Chapter 4
Istriku Yang Terampas - 31 Mei 2026 - 4.863 kata
Sabtu pagi, rutinitas kami dimulai lagi seperti biasa. Begitu Subuh berkumandang, aku bangun dan Maya menyusul dengan mata yang masih setengah mengantuk. Kami shalat berjamaah di ruang tengah, pemandangan yang sudah berlangsung selama empat tahun.
Selesai salam, dia melakukan hal yang sama: mencium tanganku dan berterima kasih. Aku pun memimpin doa yang itu-itu lagi—memohon supaya rahim Maya segera diis'. Maya cuma mengaminkan pelan, hampir tidak terdengar. Aku sempat melirik dan benar saja, matanya basah lagi. Pemandangan yang sudah sangat familiar bagiku.
Setelah selesai, Maya langsung berdiri hendak ke dapur.
“Aku masak sarapan dulu ya, Mas. Biar—”
Aku menahan lengannya pelan. “hari ini ngga usah, yang… kan ini weekend... kita makan di luar aja.”
Maya menoleh, matanya sedikit lebar. “Makan di luar?”
“Iya. Kita ke Central Park. All you can eat dulu jam 9, abis itu nonton bioskop jam 12. Aku sudah beli tiketnya sebelum Subuh. Film horor komedi Indonesia yang baru tayang, katanya lagi rame.”
Maya diam sebentar. Senyum tipis muncul di bibirnya. “Film horor… aku agak takut sih, Mas. Tapi kalau Mas mau, aku ikut aja.”
Aku tersenyum, mengusap pipinya. “Tenang… ini horror komedi kok…. biar kita ketawa bareng. Kamu juga butuh refreshing.”
Dia mengangguk kecil. “Iya, Mas.”
Kami bersiap. Aku pakai kemeja polo hitam simpel dan jeans. Maya memilih gamis panjang warna merah maroon yang longgar, bahannya lembut mengalir sampai mata kaki, dipadukan dengan hijab segi empat senada. Warna maroon itu membuat kulitnya terlihat sedikit lebih cerah, tapi tetap sopan dan menutup sempurna — seperti biasa, hanya saja hari ini ada sedikit keberanian warna yang jarang dia pakai.
Bau sabun mandi yang lembut menyelimuti tubuhnya saat dia lewat di depanku.
Jam 08.15 kami sudah di mobil. Jalanan Sabtu pagi masih lengang. Aku sesekali melirik Maya yang duduk di samping dengan tangan terlipat di pangkuan. Gamis merah maroon-nya terlihat kontras dengan interior mobil yang gelap. Dia memandang ke luar jendela, tatapannya agak kosong.
“Hari ini aku mau nyenengin kamu yang...”
Central Park sudah ramai saat kami tiba. Restoran all you can eat Jepang-Korea mulai penuh. Aku ambil banyak makanan untuk Maya — beberapa tumpuk slice daging, sup miso, tempura — meski dia hanya makan sedikit seperti biasa.
“Kamu makan yang banyak ya, Sayang,” kataku sambil menaruh piring di depannya.
Maya tersenyum tipis, gamis maroon-nya sedikit terlipat di pangkuan saat dia duduk. “Iya, Mas. Makasih.”
Kami makan dalam diam yang nyaman. Hanya suara sendok, denting piring, dan obrolan pelan pengunjung di sekitar. Sesekali Maya bertanya kecil tentang film yang akan kami tonton, suaranya ragu-ragu.
“Filmnya serem banget nggak sih, Mas?”
“Kalau serem, kamu pegang tanganku aja.”
Dia mengangguk, tapi matanya tetap sedikit gelisah.
Jam 11.30 kami sudah di depan bioskop. Aku ambil tiket, popcorn, dan minuman. Maya berjalan di sampingku dengan langkah kecil. Gamis merah maroon-nya bergoyang pelan mengikuti langkah, hijab dengan warna senada tetap rapi tak terganggu angin AC bioskop.
Lampu studio mulai meredup saat kami mengambil posisi di baris tengah. Begitu ruangan jatuh dalam kegelapan total dan layar mulai memutar deretan trailer film, tangan Maya perlahan meraih jemariku—dingin, pasif, dan hanya bertumpu ringan tanpa tenaga.
Film dimulai. Suara tawa penonton sesekali pecah, tapi Maya lebih banyak diam, matanya terpejam saat adegan serem, tangannya tetap di tanganku tanpa mencengkeram.
Aku meliriknya di kegelapan. “Dia sedang berusaha menikmati weekend ini meski pikirannya pasti melayang ke suplemen, ke rahim yang tipis, ke telepon ibuku yang selalu menusuk. “
Weekend ini seharusnya menyenangkan.
Tapi keheningan di antara kami terasa sedikit lebih berat dari biasanya.
Lampu bioskop menyala terang saat credits bergulir. Maya tersenyum tipis ke arahku.
“Filmnya lucu juga ya, Mas.”
Aku balas tersenyum, menggenggam tangannya sebentar sebelum kami berdiri.
“Iya, sayang.. lucu kan…”
Kami keluar dari studio, aku berjalan di sampingnya, merasa hangat karena bisa memberinya hari yang berbeda.
