Chapter 3
Istriku Yang Terampas - 31 Mei 2026 - 2.263 kata
Esok paginya, aroma sop ayam yang hangat sudah menyelimuti rumah. Aku bangun, tubuh terasa agak pegal karena semalam coding sampai larut dengan laptop di pangkuan. Maya sudah di dapur, gamis rumah krem panjangnya masih rapi, rambut terikat, tangannya mengaduk panci pelan-pelan. Bau kaldu ayam yang gurih bercampur samar dengan pahitnya suplemen paginya yang sudah dia minum duluan.
“Pagi, Mas,” katanya tanpa menoleh, suaranya lembut seperti biasa. “Aku masak sop ayam.”
Aku mendekat, mencium bahunya sekilas dari belakang — gerakan rutin yang sudah menjadi kebiasaan. Kulitnya hangat, tapi selalu terasa seperti ada jarak tipis yang tak pernah hilang. “Makasih, Sayang. Hari ini aku WFO dulu ya. Ada kontrak API system baru, lebih enak kalau ketemu tim langsung. Nggak perlu bolak-balik chat, video call ”
Maya mengangguk kecil, sendoknya masih bergerak pelan. “Iya, Mas.”
Aku mandi cepat. Air hangat mengguyur tubuh, tapi nyeri kecil di selangkangan yang biasa muncul setelah malam coding lama kulewatkan begitu saja — pasti karena kelelahan. Setelah selesai, aku pakai kemeja putih lengan panjang yang sudah disetrika rapi oleh Maya, celana ankle hitam yang pas di kaki, lalu sisir rambut ke belakang dengan sedikit pomade supaya tetap tertata. Cermin kamar mandi memantulkan wajahku yang terlihat fresh, meski mata agak lelah.
Saat aku keluar ke meja makan, semuanya sudah tersaji. Mangkuk sop ayam panas dengan potongan wortel dan kentang, nasi putih hangat, dan segelas air putih. Maya duduk di depanku dengan mangkuk kecilnya sendiri, hanya sedikit nasi dan sop tanpa ayam — dia bilang supaya “nggak terlalu berat” sebelum minum obat lagi nanti.
Kami makan dalam diam yang nyaman, tapi membosankan. Hanya suara sendok beradu piring dan deru kulkas yang terdengar terlalu jelas karena rumah ini terlalu sunyi. Sesekali aku melirik Maya — gamisnya rapi, hijab sudah dipasang meski masih pagi, wajahnya teduh tapi matanya sedikit kosong, seperti sedang memikirkan sesuatu yang jauh.
“Mas… tadi malam kamu ngoding sampai jam berapa?” tanyanya pelan, tanpa menatapku langsung.
“Sampe jam dua. Tapi udah kelar kok?”
Maya membalas dengan cepat. “Issh kamu jangan keseringan begadang lho, kamu sendiri yang minta aku jaga kesehatan, harusnya kamu juga.”
“Iya sayang.. maaf ya, ngga sering kok… normal kalo pas mau ada deployment… tim IT biasa lumayan sibuk, jadinya sering begadang deh..”
Aku mengusap punggung tangannya di atas meja. Kulitnya hangat, tapi pasif. “Maaf ya, Sayang. Hari ini aku pulang lebih awal kalau bisa. Kamu minum suplemennya yang teratur ya.”
Dia tersenyum tipis, senyum yang selalu sama — penuh kepatuhan. “Iya, Mas. Aku usahain.”
Makan pagi selesai. Aku berdiri, merapikan kemeja, lalu mengambil tas laptop dan kunci mobil. Maya ikut berdiri, mengantarku sampai pintu depan. Gamisnya bergoyang pelan, hijabnya tetap sempurna.
Aku memeluknya sebentar — pelukan yang terukur, seperti biasa. “Aku berangkat ya. Hati-hati di rumah. Jangan lupa doa pagi.”
“Iya, Mas. Kamu juga hati-hati. Semangat kerjanya.”
Saat aku sudah di ambang pintu, Maya masih berdiri di sana, tangannya terlipat di depan perut, tatapannya mengikuti langkahku sampai mobil. Aku melambai sekali sebelum masuk ke mobil. Dia balas melambai kecil, senyum sopan yang teduh.
Mobil menyala. Aku keluar dari garasi, jalan kompleks masih sepi pagi ini. Di spion, rumah kami semakin mengecil — rumah yang bersih, rapi, dan masih sangat kosong dari suara anak kecil.
