Chapter 46
Rahasia di Balik Bengkel dan Tembok Tipis Ana - 2 Juni 2026 - 6.393 kata
Kedua tangan Ana perlahan terangkat. Jemarinya dingin dan gemetar, tetapi kali ini tidak bergerak untuk menjauh. Telapak tangannya menyusuri leher Pak Sano, lalu berhenti di belakang kepalanya, mencengkeram rambut yang mulai memutih di pelipis. Untuk sesaat, gerakan itu masih menyerupai keraguan terakhir—seolah ada bagian dari dirinya yang belum sepenuhnya menyerah. Namun ketika Pak Sano hendak menarik wajahnya, Ana justru menahan tengkuknya. Lebih erat. Ia tak ingin ada jarak. Tak ingin diberi waktu untuk berpikir. Sebab ia tahu, sedikit saja kesadaran itu kembali, seluruh keberaniannya akan runtuh menjadi rasa takut dan penyesalan. Ciuman itu berubah. Tak lagi kikuk, tak lagi ragu-ragu. Sesuatu yang sejak lama ditekan di dasar dadanya akhirnya menemukan celah untuk keluar, pelan-pelan, lalu menguasai segalanya. Aroma tembakau dan keringat yang melekat pada Pak Sano semestinya membuat Ana tersadar, mengingatkannya pada betapa salahnya semua ini. Anehnya, justru aroma itulah yang membuat napasnya semakin berat. Ketika Pak Sano menahan bibirnya sedikit lebih lama, suara kecil lolos dari tenggorokan Ana. Begitu lirih, nyaris tenggelam dalam sunyi kontrakan, tetapi cukup untuk mengubah sikap laki-laki itu. Tekanan di tengkuknya menguat; kedekatan mereka menjadi lebih mendesak. Dan Ana membalasnya. Matanya terpejam rapat. Jemarinya tetap mencengkeram bagian belakang kepala Pak Sano, seolah di sanalah ia
Chapter ini membutuhkan 5 Ink untuk dibaca. Saldo kamu saat ini 0 Ink.
Akses chapter ini bersifat pribadi dan dilindungi hak cipta. Distribusi ulang tanpa izin tidak diperbolehkan.
Masuk untuk MembeliKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.