Chapter 4
Rahasia di Balik Bengkel dan Tembok Tipis Ana - 31 Mei 2026 - 3.331 kata
Siang itu matahari cukup terik, tapi angin sepoi-sepoi masih menyapa.
Aku duduk di kursi depan warung kecilku, menggendong anak yang sudah mulai gelisah.
Di sebelah kiri, suara mesin bengkel dan obrolan pelanggan terdengar jelas.
Firman dan Pak Sano sedang sibuk memperbaiki dua motor yang ditinggal pelanggan.
Firman berada di bagian dalam, membongkar karburator dengan serius.
Pak Sano berada di bagian depan, tangannya hitam oli, sedang mengganti kampas rem dengan gerakan yang tenang dan terlatih.
Aku sesekali melirik ke arah mereka.
Firman bekerja dengan cepat, keringat membasahi punggung bajunya.
Pak Sano bekerja lebih pelan, tapi setiap gerakannya terlihat pasti dan teliti.
Anakku mulai rewel minta turun.
Aku meletakkannya di tikar kecil di depan warung, memberinya mainan.
Lalu aku melayani dua pelanggan yang minta kopi dan rokok.
“Bu, kopinya manis ya,” kata salah seorang pelanggan.
“Baik, Pak,” jawabku sambil tersenyum sopan.
Sambil menyeduh kopi, mataku tanpa sadar kembali melirik ke bengkel.
Firman sedang tertawa kecil dengan pelanggan yang bercerita.
Pak Sano diam saja, tapi sesekali ia mengangkat kepala dan menatap ke arah warung.
Tatapannya tidak lama.
Hanya sebentar.
Tapi cukup untuk membuat jantungku berdegup satu ketukan lebih cepat.
Aku cepat-cepat membuang muka, pura-pura sibuk mengaduk gula di gelas.
“kenapa sih, na? biasa saja... ia cuma karyawan suamimu,” tegurku dalam hati.
Tapi pikiran itu tidak berhenti di situ.
“Semalam aku… melakukan masturbasi. Hari ini aku duduk di sini seperti tidak ada apa-apa. Apakah aku munafik? Aku bilang aku istri yang setia, tapi kenapa tatapan Pak Sano saja sudah membuat tubuhku waspada?”
Aku menggigit bibir dalam.
“ngga... aku ngga boleh berpikir begitu. Firman ada di sana... suamiku yang bekerja keras... seharusnya aku mendukungnya, bukan malah memikirkan orang lain.”
Anakku tiba-tiba merangkak mendekat ke kaki meja.
Aku mengangkatnya kembali ke pangkuan, mencium pipinya yang gembul.
Dari sudut mata, aku melihat Pak Sano berdiri, mengusap keringat di dahinya dengan lengan baju.
Ia melirik sebentar ke warung, lalu kembali bekerja tanpa berkata apa-apa.
Tidak ada senyum. Tidak ada sapaan. Hanya tatapan yang tenang.
Tapi tatapan itu terasa berat.
Aku merasa seperti sedang diawasi, meski ia tidak melakukan apa-apa.
Dan yang lebih mengganggu, aku sendiri yang terus mencuri pandang.
“Ya Tuhan… lindungi hatiku,” bisikku pelan sambil mengusap kepala anak.
Firman tiba-tiba memanggil dari bengkel.
“sayang, tolong buatin minuman dingin buat kita berdua ya!”
“iyaa, Mas,” jawabku cepat.
Aku meletakkan anak di tikar, lalu membuat dua gelas es teh manis.
Saat membawa gelas itu ke bengkel, kakiku terasa berat.
Firman menerima gelasnya dengan senyum lelah.
“makasih sayang...”
Ia mencium keningku sekilas di depan Pak Sano.
Aku tersenyum, tapi hatiku justru semakin kacau.
Pak Sano menerima gelas dari tanganku tanpa menyentuh jari-ku.
“Terima kasih, Bu,” katanya pelan, suaranya rendah dan sopan seperti biasa.
Ia langsung minum, lalu kembali bekerja tanpa menatapku lagi.
