Chapter 2
Istriku Yang Terampas - 31 Mei 2026 - 2.749 kata
Meeting dadakan itu molor sampai hampir satu jam. Dimulai pukul 11 lewat sedikit, baru bubar tepat jam 12 siang. Ruang rapat lantai 14 terasa pengap, slide demi slide tentang percepatan core banking system berputar di layar. Akhirnya diputuskan: deployment harus mundur jadi minggu depan, artinya aku harus lembur lagi malam ini setelah pulang.
Begitu meeting selesai, Rian langsung menepuk bahuku.
“Bro, makan siang yuk. Lapar banget. Ke kantin basement aja.”
Di belakangnya sudah ada tiga teman lain — Dika, Bayu dari tim QA, dan Reza dari infra. Total lima orang cowok. Aku mengangguk. “Oke, bentar gue ambil tas.”
Kami turun ke basement lewat lift karyawan. Kantin langganan sudah ramai seperti biasa. Bau goreng-gorengan dan mie kuah langsung menyambut. Kami ambil meja panjang di pojok, agak jauh dari keramaian. Aku pesan nasi ayam geprek biasa plus es teh manis. Yang lain pesan yang lebih pedas. Piring-piring plastik dan suara obrolan campur aduk di udara.
Kami makan sambil ngobrol ringan soal proyek, deadline, dan gosip kantor. Aku ikut tertawa di tempat yang pas, tapi pikiranku sesekali melayang ke Maya. Apa dia sudah sampai rumah? Apa dia sudah minum suplemen penguat dinding rahim itu?
Di tengah makan, ponselku bergetar. Pesan dari Maya:
“Udah sampai rumah, Mas. Aku istirahat dulu. Suplemennya baru diminum. Kamu makan siang yang cukup ya, jangan cuma buru-buru kerja. Aku tunggu pulang nanti ❤️”
Aku tersenyum kecil membacanya. Balasan yang sopan, manis, seperti biasa. "Maya istri yang baik. Meski tadi pagi aku ninggalin dia di RSCM, dia nggak ngomel sama sekali". Aku balas cepat: “Iya Sayang, aku makan bareng temen. Nanti malam mungkin lembur di rumah. Kamu istirahat yang banyak ya.”
Pesan terkirim. Centang biru langsung muncul. Maya tidak balas lagi, tapi itu biasa. Dia pasti lagi sholat atau tidur siang.
Di meja, obrolan tiba-tiba turun volume. Dika dan Reza, yang duduk di seberangku, mulai bicara dengan suara rendah, hampir berbisik, supaya orang di meja sebelah tidak mendengar.
Dika menyendok nasi sambil melirik sekitar. “Eh, lo kemarin masuk forum yang gue share itu belum? Yang underground banget.”
Reza mengangguk pelan, suaranya hampir hilang di antara denting sendok. “Udah. Gila sih isinya. Banyak banget suami-suami yang curhat soal masalah rumah tangga. Ada yang istrinya frigid, ada yang nggak mau diajak sex, ada yang mandul bertahun-tahun. Pada sharing semua keluh kesahnya di sana, anonim.”
Dika tertawa kecil, suaranya ditekan. “Yang lebih gila, ada yang share foto istrinya. Bukan foto biasa loh… foto yang agak… terbuka. Bahu, paha, kadang lingerie. Katanya buat minta pendapat atau… buat dapet hiburan dari komentar orang lain. Ada yang bilang malah bikin dia excited banget pas baca komentar-komentar mesum itu.”
Reza menggeleng-geleng, tapi matanya agak berbinar. “Gue sih cuma baca doang. Nggak berani share apa-apa. Tapi liat-liat komentarnya… banyak yang bilang ‘istri lo cantik banget, bro’ atau ‘kalau gue jadi lo, gue biarin aja dia dicoba orang lain’. Gila ya orang-orang.”
Mereka berdua tertawa pelan, suara rendah, hampir seperti bisikan. Rian dan Bayu ikut mendengarkan sambil makan, tapi tidak banyak komentar. Aku sendiri hanya diam, sendok masih di tangan, tapi nasi di mulutku terasa tiba-tiba hambar.
"Forum apa itu? Orang-orang sharing foto istrinya… buat dilihat orang lain? Buat dibahas?"
"Aku merasa ada rasa tidak nyaman yang aneh menyusup di dada. Bukan marah, hanya kaget. Kok bisa ada suami yang tega share foto istrinya yang suci seperti itu? Apalagi kalau istrinya alim dan sopan seperti Maya. Mustahil."