Aku menarik napas panjang, tangan kanan memegang setir, tangan kiri sesekali meraih ponsel untuk cek Maps. Macet pagi belum terlalu parah. Pikiranku melayang sebentar ke sop ayam yang hangat tadi, ke tangan Maya yang pasif, ke doa semalam yang masih bergema di kepala.
Kasihan dia. Harus bangun pagi-pagi masak buat aku, minum suplemen pahit, nunggu hasil USG yang entah kapan positif. Aku harus kerja lebih keras biar bisa bayar semua pengobatan itu.
Di lampu merah pertama, aku melirik ponsel sekali. Tidak ada pesan baru dari Maya. Hanya notifikasi kalender: “USG kontrol Maya – 13 hari lagi”.
Aku menggeleng pelan, tersenyum sendiri.
Mobil masuk ke basement parkir kantor pukul 07.40. Masih sepi. Aku sengaja datang lebih awal hari ini supaya bisa ngecek ulang kode yang semalam sebelum tim lain ribut. Lift naik ke lantai 14 kosong, hanya suara dingin AC yang menyambut.
Kubikelku masih gelap. Aku nyalakan lampu meja, buka laptop, dan langsung lanjut testing API yang semalam aku coding di rumah. Layar menyala biru, baris-baris kode berwarna hijau dan merah bergantian. Aku scroll pelan, jalankan test case satu per satu. Fokus. Tenang. Di rumah memang lebih hening, tapi di kantor ada server yang lebih stabil untuk testing berat.
Setelah satu jam, mata mulai terasa berat. Sarapan sop ayam tadi pagi sudah dicerna, ditambah macet meski tidak parah tetap bikin sedikit capek. Aku bangkit, regangkan punggung, lalu turun ke basement kantin untuk beli es kopi gula aren. Yang dingin, yang manis, biar tidak ngantuk seharian.
Kantin basement masih sepi. Hanya dua karyawan cleaning service yang lagi bersih-bersih. Aku pesan satu gelas besar, bayar pakai QR, lalu bawa naik lagi ke lantai 14 sambil menghirup pelan. Rasa gula aren yang legit langsung menyentuh lidah. Enak. Segar.
Saat aku kembali ke kubikel, satu per satu teman mulai berdatangan. Rian datang jam 08.15 sambil bawa roti, Dika dan Reza ngobrol soal bola di kubikel sebelah, Bayu dari QA masuk dengan muka masih ngantuk. Ruangan pelan-pelan terisi suara keyboard, obrolan pagi, dan dering notifikasi Teams.
Kerja berjalan seperti biasa. Aku balik ke task API integration, meeting kecil dengan vendor via Teams jam 09.30, lalu lanjut coding lagi. Sesekali aku melirik ponsel — tidak ada pesan dari Maya. Hanya reminder suplemen pagi yang dia kirim sendiri tadi.
Jam menunjukkan 12.05. Rian sudah berdiri di kubikelku, tas selempangnya sudah dipakai.
“Bro, makan siang yuk. Sama yang kemarin aja?”
Aku mengangguk. “Oke. Lapar juga.”
Kami turun ke basement lagi, kali ini sudah ramai. Meja pojok yang biasa kami tempati sudah ditempati Dika, Reza, dan Bayu. Pesanan sama seperti kemarin: nasi ayam geprek, mie goreng, es teh manis. Piring plastik beradu keras, suara obrolan campur aduk dengan bau minyak goreng yang pekat.
Awalnya obrolan ringan soal proyek, vendor yang rewel, dan deadline yang semakin mendesak. Tapi seperti biasa, volume suara Dika dan Reza tiba-tiba turun drastis. Mereka duduk bersebelahan, kepala agak mendekat, bicara hampir berbisik supaya meja sebelah tidak mendengar.
Dika menyendok nasi sambil melirik sekitar, suaranya rendah sekali.
“Eh, lo semalam buka forum itu lagi ngga?”
Reza mengangguk pelan, suaranya hampir tenggelam di antara denting sendok.
“Masih. Gila, thread baru makin banyak. Kebanyakan yang istrinya tipe alim-alim gitu, shaleha, pakai hijab, tapi di ranjang kaku banget. Ada satu yang bilang istrinya cuma mau missionary sambil mata terpejam, nggak mau di atas, nggak mau oral, apalagi doggy. Katanya ‘dosa’. Orang-orang di forum pada ngakak.”
Dika tertawa kecil, suara ditekan di tenggorokan.
“Iya, ada thread ‘SSI binor “— Binor alias Bini Orang. TSnya nyoba deketin. Komenannya pada gila ‘mantap hu, semokk’, ‘kasih liat yang lebih terbuka hu’, ‘mau dong hu, nomernya’. Gila ya”
Reza menggeleng-geleng, tapi matanya agak berbinar.
