Chapter 26
Istriku Yang Terampas - 9 September 2026 - 3.726 kata
“Mas, kopinya.” Cangkir keramik menyentuh permukaan meja kerja dengan denting halus yang tertahan. Aku mendongak dari layar monitor. Mata Maya adalah hal pertama yang kutemukan. Kelopak matanya masih menyisakan jejak bengkak tipis, sisa air mata semalam yang menetes panjang di ranjang kamar tamu. Bayangan lelah menggantung samar di bawah matanya meski wajah itu sudah dibasuh air dingin. Beberapa helai anak rambutnya yang lepas dari jepitan jatuh melengkung di sisi pelipis. Daster panjang yang ia kenakan tampak kusut di bagian pinggang. Entah jam berapa kami akhirnya keluar dari kamar tamu semalam. Yang kuingat, Maya berhenti menangis lebih dulu. Lama setelah deru motor Pak Broto lenyap di ujung jalan, barulah jemarinya perlahan melonggarkan cengkeraman pada kausku. Kami tidak membicarakan apapun lagi setelah itu. Ia mandi, aku menunggu dalam bisu, lalu kami masuk ke kamar tidur utama seperti dua orang asing yang terdampar di tempat yang sama. Maya tidur membelakangiku, sementara mataku terus menatap langit-langit hingga fajar. Pagi tadi, sisi ranjang di sebelahku sudah dingin dan kosong. Dan sekarang, ia berdiri di sini membawakanku kopi panas, seolah rutinitas rumah tangga kami bersikeras menambal retakan yang menganga. Dari celah pintu ruang kerja yang terbuka separuh, mataku menangkap ujung lorong. Daun pintu kamar tamu masih
Chapter ini membutuhkan 2 Ink untuk dibaca. Saldo kamu saat ini 0 Ink.
Akses chapter ini bersifat pribadi dan dilindungi hak cipta. Distribusi ulang tanpa izin tidak diperbolehkan.
Masuk untuk MembeliKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.