Aku berbalik menuju warung dengan dada yang berdegup tidak karuan.
“Dia ngga nglakuin apa-apa. Kenapa malah aku jadi gelisah?"
Siang itu berjalan seperti biasa.
Firman dan Pak Sano fokus di bengkel.
Aku tetap duduk di warung, melayani pelanggan yang datang dan pergi, sambil sesekali menggendong anak yang mulai mengantuk.
Lintang GelapDi bengkel, Firman dan Pak Sano masih bekerja tanpa banyak bicara, hanya sesekali terdengar suara kunci pas dan obrolan singkat tentang mesin.
Sore menjelang magrib, Firman mulai membereskan peralatan.
Ia melirik ke arahku sebentar, lalu kembali ke motor yang sedang dikerjakannya.
Aku merasa lega karena hari ini tidak ada kejadian aneh. Aku berhasil menjaga pandangan dan hati.
Tapi saat adzan magrib berkumandang, Firman langsung mandi dan bersiap ke masjid.
Ia mendekat ke warung sebentar.
“Sayang, aku sholat magrib dulu ya. Cynthia ikut aku saja.”
“Baik, Mas. Hati-hati,” jawabku sambil tersenyum.
Firman menggendong anak kami, lalu berjalan ke masjid bersama beberapa tetangga.
Warung dan bengkel sekarang sepi.
Hanya tersisa aku dan Pak Sano yang sedang merapikan kunci-kunci di meja kerja.
Aku berusaha tidak menatap ke arahnya.
Aku sibuk membereskan gelas-gelas di warung, membersihkan meja, dan merapikan bungkus rokok.
Tapi aku bisa merasakan kehadirannya. Ia tidak langsung pulang. Ia masih di sana, bergerak pelan.
Beberapa menit kemudian, Pak Sano berjalan mendekat ke warung dengan langkah yang tenang.
Ia berdiri di depan meja, tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk membuatku sadar akan jarak kami.
“Bu, boleh minta air minum lagi?”
Suara beratnya rendah dan sopan seperti biasa.
Aku mengangguk tanpa menatap matanya langsung.
Aku menuangkan air putih ke gelas dan menyodorkannya.
Pak Sano menerimanya dengan kedua tangan, jari-jarinya hampir menyentuh jari-ku, tapi ia menarik tangan dengan hati-hati agar tidak bersentuhan.
“Terima kasih, Bu.”
Ia minum pelan, lalu mengembalikan gelas ke meja.
Tidak ada kata-kata lagi.
Ia hanya berdiri di sana sebentar, membersihkan tangan dengan lap kain yang sudah kotor oli, sesekali melirik ke arahku dengan tatapan yang tenang.
Tapi tatapan itu… meski tidak ada kata, terasa berat.
Seperti ia sedang mengamati sesuatu dengan sabar, tanpa tergesa.
Aku cepat-cepat membuang muka dan sibuk merapikan bungkus plastik.
Pak Sano tidak bicara lagi.
Ia hanya berdiri diam beberapa saat, lalu berbalik dan kembali ke bengkel untuk melanjutkan merapikan alat.
Aku menghela nafas pelan, lega sekaligus gelisah.
....
Magrib sudah lewat.
Firman belum kembali.
Biasanya ia pulang setelah Isya, tapi hari ini entah kenapa Firman belum juga muncul.
Aku duduk kembali di kursi warung, tanganku memegang ponsel yang mati.
Pak Sano masih di bengkel, merapikan barang-barang dengan gerakan lambat.
Sesekali ia melirik ke arah warung, tapi tidak mendekat lagi.
Aku memutuskan untuk masuk ke dalam rumah sebentar, membereskan dapur dan menyiapkan makan malam.
Tapi sebelum masuk, aku melirik sekali lagi ke bengkel.
Pak Sano sedang berdiri di depan pintu bengkel, menyeka tangan dengan lap.
Tatapannya bertemu dengan mataku sebentar.
Ia mengangguk pelan, sopan, tanpa senyum berlebihan.
Aku balas mengangguk cepat, lalu buru-buru masuk ke rumah.
