Chapter 40
Rahasia di Balik Bengkel dan Tembok Tipis Ana - 2 Juni 2026 - 6.684 kata
Malam itu, ruang tamu kecil mereka diterangi lampu kuning yang lembut. Ana duduk di kursi sofa dengan perut yang sudah membulat indah, tangannya sesekali mengusap perutnya dengan gerakan pelan, seperti sedang menenangkan janin yang belum tahu siapa ayahnya. Pintu depan terbuka. Firman masuk dengan langkah lelah tapi wajahnya sumringah, senyum lebar menghiasi wajahnya yang kecoklatan oleh matahari dan oli. “Dek! Alhamdulillah… aku dapet juara dua!” katanya dengan suara penuh kebanggaan. “Hadiahnya lima juta rupiah. Lumayan banget buat nanti biaya persalinan. Kita bisa tambah tabungan buat si kecil.” Ana tersenyum lembut, matanya berkaca-kaca karena campuran bahagia dan rasa sakit yang tak terucap. Ia bangkit pelan, memeluk suaminya dengan hati-hati karena perutnya yang semakin besar. “Alhamdulillah, mas… terima kasih banyak yaa. Kamu udah kerja keras sampai kaya gini…. aku bangga sama kamu mas…” Firman membalas pelukan itu dengan penuh kasih, mencium kening Ana lama sekali, tangannya mengusap punggung istrinya dengan lembut. “Semua ini buat kamu sama anak-anak kita, dek. Aku bakal terus kerja keras supaya kalian nggak kekurangan apa-apa.” Mereka duduk bersama di sofa, Firman bercerita dengan antusias tentang lomba tadi, bagaimana ia memperbaiki motor dengan cepat dan presisi, bagaimana ia hampir juara satu. Ana mendengarkan sambil tersenyum, tangannya sesekali memegang perutnya,
Chapter ini membutuhkan 4 Ink untuk dibaca. Saldo kamu saat ini 0 Ink.
Akses chapter ini bersifat pribadi dan dilindungi hak cipta. Distribusi ulang tanpa izin tidak diperbolehkan.
Masuk untuk MembeliKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.