Chapter 2
TABIR: Jebakan Dukun Cabul - 17 Juni 2026 - 1.031 kata
Serial Antologi
[TABIR]
01: Jeratan Dukun Cabul
Desa Sumberejo diringkus oleh sisa hujan siang tadi. Bau tanah basah yang pekat menguap bersama udara dingin yang merayap masuk melalui celah-celah dinding bambu. Di serambi depan, Mbah Suro duduk dengan punggung tegak, membiarkan tubuhnya dibalut sarung batik cokelat tua yang mulai pudar. Di tangan kanannya, tasbih kayu berputar. Namun, kali ini gerakannya tidak konstan. Jemarinya memetik butiran kayu itu dengan ritme yang lebih cepat, menciptakan suara ketukan halus yang monoton dan gelisah.
Matanya yang seolah selalu teduh itu kini menyipit, tertuju lurus pada ujung gang bambu. Kosong. Hanya ada lambaian daun-daun pisang yang basah diterpa angin sore.
Pak Hadi dan Laras belum juga menunjukkan batang hidung mereka.
Mbah Suro menarik napas dalam, membiarkan udara dingin menggelitik paru-parunya. Sudut bibirnya dipaksa terangkat, mengukir senyum kesabaran yang biasa ia pertontonkan pada warga. Namun, di balik kerah baju koko putihnya yang kaku, ada getaran halus yang tak kasatmata. Ada ketidaknyamanan yang mulai menggerogoti lambungnya. Kehilangan kendali adalah satu-satunya hal yang paling ia benci di dunia ini. Ia terbiasa menjadi poros, tempat di mana orang-orang putus asa merangkak dan menyerahkan logika mereka.
Pikirannya mendadak melayang pada kejadian beberapa bulan lalu. Seorang pasien wanita yang hampir saja ia "jinakkan" tiba-tiba menghilang. Wanita itu melarikan diri ke kota, memutus semua komunikasi, dan membawa pergi sebuah rahasia yang hampir saja meledakkan reputasi yang telah ia pahat selama lima belas tahun di desa ini. Mengingat hal itu, rahang Mbah Suro mengencang hingga urat lehernya menonjol samar.
"Sing sabar….," bisiknya pada keheningan serambi. Suaranya rendah, serak, seolah sedang menenangkan iblis yang mulai menggeliat di dalam dadanya.
Keesokan harinya, Mbah Suro berusaha melarutkan diri dalam rutinitas sucinya. Pagi-pagi sekali, ia sudah menerima kedatangan seorang ibu yang menangis karena bayinya demam tinggi. Dengan gerakan tangan yang lentik dan bersih, ia mengusap ubun-ubun sang bayi, meniupnya lembut sambil melafalkan doa-doa panjang yang terdengar khusyuk. Menjelang siang, seorang janda tua datang meminta petunjuk arah mata angin yang baik untuk membuka warung kelontong agar laris.
Semua ia layani dengan senyum yang sama—sopan, teduh, dan meyakinkan. Warga tetap memandangnya seolah melihat setitik cahaya di tengah dunia mereka yang gelap.
Namun, topeng suci itu terasa semakin berat dipakai. Setiap kali ia memejamkan mata dalam doa, bayangan yang muncul bukanlah ketenangan, melainkan rautan wajah Laras. Ia mengingat dengan sangat detail bagaimana wanita alim itu menunduk hingga jilbab kremnya menyentuh dada. Ia mengingat getaran hebat di bahu Laras saat ia menjelaskan ritual di ruang belakang—ritual persetubuhan yang harus ia saksikan secara langsung di ruangan yang sama. Mbah Suro mengingat kilatan ketakutan yang akut di mata Laras, dan baginya, ketakutan wanita itu adalah aroma hidangan yang paling membangkitkan selera.
Malamnya, rumah tua itu kembali sunyi. Hanya ada derit kayu lantai yang memprotes setiap langkah kakinya. Mbah Suro berdiri mematung di depan pintu ruang ritual di bagian belakang rumah. Ruangan yang pintunya tak pernah tersentuh cahaya matahari selama berbulan-bulan.
Bau kemenyan lama yang apak dan pekat merembes dari celah bawah pintu, bercampur aroma minyak urut yang tertinggal di udara. Ia mengulurkan tangannya yang kasar, menyentuh permukaan kayu yang dingin dan berdebu. Jemarinya mencengkeram gagang pintu besi yang berkarat, namun ia tidak memutarnya.