Di dalam, aku bersandar di pintu, menutup mata sebentar.
Firman belum pulang.
Pak Sano masih di luar.
...
Malam sudah larut.
Firman dan anak kami sudah tertidur pulas di dalam kamar.
Suara dengkuran lembut Firman terdengar samar dari balik pintu.
Aku tidak bisa tidur.
Tubuh terasa gelisah, pikiran masih berputar-putar sejak siang tadi.
Akhirnya aku bangun pelan, memakai kerudung lebar dan daster panjang, lalu keluar rumah dengan langkah hati-hati.
Udara malam terasa sejuk setelah hujan kemarin.
Lampu bengkel masih menyala redup. Malam ini Pak Sano saja yang lembur, Mas Firman sudah kecapean.
Pak Sano sedang duduk di bangku kayu depan bengkel, merokok pelan sambil menatap jalan yang sepi.
Ia melihatku keluar, tapi tidak langsung berdiri.
Hanya mengangguk kecil dengan sopan.
“Bu… belum tidur?”
Suara beratnya rendah, hampir seperti bisikan agar tidak mengganggu ketenangan malam.
Aku berhenti di ambang pintu warung, menjaga jarak yang cukup.
“ngga bisa tidur, pak, mas Firman sudah pulas... jadinya saya keluar sebentar cari angin.”
Pak Sano mengangguk lagi.
Ia mematikan rokoknya di tanah, lalu menatap ke arahku dengan tenang.
Tidak ada senyum berlebihan. Hanya tatapan yang tenang.
Kami diam cukup lama.
Hanya suara jangkrik dan angin malam yang menemani.
Akhirnya aku yang membuka suara, suaraku pelan.
“Pak Sano sudah lama tinggal disini?”
Ia menggeleng pelan.
“Baru sekitar tiga tahun, Bu. Sebelumnya saya di kampung. Kerja di bengkel kecil milik saudara.”
Ia berhenti sebentar, seolah mengingat sesuatu.
“Istri saya meninggal lima tahun lalu. Anak satu-satunya sudah menikah dan masih tinggal di kampung jadinya ga enak kalau saya tinggal sama dia, sekarang dia yang urus sawah dan rumah, saya merantau saja cari kontrakan”.
Aku mendengarkan tanpa menyela.
Pak Sano melanjutkan dengan suara yang tetap tenang.
“Saya kesini karena bosan sendirian di rumah. Kerja di bengkel besar sana, tapi suasananya ramai sekali. Banyak orang, tapi rasanya sepi.”
Ia mengusap tangannya yang kasar perlahan.
“Waktu pertama kali lewat sini dan melihat bengkel ibu sama pak Firman… entah kenapa saya ngrasa ingin berhenti.”
Aku menunduk sebentar, memainkan ujung kerudung.
“Pak… kok bisa rela gaji kecil di sini? Bengkel kami kan masih baru.”
Pak Sano tersenyum tipis, hampir tidak terlihat.
“Bukan soal gaji, Bu. Di bengkel besar sana, saya cuma nomor. Di sini… rasanya ada yang berbeda. Suasananya lebih tenang. Orang-orangnya juga.”
Ia tidak menjelaskan lebih jauh.
Tapi aku tahu maksudnya.
Aku merasa pipiku sedikit panas, tapi aku cepat-cepat mengalihkan pembicaraan.
“Pak sudah punya rencana ke depan? Maksud saya… pulang ke kampung lagi atau tetap di sini?”
Pak Sano menghela napas pelan.
“Belum tahu, Bu. Sekarang saya cuma ingin kerja yang tenang. Melihat orang bahagia dengan usahanya. Itu sudah cukup buat saya yang sudah tua ini.”
Kami diam lagi.
Kali ini lebih lama.
Aku merasa ada kehangatan aneh yang muncul di dada mendengar ceritanya yang sederhana dan jujur.
“Maaf ya, Bu… saya cerita panjang. Sudah malam juga. Ibu sebaiknya masuk istirahat.”
Pak Sano berdiri pelan, membersihkan celana kerjanya dari debu.
Aku mengangguk.
