Chapter 13
Rahasia di Balik Bengkel dan Tembok Tipis Ana - 2 Juni 2026 - 3.303 kata
Hari-hari berikutnya merayap seperti kabut tipis yang enggan beranjak; dingin, lembap, dan menyesakkan. Pagi selalu dimulai dengan ritual yang sama. Cahaya matahari menyusup melalui celah jendela dapur, menyinari piring-piring yang Ana basuh dengan gerakan memutar yang mekanis. Air mengalir deras dari keran, namun Ana merasa tangannya seolah mati rasa—seperti bukan miliknya sendiri. Setiap tetes air yang menghantam wastafel meninggalkan gema kosong di dadanya, serupa detak jam yang menghitung sisa-sisa harga diri yang ia miliki. Bau sabun cuci piring yang biasanya segar kini terasa tajam dan memuakkan, gagal menyamarkan aroma oli hitam yang ia rasa masih mengendap di pori-pori kulitnya. Saat melangkah ke warung, daster Ana bergoyang pelan tertiup angin, namun matanya tetap tertancap pada lantai yang dingin. Ia menyusun botol-botol minuman di rak dengan jari yang gemetar. Setiap kali ia menyentuh permukaan kaca yang berembun, pikirannya justru terseret kembali ke wastafel dapur, tempat di mana tubuhnya pernah dipaksa menyerah. Bahkan embusan angin pagi yang mengenai lehernya terasa seperti napas Pak Sano—panas, berat, dan merusak. Di bengkel, pemandangan itu terasa seperti sandiwara yang kejam. Pak Sano bekerja dengan ketenangan yang mengerikan. Ia mengambil kunci pas, membantu Firman membongkar mesin motor pelanggan, dan bersikap sangat santun. "Ini bautnya, Mas Firman," atau "Sudah
Chapter ini membutuhkan 2 Ink untuk dibaca. Saldo kamu saat ini 0 Ink.
Akses chapter ini bersifat pribadi dan dilindungi hak cipta. Distribusi ulang tanpa izin tidak diperbolehkan.
Masuk untuk MembeliKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.