Chapter 6
Rahasia di Balik Bengkel dan Tembok Tipis Ana - 31 Mei 2026 - 3.738 kata
POV Ana
Aku terpaku di depan wastafel, menatap air yang mengucur pelan dari keran. Di sampingku, tumpukan piring dan gelas kotor milik Pak Sano tampak begitu berantakan—pemandangan yang selalu memicu rasa iba di hatiku. Terbayang betapa sunyinya hidup duda tua ini; tinggal sendirian tanpa ada yang mengurus hal-hal kecil seperti piring kotor.
Tanpa pikir panjang, aku mulai menyingsingkan lengan baju untuk meringankan bebannya. Tidak ada firasat buruk sedikit pun; tanganku hanya bergerak rutin membilas busa sabun, sementara pikiranku melayang jauh pada Firman yang mungkin sedang berpeluh di bengkel.
Lalu, tepat di saat aku baru saja meraih gelas terakhir, duniaku seolah berhenti. Sepasang tangan besar tiba-tiba melingkar erat di pinggangku dari belakang.
Aku tersentak hebat; tubuhku mendadak kaku seperti batu. Aku mengenali tekstur tangan itu—kasar, hangat, dan sangat berat. Jantungku berdegup liar karena rasa tidak percaya. Bagaimana mungkin ia berani berbuat sejauh ini padaku?
Lintang GelapLalu aku merasakan benda tumpul yang cukup keras dan panjang menekan bokongku dari belakang, tepat di balik rok merahku.
Aku tahu persis apa itu.
Karena panik, aku langsung mencoba melepas pelukannya, tubuhku bergerak gelisah.
“Pak… lepas… tolong lepas... lepasiin..!” bisikku parau. Suaraku nyaris hilang karena tenggorokanku mendadak kering.
Aku mulai meronta, bahuku bergerak keras, tapi Pak Sano justru semakin kehilangan kendali. Tubuhnya yang buncit menekan punggungku dari belakang, lengannya melingkar erat di pinggangku. Napasnya yang berat dan panas menyapu tengkukku, bau tembakau yang masih segar membuat perutku mual seketika.
Ia membenamkan wajahnya lebih dalam ke ceruk leherku, hidungnya yang kasar menggesek kulitku leherku dengan rakus, menghirup aromaku seperti orang yang kelaparan bertahun-tahun. Kemudian bibirnya yang basah dan hangat menyentuh leherku, lidahnya menjilat pelan sekali — hanya satu sapuan lambat yang membuat bulu kudukku berdiri. Rasa jijik langsung menjalar di sekujur tubuhku, tapi tubuhku malah bereaksi aneh: kulit leherku terasa panas, denyut nadi di sana berdegup kencang di bawah sentuhan tangannya yang kasar.
“Maaf, bu… maaf… bapak sudah ga tahan lagi… sekali ini aja bu... bantu bapak..." gumamnya serak di sela napasnya yang memburu. Suaranya rendah dan berat.
Tangan besarnya yang kasar dan penuh bekas noda oli itu mulai merayap naik dari pinggangku. Aku bisa merasakan urat-uratnya yang menonjol saat jari-jari tebalnya menyusuri lekuk pinggul di balik daster tipis ini. Telapak tangannya terasa panas di kulitku, terus mendaki dengan tujuan yang sangat jelas; ke dadaku.
Melihat arah tangan itu hendak menyentuh dadaku, kepanikan dalam diriku meledak. Dengan gerakan refleks, aku segera menyilangkan kedua tanganku di depan dada, mendekap diriku sendiri sekuat tenaga. Sikuku kaku, menutup aksesnya. Jantungku berdegup kencang sampai terasa di telinga, napas tersengal, udara pengap kontrakan terasa semakin mencekik.
Namun fisik Pak Sano jauh lebih kuat.
Dalam satu gerakan paksa yang singkat dan kasar, salah satu tangannya yang besar berhasil menyelinap di celah lenganku yang gemetar.
