Chapter 15
Rahasia di Balik Bengkel dan Tembok Tipis Ana - 2 Juni 2026 - 2.752 kata
Firman memacu motornya perlahan menyusuri aspal jalan poros yang seolah berasap karena terik siang. Angin panas menyapu wajahnya yang berpeluh, namun pikirannya masih tertinggal di rumah. Pertengkaran hebat beberapa hari lalu memang mulai mencair pagi tadi, menyisakan rasa lega yang tipis. Ia tersenyum kecil saat teringat tawa Ana ketika ia menggodanya soal permen strawberry—sebuah upaya kecil untuk menambal retakan yang ia sendiri tak tahu seberapa dalam. "Semoga hari ini Ana mulai membaik," batinnya, mencoba mengusir sisa kegelisahan. Tiga puluh menit berlalu hingga ia sampai di bengkel bubut milik Pak Bambang. Bengkel itu pengap, penuh dengung mesin presisi yang memekakkan telinga dan aroma besi panas yang menyengat. “Eh, Firman! Kemana aja? Baru kelihatan batang hidungnya!” Pak Bambang, pria gempal dengan kumis tebal yang selalu tampak berminyak, menyapa sambil menyeka tangannya ke lap kain yang sudah menghitam. Mereka sudah berteman lama, jenis pertemanan laki-laki bengkel yang bicaranya lugas dan apa adanya. Firman turun, melepas helmnya yang pengap. “Sibuk, Bang. Motor lagi numpuk di bengkel. Ini ada satu blok silinder, tolong bubutin, ya.” Pak Bambang mengamati mesin itu sejenak. “Oke, taruh situ. Antre ya, kira-kira satu setengah jam. Duduk dulu, minum kopi biar ngga oleng.” Mereka bergeser ke bangku kayu di bawah pohon
Chapter ini membutuhkan 2 Ink untuk dibaca. Saldo kamu saat ini 0 Ink.
Akses chapter ini bersifat pribadi dan dilindungi hak cipta. Distribusi ulang tanpa izin tidak diperbolehkan.
Masuk untuk MembeliKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.