Tapi di dalam dada, ada sesuatu yang sangat kecil dan sangat pelan mulai bergerak — seperti retak halus di dinding yang selama ini terasa sangat kokoh.
Jam masih menunjukkan sekitar pukul 14.10 saat kami keluar dari bioskop. Kerumunan orang di mall Central Park semakin padat, suara langkah kaki dan obrolan anak muda memenuhi lorong.
“Masih sore, Sayang. Kita ke coffee shop dulu yuk, sebelum pulang,” kataku sambil menggenggam tangannya pelan.
Maya mengangguk kecil, senyum tipisnya muncul lagi. “Boleh, Mas. Aku ikut aja.”
Kami turun ke ground floor. Weekend memang selalu ramai. Hampir semua coffee shop penuh sesak — antrean panjang, meja-meja penuh dengan laptop dan gelas-gelas berembun. Kami sempat berjalan beberapa meter, Maya sudah mulai melirik ke arah pintu keluar mall.
“Mungkin pulang aja ya, Mas… rame banget.”
Aku hampir setuju, tapi mata aku menangkap satu coffee shop di sudut yang masih ada space kosong. Meja dua orang di dekat jendela kaca, kursi masih kosong.
“Ada yang kosong tuh,” kataku sambil menarik tangannya pelan. “Coba kita masuk dulu.”
Kami masuk. Aroma kopi panggang dan susu steamed langsung menyambut. Interiornya modern, lampu kuning hangat, musik pop pelan mengalun. Aku menarik kursi untuk Maya, “Duduk sini, Sayang,” lalu aku duduk di depannya setelah dia duduk dengan rapi, gamis maroon-nya terlipat cantik di pangkuan.
Waitress datang tak lama kemudian, membawa dua menu dengan senyum ramah. Kami membuka halamannya bersamaan. Maya melihat dengan teliti, jari-jarinya menyusuri daftar minuman.
Aku memesan dulu. “Dua truffle fries ya, satu tiramisu. Minumannya… ice matcha latte untuk istri saya, ice americano untuk saya.”
Maya mengangguk pelan saat waitress menoleh ke arahnya. “Matcha lattenya no sugar ya mbak...”
Waitress mencatat cepat, mengambil menu dari tangan kami, lalu berlalu dengan “Tunggu sebentar ya, Pak, Bu.”
Kami duduk berhadapan. Musik pop masih mengalun pelan. Di luar jendela, orang-orang berlalu-lalang dengan tas belanjaan. Maya duduk tegak seperti biasa, tangannya terlipat di atas meja, gamis merah maroon-nya membuatnya terlihat sedikit lebih cerah di bawah cahaya lampu coffee shop.
Aku memperhatikannya. Wajahnya teduh, tapi ada garis kecil kelelahan di sudut matanya.
“Matcha latte-nya masih favorit kamukan?” tanyaku pelan, mencoba memecah keheningan.
Maya tersenyum tipis, mengangguk. “Iya, Mas. Enak, nggak terlalu manis. Cocok buat nemenin obat-obatan.”
Aku mengangguk, tanganku meraih tangannya di atas meja. Kulitnya hangat, tapi tetap pasif seperti biasa. Kami tidak banyak bicara. Hanya duduk berdua, menunggu pesanan datang, dikelilingi suara latte art yang dibuat barista dan tawa pelanggan di meja-meja lain.
Truffle fries dan tiramisu datang lebih dulu, diikuti dua gelas minuman. Aku mendorong tiramisu ke depan Maya.
“Makan yang banyak ya, Sayang. Besok kita istirahat di rumah aja.”
Maya mengangguk lagi, mengambil garpu kecil untuk tiramisu. Gerakannya pelan, terukur, seperti segala sesuatu yang dia lakukan. Aku menusuk truffle fries, rasa gurihnya langsung terasa, tapi entah kenapa lidahku agak hambar hari ini.
Aku menatapnya sebentar, lalu bertanya pelan, “Gimana filmnya tadi, Sayang? Serem nggak?”
Maya mengangkat wajahnya dari gelas matcha latte, senyum tipis muncul di bibirnya. Dia menggeleng pelan, hijab maroonnya bergeser sedikit.
“Nggak serem kok, Mas. Ternyata malah lucu ya.”
Aku tertawa kecil, mengangguk setuju. “Iya, aku juga kira bakal serem berat. Eh, malah ketawa terus.”
Maya menyesap Matcha Latte-nya lagi, lalu meletakkan gelas dengan hati-hati. Ada binar kecil di matanya yang biasanya redup.
"Mas, bagian paling nggak masuk akal itu pas mereka mutusin buat ngubur jasadnya di dalem rumah hantu," bisik Maya, lalu terkekeh pelan.
Aku tertawa, menyandarkan punggung ke kursi. "Panik banget, May. Takut dipolisiin tapi malah bikin bisnis makin laku."
"Iya! Pas pengunjungnya teriak ketakutan karena hantunya beneran, mereka malah sujud syukur di belakang panggung."
"Tapi yang paling parah pas adegan CCTV, kan?" pancingku.
Maya mengangguk cepat, tangannya menutup mulut menahan tawa yang hampir meledak.
