Chapter 9
Istriku Yang Terampas - 31 Mei 2026 - 3.717 kata
Sudah seminggu berlalu sejak malam itu. Seminggu yang terasa seperti hembusan angin baru dalam pernikahan kami. Semenjak malam itu, Maya mulai melepaskan sedikit demi sedikit kepolosannya, hubungan kami mulai berubah. Tidak lagi dingin, Maya yang dulu selalu kaku, selalu diam, selalu seperti sedang menjalankan kewajiban — kini mulai terbuka. Walau terkadang ia masih malu, masih sering menunduk saat aku memujinya, tapi desahannya sudah lebih lepas. Sentuhannya sudah tidak lagi pasif. Kadang ia berani membalas ciumanku, kadang pinggulnya ikut bergerak mengikuti iramaku, kadang bahkan ia yang memelukku lebih erat setelah kami selesai. Kami semakin sering bercinta — bukan hanya karena “program kehamilan”, tapi karena kami berdua mulai menikmatinya. Malam-malam yang dulu hening kini sering diisi desahan pelan Maya, tawa kecil kami, dan pelukan yang lebih lama setelahnya. Walau begitu, Maya masih alim di luar — tetap sholat tepat waktu, tetap memakai hijab dan gamisnya, tetap memanggilku “Mas” dengan suara lembut. Tapi di dalam kamar, di balik pintu yang tertutup, ia mulai menjadi istri yang lebih liar, lebih hangat, lebih intim. … Pagi ini. Aku keluar dari kamar mandi setelah mandi, masih memakai handuk di pinggang. Maya sedang di dapur, sibuk menyiapkan sarapan. Gamis rumah warna krem membalut tubuhnya dengan lembut. Aku
Chapter ini membutuhkan 3 Ink untuk dibaca. Saldo kamu saat ini 0 Ink.
Akses chapter ini bersifat pribadi dan dilindungi hak cipta. Distribusi ulang tanpa izin tidak diperbolehkan.
Masuk untuk MembeliKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.