Chapter 54
Rahasia di Balik Bengkel dan Tembok Tipis Ana - 13 Juli 2026 - 2.397 kata
"Waaaaaaa!" "Uweeee!" "Waaaaaaaaaaaa!" Tangis Farhan memecah kesunyian gang kecil ini. Raungannya panjang dan menyesakkan, membuat tubuh mungilnya menegang kaku dalam pelukanku. Wajahnya merah padam, jemarinya mengepal kuat, dan setiap kali aku mencoba menepuk punggungnya, tangis itu justru semakin melengking liar. "Cup-cup, Nak... tenang, sayang," bisikku sambil menggoyang tubuhnya dengan ritme panik. Di sampingku, Cynthia menarik-narik ujung dasterku. Langkahnya tersendat, berusaha mengikuti langkahku yang tak beraturan. "Ibu…, dedek haus ya?" "Udah minum tadi, kak," jawabku cepat, mungkin terlalu cepat. Aku terus melangkah menyusuri gang samping rumah. Matahari sudah cukup tinggi, menciptakan bayangan pagar dan jemuran yang miring di atas tanah. Bau bawang tumis dari celah pintu kontrakan menyeruak, bercampur dengan hawa panas dan debu jalanan yang menyesakkan dada. Farhan masih meraung. Kepalaku mulai berdenyut hebat. Tepat saat itu, sebuah suara berat laki-laki memotong kebisingan, terdengar dari teras salah satu kontrakan. "Ana..." Langkahku terhenti. Bukan karena kaget, tapi karena suara itu selalu punya cara untuk membuat napasku tertahan. Pak Sano duduk di kursi plastik. Kemejanya belum terkancing rapi, rambutnya sedikit basah. Tapi matanya tidak menatapku. Matanya langsung terkunci pada Farhan. Tangis bayi itu masih memenuhi gang sempit di antara kami. Pak Sano berdiri. Tanpa basa-basi. Ia melangkah mendekat, mengabaikan jarak yang seharusnya
Chapter ini membutuhkan 4 Ink untuk dibaca. Saldo kamu saat ini 0 Ink.
Akses chapter ini bersifat pribadi dan dilindungi hak cipta. Distribusi ulang tanpa izin tidak diperbolehkan.
Masuk untuk MembeliKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.