Chapter 2
Istriku Yang Terampas - 4 Agustus 2026 - 1.532 kata
Meeting dadakan itu molor hampir satu jam. Ruang rapat terasa pengap, slide demi slide tentang percepatan core banking system berputar tanpa henti di layar. Akhirnya diputuskan: deployment harus mundur minggu depan. Artinya, aku harus lembur lagi malam ini.
Begitu meeting bubar, Rian langsung menepuk bahuku. “Bro, makan siang yuk. Ke kantin basement aja...”
Di belakangnya sudah ada Dika, Bayu dari tim QA, dan Reza dari infra.
Sesampainya di kantin, kami ambil meja panjang di pojok, agak jauh dari keramaian. Aku pesan nasi ayam geprek dan es teh manis. Piring-piring plastik dan suara obrolan campur aduk di udara.
Kami makan sambil ngobrol ringan soal deadline dan gosip kantor. Aku ikut tertawa di tempat yang pas, tapi pikiranku sesekali melayang ke Maya.
Apa dia sudah sampai rumah?
Apa dia sudah minum suplemen penguat dinding rahim yang baru?
Di tengah makan, ponselku bergetar. Pesan dari Maya:
“Udah sampai rumah, Mas... kamu jangan lupa makan siang ya... aku tunggu pulang nanti ❤️”
Aku tersenyum kecil. Balasan yang sopan dan manis, seperti biasa. Maya memang istri yang baik. Meski tadi pagi aku meninggalkannya di RSCM, dia nggak ngomel sama sekali.
Aku balas cepat: “Iya Sayang, aku makan bareng temen. Nanti sore aku pulang cepet ya.”
Pesan terkirim. Centang biru langsung muncul. Maya tidak balas lagi, tapi itu biasa. Dia pasti sedang sholat atau tidur siang.
Tiba-tiba, obrolan di meja mengecil. Dika dan Reza mulai bicara dengan suara rendah, hampir berbisik, supaya orang di meja sebelah tidak mendengar.
Dika menyendok nasi sambil melirik sekitar. “Eh, lo kemarin masuk forum yang gue share itu belum? Yang underground...”
Reza mengangguk pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh denting sendok. “Udah... Gila sih isinya… fetish orang pada aneh-aneh.. apalagi bininya sendiri di share dijadiin tontonan.”
Dika tertawa kecil, suaranya ditekan. “Ya gitu bree… setau gua emang ada fetish kaya gitu… dia terangsang kalau bininya diliatin cowo lain….”
Reza menggeleng-geleng, tapi matanya agak berbinar. “Gua sih cuma baca doang. Nggak berani share apa-apa. Tapi liat-liat komentarnya… ngeriih…. Gila ya orang-orang.”
Mereka tertawa pelan. Rian dan Bayu ikut mendengarkan sambil makan, tapi tidak banyak komentar. Aku sendiri hanya diam, sendok masih di tangan, tapi nasi di mulutku tiba-tiba terasa hambar.
"Itu beneran ada forum buat gituan?" tanyaku, mencoba terdengar santai.
“Ya gitu, Bro. Forum nsfw… isinya fetish orang aneh-aneh” jawab Dika sambil meneguk esnya.
Aku merasa ada rasa tidak nyaman yang aneh menyusup di dada.
“Gilaa emang dunia ini… aku sendiri gak yakin bisa berbuat seperti itu, memamerkan tubuh istriku untuk dilihat orang lain…”
Obrolan mereka segera berganti ke game dan bola. Aku ikut ngobrol lagi, tapi rasa kaget dan tidak nyaman itu masih menempel tipis di kepala.
Jam menunjukkan pukul 14.10. Macet sore pasti sudah mulai mengintai di Sudirman. Aku melirik backlog sprint di layar, lalu memutuskan pulang cepat. Kantor kami memang sangat fleksibel untuk divisi IT. Tidak harus WFO full, asal task cepat kelar. Sebagai senior, atasan tahu aku jauh lebih produktif di tempat yang hening. Dan rumah kami… memang hening. Sangat hening. Belum ada suara anak kecil yang mengganggu konsentrasiku.
Aku berdiri, mematikan monitor. Rian melirik. “Ar, lu balik duluan?”
“Yoi.. gua balik dulu ya, ntar gua lanjutin di rumah…”
“Wokee Ar..”
