Chapter 1
TABIR: Jebakan Dukun Cabul - 17 Juni 2026 - 2.607 kata
Serial Antologi
[TABIR]
01: Jeratan Dukun Cabul
Desa Sumberejo terbangun dengan perlahan di balik selimut kabut pagi yang tebal. Udara masih dingin dan lembap. Bau tanah basah bercampur aroma daun pisang basah dan asap kayu dari dapur-dapur warga menyelimuti gang-gang sempit di antara rumah-rumah kayu.
Mbah Suro melangkah keluar dari rumahnya yang sederhana namun selalu rapi. Pria berusia 45 tahun itu mengenakan baju koko putih bersih dan sarung batik cokelat tua. Janggut tipisnya terawat rapi. Di tangan kanannya, tasbih kayu berputar pelan dengan gerakan yang sudah menjadi kebiasaan. Langkahnya tenang. Wajahnya selalu menampilkan ketenangan yang jarang terganggu.
Ia berjalan menyusuri jalan setapak menuju masjid kecil di ujung desa. Setiap warga yang berpapasan dengannya langsung membungkuk hormat. Beberapa bahkan berhenti sejenak untuk mencium tangannya.
"Mbah Suro, sugeng enjing." sapa lelaki tua itu sambil menunduk dalam. "Matur nuwun sanget nggih, Mbah, donga wingi niku. Anak kula sampun wiwit saras."
Wajah lelaki itu tampak lega. Berkali-kali ia mengucapkan terima kasih atas doa yang diberikan Mbah Suro kemarin.
Mbah Suro tersenyum lembut. Suaranya rendah, halus, dan penuh wibawa.
"Alhamdulillah...."
Lelaki itu mengangguk berkali-kali. Nasihat sederhana itu terdengar seperti peneguhan yang selama ini ia butuhkan.
Di Desa Sumberejo, Mbah Suro bukan sekadar pendatang biasa. Lima belas tahun lalu ia tiba di desa ini dengan membawa hanya satu tas besar dan cerita tentang mimpi-mimpi petunjuk dari leluhur. Tak lama kemudian, nama baiknya mulai menyebar. Ia berhasil menyembuhkan anak kecil yang sakit keras. Membantu ladang yang gagal panen kembali hijau. Memberi petunjuk kepada pasangan suami istri yang sudah lama putus asa.
Orang-orang menyebutnya sebagai orang berilmu. Wajahnya yang tenang, cara bicaranya yang selalu sopan menggunakan bahasa krama inggil, serta penampilannya yang religius membuat siapa pun merasa segan dan nyaman sekaligus. Ia tidak pernah memakai atribut dukun yang norak. Tidak ada kain putih, tidak ada sesaji mencolok. Hanya tasbih dan doa-doa yang ia ucapkan dengan khidmat.
…
Sore itu, tepat setelah salat Ashar berjamaah, Mbah Suro duduk bersila di serambi masjid. Beberapa warga desa segera mendekat, duduk melingkar dengan kepala tertunduk, mengharapkan secercah petuah atau sekadar tempat untuk menumpahkan keluh kesah. Dengan sabar, ia mendengarkan setiap curhatan mereka, sesekali mengangguk pelan sambil jemarinya memutar tasbih kayu dengan irama yang konsisten. Tatapannya selalu tampak teduh, memancarkan kedamaian yang membuat siapa pun merasa segan. Namun, di balik kerling matanya yang lembut, terdapat kedalaman yang dingin—sebuah kekosongan yang tidak tersentuh oleh doa-doa yang baru saja ia lantunkan.
Saat warga perlahan membubarkan diri dan suasana serambi kembali hening, Mbah Suro membiarkan kelopak matanya terpejam. Kali ini, ia tidak sedang memanjatkan doa. Ia justru membiarkan dirinya tenggelam dalam keheningan yang ia ciptakan sendiri, meresapi posisinya sebagai poros semesta bagi orang-orang yang tersesat di hadapannya.
Bagi Mbah Suro, penghormatan yang diberikan warga desa bukanlah sekadar basa-basi sopan santun; itu adalah bentuk ketundukan yang ia pahat dengan sangat teliti. Ia menikmati bagaimana sorot mata mereka perlahan berubah menjadi kosong, menanggalkan logika, hingga akhirnya hanya menggantungkan sisa-sisa harapan pada ujung lidahnya. Kepuasan itu merayap pelan di dadanya, memberi sensasi candu yang manis. Ia sangat paham, semakin dalam mereka bergantung, semakin mudah baginya untuk memutarbalikkan kenyataan di kepala mereka—menjadikan dirinya satu-satunya jalan keluar, padahal sebenarnya, ia hanyalah jurang yang sedang mereka tuju.