"Filter lucunya! Aku ngga kuat pas muka hantunya berubah jadi imut begitu."
"Terus hantunya malah ikutan lari pas si Bono teriak."
"Iya!" Maya menyahut antusias. "Dia malah teriak 'Gue juga takut!'. Sumpah, Mas, itu bagian paling lucu."
Aku tersenyum lebar, membiarkan tawa kami tenggelam dalam riuh mesin kopi dan obrolan pengunjung lain. Gamis merah maroon Maya bergoyang kecil saat dia tertawa, sebuah pemandangan yang kurasa sangat mahal belakangan ini.
"Endingnya juga absurd," lanjutku lagi. "Kaya gara-gara hantu beneran, tapi tiap malam nggak bisa tidur karena rumahnya angker."
"Namanya juga ‘Rada Laen', Mas," Maya menyandarkan dagu di tangan. "Tapi aku suka sih. Meski mereka kacau banget, mereka tetap bareng-bareng."
"Kayak kita?" tanyaku spontan.
Maya menatapku, senyumnya melunak—tipis namun tulus. "Iya. Kayak kita."
Aku terdiam sejenak, mengamati wajahnya di bawah lampu kafe yang hangat. Untuk beberapa menit ini, meja kami terasa sangat ringan. Hanya ada kami dan sisa-sisa komedi di layar lebar tadi.
Namun, saat gelas-gelas mulai kosong, keheningan yang biasa mulai menyusup kembali. Maya kembali duduk tegak, merapikan hijabnya yang sebenarnya sudah sangat rapi. Pandangannya perlahan beralih ke jendela mall, kembali pada sosok Maya yang kaku dan patuh.
Aku meraih tangannya, mengusap punggung jemarinya pelan. "Lain kali kita nonton yang lebih lucu lagi ya?"
Maya mengangguk tanpa menoleh, suaranya kembali pelan. "Boleh, Mas. Makasih ya buat hari ini."
“Senang nggak hari ini, sayang?”
Dia menoleh, senyum tipis yang sama muncul lagi.
“Iya, Mas… seneng.”
Hanya itu.
Kami duduk di sana sampai gelas-gelas benar-benar kosong, dikelilingi suara latte art, obrolan orang lain, dan keramaian weekend yang tak pernah berhenti.
Di luar jendela, sore Jakarta Barat mulai meredup.
…
Kami keluar dari Central Park sekitar pukul 17.00 sore. Langit Jakarta Barat sudah mulai jingga, tapi lalu lintas Sabtu sore masih cukup padat. Perjalanan pulang yang biasanya hanya 30 menit molor jadi hampir 40 menit. Saat mobil mendekati kompleks perumahan, perut kami sudah mulai keroncongan lagi.
“Mas, mampir ayam bakar di pinggir jalan yuk,” kata Maya pelan sambil menunjuk warung kaki lima yang biasa kami lewati. “Yang biasa itu, dekat lampu merah.”
Aku mengangguk. “Boleh. Lumayan, biar nggak masak malam ini.”
Kami berhenti di warung ayam bakar pinggir jalan itu pukul 17.40. Bau asap arang dan sambal terasi langsung menyerbu begitu pintu mobil terbuka. Aku pesan dua porsi ayam bakar lengkap dengan lalapan dan sambal, Maya hanya minta satu porsi kecil plus es teh manis.
Makanan habis dalam diam yang nyaman. Hanya suara kunyahan dan sesekali klakson mobil yang lewat. Jam menunjukkan 18.20 saat kami akhirnya sampai rumah.
Begitu masuk, rumah masih gelap dan sepi seperti biasa. Aku langsung menyalakan lampu ruang tamu. Maya meletakkan tasnya di sofa, lalu berkata pelan, “Mas, masih sempat shalat Magrib. Kita shalat dulu yuk.”
Kami shalat Magrib berjamaah di ruang tengah. Aku imam, Maya di belakangku dengan gerakan yang khusyuk dan rapi. Setelah salam, seperti biasa dia merangkak maju, mengambil tangan kananku, lalu mencium punggung tanganku dengan lembut dan lama — tanda hormat yang selalu membuat dada ini hangat sekaligus sesak.
Kami lanjut shalat Isya langsung setelahnya, karena hari sudah gelap. Suasana rumah kembali sunyi setelah takbir terakhir. Hanya detak jam dinding yang terdengar jelas.
Setelah merapikan sajadah, Maya berjalan ke dapur dengan langkah pelan. Gamis merah maroon-nya masih melekat di tubuhnya, sedikit kusut karena seharian keluar rumah.
“Aku ambil air minum dulu ya, Mas,” katanya pelan.
Aku duduk di sofa ruang tamu, melepas jam tangan, dan mengamati punggungnya yang menjauh. Hari ini kami keluar seharian — makan enak, nonton film, ngobrol di coffee shop, bahkan mampir ayam bakar. Tapi entah kenapa, saat rumah kembali sunyi seperti ini, semua terasa kembali ke titik awal.
Maya kembali membawa dua gelas air putih hangat. Dia duduk di sebelahku, tangannya terlipat di pangkuan seperti biasa. Gamis maroon-nya terlihat agak pudar di bawah lampu ruang tamu.
