan untuk tetap bermain.
“Bayu….”
Aku langsung menutup mulut.
Nada suaranya tidak keras. Tidak juga marah. Tapi cukup untuk membuatku tahu bahwa pagi itu bukan waktu yang tepat untuk menawar terlalu banyak.
“Pokoknya ikut Ibu dulu,” katanya lebih pelan. “Nanti kalau udah pulang, kamu boleh main.”
“Bener?”
“Iya.”
“Sama Joko?”
“Asal jangan sampai magrib.”
Aku mengangguk cepat, merasa sudah menang sedikit.
Waktu itu, pegal adalah alasan yang masuk akal bagiku. Orang dewasa memang sering pegal. Bapak pegal kalau pulang dari proyek. Ibu pegal setelah mencuci banyak pakaian. Orang-orang tua di gardu pegal kalau duduk terlalu lama. Tidak ada yang aneh dari orang pegal pergi ke tukang urut.
Tapi pagi itu, meski belum bisa menyebutnya, ada sesuatu yang terasa tidak sama.
Ibu tidak membiarkanku langsung pergi, padahal hari itu Minggu dan biasanya aku bebas main selama pulang sebelum azan zuhur. Ia ingin aku ikut. Atau mungkin ia hanya tidak ingin pergi sendirian. Atau mungkin, pikiranku yang sekarang sering menambahkan dugaan-dugaan yang dulu tidak mungkin kupahami.
Konten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.