“Iya, Pak. Terima kasih sudah cerita. Saya masuk dulu.”
Sebelum berbalik, aku meliriknya sekali lagi.
Pak Sano hanya berdiri diam di depan bengkel, tatapannya mengikuti langkahku sampai aku masuk rumah.
Di dalam, aku langsung mengunci pintu pelan.
Lalu aku masuk ke kamar, berbaring di samping Firman yang masih tidur pulas.
Malam itu, meski tubuh lelah, pikiranku justru semakin terjaga.
Cerita sederhana Pak Sano berhasil membuat dinding pertahananku retak lagi, aku sedikit iba kepadanya, mungkin kisah kita sedikit mirip, sedang di momen kesepian.
Dan aku masih berusaha keras untuk menutup rasa kesepian itu.
...
Pagi itu cuaca cerah, tapi suasana di depan rumah terasa aneh.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan, tapi Pak Sano belum juga datang.
Biasanya ia sudah duduk di bangku depan bengkel sebelum jam tujuh.
Firman keluar dari rumah sambil mengusap rambut yang masih basah.
Ia melihat bengkel yang masih sepi, lalu mengerutkan kening.
“Pak Sano kok belum datang ya, dek?”
Suara Firman terdengar biasa, tapi ada nada heran di dalamnya.
Aku yang sedang menyapu depan warung berhenti sejenak.
“Belum tahu, mas.... biasanya dia sudah di sini sebelum kita buka.”
Firman mengeluarkan ponsel, melihat layar sebentar, lalu memasukkannya lagi.
“ngga ada kabar sama sekali... padahal kemarin dia bilang mau datang lebih awal karena ada motor yang harus diselesaiin.”
Aku melanjutkan menyapu, berusaha terlihat biasa.
Tapi di dalam dada, ada rasa gelisah yang mulai muncul.
Firman duduk di bangku depan bengkel, menyalakan rokok.
“kalau siang nanti dia belum datang juga, aku telpon dia... tkutnya ada apa-apa.”
Aku kembali ke warung, duduk di kursi sambil menggendong Cynthia yang baru bangun.
...
Pagi itu berjalan lambat.
Dan di dada Ana, pertanyaan-pertanyaan baru mulai bermunculan pelan-pelan.
Siang itu bengkel terasa sepi tanpa kehadiran Pak Sano.
Firman sudah dua kali meneleponnya, tapi tidak ada jawaban.
Aku duduk di warung sambil menggendong putriku, pikiranku terus melayang ke obrolan semalam.
Akhirnya, setelah Firman masuk ke dalam bengkel untuk mengambil alat, aku memberanikan diri.
Aku mengeluarkan ponsel, mencari nomor Pak Sano, lalu menekan tombol panggil dengan tangan yang sedikit gemetar.
Tuut… tuut… tuut…
Nada sambung berdering lama.
Tidak diangkat.
Aku mencoba lagi.
Masih tidak diangkat.
Jantungku mulai berdegup tidak nyaman.
“Kenapa ngga diangkat ya…”
Aku berbisik pelan sambil menatap layar ponsel.
Baru pada panggilan ketiga, panggilan tersambung.
Suara Pak Sano terdengar lemah dan serak.
“Halo… Bu?”
“Pak… Bapak ngga masuk hari ini? Firman sudah telepon dua kali, ngga diangkat.”
Pak Sano batuk pelan sebelum menjawab.
“Maaf, Bu… saya sedang sakit. Demam tinggi sejak subuh tadi. Badan panas sekali, ngga kuat ke bengkel.”
Aku langsung merasa kasihan.
Bayangan kontrakan kecil yang sepi, tanpa siapa-siapa yang merawatnya, langsung muncul di kepala.
“Pak… Bapak sendirian di kontrakan?”
“Iya, Bu… sendirian saja.... ngga papa, nanti juga reda sendiri.”
Suara Pak Sano terdengar sangat lemah.
Aku menggigit bibir, merasa gelisah.
Anakku masih tidur di pangkuan. Firman masih sibuk di dalam bengkel.
Tanpa berpikir panjang, aku memutuskan.