Telapaknya langsung meremas payudaraku yang kanan, payudaraku yang masih ranum, berat, dan masih sensitif pasca melahirkan putriku. Telapak tangannya menempel sempurna di kain daster tipis, menekan payudaraku dari bawah ke atas.
Ia meremas dengan kuat. Hanya satu remasan yang singkat namun sangat bertenaga. Jari-jarinya yang tebal mencengkeram daging payudaraku, menekan dan meremas dengan gerakan yang pelan, seolah-olah ingin merasakan setiap inci kelembutan yang tersembunyi di balik kain itu.
Ia menggesekkan telapak tangannya yang kasar di puncak dadaku dengan perlahan, seolah sedang menikmati ketakutanku. Lalu, rasa sakit itu datang; ia menjepit putingku di antara sela jemari tebalnya, menekan hingga panas menjalar hebat ke seluruh saraf dada, persis seperti sengatan listrik.
Aku memekik tertahan, suara pecah di tenggorokan. Rasa hancur dan terhina langsung menyebar dari dada ke seluruh tubuhku.
Kelembutan yang tadinya tenang di payudaraku seketika berubah menjadi panas membara. Kulitku menegang, pori-pori meremang hebat di bawah tekanan jemari Pak Sano yang seolah ingin merengkuh seluruh bagian diriku. Putingku yang terjepit mengeras dengan cepat—menekan balik telapak kasarnya—sebuah reaksi naluriah yang terasa seperti pengkhianatan paling kejam dari tubuhku sendiri. Ada denyut liar yang tak terkendali di sana; membuat segalanya terasa lebih penuh dan sensitif setiap kali daging payudaraku bergeser dalam cengkeramannya. Daster tipisku yang mulai lembap oleh keringat dingin terasa bergesek kasar, menambah perih di setiap remasan yang ia berikan.
Napasku menjadi berat dan tersengal. Dada naik-turun cepat, setiap tarikan napas membuat payudara yang diremas itu ikut terangkat, menekan lebih dalam ke telapak tangan Pak Sano. Bahuku menegang, lututku gemetar pelan, pinggulku tanpa sadar mundur sedikit, mencoba menjauh, tapi tubuhku malah semakin menempel ke dadanya yang buncit. Keringat dingin menetes pelan di punggungku, udara pengap kontrakan terasa semakin panas di kulit leher dan wajahku.
Aku menyentak tubuhku lebih keras, mengeluarkan sisa tenaga yang kumiliki untuk mendorong sikuku ke belakang, menghantam dadanya. Bau keringatnya semakin tajam di hidungku, bercampur bau tembakau dan minyak gosok yang lengket.
Aku berusaha memalingkan wajah, namun cengkeramannya membuatku terkunci. Napasku memburu, tersedat di tenggorokan yang terasa mencekik.
"Pak... istighfar, Pak..." bisikku parau untuk pertama kalinya. Suaraku lemah, habis ditelan deru napasnya yang membabi buta di ceruk leherku. Ia tidak mendengar. Remasannya di dadaku justru semakin menjadi, seolah ia telah tuli dan buta oleh nafsunya sendiri.
"Pak, tolong... sadar pak...sadar!!! ini ngga boleh!!" aku mencoba lagi, kali ini lebih keras, namun suaraku pecah saat ia semakin menekankan tubuhnya ke punggungku. Aku merasa jijik, takut, dan hancur sekaligus. Ia tetap tidak berhenti; lidahnya yang basah mulai berani menyentuh kulit leherku.
Tenagaku hampir habis, namun bayangan wajah Firman dan putriku tiba-tiba melintas, memberiku sisa keberanian yang paling dalam. Aku menghirup napas sebanyak yang kubisa, lalu meneriakkan namanya tepat di depan wajahnya yang sedang kalap.
"PAKKK.... ISTIGHFAR, PAK!!!! SAYA INI ISTRINYA FIRMAN!"
Suaraku menggelegar di dapur yang sempit itu, memantul di dinding-dinding lembap, merobek keheningan yang menjijikkan. Kata-kata itu keluar putus-putus, penuh getaran ketakutan yang bercampur dengan amarah yang memuncak.