Aku menunduk, menusuk ayam lagi. Tidak ikut bicara. Hanya mendengar. Di dalam hati aku bergumam pelan, Mereka pasti lagi bercanda atau exaggeration. "Nggak mungkin orang normal melakukan itu. Maya aja aku nggak pernah berani minta foto biasa pun dia malu. Apalagi… yang lebih dari itu."
Obrolan mereka berlanjut sebentar lagi dengan suara rendah, lalu berganti topik ke game dan bola. Aku ikut ngobrol lagi, tapi rasa kaget itu masih menempel tipis di pikiran. Seperti debu kecil yang belum sempat dibersihkan.
Makan siang selesai pukul setengah satu. Kami naik kembali ke lantai kerja. Aku duduk di kubikel, laptop menyala, tapi baris kode di depanku terasa agak kabur. Sesekali pikiranku melayang ke percakapan tadi. Forum underground… sharing keluh kesah… sharing foto istri…
Aku menggeleng pelan, membuka file proyek.
Jam menunjukkan pukul 14.10. Macet sore pasti sudah mulai mengintai di Sudirman. Aku melirik backlog sprint di layar — core system integration masih ada beberapa task krusial yang harus selesai minggu ini.
Aku memutuskan pulang cepat. Kantor kami memang sangat fleksibel, terutama untuk divisi IT. Tidak harus WFO full, asal delapan jam kerja tercatat, backlog sprint cepat kelar, dan deliverable aman. Aku senior di tim ini, salah satu yang paling dipercaya atasanku. Dia tahu aku jauh lebih produktif di tempat yang hening. Dan rumah kami… memang hening. Terlalu hening. Belum ada suara anak kecil yang mengganggu konsentrasi.
Aku berdiri, mematikan monitor, lalu memasukkan laptop ke tas. Rian yang duduk di sebelah melirik.
“Bro, pulang duluan?”
“Iya, mau ngerjain sisanya di rumah. Lebih fokus di sana. Bilang ke Pak Andi ya, aku ambil WFH sore ini. Task malam ini aku selesaikan dari rumah.”
Rian mengacungkan jempol. “Oke, hati-hati di jalan. Jangan lupa lembur codingnya.”
Aku pamit sebentar ke yang lain, lalu langsung turun ke basement parkir. Mobil menyala dengan suara halus. Jam 14.25, jalanan masih cukup sepi. Belum ada gelombang pulang kantor yang benar-benar padat. Aku keluar dari gedung kantor, mengarah ke arah barat, melewati tol dalam kota yang masih longgar.
Angin AC dingin meniup wajahku. Musik Spotify diputar pelan, hanya instrumental jazz yang tidak mengganggu. Pikiranku melayang ke percakapan di kantin tadi — forum underground, suami-suami yang curhat, yang berani share foto istrinya… Aku menggeleng pelan.
“Ngawur. Orang-orang itu pasti lagi frustrasi berat. Aku nggak akan pernah lakukan hal gila seperti itu. Maya istri yang suci. Dia bahkan malu kalau aku minta foto biasa di kamar.”
Perjalanan lancar. Rumah kami memang tidak terlalu jauh — masih di pinggiran Jakarta Barat, kompleks perumahan yang tenang, jauh dari keramaian pusat kota. Jam 15.55 mobil sudah masuk ke garasi. Rumah terlihat rapi seperti biasa. Pintu garasi otomatis tertutup pelan di belakangku.
Aku masuk lewat pintu samping, tas laptop masih di bahu. Udara dalam rumah langsung menyambut — sejuk, harum lavender dari diffuser Maya, dan samar-samar bau suplemen yang pahit dari dapur. Sunyi sekali. Hanya detak jam dinding di ruang tamu yang terdengar jelas.
“Sayang… aku pulang,” panggilku pelan.
Tidak ada jawaban langsung. Aku meletakkan tas di sofa, melepas sepatu, lalu berjalan ke dapur. Maya sedang berdiri di depan kompor, gamis rumahnya yang longgar berwarna abu-abu muda, hijabnya sudah dilepas, rambut hitam lurusnya diikat ekor kuda sederhana. Dia menoleh, senyum tipis yang sopan langsung muncul di wajahnya.
“Mas… kok pulang cepet? Katanya meeting dadakan.”
Aku mendekat, memeluk pinggangnya dari belakang sebentar — pelukan yang biasa, yang selalu terasa agak kaku. “Iya, tapi aku ambil WFH sore ini. Lebih enak ngerjain coding di rumah. Kamu gimana? Udah istirahat?”
