Chapter 48
Rahasia di Balik Bengkel dan Tembok Tipis Ana - 5 Juni 2026 - 3.144 kata
Ana masih memeluk Farhan erat di dada, wajahnya tertanam di bahu kecil anaknya yang hangat. Air mata yang tadi mengalir deras perlahan mulai reda, menyisakan basah di pipi dan ujung hidung. Napasnya yang semula tersengal kini mulai pelan, meski dadanya masih naik-turun tidak beraturan. Lega. Rasa lega itu membanjiri tubuhnya begitu saja, sampai lututnya terasa lemas. Ternyata Firman tidak meninggalkannya. Ternyata ia hanya terlalu curiga, terlalu panik, terlalu takut pada bayangan yang ia ciptakan sendiri. Mungkin karena dosanya semakin jauh berjalan. Mungkin karena setiap hari ia merasa ada sesuatu yang diam-diam sedang ia sembunyikan dari laki-laki yang paling berhak tahu. Ana mengangkat wajah, menatap Firman yang masih berdiri di depannya dengan plastik bubur ayam di tangan. Wajah suaminya terlihat lelah, tapi matanya lembut. Ada penyesalan di sana. Ada kasih sayang yang sederhana, polos, dan tulus. Dada Ana terasa hangat sekaligus perih. Mau bagaimanapun, ia masih mencintai Firman. Ia mencintai laki-laki sederhana yang bekerja keras setiap hari demi keluarga mereka, laki-laki yang sabar menghadapi diamnya, yang masih mau meminta maaf meski ia sendiri tidak pernah tahu kesalahan terbesar istrinya. Justru karena itulah rasa sakitnya semakin dalam. Sebab di dalam dada Ana, cinta itu kini tidak lagi berdiri sendirian. Ada bagian dari
Chapter ini membutuhkan 4 Ink untuk dibaca. Saldo kamu saat ini 0 Ink.
Akses chapter ini bersifat pribadi dan dilindungi hak cipta. Distribusi ulang tanpa izin tidak diperbolehkan.
Masuk untuk MembeliKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.