Kami tidak banyak bicara lagi. Hanya duduk berdua, menyesap air hangat, dikelilingi keheningan rumah yang terlalu rapi, terlalu bersih, dan masih sangat kosong.
Aku meliriknya sekilas. Wajahnya teduh, tapi garis lelah di sudut matanya semakin jelas.
Hari ini seharusnya menyenangkan. Tapi kenapa rasanya masih… sama saja?
Aku mengusap punggung tangannya pelan, mencoba tersenyum.
“Capek ya, Sayang?”
Maya menggeleng kecil, senyum tipisnya muncul lagi.
“Nggak kok, Mas. Hari ini… asik.”
Hanya itu.
Malam Sabtu itu berlalu pelan, seperti malam-malam sebelumnya.
Hanya detak jam yang semakin terdengar keras di telinga, dan keheningan yang mulai terasa semakin berat di antara kami berdua.
Setelah shalat Isya selesai dan gelas-gelas air hangat sudah kosong, Maya bangkit pelan dari sofa. Gamis merah maroon-nya sedikit kusut di bagian pinggul karena seharian duduk.
“Mas, aku mandi dulu ya…,” katanya pelan, suaranya agak malu-malu.
Aku mengangguk. “Iya, Sayang. Mandi aja.”
Maya berjalan ke kamar mandi utama, pintu ditutup pelan di belakangnya. Tapi tidak dikunci. Bunyi klik kunci yang biasa tidak terdengar.
Aku duduk sebentar di sofa, mendengar suara keran air mulai mengalir. Entah kenapa malam ini ada dorongan kecil yang tiba-tiba muncul. Mungkin karena seharian kami keluar bersama, mungkin karena aku ingin merasakan sesuatu yang lebih dekat setelah akhir pekan yang terasa agak hampa.
Aku berdiri, berjalan pelan ke kamar mandi. Pintu kubuka perlahan.
Di dalam, Maya sudah setengah telanjang. Gamis merah maroon-nya sudah terlipat rapi di atas wastafel, hanya bra dan celana dalam putih polos yang masih melekat di tubuhnya. Air hangat sudah mengalir ke bathub, uap tipis mulai naik. Begitu pintu terbuka, Maya langsung menoleh kaget, tangannya otomatis menutup dada.
“Mas…!” suaranya setengah berbisik, wajahnya langsung merah. Malu gemas. “Kok masuk? Aku lagi mandi iihh..”
Aku tersenyum kecil, menutup pintu di belakangku. “ikut.. aku mau mandi bareng aja. Biar cepet.”
Maya menggeleng pelan, pipinya semakin merah. “Nggak usah, Mas… aku malu. Aku mau sendiri aja.”
Aku mendekat pelan, tanganku menyentuh pinggangnya yang masih tertutup bra. “Gpp kok, Sayang. Kayak sama siapa? Toh sama suami sendiri.”
Dia masih ragu, tangannya tetap menutup dada, tapi tidak menolak keras. Matanya menunduk, malu tapi ada sedikit gemas di sana. Aku membantu melepas bra-nya dengan gerakan pelan. Kain itu jatuh ke lantai. Lalu celana dalamnya ikut turun. Tubuh Maya yang putih dan lembut terlihat di bawah cahaya lampu kamar mandi yang kuning redup.
Saat aku melepas pakaianku sendiri, penis sudah mengacung keras karena melihat tubuhnya yang jarang terpapar begini. Maya melirik sekilas, lalu langsung menutup mulut dengan tangan, tertawa kecil malu.
Lintang Gelap“Mas… kok udah keras aja…,” godanya pelan, suaranya gemas.
Aku hanya tersenyum lebar, gigi terlihat jelas. “Normal atuhh. Lihat kamu gini.”
Aku masuk ke bathub duluan. Air hangat langsung merendam tubuhku sampai dada. Aku mengulurkan tangan kanan ke arah Maya, telapak terbuka.
“Yuk, masuk. Duduk di pangkuanku.”
Maya berdiri sebentar di tepi bathub, masih malu. Pipinya merah, tapi akhirnya dia tersenyum kecil, menggigit bibir bawahnya. Dengan langkah pelan dan hati-hati, dia melangkah masuk ke air hangat.
Tubuhnya yang hangat dan lembut perlahan turun, duduk di pangkuanku. Punggungnya menempel di dadaku, bokongnya pas di atas pangkal pahaku. Air hangat naik sampai dada kami berdua. Aku melingkarkan tangan di pinggangnya dari belakang, pelan, tidak terlalu erat.
Maya menghela napas kecil, suaranya hampir berbisik.
“Mas… airnya hangat ya…”
Aku hanya diam, daguku bertumpu di bahunya yang basah. Bau sabun mandi yang lembut bercampur dengan aroma kulitnya yang hangat. Tubuh kami saling menempel di air hangat, penis yang masih keras tertekan pelan di antara bokongnya.
Untuk sesaat, kamar mandi terasa lebih sempit, lebih hangat, lebih dekat dari biasanya.
