Chapter 49
Rahasia di Balik Bengkel dan Tembok Tipis Ana - 12 Juni 2026 - 4.302 kata
Cklek. Suara pintu kamar utama terbuka. Seluruh tubuhku langsung membeku. Jari-jariku masih menggenggam ponsel. Layar video call masih menyala, wajah Pak Sano masih samar di sana, buram oleh cahaya kamar kontrakannya yang redup. Dari earphone yang menempel di telinga kananku, suaranya terdengar kecil, hampir seperti bisikan yang keluar dari dalam kepalaku sendiri. “Sayang…?” Darahku seperti surut dari wajah. Langkah kaki Mas Firman terdengar pelan dari arah kamar utama. Tidak cepat, tidak tergesa-gesa, tetapi cukup jelas untuk membuat napasku berhenti. Ia sedang berjalan ke arah kamar anak-anak. Dalam satu gerakan panik, aku langsung menekan tombol power. Panggilan terputus. Layar ponsel berubah gelap. Tanganku gemetar hebat. Aku buru-buru mencabut earphone dari telinga, menggulung kabelnya asal, lalu menyelipkannya ke bawah bantal kecil di dekat Farhan. Ponsel kutaruh telungkup di samping paha. Tok. Aku menahan napas. Langkah Mas Firman berhenti sebentar di luar pintu kamar anak. Dadaku langsung terasa sesak. Aku cepat-cepat menunduk, pura-pura membetulkan selimut Farhan. Tanganku menyentuh kain selimut itu dengan jari-jari dingin, padahal aku tidak tahu bagian mana yang sebenarnya harus kubetulkan. Pintu kamar terbuka pelan. Mas Firman berdiri di ambang pintu dengan wajah setengah mengantuk. Rambutnya acak-acakan. Matanya masih berat, tapi tatapannya langsung mencari Farhan dan Cynthia, bukan mencariku. Justru
Chapter ini membutuhkan 5 Ink untuk dibaca. Saldo kamu saat ini 0 Ink.
Akses chapter ini bersifat pribadi dan dilindungi hak cipta. Distribusi ulang tanpa izin tidak diperbolehkan.
Masuk untuk MembeliKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.