Chapter 18
Rahasia di Balik Bengkel dan Tembok Tipis Ana - 2 Juni 2026 - 3.637 kata
Pagi itu Firman bangun lebih dulu dari biasanya. Ia menggeliat pelan, merasakan tubuhnya masih agak pegal karena kerja kemarin. Ana masih tertidur lelap di sampingnya, napasnya teratur. Firman tersenyum kecil, lalu bangkit pelan agar tidak membangunkan istrinya. Ia masuk ke kamar mandi seperti biasa. Saat hendak mengambil handuk, matanya tertumbuk pada seprai kasur yang ada di tumpukan kain kotori. Seprai itu tampak agak basah, dan ada bau samar yang aneh. Firman mendekat, mengambil seprai itu, lalu menciumnya pelan. Bau anyir. Bau cairan kewanitaan yang khas. Ia diam sebentar, alisnya berkerut ringan. Ana masturbasi? Pikirannya langsung ke sana. Mungkin istrinya kesepian karena ia sering pulang malam dan jarang memberi perhatian. Pikiran itu membuat dadanya sedikit sesak, tapi juga lega. Setidaknya bukan hal yang buruk. Tapi… kenapa seprai basah sekali? Sebagian kecil pikirannya tiba-tiba teringat kata-kata Pak Bambang tempo hari di bengkel bubut. Duda tua itu biasanya lapar banget… Yang kelihatan sopan itu biasanya yang paling licik… Firman menggeleng keras, mencoba mengusir pikiran itu. Ngga mungkin. Ana setia. Pak Sano juga orang baik. Ana pasti cuma… eee, kesepian. Aku yang kurang perhatian akhir-akhir ini. Ia meninggalkan sprei di tumpukan baju, lalu mandi dengan air dingin yang menyiram tubuhnya. Saat keluar dari kamar
Chapter ini membutuhkan 2 Ink untuk dibaca. Saldo kamu saat ini 0 Ink.
Akses chapter ini bersifat pribadi dan dilindungi hak cipta. Distribusi ulang tanpa izin tidak diperbolehkan.
Masuk untuk MembeliKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.