Chapter 39
Rahasia di Balik Bengkel dan Tembok Tipis Ana - 2 Juni 2026 - 6.072 kata
Cahaya fajar yang abu-abu mulai menyelinap masuk lewat celah ventilasi, membawa aroma tanah basah dan sisa embun semalam yang mendinginkan dinding rumah. Di saat dunia masih terlelap dalam kesunyian, Ana sudah terjaga lebih dulu, memecah hening dengan gemerincing panci di dapur saat menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya. Sebelum deru mesin motor mulai membelah udara di depan rumah, Firman menyempatkan diri mendaratkan ciuman hangat di keningnya—sebuah rutinitas penuh kasih yang kini terasa seperti beban yang kian berat di pundak Ana. Pagi itu, udara di warung terasa lebih berat dari biasanya. Di tengah hiruk-pikuk pembeli yang mencari sarapan, tiba-tiba ada sesuatu yang meronta di lambung Ana. Rasa mual itu datang tanpa peringatan, menghantam ulu hatinya dengan gelombang yang begitu pekat. Tanpa sempat menitipkan warung, ia berbalik dan berlari menuju dapur, mencari perlindungan di balik pintu kamar mandi yang pengap. Begitu pintu tertutup, ia langsung membungkuk di depan wastafel. “Huekk… huekk…” Cairan bening dan pahit keluar begitu saja, menyisakan perih di tenggorokan. Ana terengah-engah, jemarinya mencengkeram pinggiran wastafel sampai kukunya memutih. Saat ia mendongak menatap cermin yang buram oleh uap, ia menemukan wajah yang hampir tak ia kenali: pucat pasi, dengan tatapan yang kosong dan ketakutan. Ia membasuh mulutnya dengan air yang terasa
Chapter ini membutuhkan 4 Ink untuk dibaca. Saldo kamu saat ini 0 Ink.
Akses chapter ini bersifat pribadi dan dilindungi hak cipta. Distribusi ulang tanpa izin tidak diperbolehkan.
Masuk untuk MembeliKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.