“pak, tunggu ya… saya bawa makan siang ke sana sebentar. Bapak butuh makan.”
Pak Sano terdiam sebentar.
“ngga usah repot-repot, bu… saya ngga enak jadinya...”
“Saya ngga lama, pak...biar bapak bisa fokus istirahat saja.”
Aku menutup telepon dengan cepat sebelum Pak Sano menolak lagi.
Lalu aku buru-buru membereskan warung.
Firman keluar dari bengkel saat melihat aku sibuk.
“Sayang, mau ke mana? Warung kok ditutup?”
Aku berusaha tersenyum biasa, meski jantung berdegup kencang.
“Aku mau njenguk Pak Sano mas... tadi aku telpon, katanya lagi sakit.”
Firman mengerutkan kening sedikit.
“sakit? sakit apa dek?”
"tadi sih...katanya, demam mas"
“kasian dia sendirian, jadi coba aku jenguk, siapa tau dia belum makan karna ngga ada yang ngurusin".
“yasudah… hati-hati ya... jangan lama-lama.”
Aku hanya mengangguk, lalu segera menggendong anak yang masih mengantuk untuk menidurkannya di kamar lalu menyiapkan bekal dan berjalan ke arah jalan raya mencari angkot.
Aku naik angkot menuju kontrakan Pak Sano yang berjarak sekitar dua kilometer.
Angkot berhenti di depan gang kecil yang agak sepi.
Di tangan kiriku ada tas berisi serantang nasi dan sup ayam hangat.
Kontrakan Pak Sano berada di ujung gang, rumah paling belakang.
Pintu catnya sudah kusam.
Aku menarik napas dalam-dalam sebelum mengetuk pelan.
Tok… tok…
Tidak ada jawaban langsung. Aku mengetuk lagi, kali ini lebih keras.
“pak… ini aku Ana....”
Pintu terbuka pelan. Pak Sano berdiri di ambang pintu, wajahnya pucat, keningnya berkeringat. Matanya agak sayu karena demam, tapi saat melihat aku, ada kilatan kecil yang sulit dijelaskan.
“bu… kenapa repot-repot datang ke sini…” suaranya lemah, hampir berbisik.
Aku masuk pelan, menutup pintu di belakangku dengan kaki. Ruangan kontrakan kecil itu terasa pengap, bau obat-obatan murah bercampur aroma rokok lama. Kasur lipat di sudut masih berantakan, selimutnya kusut.
“saya bawa makan siang, pak... bapak harus makan dulu baru minum obatnya”
Pak Sano duduk di tepi kasur, tangannya memegang kepala yang pusing. Aku mendekat, menyentuh punggung tangannya, terasa panas sekali.
“demamnya tinggi, pak… bapak sudah minum obat?”
“sudah, bu… tadi pagi, tapi masih panas.”
Aku duduk di lantai di samping kasur. Pak Sano menatapku lama, matanya lemah tapi ada kehangatan yang aneh.
“makasih… bu, bapak jadi ngga enak ngrepotin ibu.”
Aku tersenyum kecil.
“ngga repot, pak.... bapak kan sudah seperti keluarga saya sendiri di bengkel”
Pak Sano diam sebentar, lalu berbisik pelan.
“Ibu… baik sekali. Firman beruntung punya istri seperti Ibu.”
Aku hanya tersenyum tipis, tapi di dalam dada ada getaran yang aneh. Aku tahu ini hanya kunjungan menjenguk orang sakit. Tapi kenapa rasanya… berbeda?
Pak Sano mencoba bangkit untuk makan, tapi tubuhnya goyah. Aku langsung membantu, memegang lengannya pelan agar ia bisa duduk lebih tegak.
Saat tanganku menyentuh lengannya, kulitnya terasa panas karena demam. Pak Sano menatapku sebentar, matanya gelap dan dalam.
Dan di ruangan kecil yang pengap itu, aku tiba-tiba merasa… ada sesuatu yang mulai berubah.
Mereka berdua duduk di tepi kasur lipat yang sudah agak reyot.
