Chapter 45
Rahasia di Balik Bengkel dan Tembok Tipis Ana - 2 Juni 2026 - 3.559 kata
POV Ana Begitu pintu ditutup dan bunyi cklek itu menggema, pertahananku runtuh total. Aku tidak sanggup lagi berdiri tegak. Bahuku merosot, dan isak tangis yang sudah kupenjara di tenggorokan selama empat belas jam terakhir pecah begitu saja. Aku menutup wajah dengan kedua telapak tangan yang gemetar. Air mata ini rasanya panas sekali, mengalir membawa semua sesak yang kupendam sejak semalam. Aku menangis sampai dadaku nyeri, sampai napas duniaku rasanya habis. "Tumpahkan saja, Bu... di sini aman," suara Pak Sano terdengar sangat dekat, rendah, dan tenang. Tanpa sadar, aku membiarkan diriku diarahkan. Aku merasakan tangan yang kasar namun mantap membimbingku untuk duduk di tepi tempat tidur. Dan saat itulah, aku melakukan hal yang tak pernah kubayangkan sebelumnya: aku menjatuhkan kepalaku ke bahunya. Bahu itu tidak sekokoh bahu Firman. Ada bau minyak kayu putih dan rokok yang melekat di sana. Tapi, bahu ini tidak menjauh. Bahu ini tidak kaku. Bahu ini diam, membiarkan wajahku basah oleh air mata yang tidak mau berhenti. "Dia nampar aku, Pak..." bisikku di sela isak. Suaraku terdengar sangat asing di telingaku sendiri. Kecil, rapuh, dan hancur. "Seumur-umur... dia ngga pernah kayak gini. Seharian ini dia bahkan ngga mau lihat muka aku." Pak Sano tidak menjawab dengan nasihat
Chapter ini membutuhkan 5 Ink untuk dibaca. Saldo kamu saat ini 0 Ink.
Akses chapter ini bersifat pribadi dan dilindungi hak cipta. Distribusi ulang tanpa izin tidak diperbolehkan.
Masuk untuk MembeliKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.