Air hangat di bathub naik sampai dada kami berdua, uap tipis mengepul pelan di udara kamar mandi yang remang-remang. Maya duduk di pangkuanku, punggungnya menempel di dadaku, bokongnya pas di atas pangkal pahaku. Penis yang sudah keras tertekan lembut di celah bokongnya, berdenyut pelan setiap kali dia bernapas.
Perlahan, tangan kananku naik dari pinggangnya. Jari-jariku meluncur pelan di kulit basahnya yang licin karena sabun, meninggalkan jejak busa putih yang mengkilap. Aku bergerak sangat lambat, memberi waktu bagi tubuhnya untuk terbiasa. Telapak tanganku akhirnya sampai di payudara kirinya. Payudara itu kenyal, berat, dan hangat di genggaman. Aku mulai memutarnya pelan, ibu jari menyusuri puting yang sudah mengeras karena air hangat dan sentuhanku.
Maya langsung menahan napas. Tubuhnya menegang seketika. Tangan kirinya terangkat, mencoba menahan pergelangan tanganku dengan lembut.
“Mas…” suaranya kecil, hampir bergetar. Pipinya memerah hebat, merah sampai ke telinga. Matanya terpejam rapat, bulu matanya basah oleh uap.
Aku berhenti sejenak, tapi tidak menarik tangan. Aku mendekatkan wajahku ke samping kepalanya, suaraku rendah dan lembut di telinganya.
“Rileks aja, Sayang… jangan kaku. Ini aku… suami kamu.”
Maya tidak menjawab. Hanya menggigit bibir bawahnya, napasnya menjadi lebih pendek. Tapi tangannya yang menahan pergelanganku perlahan melonggar, meski tidak sepenuhnya lepas. Dia memang selalu seperti ini — sangat kaku kalau urusan intim. Aku mengenalnya lewat taaruf, dijodohkan keluarga. Dia wanita alim yang dulu bahkan jarang sekali menatap mataku langsung sebelum menikah.
Aku melanjutkan gerakan dengan lebih lembut. Telapak tanganku memutar payudara kirinya dalam lingkaran lambat, ibu jari dan telunjuk sesekali menjepit putingnya pelan, memilinnya dengan gerakan memutar yang halus. Busa sabun membuat semuanya licin, setiap putaran terasa lebih sensual, lebih basah. Payudaranya naik-turun mengikuti gerakan tanganku, kenyal dan berat, air hangat ikut beriak kecil di sekitar dada kami.
Maya mendongak ke atas, kepalanya bersandar di bahuku. Matanya masih terpejam rapat, bibirnya sedikit terbuka, napasnya keluar pendek-pendek. Wajahnya semakin merah, lehernya yang putih terlihat jelas di bawah cahaya kuning lampu.
Aku menunduk perlahan. Wajahku mendekat ke tengkuk lehernya yang basah. Hidungku menyentuh kulitnya dulu, menghirup aroma sabun mandi yang lembut bercampur dengan bau alami tubuhnya yang hangat. Lalu bibirku menyentuh tengkuknya — ciuman pertama pelan, hanya menempel. Kemudian aku menciumnya lagi, lebih dalam, bibirku terbuka sedikit, lidahku menyentuh kulitnya yang licin, meninggalkan jejak basah yang langsung dingin oleh udara.
Aku terus memutar payudaranya dengan tangan kanan, sementara tangan kiriku ikut naik, memegang payudara kanannya dengan gerakan yang sama — memutar, meremas pelan, ibu jari menyusuri puting yang semakin mengeras. Gerakan tanganku sinkron, lambat, penuh perhatian, seolah sedang menyembah tubuhnya yang selama ini selalu kaku dan patuh.
Maya mengeluarkan suara kecil dari tenggorokannya — bukan desahan, tapi hembusan napas yang tertahan, campur antara malu dan sensasi yang dia sendiri tidak terbiasa. Tubuhnya masih tegang, tapi pinggulnya sedikit bergeser di pangkuanku, seolah mencari posisi yang lebih nyaman.
Aku mencium lehernya lagi, kali ini lebih panjang, bibirku menyusuri garis tengkuk sampai ke bahu, meninggalkan jejak ciuman basah yang panas di kulitnya yang dingin oleh uap. Air bathub beriak lebih kuat setiap kali tanganku bergerak memutar payudaranya yang kenyal.
“Rileks, sayang… aku sayang kamu,” bisikku tepat di telinganya, suaraku serak karena gairah yang tertahan.
Maya hanya mengangguk kecil, matanya tetap terpejam, kepalanya masih mendongak ke atas, lehernya terbuka sepenuhnya untukku. Pipinya semakin merah, napasnya semakin pendek, tapi tubuhnya perlahan mulai menyerah pada sentuhanku — meski masih kaku, meski masih malu.
Air hangat di bathub semakin panas karena uap yang terus mengepul. Tubuh Maya yang basah menempel rapat di pangkuanku, payudaranya masih berada dalam genggaman tangan kiriku. Aku terus meremasnya pelan, ibu jari memutar putingnya yang sudah mengeras, gerakan memutar yang lambat dan penuh perhatian, seolah sedang membujuk tubuhnya yang selalu kaku untuk sedikit meleleh.