Ruangan kontrakan kecil itu terasa pengap, bau obat batuk murah bercampur aroma rokok lama yang menempel di dinding. Cahaya sore yang masuk dari jendela kecil hanya cukup menerangi separuh wajah mereka.
Ana menarik napas pelan, lalu bertanya dengan suara yang lembut dan penuh rasa ingin tahu.
“Pak… Bapak tinggal sendirian di kontrakan ini sudah lama ya? Rasanya… gimana? ngga kesepian pak?”
Pak Sano tersenyum tipis, senyum yang lelah tapi tulus. Ia mengusap keningnya yang masih panas dengan punggung tangan sebelum menjawab.
“Sudah hampir lima tahun, bu... sejak istri saya meninggal. Awalnya agak berat…ngga ada yang menyambut pulang, ngga ada yang masakin, ngga ada yang mengeluh kalau saya pulang larut.”
Ia diam sebentar, matanya menatap lantai semen yang retak.
“Tapi lama-lama… terbiasa... pagi bangun sendiri, malam tidur sendiri...”
Ana mendengarkan dengan saksama. Matanya lembut, ada rasa iba yang tulus di sana.
“Tidak ada anak yang menjenguk, Pak?”
“Ada… tapi sudah punya keluarga sendiri di kampung. Kadang telpon sebentar, tanya kabar, lalu selesai. Saya ngga mau repotin mereka.”
Ana mengangguk pelan. Jarinya terus mengusap punggung anaknya yang tertidur.
“Rasanya pasti berat ya, pak… pulang ke rumah yang kosong, nggaada yang menyapa, ngga ada yang bertanya ‘sudah makan belum?’ ngga ada yang… ngurusin.”
Pak Sano menatap Ana lama. Suaranya lebih rendah, hampir seperti bisikan.
“Iya bu... kadang saya iri melihat mas Firman... pulang kerja ada istri yang nunggu dengan senyum, ada anak yang lari memeluknya... saya… sudah lama ngga ngarasin itu.”
Ana diam. Ada sesuatu yang bergetar di dadanya. Ia tahu rasa kesepian itu. Ia sendiri sering merasakannya di malam hari, saat Firman tertidur lelah tanpa sempat memeluknya lama.
“Pak… kalau Bapak butuh apa-apa… bilang saja ya. Saya atau Firman pasti bantu.”
Pak Sano tersenyum kecil, tapi matanya tetap menatap Ana dengan dalam.
“Terima kasih, Bu… Ibu baik sekali.”
Ana tersipu, pipinya sedikit memerah. Ia menunduk, pura-pura menyembunyikan senyumnya.
Tapi di dalam hatinya, ada getaran kecil yang mulai muncul lagi.
Getaran yang seharusnya tidak boleh ada.
Ia membayangkan Pak Sano pulang setiap malam ke ruangan ini, duduk sendirian di tepi kasur, menghisap rokok sambil menatap dinding kosong. Tidak ada suara anak kecil, tidak ada aroma masakan hangat, tidak ada pelukan istri yang menunggu. Hanya kesunyian dan bau rokok yang menempel di baju dan dinding.
Hatinya terasa sesak.
Tapi… kenapa aku merasa seperti ini?
Kenapa aku malah kasihan… dan ingin berada di sini lebih lama?
Pak Sano duduk di sampingnya, masih bersandar di tembok, napasnya agak berat karena demam. Ia tidak tahu bahwa Ana sedang memperhatikan setiap sudut kontrakannya dengan perasaan yang campur aduk.
Ana menunduk, mengusap punggung anaknya yang tertidur dengan gerakan pelan.
Di dalam hatinya, ada suara kecil yang berbisik pelan:
Tempat ini… terlalu sepi untuk seorang laki-laki sebaik Pak Sano.
Tapi ia segera menepis pikiran itu, mencoba fokus pada anaknya yang hangat di pangkuannya.
Pak Sano menatap Ana dari samping, matanya lemah karena demam, tapi ada kehangatan yang tersembunyi di sana.
Ana mencoba bertanya lagi, agar tidak canggung
“Pak… kalau dulu Bapak sakit, siapa yang mengurus Bapak?” tanya Ana pelan, suaranya lembut penuh perhatian.