"Nek nganti dheweke ora bali... mbok menawa durung diparingi dalan." gumamnya dalam hati, mencoba menghibur diri dengan kalimat-kalimat pasrah yang biasa ia cekokkan kepada pasiennya. Namun, kata-kata itu terasa hampa, memantul di dinding ruang tamu yang sunyi. Benang kendali yang biasanya ia ikat dengan kuat di leher korbannya, kali ini terasa melonggar. Hampir terlepas sepenuhnya.
Hari ketiga berlalu tanpa ada ketukan di pintu depan. Kegelisahan Mbah Suro mulai bermutasi menjadi sesuatu yang lebih kelam. Ia berjalan ke masjid untuk shalat berjamaah lebih sering dari biasanya, bukan untuk mengejar pahala, melainkan untuk memindai barisan saf. Ia mencari sosok Pak Hadi. Namun, pria paruh baya yang bahunya merosot itu tidak pernah terlihat.
Kekhawatiran itu kini berubah menjadi ancaman nyata.
Bagaimana jika Hadi dan Laras mulai berbicara pada orang lain?
Bagaimana jika mereka menceritakan ritual gila yang ia usulkan kepada warga di desa sebelah, atau lebih buruk lagi, kepada perangkat desa?
Satu kata saja yang keluar dari mulut Laras bisa menghancurkan kerajaan manipulasi yang ia bangun dengan darah dan kepalsuan.
Sore menjelang Ashar, langit di luar berubah menjadi abu-abu pekat. Hujan deras mulai menghantam atap seng dengan suara berisik yang memekakkan telinga. Mbah Suro duduk sendirian di ruang tamu. Cahaya dari lampu minyak teplok di sudut ruangan bergoyang ditiup angin yang menyelinap dari sela jendela, menciptakan bayangan hitam yang panjang dan meliuk-liuk di atas lantai kayu yang mengilap.
Tasbih kayu di jemarinya berputar semakin cepat, ctak... ctak... ctak... Suara benturan butiran kayu itu beradu dengan gemuruh guntur di luar.
Senyum sopan yang biasanya melekat di wajahnya kini hilang sepenuhnya. Bibirnya datar, melengkung ke bawah. Tatapan matanya dingin, kosong, dan sarat akan kalkulasi seorang sosiopat.
"Apa aku kesusu, ya... ngomong soal ritual kuwi?" bisiknya pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh suara hujan.
Ia mencoba memaksa dirinya untuk ikhlas dan mencari mangsa lain. Namun, semakin ia mencoba melepaskan, semakin jelas api hasrat di dalam dadanya menjilat lebih tinggi. Itu bukan amarah biasa karena kehilangan mangsa. Itu adalah gairah predator yang menolak makanannya lolos. Ia ingin melihat Laras yang alim dan kaku itu bertekuk lutut. Ia ingin menyaksikan bagaimana wanita yang menjaga kehormatannya itu perlahan-lahan hancur, menanggalkan logikanya, dan menyerahkan tubuhnya dengan kepatuhan mutlak di atas tikar pandan ruang belakangnya.
Malam semakin larut, dan badai di luar semakin menggila. Mbah Suro menatap tajam ke arah pintu depan yang terkunci rapat.
Apakah mereka benar-benar memilih untuk menyelamatkan diri dan tidak akan pernah kembali?
Atau, di balik pekatnya hujan malam ini, pasangan suami istri yang putus asa itu sebenarnya sedang berjalan mendekat, membawa seluruh kehancuran mereka untuk diserahkan ke tangannya?
Jemarinya tiba-tiba berhenti memutar tasbih. Ia mencengkeram butiran kayu itu erat-erat hingga telapak tangannya terasa sakit. Ia mendengarkan dengan seksama, mencoba membedakan antara suara hantaman air hujan dengan suara ketukan lirih yang mungkin saja baru saja mendarat di pintu depannya.
Tapi tiba-tiba terdengar ketukan pintu yang pelan namun jelas.
Tok... tok... tok...
Suara itu nyaris tenggelam oleh deru angin malam, namun polanya konstan.
Mbah Suro tersenyum tipis. Ia tahu siapa yang datang. Senyum itu dingin, hanya menggerakkan sudut bibirnya tanpa pernah menyentuh sepasang matanya yang sehitam jelaga.
bersambung….
Lintang GelapKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.