Tiba-tiba, derap langkah kaki yang cemas memecah lamunannya. Mbah Suro membuka mata perlahan, tidak dengan keterkejutan, melainkan dengan ketenangan yang tertata. Di depannya, seorang pria paruh baya berdiri—bahu yang merosot, tangan yang saling meremas dengan buku jari memutih, dan sorot mata yang redup oleh keputusasaan yang menahun.
"Nyuwun sewu, Mbah," pria itu membungkuk dalam, hampir mencium lutut Mbah Suro. "Kulo Hadi, Mbah... Saking desa sebelah. Nyuwun sewu nggih sampun ngganggu."
Ia memperkenalkan diri sebagai Hadi dari desa sebelah dan meminta maaf karena datang mengganggu.
Mbah Suro tersenyum lembut. Senyum itu tidak menjalar hingga ke matanya, namun cukup untuk membuat pria di depannya merasa tenang. Ia mengangguk perlahan, jemarinya yang lentik dan bersih memberi isyarat agar pria itu duduk.
"Nggih, ono opo sing iso tak bantu, Pak?" suaranya rendah, halus, seolah sedang menimbang beban dunia.
Pak Hadi mendaratkan diri di bangku kayu dengan gerakan tersentak, tangannya yang gemetar masih saling bertaut di atas pangkuan.
"Ngenten, Mbah..." suaranya pecah, ada getar ketakutan yang kentara. "Kulo krungu soko sedulur sing tau mriki. Jarene, neng desa iki wonten wong pinter sing iso mbantu pasangan sing durung nduwe anak."
Ia menelan ludah sebelum melanjutkan.
"Kulo lan bojo kulo, Laras, wis meh telung taun omah-omah, Mbah. Ning nganti saiki dereng diparingi momongan."
Ia mengaku datang karena mendengar kabar tentang seseorang yang dipercaya mampu membantu pasangan yang belum juga dikaruniai keturunan.
Mbah Suro tidak langsung menjawab. Ia memutar tasbih kayu di tangannya dengan ritme yang melambat, sengaja menciptakan jeda yang mencekik. Ia menatap Pak Hadi dengan tatapan teduh, sorot mata yang seolah menyelami setiap sudut penderitaan pria itu, memberikan ilusi bahwa ia memahami segalanya. Keheningan menggantung di udara, berat dan lembap oleh aroma tanah basah.
"Nuwun sewu, Pak Hadi..." ucapnya akhirnya, suaranya pelan dan berwibawa, hampir seperti desisan. "Neng deso iki pancen ono sing biasa mbantu perkoro koyo ngono. Ning kabeh kudu dilakoni nganggo niat sing resik lan tetep manut agama."
Nada bicaranya tenang dan penuh keyakinan, seolah apa yang ia lakukan bukan sekadar pertolongan biasa.
Mbah Suro menarik sudut bibirnya tipis.
"Yen njenengan takon sopo wonge... nggih, wong sing njenengan goleki kuwi aku dhewe."
Kalimat itu diucapkan begitu saja, tanpa kesombongan sedikit pun. Namun bagi Pak Hadi, pengakuan itu terasa seperti jawaban dari pencarian panjangnya.
Pak Hadi mematung. Matanya melebar, napasnya tertahan seolah baru saja menemukan air di tengah gurun. Ia menunduk kembali, kali ini dengan rasa takjub yang mendalam.
"Lha... Mbah Suro dewe toh?" ucapnya pelan, hampir berupa bisikan. "Kulo mboten nyongko saget langsung ketemu panjenengan."
Wajahnya yang semula kusam tampak sedikit lebih hidup. Harapan yang hampir padam perlahan menyala kembali.
Mbah Suro membalasnya dengan senyum tipis yang sarat akan otoritas, jemarinya perlahan mengelus permukaan tasbih dengan gerakan repetitif yang menghipnotis.
"Mboten nopo-nopo, Pak. Kabeh wis ana dalane dhewe-dhewe. Yen pancen niatmu lan Bu Laras apik, sesuk sore monggo teka neng omahku. Luwih enak yen rembugane neng panggonan sing luwih penak."
Ia mengundang Pak Hadi dan istrinya datang ke rumahnya keesokan sore agar mereka bisa berbicara lebih leluasa.
Ia mencondongkan tubuh sedikit, suaranya turun menjadi lebih intim, penuh arahan yang detail.