Tangan kananku mulai turun. Perlahan sekali. Telapak tanganku menyusuri kulit perutnya yang licin oleh busa dan air hangat — dari bawah payudara, melewati pusarnya yang kecil dan dalam, lalu semakin ke bawah. Setiap senti kulitnya terasa hangat dan halus. Maya memang selalu terawat, meski kami belum pernah dikaruniai anak. Bulu kemaluannya tipis dan rapi, seperti dia selalu menjaga penampilan dengan teliti.
Jari-jariku akhirnya sampai di sana. Bagian tubuhnya yang paling pribadi, paling hangat. Ujung jari telunjuk dan jari tengahku menyentuh bibir vaginanya yang lembut dan sedikit membengkak karena air hangat. Ada gesekan halus dengan bulu kemaluan yang tipis itu — lembut, hampir tak terasa, tapi cukup untuk membuat napas Maya tersentak kecil.
Tubuhnya langsung menegang lagi. Punggungnya menekan dadaku lebih kuat.
“Mas… geli…” bisiknya, suaranya gemetar, malu sekali.
Aku tidak berhenti. Aku acuh, terus memainkannya dengan gerakan pelan. Jari telunjuk dan tengahku menyusuri klitorisnya yang kecil dan tersembunyi, memutarnya dengan lembut, menekan sedikit, lalu melepaskan. Gerakan kecil, berulang, penuh kesabaran. Air bathub ikut beriak mengikuti gerakan jariku.
Maya menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Tubuhnya kaku seperti patung yang dipaksa bernapas. Napasnya pendek-pendek, kepalanya mendongak lagi ke atas, lehernya terbuka.
“Mas… masuk aja… please…” pintanya pelan, hampir memohon. Suaranya penuh malu dan kegelisahan. “Aku nggak tahan kalau diginiin… geli banget…”
Aku diam sebentar. Penis yang sudah sangat keras di bawahnya berdenyut kuat. Aku sebenarnya ingin terus bermain di klitorisnya, ingin melihatnya perlahan meleleh, tapi Maya memohon lagi, suaranya semakin kecil.
“Mas… langsung masukin aja… aku mohon…”
Akhirnya aku menurut. Tangan kananku meninggalkan klitorisnya, turun sedikit, lalu memegang batang penisku yang sudah tegang maksimal. Aku mengarahkan kepalanya ke bibir vaginanya yang hangat dan licin. Ujung penis menyentuh celahnya pelan, gesekan kulit yang basah terasa sangat jelas.
Maya menahan napas. Tubuhnya masih kaku, tapi pinggulnya sedikit bergeser, seolah membantu posisi. Aku mendorong pelan, sangat pelan, membiarkan kepala penis masuk sedikit demi sedikit ke dalam vaginanya yang sempit dan hangat.
Air bathub beriak lebih kuat saat tubuh kami semakin menyatu. Aku memeluk pinggangnya dari belakang dengan tangan kiri, sementara tangan kananku masih memegang pangkal penis, mengatur masuknya dengan gerakan yang sangat terukur.
Maya mengeluarkan suara kecil dari tenggorokannya — hembusan napas yang tertahan, campur antara malu, geli, dan sensasi yang dia sendiri sulit untuk nikmati sepenuhnya.
Aku terus mendorong pelan sampai sebagian besar penis masuk ke dalamnya. Hangat. Licin. Ketat.
Aku berhenti di situ, membiarkan tubuh kami menyatu dalam air hangat, napas kami bercampur di udara yang penuh uap.
“Rileks, Sayang…” bisikku lagi di telinganya, suaraku serak.
Maya hanya mengangguk kecil, matanya masih terpejam rapat, pipinya merah membara, tubuhnya tetap kaku di pangkuanku — seperti istri yang patuh, tapi belum pernah benar-benar melepaskan diri.
Di dalam bathub yang semakin panas, kami terhubung secara fisik, tapi keheningan yang selalu ada di antara kami masih menempel tebal, bahkan di saat intim seperti ini.
Perlahan, dengan gerakan yang sangat terukur, aku mendorong pinggulku ke atas. Penisku masuk sepenuhnya ke dalam vagina Maya yang hangat dan sempit. Kepala penis menyentuh dinding paling dalamnya dengan lembut, tapi pasti.
Maya langsung mendongak ke atas, kepalanya bersandar kuat di bahuku. Mulutnya terbuka sedikit, napasnya tertahan di tenggorokan. Matanya terpejam rapat, bulu matanya basah oleh uap dan keringat tipis. Tubuhnya menegang seketika, jari-jarinya mencengkeram pinggiran bathub hingga memutih.
Aku masih menciumi lehernya dari belakang. Bibirku menempel di kulit tengkuk yang basah, lalu lidahku menyentuhnya pelan — menjilat garis lehernya dengan gerakan lambat, meninggalkan jejak basah yang langsung terasa dingin oleh udara. Sesekali aku mengisap kulitnya cukup kuat, meninggalkan cupangan merah kecil yang samar di kulit putihnya. Setiap isapan membuat Maya menggigil kecil, napasnya semakin pendek.
Aku diamkan sebentar. Penisku utuh di dalamnya, berdenyut pelan mengikuti detak jantungku. Maya merasakannya dengan jelas — tebal, panas, memenuhi seluruh rongganya. Mulutnya masih terbuka sedikit, bibir bawahnya bergetar halus, seolah sedang menahan sesuatu yang tidak biasa dia rasakan.
