Chapter 14
Rahasia di Balik Bengkel dan Tembok Tipis Ana - 2 Juni 2026 - 3.342 kata
Malam itu, lampu tidur menyemburkan pijar jingga yang samar, menyentuh dinding dan selimut yang kusut dengan sisa-sisa kehangatan yang menipu. Firman duduk di tepi ranjang; kaos oblong putihnya masih menyisakan lembap di bagian bahu pasca mandi. Aroma sabun kayu manis yang jujur menguar di udara kamar yang sejuk, namun bagi Ana, wangi itu kini terasa hambar. Di depan cermin, Ana menyisir rambutnya dengan gerakan yang lambat dan kosong. Ia menatap pantulannya sendiri, namun jiwanya seolah tertinggal jauh di balik kaca itu. "Sayang… malam ini, boleh ya?" Suara Firman rendah, terdengar seperti permohonan kecil seorang pria yang kelelahan. Ana mengangguk pelan, nyaris tak terdengar. "Iya, Mas." Tanpa banyak kata, Firman bergerak. Tidak ada ciuman lembut di leher, tidak ada jemari yang merayu kulit, tidak ada usaha untuk membangunkan gairah yang sedang mati suri di dalam tubuh istrinya. Ia hanya menyingkap daster Ana, membuka paha wanita itu dengan lututnya, dan masuk dengan satu dorongan yang lugas. Ana menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Rasanya… hampa. Firman bergerak dengan ritme mekanis, sebuah rutinitas yang hanya mengincar pelepasannya sendiri. Napasnya yang berat menghantam ceruk leher Ana, sementara tangannya mencengkeram pinggul istrinya hanya untuk menahan agar tubuh itu tetap terbuka bagi kepentingannya. Setiap hentakan terasa dangkal. Penis
Chapter ini membutuhkan 2 Ink untuk dibaca. Saldo kamu saat ini 0 Ink.
Akses chapter ini bersifat pribadi dan dilindungi hak cipta. Distribusi ulang tanpa izin tidak diperbolehkan.
Masuk untuk MembeliKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.