Seketika itu juga, gerakan Pak Sano membeku.
Ia terdiam dengan posisi masih memelukku dari belakang, namun napasnya yang tadi menderu kini tertahan. Aku bisa merasakan tubuhnya gemetar hebat. Perlahan, sangat perlahan, cengkeramannya mengendur. Seolah-olah teriakanku tadi adalah sengatan listrik yang baru saja mencambuk kesadarannya kembali ke bumi.
Pak Sano melepaskanku dengan sentakan pelan, seolah-olah kulitku tiba-tiba berubah menjadi bara api yang membakarnya. Ia melangkah mundur dengan terhuyung-huyung, bahunya membungkuk dalam sekejap. Wajah yang tadi tampak buas dan gelap, kini luruh—berganti menjadi topeng kepanikan yang rapi. Mata sipitnya melebar ketakutan, dan bibirnya bergetar hebat hingga suaranya nyaris tak terdengar.
"Astagfirullah... Bu Ana... saya..." ia menutup mulutnya dengan tangan yang gemetar.
Ia terus mundur sampai punggungnya membentur dinding dapur, kepalanya menunduk begitu dalam seolah ingin menghilang ke dalam lantai.
"Maaf, Bu... maafin bapak... bapak khilaf..." suaranya rendah, parau oleh isakan penyesalan yang terdengar begitu tulus di telingaku yang masih berdenging. Tangannya menggantung lemas di sisi tubuh, tak lagi memiliki sisa keberanian untuk menatap mataku.
Aku tidak menjawab. Napasku masih tersengal-sengal, dada naik-turun cepat, payudara kananku masih terasa panas dan perih bekas remasannya. Dengan tangan yang kaku dan masih mendekap dada sekuat tenaga — berusaha menutupi jejak sentuhannya yang masih terasa membara di kulitku — aku menyambar wadah makanan itu dari wastafel.
Tanpa berani menoleh lagi, aku berbalik dan lari keluar dari kontrakan itu. Langkahku cepat menyusuri gang sempit yang ditengah terik matahari yang menyengat, yang langsung menyapa wajahku yang panas, tapi setiap jengkal kulit leher dan dada yang tadi tersentuh terasa sangat kotor, lengket, seperti oli hitam yang tak bisa dibersihkan.
Aku pulang dengan hati yang kacau, langkah tergesa, air mata menggantung di pelupuk tapi kupaksa untuk tidak jatuh.
Lintang Gelap...
Aku sampai di rumah pukul 13.30 siang.
Matahari sudah cukup tinggi, cahayanya menyilaukan. Aku melihat Firman sedang sibuk di bengkel, tubuhnya membungkuk di atas motor pelanggan, tangannya hitam oli, keringat menetes di dahinya. Ia begitu fokus, tidak menyadari kehadiranku yang baru pulang.
Karena melihat suamiku sedang sibuk, aku tidak mau mengganggu. Aku langsung masuk ke rumah melalui pintu depan, langkahku pelan dan berat.
Di ruang tamu, Cynthia sedang duduk di lantai, matanya tertuju ke televisi yang menayangkan kartun anak-anak. Begitu melihatku, ia tersenyum lebar dan merentangkan tangan kecilnya.
“Mama…”
Aku langsung menghampirinya, berlutut, lalu memeluknya erat. Aku menekankan wajahku ke rambut halusnya yang harum sabun bayi, menghirup aroma anakku dalam-dalam.
Cukup lama aku memeluknya seperti itu.
Sisa-sisa perbuatan Pak Sano di kontrakannya tadi masih menempel lekat di tubuhku—seperti noda yang menolak untuk luruh. Pelukan kasar dari belakang, tekanan keras yang menjijikkan di bokongku, hingga remasan jemari tebalnya di dadaku—semuanya terus berputar di kepala, menyatu dengan deru napas beratnya yang masih terasa panas di leherku. Aku benar-benar tidak menyangka ia tega mengkhianati kebaikanku dengan sehina ini. Dadaku terasa disumbat batu; napasku masih tersengal, berpacu dengan rasa kecewa yang kini mulai berubah menjadi mual.
