Chapter 51
Rahasia di Balik Bengkel dan Tembok Tipis Ana - 25 Juni 2026 - 2.845 kata
Aku menahan napas. Jempolku turun sedikit. Lalu… menekan. Pesan terkirim. Layar langsung meredup, seolah ingin menyembunyikan apa yang baru saja kulakukan. Tapi tidak ada yang bisa disembunyikan lagi. Dadaku berdegup sangat kencang sampai terasa sakit. Aku cepat-cepat meletakkan ponsel telungkup di meja kecil, tanganku gemetar. Mas Firman masih tertidur pulas di sampingku. Napasnya teratur. Punggungnya naik-turun pelan. Ia tak tahu. Ia tak akan pernah tahu… setidaknya malam ini. Aku duduk diam beberapa detik, telinga berdesing. Rumah terasa sangat sunyi. Hanya suara angin AC dan dengkuran kecil Mas Firman yang tampak kelelahan. Aku menoleh ke arahnya sekali lagi. Wajahnya damai. Lelaki yang selalu percaya padaku. “Kenapa aku melakukan ini?” Pertanyaan itu terlambat. Ponsel di meja bergetar pelan, memotong penyesalanku. Pak Sano: “bapak sudah di belakang, Nduk.” Hanya itu. Kalimat pendek yang langsung membuat perut bawahku mengeras dan berdenyut kencang. Jari-jariku mendingin. Aku bisa saja mengabaikannya. Bisa saja mematikan ponsel dan kembali merapat ke punggung suamiku. Bisa saja… Tapi tubuhku sudah mengkhianati logikaku. Kakiku sudah turun dari ranjang. Gerakanku sangat pelan, hampir tanpa suara. Lantai keramik terasa dingin di telapak kaki telanjangku, kontras dengan hawa panas yang mulai menjalar di selangkanganku. Aku berdiri di samping ranjang, memandang Mas Firman untuk terakhir kali
Chapter ini membutuhkan 4 Ink untuk dibaca. Saldo kamu saat ini 0 Ink.
Akses chapter ini bersifat pribadi dan dilindungi hak cipta. Distribusi ulang tanpa izin tidak diperbolehkan.
Masuk untuk MembeliKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.