Chapter 42
Rahasia di Balik Bengkel dan Tembok Tipis Ana - 2 Juni 2026 - 5.835 kata
Firman terdiam di tepi kasur, matanya tertuju pada ubun-ubun Farhan yang masih sangat lunak. Tangannya yang kasar sempat terulur, membayangkan jika ia harus menarik paksa helai rambut dari kulit kepala bayi yang baru berusia tiga bulan itu. Rasa iba mendadak meluap di dadanya; Farhan hanyalah bayi mungil yang tak tahu apa-apa, dan membayangkan tangisan kesakitan anaknya hanya karena ego dan keraguannya membuat Firman merasa menjadi ayah yang sangat buruk. Dengan napas yang tertahan, Firman kembali meraih ponselnya. Ia tidak sanggup melakukannya secara fisik, maka ia kembali mencari pelarian di dunia maya. Jemarinya mengetik cepat di kolom pencarian Google, mencari cara alternatif tes DNA yang tidak menyakiti bayi. Ia menelusuri artikel demi artikel, berharap menemukan keajaiban medis yang bisa memberi jawaban tanpa harus melihat Farhan menangis. Setelah hampir setengah jam menatap layar yang mulai memedihkan mata, ia akhirnya menemukan informasi yang dicarinya. Sebuah rumah sakit besar di kota seberang memiliki fasilitas laboratorium canggih untuk pengecekan paternitas. Namun, saat matanya sampai pada kolom biaya, Firman mendadak merasakan sesak di dadanya. Angka yang tertera di sana berkisar antara 3 hingga 5 juta rupiah. Pikiran Firman seketika mencelos. Uang lima juta hasil kemenangannya di lomba mekanik beberapa bulan yang lalu—uang yang sempat ia banggakan
Chapter ini membutuhkan 4 Ink untuk dibaca. Saldo kamu saat ini 0 Ink.
Akses chapter ini bersifat pribadi dan dilindungi hak cipta. Distribusi ulang tanpa izin tidak diperbolehkan.
Masuk untuk MembeliKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.