Aku mencoba menenangkan diri, memeluk buah hatiku lebih erat, seolah pelukan kecil Cynthia bisa menghapus semua yang baru saja terjadi.
Setelah hampir 30 menit, tubuhku terasa sangat capek. Emosi, kelelahan, dan shock bercampur jadi satu. Aku menggendong Cynthia yang sudah mengantuk ke kamar, membaringkannya di kasur kecilnya, lalu aku berbaring di ranjang utama.
Aku mencoba tidur siang, berharap saat bangun nanti, semua kenangan buruk tadi akan hilang.
Tapi setiap kali memejamkan mata, aku masih merasakan hembusan napas Pak Sano di tengkukku, dan tekanan benda keras itu di bokongku.
Aku mencoba untuk memejamkan mata, berusaha melupakan apa yang baru saja terjadi.
Tapi rasa kecewa dan shock itu… masih tetap ada.
....
Ana terbangun jam 4 sore.
Ia membuka mata perlahan, cahaya sore yang jingga masuk samar melalui jendela kamar. Tubuhnya terasa lebih ringan, shock tadi siang sudah tidak begitu terasa lagi. Pikirannya mulai jernih, meski bayangan pelukan Pak Sano dari belakang masih samar-samar muncul, tapi ia berusaha mengusirnya dengan cepat.
Ia bangkit dari ranjang, merapikan rambutnya yang acak-acakan, lalu keluar dari kamar. Ia mencoba menyibukkan diri di dapur, menyiapkan bahan-bahan untuk makan malam. Potong sayur, tumis bumbu, goreng ikan — gerakan rutin yang biasa ia lakukan setiap hari. Aroma masakan mulai memenuhi rumah, seolah bisa menutupi kegelisahan yang masih tersisa di dada.
Setelah masakan matang, ia memandikan Cynthia yang kecil. Air hangat mengalir pelan, ia sabuni tubuh mungil anaknya dengan lembut, lalu memakaikan baju tidur berwarna pink yang lucu. Cynthia tertawa kecil saat Ana mencium pipinya berkali-kali.
“Cantiknya gadis mama…” bisik Ana sambil tersenyum.
Setelah itu, ia duduk di kursi ruang tamu, menunggu suaminya pulang. Tangan kanannya sesekali mengusap perutnya yang sudah rata, pikirannya melayang sebentar, tapi ia cepat mengalihkannya dengan mengambil remot televisi dan menyalakan acara ringan.
Tak lama kemudian, Firman pulang. Ia masuk dengan tubuh penuh oli, wajahnya lelah tapi senyumnya tetap hangat.
“Dek… aku pulang.”
Ana berdiri, tersenyum seperti biasa.
“etsss... mandi dulu ya, biar bersih.”
Firman mengangguk.
“Iya, dek. Aku mandi dulu.”
Setelah Firman selesai mandi dan berganti baju bersih, ia mendekati Ana yang sedang duduk di sofa. Ia duduk di samping istrinya, tangannya memegang tangan Ana dengan lembut.
“Gimana tadi jenguk Pak Sano, dek? Kondisinya udah baikan?”
Ana tersenyum kecil, suaranya tenang.
“Udah mulai sembuh, Mas. Katanya demamnya udah turun, tapi masih lemas. Aku tinggalin nasi dan lauk tadi.”
Ia tidak bercerita apa yang sebenarnya terjadi di kontrakan Pak Sano. Tidak ada kata tentang pelukan dari belakang, tentang benda keras yang menekan bokongnya, tentang rasa shock dan kecewa yang sempat melanda.
Ana memilih diam.
Ia masih mencoba menjaga keluarga yang harmonis ini, suami yang bekerja keras, anak yang lucu, rumah yang sederhana. Ia tidak ingin semuanya hancur hanya karena satu kesalahan yang ia sendiri belum tahu harus bagaimana menghadapinya.
