Chapter 37
Rahasia di Balik Bengkel dan Tembok Tipis Ana - 2 Juni 2026 - 7.921 kata
Hari demi hari berlalu. Hingga tiba di hari terakhir. Firman akan sampai esok paginya. Keheningan di dalam kamar itu terasa semakin tebal, hanya menyisakan deru napas yang perlahan mulai stabil. Cahaya lampu tidur yang kuning redup memantul di permukaan kulit mereka yang masih basah oleh keringat. Pak Sano tetap dalam posisinya, bersandar pada kepala ranjang milik Firman, sementara Ana meringkuk dalam pelukannya, menyandarkan dahi di dada bidang pria tua itu. Jari-jari Ana yang ramping mengusap perlahan guratan otot di dada Pak Sano, sebuah gerakan linglung yang lahir dari rasa takut kehilangan. "Malam ini... malam terakhir kita ya, Pak," bisik Ana. Suaranya pecah, nyaris tertelan sunyi. "Besok Firman udah pulang. Aku nggak tahu, gimana natap mukanya lagi. Aku bingung pak." Pak Sano terdiam sejenak. Tangannya yang kasar namun lembut terus membelai rambut hitam Ana yang berantakan di atas bantal. Ia menghirup dalam-dalam aroma tubuh Ana yang bercampur dengan sisa gairah yang masih tertinggal di udara. "Nduk," ucap Pak Sano, suaranya rendah dan berat, bergema tepat di telinga Ana. "Kamu bisa aja bo’ongin suamimu, kamu bahkan bisa bo’ongin semua orang. Tapi apa kamu bisa bo’ongin tubuhmu sendiri?" Ana terdiam, jari-jarinya berhenti bergerak di dada Pak Sano. "Bapak sudah perhatiin kamu dari beberapa
Chapter ini membutuhkan 4 Ink untuk dibaca. Saldo kamu saat ini 0 Ink.
Akses chapter ini bersifat pribadi dan dilindungi hak cipta. Distribusi ulang tanpa izin tidak diperbolehkan.
Masuk untuk MembeliKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.