"Omahku neng pinggir sawah. Soko kene lurus wae liwat gang pring, mengko belok kiwa neng wit waru gedhe. Omah kayu pager ireng, ngarepe ana pot kembang. Insyaallah ora bakal kliru. Tekane karo Bu Laras sekalian nggih... ben aku iso weruh kahanane langsung."
Ia menjelaskan letak rumahnya dengan rinci dan secara khusus meminta agar Pak Hadi membawa istrinya juga.
Pak Hadi mengangguk cepat, kepalanya bergerak naik-turun berkali-kali. Wajahnya yang kusam kini tampak cerah oleh kilatan harapan yang baru saja ia dapatkan.
"Nggih, Mbah. Enjing kulo teko kaleh bojo kulo, Laras. Matur nuwun sanget nggih."
Mbah Suro mengangguk sekali, gerakan yang sangat kecil namun penuh arti. Jemarinya mencengkeram tasbih lebih erat, menahan gairah yang mulai membuncah di balik topeng kesantunannya.
Setelah Pak Hadi pergi dengan langkah yang lebih ringan, Mbah Suro membiarkan dirinya tetap duduk di serambi. Senyumnya tidak lagi samar; ia melebar, memenuhi wajahnya hingga ke mata. Ia menatap hamparan sawah yang mulai terang disapu cahaya senja, memikirkan betapa mudahnya menanamkan harapan pada mereka yang putus asa.
…
Sore itu cahaya matahari jingga menyusup lemah melalui celah-celah daun pohon di halaman. Mbah Suro duduk bersila di tikar pandan di ruang tamu rumah kayunya. Di hadapannya, seorang bapak tua duduk dengan wajah meringis. Kaki kanannya yang kesleo diletakkan di pangkuan Mbah Suro.
Mbah Suro memegang telapak kaki tua itu dengan kedua tangan kasarnya. Jari-jarinya yang kuat namun telaten mulai menekan pelan titik-titik saraf di sekitar pergelangan. Gerakannya lambat dan penuh konsentrasi. Sesekali ia meniup pelan ke arah kaki tersebut sambil melafalkan doa-doa dengan suara rendah yang hampir seperti bisikan.
"Anteng mawon nggih.. sikile aja tegang… ben getihe lancar maneh ben cepet mari.”
Ia meminta lelaki tua itu tetap rileks agar peredaran darah di kaki yang cedera bisa kembali normal.
Tangan Mbah Suro terus bergerak. Ia memijat dengan ritme yang teratur. Tekanan jarinya naik turun dari tumit hingga jari kaki. Bau kemenyan samar yang dibakar di pojok ruangan semakin terasa. Campur dengan aroma minyak kayu putih yang ia oleskan tipis di kulit bapak tua itu.
Bapak tua itu menggigit bibirnya menahan sakit di awal. Namun perlahan wajahnya mulai rileks. Keringat tipis muncul di dahinya. Mbah Suro terus meniup dan mendoakan dengan suara halus. Tasbih kayu yang tergantung di lehernya bergoyang pelan mengikuti gerakan tubuhnya.
Setelah hampir dua puluh lima menit, Mbah Suro meletakkan kaki itu perlahan di lantai. Ia mengusap kedua telapak tangannya sambil tersenyum tipis.
"Coba Bapak ngadeg alon-alon. Sikile digerakna sethithik."
Ia meminta lelaki tua itu berdiri perlahan dan mencoba menggerakkan kaki yang tadi cedera.
Bapak tua itu mencoba berdiri. Wajahnya yang tadi penuh kesakitan kini tampak lega. Ia melangkah kecil dengan hati-hati.
"Alhamdulillah, Mbah... Rasane wis luwih entheng.. matur nuwun sanget, Mbah Suro."
Raut wajahnya berubah cerah. Rasa nyeri yang sejak tadi membuatnya meringis kini tampak jauh berkurang.
Mbah Suro mengangguk pelan. Suaranya tetap rendah dan sopan.
"Sing sabar nggih sawetara dina. Aja dipekso nyambut gawe dhisik…. yen isih krasa lara, mriki maneh nggih."
Ia menyarankan lelaki tua itu beristirahat beberapa hari dan tidak memaksakan diri bekerja sampai kakinya benar-benar pulih.
Baru saja bapak tua itu pamit dan keluar rumah dengan langkah yang lebih ringan, terdengar suara langkah lain mendekat dari pintu depan. Mbah Suro mengangkat wajahnya. Ia langsung mengenali kedua sosok yang datang.
