Chapter 7
Rahasia di Balik Bengkel dan Tembok Tipis Ana - 31 Mei 2026 - 4.145 kata
Ana masih menggendong Cynthia yang tertidur pulas di pangkuannya. Tubuh kecil anaknya terasa hangat dan berat, nafasnya teratur menyentuh leher Ana. Ruangan kontrakan Pak Sano terasa pengap, cahaya siang yang masuk dari jendela kecil hanya cukup menerangi separuh ruangan, sisanya gelap dan lembab. Pak Sano duduk di tepi kasur, matanya sesekali melirik ke arah Ana dan anaknya. Ia mencoba memecah keheningan dengan suara yang lembut dan sopan, berusaha mencairkan suasana yang masih agak canggung. “Cynthia tidurnya pulas yaa.. bu? dari tadikah tidurnya?” suara Pak Sano terdengar berat dan pecah, sisa demam masih membekas di tenggorokannya. Ana menunduk, tangannya bergerak ritmis mengusap punggung anaknya yang terbalut kain gendongan. “iya pak pas di jalan tadi, naik ojek langsung ketiduran.” Pak Sano tersenyum kecil. Tatapannya teduh, tipe tatapan pria dewasa yang tampak kebapakan namun entah kenapa terasa terlalu lama hinggap di wajah Ana. “ibu ngga capek gendong terus dari tadi? ngga pegalkah bu?,” ia menjeda kalimatnya, memberikan perhatian yang terasa pas namun menyesakkan. “kalau Ibu ngga keberatan, tidurin saja Cynthia di kasur ini, kasihan punggungnya kalau menekuk terus di gendongan.” Ana menatap pipi bulat anaknya yang kemerahan karena hawa panas. Tawaran Pak Sano terdengar logis, bahkan sangat baik. Lengannya memang sudah mulai kesemutan
Chapter ini membutuhkan 1 Ink untuk dibaca. Saldo kamu saat ini 0 Ink.
Akses chapter ini bersifat pribadi dan dilindungi hak cipta. Distribusi ulang tanpa izin tidak diperbolehkan.
Masuk untuk MembeliKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.