“Ada lagi yang cerita, istrinya tipe patuh banget, tapi suaminya punya fantasy istrinya di gagahi cowo lain’.
Mereka berdua geleng-geleng kepala, tapi senyum kecil tetap muncul di bibir. Rian dan Bayu ikut mendengarkan sambil makan, sesekali nyengir tipis.
Aku diam saja, sendok masih di tangan, nasi di mulut terasa tiba-tiba hambar.
Saat itu, Reza mengeluarkan ponselnya untuk menunjukkan thread terbaru ke Dika. Layar ponsel menyala sebentar di atas meja, cukup dekat denganku. Karena kebiasaan sebagai programmer, mata aku langsung tertarik ke bagian atas layar — URL browser dan logo kecil di tab-nya. Hanya sekilas, tapi otakku menangkapnya dengan sangat cepat.
cu*********et(dot)id
Logo hitam-merah sederhana dengan siluet dua orang yang kabur.
Aku langsung membuang pandangan, pura-pura sibuk menusuk ayam geprek lebih dalam.
"Kok bisa ya… istri alim, shaleha, pakai hijab, tapi malah dibahas seperti itu di forum? Apalagi kalau istrinya seperti Maya. Mustahil aku lakuin hal gila seperti itu."
Rasa penasaran kecil muncul di dada, tapi hanya sekejap. Bukan niat untuk membuka. Hanya… aneh. Seperti mendengar cerita yang terlalu jauh dari kehidupan kami, tapi tetap menempel pelan di pikiran.
Aku menunduk, mengunyah tanpa benar-benar merasakan rasa ayamnya. Rasa gelisah yang sama seperti kemarin muncul lagi, kali ini sedikit lebih lama menempel.
Obrolan mereka berganti lagi ke game mobile. Aku ikut tertawa di tempat yang pas, tapi di dalam hati ada sesuatu yang kecil dan tak bernama mulai bergerak pelan.
Makan siang selesai pukul setengah satu. Kami naik kembali ke lantai 14. Aku duduk di kubikel, laptop menyala, tapi baris kode di depan mata agak kabur sebentar.
Ngawur. Itu cuma obrolan cowok frustrasi. Aku punya Maya yang sempurna. Dia masak sop ayam pagi ini, nemenin aku semalam, sholat berjamaah, cium tanganku setiap selesai shalat. Dia sedang berjuang keras demi rahimnya yang tipis. Aku nggak boleh mikir yang aneh-aneh.
Aku menggeleng pelan, meminum sisa es kopi gula aren yang sudah setengah habis, lalu kembali fokus ke layar.
Tapi di sudut pikiran yang paling dalam, nama situs itu — cu*********et(dot)id
— masih tersimpan rapi.
Tidak ada niat untuk membukanya.
Hanya penasaran kecil yang belum mau pergi begitu saja.
...
Pukul 16.30 pekerjaan hari itu akhirnya selesai. Semua task API sudah di-merge, test case hijau semua. Aku meregangkan punggung, mematikan monitor, tapi saat berdiri di depan jendela ruangan, langit Jakarta sudah gelap. Hujan deras mengguyur kaca gedung dengan suara gemuruh yang tak henti-hentinya. Jalan di bawah sana sudah berubah jadi lautan lampu merah yang diam tak bergerak.
“Gila, macetnya…,” gumam Rian dari kubikel sebelah sambil melirik ponsel. “Mending nunggu dulu lah, Bro. Biasa Jakarta kalau hujan gini, bisa tua di jalan.”
Aku mengangguk. Memang tidak ada pilihan. Aku duduk kembali, membuka Mobile Legends di ponsel. Tim kecil kami sering memanfaatkan waktu kosong seperti ini untuk main rank bareng — sekedar membunuh waktu sambil nunggu hujan reda.
“Gas rank yuk,” ajak Dika.
Kami berlima akhirnya mabar. Aku selalu ambil tank — Uranus atau Grock biasanya. Posisi yang aman, yang bisa nahan damage, yang bisa melindungi tim. Malam ini aku pilih Grock. Layar ponsel menyala terang di meja kubikel yang sudah sepi. Suara hujan di luar semakin deras, bercampur dengan suara skill dan turret yang pecah di game.
“Tank lo solid banget, Ar,” kata Reza sambil tertawa saat aku berhasil stun tiga musuh sekaligus. “Bener-bener tipe pelindung ya lo.”
Aku hanya tersenyum kecil, jari terus bergerak di layar. “Biasa aja. Posisi tank emang harus tahan banting.”