Maya mengangguk kecil, tangannya masih mengaduk sesuatu di panci. “Udah, Mas. Suplemen penguat rahimnya baru diminum tadi. Agak pahit, tapi aku biasa kok. Makan malam nanti aku masak ayam panggang sama sayur, mau?”
“Enak itu. Makasih ya, Sayang.”
Aku mencium pipinya sekilas. Wanginya bersih, seperti sabun mandi biasa. Tidak ada aroma aneh. Aku merasa lega sekaligus sedikit bodoh karena sempat memikirkan hal-hal kecil tadi pagi.
Rumah ini memang hening. Tidak ada celoteh anak, tidak ada mainan berserakan. Hanya suara sendok di panci dan detak jam yang sama seperti malam-malam sebelumnya. Tapi di sini aku bisa fokus. Tidak ada obrolan rekan kerja, tidak ada deru AC kantor. Aku bisa buka laptop di meja kerja kecil di ruang tengah, coding sambil sesekali melirik Maya yang bergerak pelan di dapur.
Ini yang aku suka. Kerja di tempat tenang, dekat dengan istri yang sedang berjuang untuk kita. Aku beruntung.
Aku duduk di sofa sebentar, membuka laptop, tapi belum menyalakan. Mata masih memperhatikan punggung Maya yang tegak di depan kompor. Gamis longgar itu menutupi tubuhnya dengan sempurna, seperti biasa.
Dia baik-baik saja. Aku cuma terlalu capek tadi. Percakapan di kantin itu cuma obrolan cowok biasa. Nggak ada hubungannya dengan kita.
Di luar jendela, sore Jakarta Barat mulai meredup. Lampu taman kompleks menyala satu per satu. Rumah kami tetap rapi, tetap bersih, tetap sunyi.
Dan entah kenapa, keheningan itu terasa sedikit lebih berat hari ini.
Malam itu adzan Magrib sudah berkumandang pelan dari masjid kompleks, suaranya samar masuk lewat jendela ruang tengah. Aku langsung menutup laptop, punggung terasa pegal setelah hampir dua jam ngoding tanpa henti. Pikiran butuh dijernihkan. Aku bangkit, berjalan ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Air dingin mengalir di telapak tangan, di muka, di lengan. Setiap gerakan terasa rutin, tapi malam ini ada sedikit beban ekstra. Setelah selesai, aku keluar dan memanggil pelan ke arah dapur.
“Sayang… shalat berjamaah yuk.”
Maya sudah selesai masak. Bau ayam panggang dan tumis sayur menyelimuti rumah. Dia muncul dari dapur dengan gamis rumah abu-abu muda yang longgar, rambut masih terikat rapi. Wajahnya teduh seperti biasa.
“Iya, Mas. Aku sudah siap. Makan malam nanti setelah shalat ya.”
Kami shalat berjamaah di kamar. Aku jadi imam, Maya di belakangku dengan sajadahnya yang selalu rapi. Suara bacaanku pelan, dia mengikuti dengan gerakan yang khusyuk. Setelah salam, seperti biasa Maya merangkak maju sedikit, mengambil tangan kananku, lalu mencium punggung tanganku dengan lembut — lama, penuh hormat. Tanda istri shaleha yang selalu membuat dada ini hangat sekaligus sesak.
“Terima kasih, Mas,” bisiknya pelan.
Aku mengusap kepalanya sebentar. “Aamiin. Kita berdoa dulu ya.”
Kami duduk bersila di sajadah, tangan terangkat. Aku memimpin doa dengan suara rendah:
“Ya Allah… berikanlah kami keturunan yang sholeh dan sholehah. Jadikanlah rahim Maya subur dan siap menerima amanah-Mu. Ampuni segala dosa kami, mudahkan segala urusan kami…”
Maya mengaminkan dengan suara hampir tak terdengar, matanya terpejam rapat. Aku meliriknya sekilas — bulu matanya basah. Kasihan sekali dia. Setiap malam dia mendengar doa yang sama, tapi hasilnya tetap garis satu.
Kami merapikan sajadah dan mukena, lalu kembali ke meja makan. Makan malam sudah tersaji rapi: ayam panggang dengan bumbu kecap, tumis brokoli, dan nasi putih hangat. Bau lavender masih menyelimuti ruangan, bercampur samar dengan aroma suplemen Maya yang pahit dari gelas di samping piringnya.