Firman mengangguk, tersenyum lega.
“Syukurlah… besok coba aku telpon , siapa tahu perlu bantuan.”
Ana hanya mengangguk pelan, tangannya masih digenggam Firman.
Malam itu, mereka makan malam bersama seperti biasa. Firman bercerita tentang pelanggan hari ini, Ana mendengarkan sambil tersenyum. Tapi di balik senyum itu, ada rahasia yang semakin berat ia pikul sendirian.
Setelah makan malam selesai, mereka berdua duduk di sofa ruang tamu, menonton televisi bersama. Firman duduk santai, Ana duduk di pangkuannya, kepalanya bersandar di dada suaminya. Layar TV menyala dengan acara ringan, suara tawa dari acara komedi samar-samar terdengar.
Jam dinding menunjukkan pukul 9 malam.
Tiba-tiba Firman menggendong Ana dengan kedua tangannya. Ana meronta pelan sambil tertawa kecil, suaranya manja.
“Massss… turunin…”
Firman hanya tersenyum, tidak banyak bicara. Ia langsung membopong tubuh Ana yang semok ke dalam kamar. Ana tahu — saat suaminya seperti ini, berarti ia sedang ingin.
Di kamar, Firman meletakkan Ana di ranjang dengan lembut, lalu langsung menciumi bibirnya dengan rakus. Tangan suaminya langsung kemana-mana, menggerayangi tubuh Ana yang masih berisi, meremas payudara, mengusap pinggul, meraba bokong yang montok.
Ana hanya tertawa kecil, gemas.
Firman yang sudah nafsu langsung membuka pakaian Ana satu persatu tanpa tersisa sehelai benang pun. Ia melepas daster merah Ana, lalu bra, dan celana dalamnya. Setelah itu ia melepas pakaiannya sendiri. Kontol Firman menyembul keluar, kontol standar, tidak begitu besar, bahkan sedikit kecil dari ukuran rata-rata pria Indonesia.
Ana melihat penis suaminya sebentar. Tiba-tiba bayangan kontol Pak Sano muncul di pikirannya — lebih besar, lebih tebal, lebih berurat. Ia cepat mengusir bayangan itu, tapi sudah terlambat.
Firman langsung melakukan penetrasi tanpa foreplay yang lama. Ana sedikit tersentak, lalu mengejek suaminya dengan nada gemas sambil mencubit lengannya pelan.
“Mass iniii... langsung main masukin aja… bener-bener yaa... ngga sabaran iihhh…”
Firman hanya tersenyum, lalu mencumbui Ana dengan rakus. Mereka pun saling berhubungan suami istri seperti biasa.
Namun, seperti biasanya, Firman keluar duluan. Kali ini hanya sekitar 2 menit penetrasi, ia sudah mengerang pendek, tubuhnya menegang, lalu ambruk lemas di samping Ana. Napasnya langsung teratur, tanda ia sudah hampir tertidur.
Ana yang belum terpuaskan hanya diam. Tubuhnya masih panas, tapi Firman sudah mendengkur pelan di sampingnya. Tanpa foreplay yang memadai, jelas ia masih belum merasakan apa-apa yang berarti.
Ia menatap langit-langit kamar sambil kecewa.
Semenjak bengkel ramai, Firman memang semakin jarang memberi nafkah batin yang cukup baginya… alasannya selalu capek…
...
Malam itu, Ana masih terbangun. Batinnya tertekan. Ia mencoba memejamkan mata, tapi pikirannya tidak tenang.
Tiba-tiba HP-nya di meja samping ranjang menyala. Ada pesan masuk.
Ana melirik ke arah Firman yang sudah tidur nyenyak, lalu pelan-pelan meraih ponselnya.
Ana mencoba membuka pola kunci HP-nya dengan jarinya. Layar menyala redup di kegelapan kamar. Ada notifikasi WhatsApp dari Pak Sano.
Ia membukanya pelan, napasnya tertahan.
Pesan dari Pak Sano masuk bertubi-tubi, dikirim beberapa menit yang lalu.