Kami main tiga game berturut-turut. Rank naik-turun, obrolan ringan soal hero, soal item build, soal tim musuh yang cupu. Suara hujan di luar tetap deras, lampu-lampu mobil di bawah gedung masih diam tak bergerak. Sesekali aku melirik jam — sudah pukul 17.45. Maya pasti sudah menunggu di rumah.
Tapi hujan belum mau reda.
Di antara game kedua dan ketiga, pikiranku sempat melayang sebentar ke nama situs yang tadi kulihat di ponsel Reza. cu*********et(dot)id. Hanya sekilas. Hanya penasaran kecil. Aku segera mengusirnya, fokus kembali ke Grock yang sedang tanking di mid lane.
“Gas satu game lagi,” ajak Bayu.
Aku mengangguk. Jari kembali menekan layar. Suara hujan semakin deras, seperti sedang menutupi seluruh Jakarta dengan tirai tebal yang tak tembus.
Di dalam dada, ada rasa gelisah kecil yang tak mau pergi — campuran antara lelah kerja, hujan yang tak henti, dan bayangan forum yang cuma sekilas itu.
Tapi aku tetap main.
Tetap jadi tank.
Tetap melindungi tim.
Seperti biasa.
...
Tak terasa, jam di layar ponsel sudah menunjukkan pukul 20.05. Kami masih asyik main Mobile Legends di kubikel yang sudah sepi. Rank naik-turun hanya beberapa bintang — menang, kalah, menang lagi — tapi adrenalinnya cukup tinggi sampai lupa waktu. Suara skill Grock yang menghantam musuh masih bergema di speaker kecil ponselku.
Aku baru sadar saat melirik ke jendela besar ruangan. Hujan sudah mulai reda. Jalan di bawah gedung yang tadi macet total sekarang hanya ramai biasa, lampu mobil bergerak pelan tapi tidak lagi diam.
“Udah reda kayaknya,” kata Rian sambil meregangkan badan. “Gas pulang yok, udah malem.”
Kami bubar. Aku turun ke basement parkir, masuk ke mobil, nyalakan mesin. Spotify langsung kucari playlist metal — suara distorsi gitar dan drum cepat memenuhi kabin. Aku nyanyi riang mengikuti lirik, suara agak fals tapi lega, biar tidak stress di jalan malam.
Perjalanan lancar. Jam 21.05 mobil sudah masuk garasi rumah. Aku keluar, tas laptop di bahu, kunci berdering pelan saat membuka pintu depan.
“yang… aku pulang,” panggilku pelan.
Tidak ada jawaban.
Rumah sudah gelap total, hanya lampu kecil di ruang tamu yang menyala redup. Aku melepas sepatu, berjalan ke kamar tidur. Pintu sedikit terbuka. Maya sudah terlelap di ranjang, gamis tidurnya yang panjang menutupi tubuhnya sampai mata kaki, selimut ditarik sampai dada. Napasnya pelan dan teratur. Wajahnya teduh, tapi ada garis lelah kecil di antara alisnya.
Aku tidak membangunkannya. Malam ini Sabtu, besok libur weekend. Aku ingin mengajaknya ke mall besok — shopping kecil, jalan-jalan, biar dia tidak terlalu stress dengan suplemen, USG, dan telepon ibuku yang selalu menusuk halus.
Aku mandi cepat, air hangat mengguyur tubuh yang pegal setelah seharian di kantor dan game. Setelah itu aku naik ke ranjang pelan-pelan, berbaring di samping Maya. Wangi sabun mandinya yang lembut masih menempel di kulitnya. Aku memandanginya sebentar — istriku yang shaleha, yang sabar, yang sedang berjuang keras demi rahimnya yang tipis.
“Besok kita ke mall ya, Sayang. Biar kamu senang sedikit. Aku mau sama kamu seharian.”
Aku mematikan lampu tidur. Kegelapan menyelimuti kamar. Hanya detak jam dinding di ruang tamu yang samar terdengar.
Malam itu sunyi sekali.
Tapi di dalam dada, ada sesuatu yang kecil dan gelisah masih bergerak pelan — nama situs yang hanya sekilas kulihat di ponsel Reza siang tadi.
Aku mengusirnya dengan menggeleng pelan di dalam hati.
Besok weekend. Kita butuh waktu berdua. Semuanya masih baik-baik saja.
Aku memejamkan mata, mencoba tidur.
Rumah tetap hening.
Hanya napas Maya yang pelan di sampingku, dan detak jam yang semakin terdengar seperti detak jantung yang mulai tidak sinkron.
bersambung....
Konten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.