Chapter 23
Rahasia di Balik Bengkel dan Tembok Tipis Ana - 2 Juni 2026 - 3.546 kata
Uap panas mulai naik dari aspal bahkan sebelum jam delapan pagi. Di depan warung, Ana sibuk menata botol-botol kaca yang beradu pelan, sebuah rutinitas yang ia lakukan dengan gerak refleks, tanpa perlu banyak berpikir. Rambut hitam panjangnya yang semalam terurai bebas, kini ia ikat kuat-kuat ke belakang, namun beberapa helai tetap lolos, menempel di lehernya yang mulai lembap oleh keringat. Daster tipisnya tak lagi terasa sejuk; kain itu justru seolah memerangkap panas tubuhnya yang tak kunjung reda sejak semalam. Hanya beberapa meter di sampingnya, simfoni bengkel dimulai. Suara denting kunci pas yang beradu dengan besi dan aroma menyengat oli bekas sudah menjadi oksigen sehari-hari. Firman membungkuk di atas mesin motor, tangannya hitam pekat hingga ke siku. Ia bekerja dengan ambisi yang meluap, seolah-olah setiap putaran baut adalah bukti baktinya pada keluarga. Di sebelahnya, Pak Sano bekerja dalam diam. Gerakannya efisien, tanpa suara, namun matanya sesekali melirik ke arah warung—sebuah tatapan yang hanya bisa diterjemahkan oleh Ana. Malam-malam di kamar tidur mereka kini telah berubah menjadi sebuah panggung sandiwara yang melelahkan. Firman masih sering menggunakan Tissue Magic sebagai "senjata" rahasianya. Ia bertahan lama, bergerak dengan napas memburu, dan mendesah seolah ia baru saja memenangkan sebuah pertempuran hebat. Di bawahnya, Ana melakukan
Chapter ini membutuhkan 2 Ink untuk dibaca. Saldo kamu saat ini 0 Ink.
Akses chapter ini bersifat pribadi dan dilindungi hak cipta. Distribusi ulang tanpa izin tidak diperbolehkan.
Masuk untuk MembeliKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.