Chapter 55
Rahasia di Balik Bengkel dan Tembok Tipis Ana - 20 Juli 2026 - 4.272 kata
Air mata Mas Firman jatuh tepat di pipi Farhan. Satu tetes kecil yang membuatku berhenti di ambang pintu. Suamiku segera menunduk, mencium kening Farhan seolah tidak terjadi apa-apa, tetapi bahunya masih naik turun menahan napas. “Mas…” Mas Firman mengusap pipinya dengan punggung tangan. “Kenapa?” tanyanya tanpa menatapku. “Harusnya aku yang tanya begitu.” Aku melangkah mendekat. Farhan masih terlelap di lengannya, tidak terganggu sedikitpun oleh pelukan Mas Firman yang begitu erat. “Dari tadi Mas aneh,” lanjutku. “Pulang lama, matanya merah, terus sekarang nangis. Ada apa?” “Mas nggak nangis.” “Terus itu apa?” Aku menunjuk bekas basah di pipinya. Mas Firman tersenyum kecil, tetapi wajahnya justru terlihat semakin lelah. Tangannya kembali mengusap punggung Farhan dengan gerakan pelan. “Kelilipan.” “Kelilipan kok dua-duanya merah?” Ia tidak menjawab. Aku menunggu beberapa saat, berharap Mas Firman akhirnya mengatakan sesuatu. Namun, ia malah melepas jaketnya dengan satu tangan, lalu menggantungkannya di sandaran kursi teras. Gerakannya hati-hati agar Farhan tidak terbangun. “Mas…” “Nanti malam kita ngobrol.” Dadaku langsung terasa tidak nyaman. “Ngobrol apa?” “Setelah anak-anak tidur.” “Kenapa harus nanti?” Mas Firman akhirnya menatapku. Matanya masih basah, tetapi tidak ada kemarahan di sana. Tidak ada tatapan curiga seperti yang beberapa kali kulihat dalam beberapa bulan terakhir. Justru itu yang membuatku
Chapter ini membutuhkan 4 Ink untuk dibaca. Saldo kamu saat ini 0 Ink.
Akses chapter ini bersifat pribadi dan dilindungi hak cipta. Distribusi ulang tanpa izin tidak diperbolehkan.
Masuk untuk MembeliKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.