Chapter 44
Rahasia di Balik Bengkel dan Tembok Tipis Ana - 2 Juni 2026 - 4.210 kata
Pagi itu, langit menggantung rendah dengan warna kelabu yang pekat, seolah-olah awan sedang menahan beban air mata yang tak kunjung tumpah. Udara dingin merayap masuk melalui celah-celah ventilasi, membawa aroma tanah lembap yang menusuk tulang. Tidak ada kicauan burung atau hangatnya sinar matahari; hanya ada kesunyian yang dingin dan mendung yang mencekam. Cklek. Bunyi gerendel pintu yang ditarik perlahan itu terdengar nyaring di tengah keheningan rumah. Pintu kayu kamar itu terbuka sedikit, memperlihatkan Ana yang melangkah keluar dari kegelapan kamar. Wajahnya pucat pasi, dengan mata yang sembab dan bengkak. Di pipi kirinya, bekas tamparan semalam telah berubah warna menjadi ungu kebiruan yang menyakitkan untuk dipandang—sebuah tanda dari hancurnya kepercayaan yang ia bangun bertahun-tahun. Langkah kakinya terhenti seketika. Matanya tertuju pada lantai semen di depan pintu. Di sana, Firman tampak meringkuk dengan posisi meringkuk seperti anak kecil yang kedinginan. Firman tertidur di sana, di atas lantai yang keras dan dingin tanpa alas apa pun, seolah-olah ia sedang menghukum dirinya sendiri atas kekhilafannya semalam. Ada rasa iba yang tiba-tiba merayap di sudut hati Ana melihat suaminya yang tampak begitu rapuh dan hancur. Namun, rasa itu segera tergilas oleh gema tamparan dan teriakan menyakitkan yang masih menghantui telinganya. Rasa kecewa itu terlalu besar,
Chapter ini membutuhkan 4 Ink untuk dibaca. Saldo kamu saat ini 0 Ink.
Akses chapter ini bersifat pribadi dan dilindungi hak cipta. Distribusi ulang tanpa izin tidak diperbolehkan.
Masuk untuk MembeliKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.