…
Jam 15.55, mobil sudah masuk ke garasi. Pintu garasi otomatis tertutup pelan di belakangku. Udara dalam rumah langsung menyambut—sejuk, harum lavender dari diffuser, dan samar-samar bau suplemen yang pahit dari dapur. Sunyi sekali. Hanya detak jam dinding di ruang tamu yang terdengar jelas.
“Assalamualaikum…,” panggilku pelan.
Tidak ada jawaban langsung. Aku meletakkan tas di sofa, lalu berjalan ke dapur. Maya sedang berdiri di depan kompor. Gamis rumahnya yang longgar berwarna abu-abu muda, hijabnya sudah dilepas, rambut hitam lurusnya diikat ekor kuda sederhana. Dia menoleh, senyum tipis yang sopan langsung muncul.
“Ehh… Mas, kok cepet pulangnya?”
Aku mendekat, memeluk pinggangnya dari belakang sebentar. Pelukan yang biasa, yang selalu terasa agak kaku. “Iya.. pusing kalau di kantor, aku kelarin di rumah aja… soalnya ada kamu yang nemenin hehehe…”
“Mulai deh gombalnya… isshhhhh” balas Maya sambil mencubit hidungku gemas.
“Kamu gimana? udah minum obat dari dokter?” tanyaku, mencoba menyelipkan perhatian di sela-sela obrolan ringan.
Maya mengangguk kecil, tangannya masih mengaduk sesuatu di panci. “Udah mas… udah aku minum tadi. Btw nanti malam mau makan apa mas? akusih pengen bikin ayam bakar.. kamu mau mas?”
“Wiiih.. enak banget itumah.. langsung laper ini jadinya… makasih ya sayang….”
Aku mengecup pipinya sekilas. Aroma sabun mandi yang lembut menyeruak, menenangkan sarafku. Tidak ada jejak aroma aneh apa pun di sana. Rasa lega seketika mengalir, diikuti rasa malu yang menyelinap—aku merasa bodoh karena sempat membiarkan prasangka-prasangka kecil tentangnya mengganggu pikiranku pagi tadi.
Maya segera mengusap bekas ciumanku dengan punggung tangannya, gestur yang sebenarnya refleks, namun terlihat canggung di mataku. “Ih.. cium-cium… mandi dulu Mas…”, ujarnya disertai tawa yang manis, meski matanya tetap tertuju pada panci.
Aku tidak tinggal diam. Iseng, aku kembali merengkuhnya, kali ini lebih rapat, dan mulai mencumbui setiap inci kulit wajahnya.
cup..
cup..
cup..
“Ihh.. Mas… jangan… ihh gelii… lepasin…” Maya meronta dalam pelukanku, bahunya berguncang hebat diiringi tawa yang renyah.
Begitulah rutinitas yang terpatri di rumah kecil ini. Rumah yang hanya ditinggali oleh sepasang suami istri, tempat di mana tidak ada jeritan anak kecil yang memecah sepi, hanya ada kami dengan segala dinamika yang terkadang terasa seperti sandiwara yang terjaga rapi.
….
Waktu merayap pelan hingga jarum jam menunjuk pukul enam malam. Di kejauhan, suara adzan Magrib bersahutan, membelah langit Jakarta yang mulai gelap. Aku duduk lesehan di ruang tamu, punggungku menyandar lelah pada sofa. Di atas pahaku, laptop masih terbuka—layar yang memancarkan cahaya biru redup menyorot wajahku yang kusam. Aku mencoba fokus, namun aroma ayam bakar dan tumis sambal yang menguar dari arah dapur terlalu menggoda, membuat perutku mendadak perih oleh rasa lapar.
“Mas.. mau makan dulu apa sholat magrib dulu?” tanya Maya tiba-tiba. Suaranya muncul dari ambang pintu dapur, cukup untuk membuatku tersentak hingga jemariku salah menekan tombol di keyboard.
“Eh… mm sholat dulu aja yang.. abis itu makan bareng kita…” balasku, segera menutup laptop dengan gerakan terburu-buru. Aku bangkit, merenggangkan otot-otot yang kaku, lalu melangkah menuju dapur untuk mengambil air wudhu.
“Yuk mas…” sahut Maya. Ia berjalan di belakangku, langkahnya ringan, nyaris tanpa suara.