“bu maaf, saya benar-benar khilaf tadi siang"
"saya ngga tahu kenapa bisa seperti itu."
"saya minta maaf sebesar-besarnya”
“bu saya tahu saya salah. Saya sudah tua, seharusnya bisa menahan diri tapi saya kesepian sekali, bu"
"sudah lama ngga ngrasain kehangatan seorang perempuan. Maaf saya bener bener minta maaf"
“saya ngga bermaksud membuat Ibu takut atau kecewa."
"Tolong maafkan saya… saya janji ngga akan begitu lagi.”
Ana membaca satu per satu pesan itu dengan matanya, yang membuat panas di kupingnya. Wajahnya memerah, campuran antara malu, marah, dan rasa yang sulit dijelaskan. Kata-kata “kesepian” dan “kehangatan seorang perempuan” terasa seperti jarum kecil yang menusuk dada.
Ia tidak membalas satu pun pesan itu.
Tanpa suara, ia mematikan layar HP-nya, lalu meletakkannya kembali di meja samping ranjang.
Ia kembali berbaring di samping Firman yang masih mendengkur pelan. Matanya terbuka lebar, menatap plavon kamar yang gelap.
Bayangan tangan Pak Sano yang memeluknya dari belakang tadi siang, hembusan napasnya di leher, dan benda keras yang menekan bokongnya… semuanya kembali muncul.
Ana terbaring dengan mata terbuka, menatap plavon kamar yang gelap. Pikirannya tidak bisa diam. Pesan dari Pak Sano terus berputar di kepalanya, berulang-ulang seperti rekaman yang tak mau berhenti.
“Maaf… saya khilaf… saya kesepian sekali… sudah lama tidak merasakan kehangatan seorang perempuan…”
Awalnya ia merasa marah dan kecewa. Tapi semakin lama ia mengulang kata-kata itu dalam hati, semakin ia mulai memahami. Ia juga merasakan kesepian yang sama — bukan sepi karena tinggal sendirian di rumah, tapi sepi di dalam batin. Ia punya suami, tapi suaminya semakin jarang memberi kehangatan yang ia butuhkan. Firman bekerja keras, pulang lelah, dan keintiman mereka semakin singkat, semakin dingin.
Cukup mirip dengan Pak Sano.
Yang membedakan hanyalah… Pak Sano tidak punya pelampiasan sama sekali. Sementara Ana setidaknya masih punya Firman, meski jarang.
Perlahan, Ana mulai memaklumi apa yang dilakukan Pak Sano tadi siang.
...
Mungkin… itu memang khilaf. Lelaki mana yang ngga khilaf kalau melihat diriku? Tubuhku yang sudah berisi setelah melahirkan, payudara yang besar, bokong yang berisi… apalagi tadi aku memakai kaos yang cukup ketat dan rok selutut. Lelaki mana yang ngga tertarik? Apalagi seorang duda tua yang sudah lama sekali ngga merasakan kehangatan seorang wanita…
...
Ana menghela napas pelan di kegelapan.
Ia berdamai dengan dirinya sendiri.
Sudahlah… anggap aja itu khilaf. Aku juga ngga sepenuhnya bersih. Aku yang datang ke kontrakannya, aku yang duduk di sampingnya…
Pikirannya mulai stabil. Rasa marah dan shock tadi siang perlahan mereda, digantikan oleh rasa iba yang lebih dalam terhadap Pak Sano, dan sedikit pengertian terhadap kelemahan laki-laki itu.
Akhirnya, setelah bergulat cukup lama dengan pikirannya, Ana merasa tubuhnya mulai berat. Matanya perlahan terpejam.
Ia tertidur dengan napas yang lebih tenang.
Di sampingnya, Firman masih mendengkur pelan, tidak tahu apa yang sedang bergolak di hati istrinya.
Dan di kontrakannya, Pak Sano juga terbaring dengan mata terbuka, menunggu balasan yang tak kunjung datang.
Malam itu, keduanya tidur dengan pikiran yang berbeda, tapi terhubung oleh satu rahasia yang semakin dalam.
