Chapter 5
Rahasia di Balik Bengkel dan Tembok Tipis Ana - 31 Mei 2026 - 2.987 kata
Langit sore mulai meredup, cahaya kuning keemasan menyinari halaman bengkel yang masih berantakan alat-alat. Firman sedang membereskan perkakas ketika melihat istrinya datang. Ia langsung menghentikan pekerjaannya, tersenyum lelah tapi hangat. “Sudah pulang, Sayang? Gimana keadaan Pak Sano?” Ana mendekat, suaranya pelan dan penuh keprihatinan. “Demam, Mas. Badannya panas sama lemas. Dia bilang sudah minum obat, tapi masih sendirian di kontrakan. Aku tinggalin nasi dan lauk tadi, moga aja dia mau makan.” Firman menghela napas panjang, wajahnya tampak iba. “Kasihan… duda tua, tinggal sendirian... smoga cepat sembuh ya... Besok pagi aku coba telpon lagi, siapa tahu perlu dibawakan obat atau apa.” Ana mengangguk kecil. “Iya, Mas… aku juga kasihan... dia kelihatan benar-benar ngga enak badan.” Mereka berdua berdiri sebentar di depan bengkel yang mulai sepi. Jam dinding di warung sudah menunjukkan pukul lima sore. Matahari mulai condong ke barat, cahayanya semakin jingga dan lembut. Firman mengusap tangannya yang kotor dengan kain lap, lalu tersenyum tipis ke arah Ana. “Hari ini lumayan ramai dek... tapi capek juga yaa.... kamu juga pasti lelah sehabis jenguk Pak Sano.” Ana tersenyum lembut, meski di dalam hatinya ada beban yang tak terucap. “Biasa saja, Mas.” Mereka saling berbincang sebentar tentang hari itu — pelanggan yang datang,
Chapter ini membutuhkan 1 Ink untuk dibaca. Saldo kamu saat ini 0 Ink.
Akses chapter ini bersifat pribadi dan dilindungi hak cipta. Distribusi ulang tanpa izin tidak diperbolehkan.
Masuk untuk MembeliKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.