Kami menunaikan ibadah Magrib dengan khusyuk yang terasa begitu pekat. Setelahnya, kami kembali ke dapur untuk makan malam.
Meja makan sudah tertata rapi. Ayam panggang dengan bumbu kecap yang berkilau, sambal yang menggugah selera, dan nasi putih hangat tersaji di depan kami. Namun, ada satu pemandangan yang rutin namun selalu mengganjal: sebuah gelas berisi cairan suplemen yang berwarna keruh, mengeluarkan aroma pahit yang tajam, bersanding di samping piring Maya. Makan malam berlangsung hening. Hanya ada denting sendok beradu dengan porselen yang terdengar nyaring di ruangan yang senyap itu.
Tiba-tiba, ponsel Maya yang tergeletak di ujung meja bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan nama yang membuat Maya seketika membeku. Nada dering khusus untuk ibuku. Bahu Maya menegang, napasnya seolah tertahan di tenggorokan. Wajahnya yang semula tenang berubah pucat pasi; dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mendorong ponsel itu ke arahku seolah benda itu adalah bara api.
“Mas… Ibu nelpon… mas yang angkat deh…,” matanya menatapku penuh permohonan, seolah takut akan apa yang mungkin akan terdengar dari speaker nanti.
Aku mengangguk pelan, mencoba menenangkan atmosfer yang mendadak panas. Aku meraih ponsel itu dan menekan tombol speaker. Suara ibuku langsung menyeruak, ceria namun memiliki nada tajam yang khas.
“Halo, Maya sayang? Gimana kabarnya? Udah minum obatnya belum? Dokter bilang apa tadi pagi?”
Aku menarik napas panjang, berusaha menjaga nada suaraku tetap datar dan terkendali. “Bu, ini Arya. Maya lagi di kamar mandi. Tadi pagi ke dokter, hasilnya masih sama… masih belum ada tanda-tanda…”
Ibuku menghela napas panjang di seberang sana, suaranya terdengar kecewa. “Ya ampun… sudah empat tahun loh, Nak… Gimana toh istrimu itu? Kok lama banget. Ibu dulu pas hamilin kamu cuma tiga bulan langsung jadi. Jangan-jangan… ada yang kurang dari Maya ya?”
Aku melirik ke arah Maya. Istriku itu tertunduk dalam, tatapannya kosong menghujam piring, jemarinya yang pucat meremas tepian kain meja.
“Bu, jangan gitu atuh…. Belum dikasih sama Tuhan aja. Maya juga udah minum suplemen, cek rutin.. semuanya udah dilakuin...”
Ibuku masih melanjutkan ceramah "peduli" yang sarat sindiran, namun perhatianku perlahan memudar. Mataku tertuju pada Maya—wanita yang baru saja mencium tanganku dengan penuh takzim setelah shalat tadi—kini duduk terpaku layaknya patung porselen yang retak. Aku merasa iba yang teramat sangat. Setiap kali panggilan ini datang, dia seolah dipaksa berdiri di depan pengadilan sunyi, dipaksa mendengar penghakiman bahwa rahimnya adalah sebuah kegagalan.
Akhirnya, ibuku pamit dengan nada yang masih belum puas. Aku mematikan handphone. Keheningan kembali merajai meja makan. Maya masih diam, sendok di tangannya hanya mengaduk-aduk nasi yang sudah dingin, menciptakan pola-pola acak yang tak bermakna.
Aku mengulurkan tangan, meraih jemarinya yang sedingin es di atas meja. “Maaf ya, Sayang. Ibu aku cuma khawatir aja sebenernya.. kamu tetep sabar ya.. jangan di bawah ke hati.. mas ada disini kok nemenin kamu terus…”
Maya mendongak, bibirnya membentuk senyum tipis yang terasa dipaksakan. “Iya, Mas. Makasih ya….”
Tidak ada lagi percakapan. Hanya denting sendok yang terlalu rapi, terlalu bersih, dan terlalu sepi. Rasa kasihan di dadaku berdenyut, menanyakan pertanyaan yang sama setiap malam:
“Mengapa Tuhan belum juga memberikan amanah itu?” Padahal di mataku, Maya adalah sosok yang begitu sempurna.
bersambung...
Konten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.