Lalu aku mulai menggoyangkan pinggulnya dengan kedua tangan. Gerakan perlahan, naik-turun, mengatur irama sendiri. Setiap kali pinggul Maya aku angkat pelan, penisku keluar sebagian, lalu aku turunkan lagi hingga masuk sepenuhnya.
Plik… plik… plok…
Suara basah itu terdengar jelas di antara gemercik air bathub yang ikut bergoyang mengikuti gerakan kami. Air hangat beriak kuat, naik-turun di dada kami, busa sabun yang tersisa ikut pecah-pecah kecil.
Maya hanya mengikutiku dengan gerakan kaku. Pinggulnya naik-turun sesuai tuntunan tanganku, tapi tubuhnya tetap tegang. Tidak ada desahan lepas, hanya hembusan napas pendek yang tertahan setiap kali penisku masuk dalam-dalam. Tangan kirinya mencengkeram pinggiran bathub, tangan kanannya terangkat ke belakang, memegang lengan atasku dengan lemah.
“Mas… pelan…” bisiknya sekali, suaranya gemetar, hampir tak terdengar.
Aku tidak mempercepat. Aku tetap menggerakkan pinggulnya dengan ritme lambat dan dalam — keluar masuk, pelan tapi penuh, setiap dorongan membuat air bathub bergemercik lebih keras. Penis yang licin oleh air dan cairan tubuhnya terasa semakin erat setiap kali masuk.
Aku terus menciumi lehernya, sesekali menjilat, sesekali mengisap, meninggalkan beberapa cupangan kecil yang mulai memerah di kulitnya yang putih. Napasku panas di telinganya.
Maya tetap kaku di pangkuanku. Tubuhnya mengikuti gerakanku, tapi seperti patung hangat yang sedang dipinjamkan. Matanya masih terpejam rapat, mulutnya sedikit terbuka, napasnya semakin pendek setiap kali penisku menyentuh titik paling dalamnya.
Plik… plik… plok…
Suara basah itu terus terdengar, bercampur dengan gemercik air yang semakin liar mengikuti irama pinggul kami.
Di dalam bathub yang penuh uap, kami terhubung secara fisik dengan sangat intim.
Tapi Maya tetap Maya — istri yang alim, patuh, dan selalu kaku dalam urusan yang satu ini.
Dan aku… masih berusaha mencintainya dengan cara yang aku tahu.
Perlahan aku memegang pinggang Maya dengan kedua tangan, lalu memutar tubuhnya menghadap ke arahku tanpa melepaskan penetrasi. Vaginanya yang masih menancap penisku ikut berputar pelan, dinding-dindingnya yang hangat dan licin bergesekan kuat mengelilingi batangku. Sensasi itu membuat penis terasa linu seketika — campuran nyeri nikmat yang tajam.
Maya menggigit bibir bawahnya, matanya masih terpejam rapat. Wajahnya semakin merah, napasnya tersengal pendek.
Sekarang kami berhadapan. Aku menarik tubuhnya lebih dekat hingga payudaranya menempel di dadaku. Air bathub bergoyang keras karena perubahan posisi. Aku mendekatkan wajahku dan mencium bibirnya — lembut pada awalnya, lalu semakin dalam. Bibirku menekan bibirnya, lidahku mencoba menyelinap masuk ke celah kecil yang dia buka sesekali.
Seperti biasa, Maya tidak membalas. Bibirnya tetap merapat, hanya membuka sedikit celah untuk lidahku masuk, tapi tidak ada gerakan balasan. Tidak ada isapan, tidak ada lidah yang menyambut, tidak ada desahan kecil. Hanya pasrah. Polos. Seperti wanita yang masih malu meski sudah empat tahun menjadi istriku.
Aku mencoba menciumnya lebih dalam lagi, tapi tetap tidak ada respons yang berarti. Akhirnya aku melepaskan bibirnya dengan pelan. Dada ini terasa berat. Sudah empat tahun, tapi aku belum pernah berhasil membuatnya benar-benar rileks saat kami seperti ini. Dia selalu kaku, selalu malu, selalu seperti sedang menjalankan kewajiban suci.
Aku menyerah mencumbunya. Fokusku kembali ke bawah. Kedua tanganku memegang pinggang Maya lebih erat, lalu aku mulai menggerakkan pinggulnya naik-turun dengan ritme monoton.
Naik… turun… naik… turun…
Setiap kali Maya aku angkat, penisku keluar sebagian, lalu aku turunkan lagi hingga masuk sepenuhnya. Suara basah plik… plik… plok… kembali terdengar jelas, bercampur gemercik air yang semakin liar.
Maya menyandarkan kepalanya di bahuku, wajahnya menghadap ke samping. Napasnya terasa hangat di kulit leherku. Tubuhnya masih kaku, mengikuti gerakanku tanpa inisiatif, hanya pasrah mengikuti irama yang aku buat.
Aku terus menggerakkan pinggulnya dengan gerakan yang sama — naik-turun, pelan tapi dalam. Air bathub beriak semakin kuat, membasahi dada kami berdua. Nafasku mulai berat. Badanku mulai menegang, otot-otot perut dan paha mengejang.
