Chapter 17
Rahasia di Balik Bengkel dan Tembok Tipis Ana - 2 Juni 2026 - 3.042 kata
Pak Sano melenguh panjang saat kepalanya yang panas dan berurat mulai menyesaki mulut Ana. Namun, hanya dalam hitungan detik, ia mengernyit dan menarik napas pendek. "Gigi, nduk. Jangan kena gigi," bisiknya, suaranya mengandung teguran sekaligus tuntutan. Ana memang kaku. Rahangnya tegang, bibirnya gemetar hebat. Setiap gerakan naik-turunnya terasa canggung dan gugup—sebuah penolakan mental yang terwujud dalam kekakuan fisik. Baginya, setiap detik adalah siksaan, namun bagi Pak Sano, ini adalah proses "penjinakan". Pak Sano mengusap rambut Ana dengan tangan kirinya, jemarinya sedikit mencengkeram kulit kepala Ana agar posisi wajahnya tidak menjauh. Suaranya tetap rendah, seolah sedang membimbing seorang murid. "Pakai bibir saja, nduk. Lidahmu gerakkan di bawahnya," perintahnya pendek. "Nah... begitu. Hisap yang dalam. Pintar." "Ooooohhh... enak banget, nduk..." Ana memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan air mata yang tersisa membasahi pipinya. Ia mencoba menepis rasa mual yang terus mendesak di kerongkongannya karena aroma oli dan keringat yang tajam. Dengan pasrah, ia mulai menuruti setiap instruksi itu. Bibirnya dikuncupkan lebih rapat, lidahnya mulai bergerak di bawah batang yang tebal tersebut, merasakan setiap detak nadi yang berdenyut panas di dalam mulutnya. Ia hanya ingin ini segera berakhir. Ia tidak sadar bahwa semakin ia menuruti perintah itu, semakin Pak Sano merasa bahwa Ana sudah sepenuhnya
Chapter ini membutuhkan 2 Ink untuk dibaca. Saldo kamu saat ini 0 Ink.
Akses chapter ini bersifat pribadi dan dilindungi hak cipta. Distribusi ulang tanpa izin tidak diperbolehkan.
Masuk untuk MembeliKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.