…
Esok paginya, pagi hari berjalan seperti biasa.
Ana menyapu halaman bengkel dengan sapu lidi, gerakannya pelan dan teratur, membersihkan debu, serpihan besi, dan tumpahan oli kemarin. Cahaya matahari pagi menyinari wajahnya yang masih agak lelah, kerudung lebarnya bergoyang pelan ditiup angin pagi. Dasternya yang tipis menempel ringan di tubuhnya yang berisi pasca melahirkan.
Firman di sampingnya sedang menyiapkan peralatan bengkel. Ia mengatur kunci pas, obeng, dan botol oli di rak-rak kerja, gerakannya cepat tapi lelah. Tubuhnya sudah basah keringat meski hari baru saja dimulai.
Firman melirik istrinya sambil mengusap dahinya.
“Dek… Pak Sano hari ini masuk ngga yaa? Kemarin dia sakit, tapi seharusnya sekarang udah mendingan.”
Ana menggeleng pelan, suaranya biasa saja.
“Aku juga ngga tau, Mas.. Kemarin dia bilang udah agak baikan, tapi mungkin masih lemas.”
Mereka berdua berharap Pak Sano sudah sembuh dan bisa kerja lagi. Bengkel semakin ramai, dan kehadiran Pak Sano sangat membantu Firman.
Jam 8 pagi, bengkel mulai ramai. Pelanggan datang satu per satu, motor-motor parkir memenuhi halaman. Jam 9, antrian semakin panjang. Jam 10, Firman sudah mulai kewalahan sendirian. Ia bolak-balik antara mesin satu dan mesin lain, keringat membasahi bajunya.
Ana yang sedang di warung juga agak heran.
Kenapa Pak Sano belum juga datang? Kemarin dia sudah mendingan… harusnya hari ini dia udah bisa masuk.
Ia mencoba berpikir, apakah gara-gara kejadian kemarin, Pak Sano jadi takut datang ke sini.
Daripada banyak pikiran, Ana memutuskan untuk menjenguk lagi. Ia ingin tahu mengapa Pak Sano tidak datang. Mungkin ia juga perlu mendengar alasan Pak Sano dan mencoba memaafkan serta memakluminya.
Ia pun mengajak anak perempuannya, Cynthia, sebagai “tameng”. Setidaknya ada anaknya yang bisa menjadi pengaman agar Pak Sano tidak berbuat aneh-aneh lagi.
“Mas… aku mau ke kontrakan Pak Sano sebentar, lihat kondisinya.” kata Ana kepada Firman.
Firman mengangguk tanpa curiga.
“okee, sayang. Hati-hati ya. Kalau perlu, bawa Cynthia saja biar kamu ngga sendirian.”
Ana menggendong Cynthia yang kecil, lalu pergi menuju kontrakan Pak Sano naik ojek.
…
Siang itu matahari bersinar terik di langit biru yang hampir tanpa awan, udara terasa panas dan kering, angin hanya berhembus pelan sekali-sekali, membawa bau tanah kering bercampur sedikit asap knalpot dari jalan raya di depan. Ana sampai di ujung gang, ia turun disitu, ia turun dari motor ojek online dan mengucapkan terima kasih, Pak ojeknya pun setelah menerima uang langsung pergi meninggalkannya, ia melanjutkan langkahnya masuk ke gang yang lebih dalam. Ia menggendong Cynthia yang tertidur pulas di pelukannya, kepala kecil anaknya bersandar nyaman di bahunya.
Lintang GelapAna memakai kemeja biru navy berlengan panjang yang pas di tubuhnya, kainnya tipis sehingga sedikit menempel di kulit karena keringat siang. Rok hitam panjang bergoyang pelan mengikuti langkah. Ia memakai jilbab pashmina warna biru tua lebih gelap dari biru kemejanya. Wajahnya masih agak lelah, tapi senyumnya tetap lembut saat ia sesekali mengecup puncak kepala Cynthia. Ana belajar dari kesalahannya kemarin yang tidak memperhatikan pakaiannya, dimana pakaian kemarin baginya cukup mengundang nafsu seorang pria.
