Chapter 31
Rahasia di Balik Bengkel dan Tembok Tipis Ana - 2 Juni 2026 - 4.161 kata
POV Pak Sano Sudah seminggu lebih sejak aku terusir dari bengkel itu. Rasanya setiap detik adalah siksaan yang perlahan membakar kewarasanku. Aku duduk bersandar di tembok petakan kontrakanku yang pengap. Digenggamanku, layar ponsel menyala terang, menampilkan barisan simbol yang berputar cepat dengan suara klinting-klinting yang khas. Mataku merah, bukan karena debu, tapi karena terlalu lama menatap "pola" yang tak kunjung pecah. "Sial... zonk terus," gumamku sambil menghisap rokok dalam-dalam. Aku menekan tombol spin sekali lagi. Angka di saldo akunku berkurang lagi. Sisa uang pesangon dari Firman—yang dia berikan dengan wajah sok iba itu—perlahan-lahan mulai terkikis. Aku cuma butuh sekali. Sekali saja kena jackpot. Biar jelas kalau aku belum kalah. Tapi malam ini… zonk. Aku mendecak kesal, lalu melempar ponsel ke kasur tipis. Badan terasa berat, kepala panas. Uang makin sedikit, dan yang paling mengganggu… keinginan untuk kembali memegang kendali itu muncul lagi. Aku rindu perasaan itu. Rindu melihat Ana tidak berani menatapku. Rindu saat semuanya terasa berada di tanganku. Tiba-tiba, suara air terdengar. Sangat dekat. Aku menoleh ke arah tembok di belakangku. Suara gayung yang menghantam air di bak... suara percikan yang jatuh ke lantai ubin... itu Ana. Aku tahu persis ritmenya. Dia sedang mandi tepat di balik tembok ini.
Chapter ini membutuhkan 2 Ink untuk dibaca. Saldo kamu saat ini 0 Ink.
Akses chapter ini bersifat pribadi dan dilindungi hak cipta. Distribusi ulang tanpa izin tidak diperbolehkan.
Masuk untuk MembeliKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.