Pak Sano tersenyum tipis, senyum yang lelah dan pahit. Ia menggeleng pelan.
“ngga ada, bu… ngga ada yang ngurusin... saya biasa minum obat sendiri, tidur sendiri, bangun sendiri... kadang demam tinggi sampai ngga bisa berdiri, tapi ya… tetap harus kuat.”
Ana merasa dada nya sesak. Dalam hati ia iba sekali.
Kasihan sekali… seorang laki-laki seumur itu, sakit sendirian di kontrakan kecil seperti ini. Ngga ada yang menemaninya.
Pak Sano melanjutkan dengan suara yang masih lemah, tapi ada nada yang lebih dalam.
“gapapa, bu… bagi saya, sakit fisik itu ngga begitu penting... yang lebih berat itu… kesepian..."
"sendirian tanpa… tanpa kehangatan seorang istri. Tanpa pelukan, tanpa sentuhan… itu yang kadang lebih sakit dari demam.”
Ana diam. Wajahnya memerah pelan. Kata-kata Pak Sano yang terakhir itu seperti menyentuh sesuatu yang sensitif di dalam dirinya. Ia menunduk, mengusap punggung anaknya yang tertidur, berusaha menyembunyikan kegelisahan yang tiba-tiba muncul.
Pak Sano menatap Ana dengan mata yang sayu karena demam, tapi ada kelembutan yang tersembunyi di sana.
“Maaf bu… saya bicara terlalu jauh. Ibu pasti capek mendengar curhatan orang tua seperti saya.”
Ana menggeleng kecil, suaranya hampir berbisik.
“Tidak apa, pak… saya ngerti.... kesepian itu… memang berat.”
Di dalam hatinya, Ana merasa semakin iba. Tapi di balik iba itu, ada getaran kecil yang ia coba abaikan; getaran yang muncul setiap kali Pak Sano berbicara tentang kesepian dan kehangatan yang hilang.
Dan di kontrakan kecil yang remang itu, dua orang yang seharusnya hanya tetangga biasa kini duduk semakin dekat, sementara di luar, sore mulai berubah menjadi malam.
Ana masih duduk di tepi kasur, anaknya tertidur nyenyak di pangkuannya. Ia melihat wajah Pak Sano yang pucat dan berkeringat karena demam, lalu berkata dengan suara lembut tapi tegas.
“Pak… Bapak harus istirahat yang cukup ya. Jangan maksain diri. Demamnya tinggi, kalau ngga istirahat nanti malah tambah parah. Minum obatnya teratur, makan jangan telat, sama banyakin minum air putih.”
Pak Sano tersenyum lemah, matanya menatap Ana dengan penuh syukur.
“Iya, Bu… bapak akan istirahat dulu... makasih sudah jenguk sama bawa makanan. Ibu baik sekali.”
Ana mengangguk kecil, lalu pelan-pelan berdiri.
“Saya pamit dulu ya, Pak. Firman pasti udah nyariin saya. Kalau Bapak butuh apa-apa, telepon saja ke warung. Saya atau Firman akan bantu.”
Pak Sano mengangguk pelan.
“Terima kasih banyak, Bu Ana… hati-hati di jalan.”
Ana berjalan menuju pintu kontrakan, langkahnya pelan. Sebelum membuka pintu, ia menoleh sekali lagi ke arah Pak Sano yang masih duduk di tepi kasur, tubuhnya terlihat kecil dan lemah di ruangan yang pengap itu.
Hatinya terasa sesak.
Tapi aku harus pulang…
Ia membuka pintu pelan dan keluar, angin yang sejuk langsung menyapa wajahnya.
Di belakangnya, pintu kontrakan Pak Sano tertutup pelan.
Ana berjalan sambil menggendong anaknya, pikirannya masih tertinggal di ruangan kecil yang kumuh itu.
Dan di dalam kontrakan, Pak Sano duduk diam, menatap pintu yang baru saja tertutup, senyum kecil tersungging di bibirnya yang pucat.
Konten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.