Chapter 41
Rahasia di Balik Bengkel dan Tembok Tipis Ana - 2 Juni 2026 - 3.576 kata
Tiga bulan telah berlalu sejak tangisan pertama Farhan memecah keheningan malam di rumah bidan. Di permukaan, kehidupan keluarga Firman tampak begitu sempurna, sebuah potret kebahagiaan yang sering membuat iri para tetangga yang mampir ke bengkel. Firman, sang mekanik yang pekerja keras, kini punya semangat ganda setiap kali memegang perkakas; ia bekerja bukan lagi hanya untuk Ana dan Cynthia, tapi juga untuk masa depan jagoan kecilnya, Farhan. Ana menjalankan perannya dengan sangat teliti. Ia adalah ibu yang penuh kasih dan istri yang perhatian, seolah ingin menebus setiap inci rasa bersalah yang terkubur dalam-dalam di dadanya. Namun, dibalik tawa renyah Cynthia yang bermain dengan adiknya dan kepulan asap kopi di warung, ada sebuah bayangan yang mulai memanjang. Sore itu, bengkel sudah mulai sepi. Firman sedang duduk di lantai teras, menggendong Farhan yang baru saja bangun tidur. Sinar matahari senja yang jingga masuk menyapu wajah bayi itu. Firman menatap wajah Farhan dengan jeli. Bayi itu sehat, pipinya gembul, dan kulitnya bersih. Namun, perhatian Firman terhenti pada helai-helai rambut yang mulai tumbuh di kepala anaknya. Rambut Farhan sedikit kasar dan, yang membuat dada Firman berdesir aneh, helai-helai itu tampak mulai mengeriting di bagian ujungnya. Firman terdiam. Ia meraba rambutnya sendiri yang lurus dan kaku
Chapter ini membutuhkan 4 Ink untuk dibaca. Saldo kamu saat ini 0 Ink.
Akses chapter ini bersifat pribadi dan dilindungi hak cipta. Distribusi ulang tanpa izin tidak diperbolehkan.
Masuk untuk MembeliKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.