Dari kejauhan, kontrakan Pak Sano terlihat sepi. Pintu kayunya masih tertutup rapat, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Jendela kecilnya juga tertutup, tirainya tergantung diam. Ana merasa sedikit heran, tapi ia terus melangkah mendekat.
Sesampainya di depan pintu, ia mengetuk pelan.
Tok… tok…
Tidak ada jawaban.
Ia mengetuk lagi, kali ini sedikit lebih keras.
Tok… tok… tok…
“Pak Sano… ini Ana,” panggilnya dengan suara lembut tapi cukup jelas.
Masih tidak ada jawaban.
Ana menunggu sebentar, lalu mengetuk lagi berulang-ulang, lebih lama kali ini.
Tok… tok… tok… tok…
“Pak… Bapak di dalam kan?”
Cukup lama ia berdiri di depan pintu, keringat mulai menetes di pelipisnya karena panas siang. Cynthia masih tertidur nyenyak di gendongannya, tubuh kecilnya hangat dan berat.
Akhirnya, pintu terbuka pelan dengan suara kayu yang sedikit berderit.
Pak Sano berdiri di ambang pintu. Wajahnya masih agak pucat, tapi sudah tidak semerah kemarin. Rambutnya acak-acakan, kaos oblong abu-abu lusuh menempel di tubuhnya yang sedikit berkeringat. Matanya tidak berani menatap langsung ke mata Ana, pandangannya agak turun, wajahnya canggung dan penuh rasa tidak enak.
“Bu…” sapanya pelan, suaranya rendah dan agak serak.
Ana tersenyum kecil, mencoba menjaga nada suaranya tetap sopan.
“Pak… Bapak sudah baikan?”
Pak Sano mengangguk pelan, tapi masih tidak berani menatap mata Ana lama-lama.
“Alhamdulillah sudah agak mendingan, Bu… masuk dulu, gangnya sempit, nanti mengganggu orang yang lewat.”
Ana mengangguk, lalu melangkah masuk sambil menggendong Cynthia yang masih tertidur pulas. Bau kontrakan yang pengap langsung menyambutnya — campuran rokok lama, obat batuk, dan sedikit aroma keringat laki-laki tua. Ruangan kecil itu terasa lebih sempit karena kehadirannya.
Pak Sano menutup pintu pelan di belakangnya.
Lintang GelapDan di dalam kontrakan yang remang itu, Ana duduk di lantai dengan anaknya di pangkuan, sementara Pak Sano duduk di depannya dengan wajah yang masih canggung, tidak berani menatap mata Ana langsung.
Mereka saling diam sebentar.
Ana yang datang dengan niat baik, ingin memastikan Pak Sano sudah baikan, ingin memaafkan apa yang terjadi kemarin, kini merasa ada sesuatu yang berbeda. Pak Sano yang biasanya sopan dan tenang, kini terlihat gelisah, matanya sesekali melirik ke arah Ana dengan tatapan yang tidak biasa.
Dan Pak Sano… di dalam hatinya, ada badai yang semakin kuat.
Ia sesekali menatap wajah Ana yang duduk dengan jilbab rapi dan pakaian yang sopan, senyumannya yang manis, tubuhnya yang tertutup tapi justru membuat imajinasinya semakin liar. Ia tahu — ia seharusnya mengakui kesalahannya dengan tulus.
Tapi nafsu yang sudah lama tertahan, ditambah kehadiran Ana yang begitu dekat, membuat hatinya semakin goyah.
Apakah ia akan benar-benar mengakui kesalahannya dan berhenti?
Atau… ia akan khilaf lagi?
Ana duduk diam, tidak tahu bahwa di depannya, seorang duda tua sedang berjuang antara penyesalan dan keinginan yang semakin membara.
Dan di kontrakan kecil yang pengap itu, udara terasa semakin tebal, seolah sedang menunggu satu gerakan kecil yang akan mengubah segalanya.
Konten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.