Chapter 30
Rahasia di Balik Bengkel dan Tembok Tipis Ana - 2 Juni 2026 - 3.807 kata
Suara rintihan di balik pintu itu kini mencapai puncaknya; sebuah simfoni pengkhianatan yang paling nyaring, yang memantul di dinding-dinding rumah yang Firman bangun dengan keringatnya sendiri. Setiap lenguhan, setiap derit ranjang yang beradu dengan lantai, terasa seperti palu yang menghantam paku tepat di ulu hatinya. Namun, alih-alih meledak, sesuatu di dalam diri Firman justru mati. Api amarah yang sempat menyulut matanya tiba-tiba padam, berganti dengan abu dingin yang memenuhi paru-parunya. Ia tidak lagi merasa ingin mendobrak pintu itu. Ia tidak lagi merasa ingin menyeret pria tua brengsek itu keluar. Ia hanya merasa... hampa. Seolah seluruh darahnya telah tersedot habis ke dalam ubin yang ia injak. Ia berdiri tegak, namun perlahan. Lututnya gemetar, sendi-sendinya terasa seperti mesin tua yang dipaksa berputar tanpa pelumas. Firman menatap gagang pintu kayu itu untuk terakhir kalinya. Tangannya yang kasar—tangan yang setiap hari berlumuran oli demi mencukupi kebutuhan wanita di dalam sana—meraba permukaan pintu dengan ujung jari. Pelan, sangat pelan, seolah ia sedang membelai nisan dari pernikahannya yang baru saja dikubur hidup-hidup. "Mas yang gagal, Na..." bisiknya. Suaranya nyaris tak terdengar, tenggelam dalam kebisingan dosa yang sedang berlangsung di dalam sana. Ada ketenangan yang mengerikan dalam bisikan itu. Sebuah pengakuan kalah yang paling tulus sekaligus menyakitkan.
Chapter ini membutuhkan 2 Ink untuk dibaca. Saldo kamu saat ini 0 Ink.
Akses chapter ini bersifat pribadi dan dilindungi hak cipta. Distribusi ulang tanpa izin tidak diperbolehkan.
Masuk untuk MembeliKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.