Makan berlangsung hening. Hanya denting sendok dan garpu yang terdengar jelas. Tidak ada celoteh anak kecil yang riang berlarian di sekitar meja, tidak ada tawa kecil yang memecah sunyi. Hanya kami berdua, suami-istri yang sudah empat tahun menikah, sedang “bekerja keras” untuk mencintai satu sama lain.
Aku menyendokkan nasi ke mulut, sesekali melirik Maya yang makan pelan, kepalanya sedikit tertunduk. Dia cantik sekali dalam kesederhanaannya. Tapi malam ini wajahnya terlihat lebih lelah dari biasanya.
Tiba-tiba ponsel Maya yang tergeletak di ujung meja berbunyi. Nada dering khusus untuk ibuku. Maya langsung menegang. Wajahnya berubah — panik kecil yang cepat dia tutupi dengan senyum sopan, tapi aku tahu persis apa yang akan ditanyakan ibuku. Selalu soal promil. Selalu soal “kapan hamil, sebuah topik dari ibu mertua yang ingin punya cucu”.
Maya cepat-cepat mendorong ponsel ke arahku, matanya memohon. “Mas… tolong angkat. Aku… nggak enak.”
Aku mengangguk, mengambil ponsel dan menekan speaker. Suara ibuku langsung terdengar ceria tapi menusuk.
“Halo, Maya sayang? Gimana kabarnya? Udah minum obatnya belum hari ini? Dokter bilang apa tadi pagi?”
Aku menjawab dengan suara tenang, “Ma, ini Arya. Maya lagi di kamar mandi. Tadi pagi kami ke dokter, hasilnya masih sama. Rahimnya masih perlu dioptimalkan, tambah suplemen penguat dinding rahim dan suntikan lagi.”
Ibuku menghela napas panjang di seberang sana, nada halus tapi penuh sindiran yang sudah familiar. “Ya ampun… sudah empat tahun loh, Nak. Maya sehat-sehat aja kan? Kok lama sekali. Ibu dulu pas hamil kamu cuma tiga bulan langsung jadi. Jangan-jangan… ada yang kurang dari Maya ya?”
Aku melirik Maya. Wajahnya sekarang tertunduk dalam, tatapannya kosong ke arah piring, sendok di tangannya berhenti bergerak. Pipinya sedikit pucat. Aku merasa dada ini sakit melihatnya.
“Ma, jangan gitu. Belum dikasih sama Tuhan aja. Kami lagi berusaha keras. Maya juga sudah minum suplemen, USG rutin, suntikan… semuanya dia jalani dengan sabar. Aku yang nemenin terus.”
Ibuku masih melanjutkan dengan nada “peduli”, tapi aku sudah tidak mendengar detailnya lagi. Mataku terpaku pada Maya — istrinya yang shaleha, yang baru saja mencium tanganku setelah shalat, yang sekarang duduk di depanku seperti patung yang sedang retak pelan. Kasihan sekali dia. Setiap kali telepon seperti ini datang, dia harus mendengar tuduhan halus bahwa dia yang mandul. Padahal dia sudah berjuang begitu keras. Aku harus jadi tamengnya. Aku suaminya yang baik.
Akhirnya ibuku pamit setelah aku janji akan update lagi minggu depan. Aku mematikan speaker, meletakkan ponsel di meja. Maya masih diam, sendoknya hanya mengaduk-aduk nasi tanpa benar-benar makan.
Aku meraih tangannya di atas meja, menggenggam pelan. “Maaf ya, Sayang. Ibu cuma khawatir. Kita sabar terus ya. Aku tetap di sini.”
Maya mengangguk kecil, senyum tipisnya muncul lagi — senyum yang selalu sama, penuh kepatuhan. “Iya, Mas. Makasih… udah jawab buat aku.”
Suara kami kembali hening. Hanya denting sendok yang terdengar lagi di meja makan yang terlalu rapi, terlalu bersih, terlalu sepi untuk rumah yang sudah empat tahun dinanti kehadiran seorang anak.
Dan di dalam dada, rasa kasihan itu semakin membesar — kasihan pada Maya yang harus menanggung semua beban ini sendirian, kasihan pada pernikahan kami yang manis tapi kering.
