Chapter 28
Rahasia di Balik Bengkel dan Tembok Tipis Ana - 2 Juni 2026 - 5.176 kata
Gerimis semakin deras, suara tetes air di atap seng bercampur dengan adzan maghrib yang samar dari masjid. Firman sudah berangkat sejak tadi, baju koko gelapnya basah di pundak saat ia melangkah pergi tanpa banyak kata. Rumah kini sunyi. Pak Sano masih duduk di bangku kayu panjang di ujung teras. Rokok kretek di tangannya sudah hampir habis, asapnya mengepul pelan, bercampur aroma tanah basah dan cengkeh. Ia tidak buru-buru bangkit. Matanya menatap pintu rumah yang terlihat Ana mematung, tatapan itu tenang, sabar, tapi berat. Ia melihat Pak Sano masih di sana. Sesaat, keduanya hanya saling pandang dalam keheningan yang hanya diisi suara gerimis. Pak Sano mengembuskan asap terakhir, lalu mematikan puntung rokok di lantai teras dengan sepatunya yang sudah usang. Ia berdiri pelan, tubuhnya yang agak bungkuk terlihat lebih besar di bawah cahaya kuning lampu teras. “Sudah magrib, Bu,” katanya rendah, suaranya lambat seperti biasa. “Bapak pulang dulu.” Ana hanya mengangguk kecil, tangannya masih memegang daun pintu. Suaranya hampir tak terdengar. “Hati-hati , Pak. Jalannya licin..” Pak Sano mengangguk sekali. Ia melangkah turun dari teras, sandal jepitnya menapak di genangan air kecil. Tapi sebelum benar-benar pergi, ia berhenti sebentar di bawah gerimis, menoleh ke belakang. Matanya bertemu lagi dengan mata Ana
Chapter ini membutuhkan 2 Ink untuk dibaca. Saldo kamu saat ini 0 Ink.
Akses chapter ini bersifat pribadi dan dilindungi hak cipta. Distribusi ulang tanpa izin tidak diperbolehkan.
Masuk untuk MembeliKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.