Chapter 22
Istriku Yang Terampas - 4 Agustus 2026 - 6.650 kata
Denting sendok di dalam cangkir itu mendadak berhenti. Uap tipis teh jahe hangat membumbung pelan, membawa aroma jahe yang tajam beradu dengan harum diffuser lavender di sudut ruangan. “Mas...” Suara Maya mengalun sangat pelan, selembut usapan kain sutra. Aku mendongak dari layar laptop yang menyala biru di meja makan. “Hmm?” “Dari tadi dibaca apa cuma diliatin sih?” Ia miringkan kepalanya sedikit. Sepasang matanya yang jernih menatapku penuh binar jenaka. Kursor di layar laptopku sebenarnya sudah berkedip di ujung baris kode yang sama selama lebih dari sepuluh menit. Jemariku membeku di atas papan ketik, sementara pikiranku tertinggal jauh pada potongan rekaman bisu di folder tersembunyi, potongan gambar yang sudah kuhafal sampai ke gerakan mikro terkecilnya. “Lagi mikir, Sayang.” “Mikir sampai nggak kedip gitu?” Maya terkekeh pelan, tawa renyah yang amat teduh. Ia melangkah mendekat, meletakkan dua cangkir teh hangat ke atas meja kayu, lalu membungkuk sedikit di sampingku untuk mengintip layar. Daster berwarna biru muda yang ia kenakan jatuh menjuntai, memperlihatkan garis lehernya yang mulus dan wangi sabun mandi yang masih segar. “Ini tulisan semua, Mas.” “Namanya juga kode program, Sayang.” “Aku kira gambar.” “Kalau gambar, bukan kerjaan Mas dong.” “CCTV gambar...” Kalimat itu meluncur begitu ringan dari bibirnya. Seketika, ibu
Chapter ini membutuhkan 4 Ink untuk dibaca. Saldo kamu saat ini 0 Ink.
Akses chapter ini bersifat pribadi dan dilindungi hak cipta. Distribusi ulang tanpa izin tidak diperbolehkan.
Masuk untuk MembeliKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.