Chapter 21
Rahasia di Balik Bengkel dan Tembok Tipis Ana - 2 Juni 2026 - 4.682 kata
Ana buru-buru berdiri. Lututnya gemetar, kakinya seperti tak bertulang. Dengan gerakan tergesa yang hampir seperti lari kecil, ia mundur dua langkah menjauhi Pak Sano, kembali ke tumpukan kain lama yang berserakan di lantai. Tangan kirinya cepat menarik ujung daster yang tersingkap hingga pinggang, merapikan kain itu dengan jari-jari yang gemetar. Tangan kanannya menyusup ke rambutnya yang sudah diikat kuda poni, menarik beberapa helai yang lepas, merapikan cepat agar tidak acak-acakan. Napasnya pendek, dadanya naik-turun cepat, pipinya masih panas dan basah oleh air mata yang belum kering. Pak Sano masih membeku di tempat. Tubuhnya kaku, kontolnya yang tadi mengacung keras masih berdenyut di udara dingin gudang. Matanya melebar, mulutnya setengah terbuka, belum mampu mencerna apa yang baru saja terjadi. Birahinya masih membara, napasnya berat, tapi otaknya lambat menangkap suara langkah Firman yang semakin dekat. Lalu ia tersadar. Matanya celingak-celinguk cepat, menyapu seluruh sudut gudang yang sempit. Kardus-kardus, tumpukan baju lama, rak besi berkarat. Ia melihat satu kardus besar yang tertutup rapat di pojok dekat lemari. Tanpa berpikir panjang, tangannya langsung menarik resleting celana cargo-nya ke atas — sreeet — sambil berjalan tergesa ke kardus itu. Ia membungkuk, memeluk kardus besar itu dengan kedua tangan, mengangkatnya seolah-olah sedang membantu membersihkan gudang. Kardus
Chapter ini membutuhkan 2 Ink untuk dibaca. Saldo kamu saat ini 0 Ink.
Akses chapter ini bersifat pribadi dan dilindungi hak cipta. Distribusi ulang tanpa izin tidak diperbolehkan.
Masuk untuk MembeliKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.