Chapter 11
Rahasia di Balik Bengkel dan Tembok Tipis Ana - 2 Juni 2026 - 3.215 kata
Malam itu, setelah makan malam sederhana, Firman duduk di tepi ranjang sambil mengusap rambutnya yang masih basah setelah mandi. Ana sedang membereskan piring di dapur, tapi Firman memanggilnya pelan. “Dek… sini dulu sebentar.” Ana mengeringkan tangan di ujung daster, lalu duduk di samping suaminya. Lampu kamar hanya menyala redup. Anak mereka sudah tidur lelap di kasur kecilnya. Firman menghela napas panjang, suaranya lelah tapi tenang. “Hari ini lumayan ramai ya. Dua motor turun mesin, satu ganti ban. Alhamdulillah, penghasilan cukup untuk bayar cicilan ruko bulan ini.” Ana mengangguk kecil, tangannya melipat ujung kerudung di pangkuan. “Iya, Pah. Kemarin-kemarin sepi, hari ini lumayan.” Firman mengambil ponsel, membuka catatan keuangan yang sederhana. “Kalau begini terus, dua bulan lagi kita bisa lunasin cicilan motor. Sisanya buat tambah stok oli sama sparepart. Kamu gimana? Warung hari ini laku berapa?” “Biasa saja. Kopi, rokok, sama minyak goreng. Dua ratus lima puluh ribu lebih dikit.” Firman tersenyum tipis, tangannya menyentuh punggung Ana pelan, mengusap naik-turun. “Syukurlah. Pelan-pelan kita naik. Dulu pas baru pindah ke sini, hampir setiap malam aku mikirin cicilan. Takut bangkrut. Sekarang… ada Pak Sano, bengkel lebih lancar. Kamu juga sabar banget ngurus warung sendirian.” Ana hanya diam sebentar. Jarinya memilin ujung kerudung lebih
Chapter ini membutuhkan 1 Ink untuk dibaca. Saldo kamu saat ini 0 Ink.
Akses chapter ini bersifat pribadi dan dilindungi hak cipta. Distribusi ulang tanpa izin tidak diperbolehkan.
Masuk untuk MembeliKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.