Kenapa Tuhan belum juga memberi kami momongan? Maya sudah begitu sempurna…
Setelah piring-piring dirapikan dan Maya minum suplemen malamnya, aku kembali ke ruang tamu. Laptop sudah terbuka di meja kecil, tapi aku lebih suka kerja di lantai. Aku ambil tikar tipis, gelar di depan sofa, lalu duduk bersila dengan punggung bersandar ke bantalan sofa. Laptop kuletakkan di atas paha, panasnya pelan-pelan meresap ke celana chino yang masih aku pakai. Posisi ini paling nyaman buat aku coding lama — tangan bebas, layar pas di depan mata.
Maya keluar dari kamar mandi, gamis rumahnya sudah agak longgar di bagian dada karena tali pengikatnya dilepas sedikit. Dia tidak langsung ke kamar. Dia merebahkan diri di sofa tepat di belakangku, kakinya ditekuk rapi, kepalanya bersandar ke lengan sofa sambil memandangiku dari atas.
“Mas… kamu coding lagi malam ini?” suaranya pelan, hampir mengantuk.
“Iya, Sayang. Masih ada beberapa task core system yang harus kelar sebelum besok pagi. Kamu tidur duluan aja kalau capek.”
Maya menggeleng kecil. “Nggak apa-apa. Aku temenin di sini aja. Biar nggak sepi.”
Dia rebahan miring, satu tangan diletakkan di bawah pipi, matanya setengah terpejam tapi sesekali terbuka memperhatikan layar laptopku. Cahaya layar yang biru-putih memantul di wajahnya yang teduh, membuat kulitnya terlihat lebih pucat dari biasanya.
Sesekali dia iseng bertanya, suaranya lembut seperti anak kecil yang penasaran tapi tidak mengerti.
“Mas… kenapa ada baris merah-merah gitu? Error ya?”
Aku tersenyum kecil tanpa menoleh. “Iya, ini warning dari compiler. Artinya ada syntax yang salah. Bentar aku perbaiki.”
“Terus ini… apa sih? Kok banyak huruf Inggris sama simbol aneh-aneh. Kayak rumus matematika tapi lebih ribet.”
“Itu API endpoint, Sayang. Buat sistem bank nyambung ke database. Kamu ngga usah bingung, cukup temenin aja.”
Maya mengangguk pelan, rambutnya yang terlepas dari ikatan sedikit jatuh menutupi pipi.
“Oh… susah ya kerjaan Mas. Aku cuma bisa masak sama minum obat tiap hari.”
Ada nada sedih kecil di kalimat terakhirnya. Aku merasa dada ini sesak lagi. Dia sedang berjuang dengan suntikan, USG, suplemen penguat rahim… sementara aku cuma ngetik kode di pangkuan. Tapi setidaknya malam ini dia mau nemenin aku. Dia istri yang baik.
Aku terus mengetik, jari-jariku bergerak cepat di keyboard. Panas laptop di pangkuan terasa semakin terasa, tapi aku sudah terbiasa. Posisi ini memang paling fokus buat aku. Rumah sunyi, hanya suara ketikan dan sesekali helaan napas Maya dari atas sofa.
Kadang dia mengulurkan tangan, menyentuh rambutku pelan dari belakang — gerakan kecil, pasif, seperti sedang memastikan aku masih di sana. Aku suka sentuhan itu. Meski dingin, meski tidak penuh gairah, setidaknya ada.
Jam dinding berdetak pelan. Tik… tok… tik… tok…
Maya mulai menguap kecil. Matanya semakin berat. “Mas… aku ngantuk. Tapi aku tunggu kamu selesai ya…”
“Nggak usah, Sayang. Kamu tidur duluan aja. Aku nanti nyusul.”
Dia tidak menjawab lagi. Napasnya pelan-pelan menjadi teratur. Aku melirik ke belakang — Maya sudah tertidur di sofa, tangan masih terjulur sedikit ke arahku, gamisnya naik sedikit memperlihatkan betis yang putih dan halus.
Aku kembali ke layar. Baris-baris kode berwarna merah semakin berkurang. Tapi di dalam hati, ada rasa hangat yang aneh bercampur sedih.
Dia tidur di sini hanya untuk nemenin aku. Meski tubuhnya capek karena obat-obatan, meski rahimnya masih tipis, dia tetap berusaha jadi istri yang baik. Aku harus lebih sabar. Aku harus lebih kuat buat dia.
Laptop masih panas di pangkuanku. Aku bergeser sedikit, tapi tidak mengubah posisi. Kerja harus selesai.
Di luar, malam Jakarta Barat semakin sunyi. Hanya detak jam dan suara ketikan yang memecah keheningan rumah yang terlalu rapi, terlalu bersih, dan masih sangat kosong.
bersambung...
Konten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.