"Ah... Pak Hadi," sapanya dengan nada ramah namun tenang. "Monggo, monggo... Monggo mlebet rumiyin, Pak."
Nada suaranya hangat, seolah memang sudah menunggu kedatangan mereka sejak tadi.
Pak Hadi masuk lebih dulu, diikuti Laras yang berjalan di belakangnya dengan kepala tertunduk. Perempuan itu mengenakan jilbab krem polos dan gamis panjang yang menutupi seluruh tubuhnya. Sikapnya canggung. Tangannya saling genggam erat di depan perut.
Mbah Suro berdiri menyambut mereka.
"Nyuwun sewu, Bu. Monggo pinarak mriki."
Ia mempersilakan Laras duduk di dekatnya dengan sikap yang sopan dan penuh penghormatan.
Mereka berdua duduk di kursi tamu kayu jati. Mbah Suro kembali ke tempatnya sambil memutar tasbih kayunya pelan. Tatapannya lembut, penuh perhatian, terutama saat melirik Laras yang masih menunduk malu.
"Wingi awake dhewe wis tau ketemu ning masjid," ucap Mbah Suro pelan sambil menatap wanita di hadapannya. "Niki mesthi Bu Laras nggih?"
Ia tampak sengaja mengajak Laras berbicara lebih dulu agar perempuan itu merasa lebih nyaman.
Laras hanya mengangguk kecil tanpa mengangkat wajahnya. Pipinya terlihat memerah.
Pak Hadi yang lebih dominan langsung bicara. Suaranya penuh harap sekaligus putus asa.
"Nggih, Mbah... niki garwa kula," jawabnya pelan. "Wis luwih soko rong taun awake dhewe usaha, ning durung diparingi momongan. Kula kepengin banget nduwe anak, Mbah. Omah rasane sepi terus yen ora ana swara bocah cilik."
Kata-kata itu keluar dengan berat. Kerinduan untuk memiliki anak tampak sudah lama ia pendam dan semakin sulit disembunyikan.
Mbah Suro mendengarkan keluhan Pak Hadi dengan wajah tetap tenang. Sesekali ia mengangguk pelan sambil memutar tasbih kayunya. Matanya sesekali melirik Laras yang masih tertunduk, tangannya mencengkeram ujung gamis dengan gugup.
Setelah keheningan sejenak, Mbah Suro mengambil sebuah jimat kecil berbentuk segitiga dari dalam laci meja. Ia memegang jimat itu di telapak tangan, lalu memejamkan mata rapat-rapat. Bibirnya bergerak pelan melafalkan mantra dengan suara rendah yang hampir tak terdengar. Bau kemenyan di ruangan semakin terasa pekat.
Beberapa menit berlalu dalam diam. Hanya suara napas dan derit kayu lantai yang terdengar.
Akhirnya Mbah Suro membuka mata perlahan. Tatapannya kini lebih dalam, penuh pengertian sekaligus prihatin.
"Nyuwun sewu, Pak Hadi.. Bu Laras," ucapnya dengan suara halus dan rendah.
Nada bicaranya terdengar hati-hati, seolah ia sedang menyampaikan sesuatu yang tidak mudah untuk diucapkan.
"Kula sampun nyobi mirsani kahananipun" suara Mbah Suro terdengar pelan dan berat.
Ia sengaja memberi jeda beberapa saat sebelum melanjutkan.
"Masalahe dudu soko njenengan kalihan. Ono sing melu-melu nyampuri."
Ucapan itu membuat suasana ruangan yang tadinya tenang berubah menjadi tegang.
Ia memejamkan mata sesaat, lalu mengembuskan napas panjang.
"Sing melu nyampuri kuwi jin... lan jin kuwi kepincut kaleh Bu Laras. Dheweke nempel terus, nggawe dalan rejeki momongan dadi ketutup. Mulane nganti saiki durung ana tandha-tandha gadah momongan."
Mbah Suro berbicara dengan keyakinan penuh, seakan apa yang ia katakan adalah sesuatu yang sudah pasti terjadi.
Laras perlahan mengangkat wajahnya. Matanya membesar karena kaget. Pipinya memucat. Ia menatap Mbah Suro dengan campuran takut dan tidak percaya.
Pak Hadi juga terkejut. Alisnya naik tinggi.
"Jin, Mbah? Lha kok iso ngono?"
Ia tampak benar-benar tidak mengerti bagaimana hal seperti itu bisa terjadi.
Mbah Suro tersenyum lembut, suaranya tetap tenang dan meyakinkan.