Maya masih diam. Hanya napasnya yang semakin cepat di telingaku.
Aku mempercepat gerakan goyangan pinggulnya. Naik-turun lebih cepat, lebih kuat. Penis yang licin keluar-masuk dengan ritme yang semakin liar. Suara plik plik plok semakin cepat dan basah.
Akhirnya tubuhku mengejang kuat. Nafasku tersengal berat.
“Crot…”
Aku meledak di dalamnya. Sperma panas menyembur kuat ke dalam vaginanya, berdenyut-denyut beberapa kali. Badanku langsung lemas seketika, otot-ototku melemas, kepalaku bersandar ke bahu Maya.
Maya memelukku pelan. Kedua tangannya melingkar di leherku, kepalanya masih bersandar di bahuku. Napasnya pelan dan teratur kembali, seolah tugas malam ini sudah selesai.
Air bathub masih beriak pelan di sekitar tubuh kami yang basah.
Aku memeluk pinggangnya dengan lemah, mencium bahunya sekali lagi.
Malam itu, di dalam bathub yang penuh uap hangat, Maya memelukku dengan patuh seperti biasa.
Tapi di dalam dada, aku merasakan kekosongan yang sama seperti malam-malam sebelumnya — kosong, meski baru saja melepaskan diri sepenuhnya di dalam tubuh istrinya yang suci.
Setelah mandi bersama selesai, kami keluar dari bathub dalam diam. Maya langsung mengeringkan tubuhnya dengan handuk putih, lalu memakai daster tidur panjang yang sopan seperti biasa. Aku mengikutinya ke kamar. Lampu tidur kuning redup sudah menyala di sisi ranjang.
Maya naik ke tempat tidur lebih dulu, berbaring membelakangiku dengan rapi, selimut ditarik sampai dada. Dalam hitungan menit, napasnya sudah menjadi tenang dan teratur. Dia tertidur cepat, seperti biasa setelah “tugas” malam ini selesai.
Aku berbaring di sampingnya, tapi mataku masih terbuka lebar. Kamar gelap, hanya cahaya layar ponsel yang menyala redup di tanganku. Awalnya aku hanya scroll sosmed biasa — feed Instagram, story teman kantor, video lucu yang tidak benar-benar lucu. Tapi pikiranku tidak tenang.
Obrolan di kantin kemarin kembali muncul. Suara Dika dan Reza yang berbisik tentang forum underground itu. Nama situs yang sekilas kulihat di ponsel Reza — cu*********et(dot)id — tiba-tiba terngiang lagi dengan sangat jelas.
Aku menggeleng pelan di dalam hati.
“Gilaa. Nggak usah dibuka. Itu isinya orang gila.”
Tapi semakin aku mencoba mengusirnya, semakin kuat dorongan kecil itu muncul dari dalam dada. Malam ini entah kenapa terasa berbeda. Mungkin karena hari ini kami keluar seharian, mungkin karena mandi bersama tadi yang tetap terasa… hampa.
Jari-jariku berhenti di layar. Aku menatap Maya yang tertidur pulas di sampingku. Dasternya naik sedikit memperlihatkan betis yang putih. Napasnya pelan. Damai.
Aku menarik napas dalam-dalam.
“Hanya lihat sekilas saja. Cuma penasaran.”
Aku membuka browser, langsung memilih mode Incognito. Layar berubah jadi hitam pekat. Jari-jariku mengetik pelan di kolom pencarian:
cu*********et(dot)id
Halaman utama langsung terbuka.
Ternyata harus daftar akun dulu. Aku memasukkan email keduaku — bukan yang utama — lalu membuat username sederhana dan password. Prosesnya cepat. Setelah tombol “Daftar” ditekan, aku di-redirect ke halaman utama forum.
Dan saat itu juga, mataku terbelalak.
Halaman depan forum langsung memenuhi layar dengan thumbnail-thumbnail foto yang sangat eksplisit. Judul thread demi judul thread berjejer dengan huruf tebal:
“Istri shaleha gue akhirnya mau dicoba orang lain setelah 6 tahun mandul”
“SSI binor komplek”
“Dari taaruf sampai jadi hotwife: cerita lengkap istriku yang dulu anti sex”
Di bawah setiap thread, komentar-komentar kasar dan penuh nafsu bertebaran. Ada foto-foto istri orang, ada yang hanya bahu dan leher, ada yang lebih berani — lingerie, paha terbuka, namun untuk wajah masih di sensor, demi keamanan.
Aku menelan ludah. Jantungku berdegup keras sekali.
Scroll ke bawah sedikit, mataku langsung tertuju pada satu thread terbaru yang paling banyak dilihat malam ini:
“Perjalanan merubah istri alim jadi binal”
Thumbnail-nya menampilkan foto seorang wanita berhijab yang sedang duduk di sofa, gamisnya sedikit terbuka di bagian dada, matanya di sensor garis hitam, hanya terlihat bibir dan pipinya.
Aku membeku.
Karena wanita di foto itu…
…terlihat sangat mirip dengan Maya.
bersambung...
Konten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.