Chapter 29
Rahasia di Balik Bengkel dan Tembok Tipis Ana - 2 Juni 2026 - 3.836 kata
Firman mendorong pintu lebih lebar. Ngiiiik… Suara kayu berat yang sudah tua itu memecah keheningan malam dengan pelan. Gerimis di luar masih turun, tapi di dalam rumah terasa lebih sunyi daripada biasanya. Ruang tamu cukup remang. Hanya lampu kuning kecil dari dapur yang masih menyala samar, cahayanya jatuh miring ke lantai, menciptakan bayangan panjang dan kabur di dinding. Sofa ruang tamu terlihat sedikit bergeser. Bantalnya miring. Ada bekas lekukan yang belum hilang sepenuhnya. Firman mematung sebentar di ambang pintu. Nafasnya masih tersengal karena jatuh tadi dan karena firasat yang semakin berat. Ia mencoba menenangkan diri, tangan kanannya masih memegang kunci serep yang dingin dan licin oleh gerimis. Matanya menyapu seisi ruang tamu dengan perlahan — meja kecil, kursi kayu, ventilasi yang sedikit terbuka, genangan air kecil di dekat pintu yang masuk dari sepatunya sendiri. Tidak ada Ana. Tidak ada suara apa pun selain detak jantungnya sendiri yang terdengar terlalu keras. Ia melangkah masuk pelan, kaki basahnya meninggalkan jejak air tipis di lantai. Matanya terus bergerak, mencari sosok istrinya yang biasanya sudah menyambutnya. Sampai matanya terhenti di pintu kamar yang tertutup rapat. Pintu kamar mereka. Firman berdiri di depannya. Tangan kanannya terulur perlahan ke handel pintu. Ia tidak langsung membuka. Ia
Chapter ini membutuhkan 2 Ink untuk dibaca. Saldo kamu saat ini 0 Ink.
Akses chapter ini bersifat pribadi dan dilindungi hak cipta. Distribusi ulang tanpa izin tidak diperbolehkan.
Masuk untuk MembeliKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.