Chapter 23
Istriku Yang Terampas - 8 Agustus 2026 - 2.825 kata
“Maaf ya, Mas Arya. Tadi agak muter nyari parkirnya.” Pak Broto menarik kursi di depanku, lalu meletakkan kunci motornya di sisi meja. “Gapapa, Pak. Saya juga baru sampai.” Padahal es didalam gelas americano ku sudah tinggal separuh. Pak Broto tidak memperhatikannya. Ia duduk dengan kaus polo gelap dan celana bahan yang biasa. Rambut di sisi kepalanya sudah bercampur uban, masih sedikit basah oleh keringat. Begitu pelayan datang, ia hanya menunjuk salah satu menu. “Yang ini aja, Mbak… yang panas, ndak pake gula.” Pelayan mencatat lalu menjauh. Dinding kaca coffee shop menahan deru kendaraan yang merayap di jalan utama. Setiap kali pintu depan berderit terbuka, bau tembakau samar dan asap knalpot menyusup singkat sebelum tergilas aroma biji kopi. Pak Broto merapikan posisi HPnya di atas meja, menggesernya tepat tiga senti sejajar dengan tepi. Ia meremas pelan jemarinya sendiri hingga terdengar bunyi krek halus. “Gimana, Mas?” Aku menengadah, menghentikan ketukan pelan ibu jariku di atas meja. “Gimana apanya, Pak?” “Katanya mau ngobrol.” “Ooh….” Jemariku beralih mengusap embun dingin pada dinding gelas, menyerap basahnya ke ujung kulit. “Iya.. Pak.” Pak Broto tidak menyambung. Bahunya rileks, bersandar penuh ke sandaran kursi. Matanya yang teduh dengan gurat kerutan tebal di sudutnya menatapku tanpa kedipan terburu-buru.
Chapter ini membutuhkan 2 Ink untuk dibaca. Saldo kamu saat ini 0 Ink.
Akses chapter ini bersifat pribadi dan dilindungi hak cipta. Distribusi ulang tanpa izin tidak diperbolehkan.
Masuk untuk MembeliKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.