Chapter 10
Rahasia di Balik Bengkel dan Tembok Tipis Ana - 2 Juni 2026 - 3.068 kata
Sinar matahari pagi mulai mengintip dari balik atap seng, cahayanya kuning pucat menyusup melalui celah pagar besi bengkel yang berkarat. Suara ayam jantan di belakang kontrakan pecah di udara dingin, bersahutan dengan derit gerobak sayur di jalan raya. Bau daun bawang segar dan tanah basah terbawa angin, mencoba memberikan ilusi bahwa hari ini adalah awal yang baru. Firman menarik rantai pintu besi. Gemerincing. Bunyi logam itu bergema di dadanya yang terasa lapang. Setelah malam tadi, ia merasa telah memenangkan kembali dunianya. Ia menghela napas panjang, paru-parunya menyesap udara pagi dengan syukur, lalu mulai merapikan perkakas dengan gerakan yang bertenaga. Ana keluar tak lama kemudian. Jilbab putihnya tampak kontras dengan bayang-bayang di bawah matanya yang tidak bisa disembunyikan bedak tipis. Ia menata botol minuman di kulkas warung. Tangan mengambil, meletakkan, menyusun. Sebuah rutinitas untuk menenangkan badai di kepalanya. Mungkin… ini akhirnya. Pak Sano tidak akan berani kembali setelah apa yang terjadi. Hati Ana mulai tenang saat jari-jarinya menyentuh embun dingin di botol kaca. Sampai suara itu datang. Treng... teng... teng... teng... detdetdetdettt Suara motor 2-tak butut itu merobek keheningan fajar. Asap biru tipis dari knalpot tua itu membawa bau sangit yang langsung menusuk indra penciuman Ana. Motor terhenti. Sebuah kaki dengan
Chapter ini membutuhkan 1 Ink untuk dibaca. Saldo kamu saat ini 0 Ink.
Akses chapter ini bersifat pribadi dan dilindungi hak cipta. Distribusi ulang tanpa izin tidak diperbolehkan.
Masuk untuk MembeliKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.