"Nggih, Pak... makhluk kaya ngono pancen kerep nempel neng pasangan sing dalan momongane isih ketutup," ucapnya pelan. "Biasane dheweke iri karo wong sing pengen cepet nduwe anak. Ning ora usah kuatir. Isih ana cara kanggo ngusire."
Nada bicaranya tenang, seolah perkara seperti itu sudah biasa ia tangani.
Ia lalu mencondongkan badan sedikit.
"Mengko ana ritual khusus neng ruangan mburi. Bapak karo Ibu kudu hubungan suami istri neng kono. Ben makhluk kuwi panas, cemburu, terus lunga dhewe."
Mbah Suro berhenti sejenak, membiarkan pasangan itu mencerna ucapannya.
"Aku bakal ndampingi neng ruangan, karo mbacani donga-donga pengusir. Ben energine luwih kuat terus jin kuwi ora wani bali maneh."
Ia menjelaskan semuanya dengan nada yang meyakinkan, seolah ritual itu memang sesuatu yang wajar dilakukan.
Ruangan terasa semakin hening. Laras kembali menunduk, tapi kali ini bahunya sedikit gemetar. Pak Hadi menelan ludah, matanya berkedip cepat menandakan keguncangan.
Mbah Suro melihat reaksi mereka dengan jelas. Ia sudah sangat berpengalaman menghadapi momen seperti ini. Dengan suara yang semakin sopan dan pelan ia melanjutkan,
"Nyuwun sewu nggih, Pak, Bu... aku paham nek iki pancen abot dirungokke."
Ia mengakui bahwa permintaannya memang tidak mudah diterima oleh pasangan mana pun.
"Ning cara iki sing paling ampuh kanggo mbukak dalan momongan."
Kalimat itu diucapkan dengan keyakinan penuh, seolah tidak ada pilihan lain yang lebih baik selain mengikuti sarannya.
Ia berhenti sebentar, memberi jeda.
"Pak Hadi kaleh Bu Laras ora usah mutuske saiki. Mulih dhisik wae, dipikir-pikir neng omah. Nek isih ragu, njenengan iso takon kaleh Pak Slamet neng desa sebelah. Mbiyen dheweke kaleh bojone tau ngalami sing podho. Alhamdulillah, saiki wis nduwe anak kaleh."
Ia sengaja memberi mereka waktu untuk berpikir, seolah tidak ingin memaksa keputusan apa pun.
Ia berhenti sejenak, memutar tasbihnya perlahan. Senyum tipisnya masih tersisa di sudut bibir.
"Sesuk sore nek atine njenengan wis mantep, monggo teka maneh teng mriki.."
Kalimat itu terdengar hangat dan tulus. Setidaknya, begitulah yang ingin ia tunjukkan kepada pasangan di hadapannya.
Pak Hadi dan Laras pamit dengan langkah yang jauh lebih berat daripada saat mereka datang. Punggung mereka membungkuk, dibebani oleh sebuah beban baru yang baru saja ditanamkan di kepala mereka. Mbah Suro mengantar hingga ke ambang pintu dengan senyum yang tak pernah luntur—sopan, teduh, dan begitu menenangkan.
Setelah pintu kayu itu tertutup rapat, menyisakan derit pelan yang memecah keheningan desa, Mbah Suro tidak segera beranjak. Ia berdiri mematung di ruang tamu, perlahan memutar tasbih kayunya dengan ritme yang melambat.
Matanya tidak lagi menatap ke arah pintu, melainkan tertuju lurus pada pintu ruang ritual di bagian belakang rumah—sebuah ruangan yang pintunya tak pernah tersentuh cahaya matahari selama berbulan-bulan. Di sana, di balik kayu tua yang terkunci rapat, ada sesuatu yang menanti.
Ia melangkah mendekat, langkah kakinya nyaris tak bersuara di atas lantai semen yang dingin. Pak Suro berhenti tepat di depan pintu ruang ritual, tangannya terulur menyentuh permukaan kayu yang kasar. Ia tidak membuka kunci itu, namun ia bisa merasakan kehadiran sesuatu yang bernapas pelan di balik sana.
Sebuah senyum lebar, gelap, dan penuh kemenangan perlahan terukir di wajahnya. Ia tahu betul apa yang akan terjadi esok sore. Pak Hadi dan Laras akan kembali. Mereka akan datang dengan hati yang hancur, ketakutan yang akut, dan sebuah kepatuhan mutlak demi sebuah janji manis yang tak pernah ia niatkan untuk ditepati.
bersambung
Lintang GelapKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.