Chapter 20
Istriku Yang Terampas - 20 Juli 2026 - 3.259 kata
“Jadi pergi hari ini?”
Maya menoleh dari depan kompor. Uap tipis dari wajan menyapu wajahnya, menyisakan binar hangat di sepasang matanya yang teduh. Tangannya yang memegang spatula bergerak luwes, sementara nasi goreng di dalam wajan mengeluarkan bunyi desis pelan yang gurih.
Lintang Gelap“Iya, Mas… Nanti sehabis sarapan, ya.”
Suaranya mengalun lembut. Ia mematikan kompor dengan klik pelan, lalu membawa dua piring ke meja makan. Aroma mentega dan bawang putih seketika memenuhi indra penciumanku. Telur ceplok di atas nasiku masih setengah matang, permukaannya menggembung tipis dan bergoyang halus, persis seperti yang selalu kusuka.
“Jam berapa?” tanyaku, menarik kursi kayu.
“Belum tahu pasti, Mas...” Maya menarik kursi tepat di seberangku. Gerakannya lambat, matanya tersenyum lebih dulu sebelum bibirnya bergerak. “Nunggu kerjaan rumah beres dulu, Mas… biar nanti pas keluar, pulangnya nggak kepikiran jemuran atau piring kotor.”
Aku meraih toples kaca di tengah meja, mengambil sekeping kerupuk putih yang renyah.
“Ke mana dek?”
Maya mengangkat wajah. Sepasang sudut bibirnya melengkung, melahirkan senyum kecil yang teramat manis, seolah ia sedang menghadapi anak kecil yang banyak tanya.
“Mas masih kepikiran soal semalam, ya?” tanyanya pelan, kepalanya sedikit miring dengan binar mata yang menggoda jenaka.
“Engga... Cuma nanya.”
“Iya, aku tahu kok.” Ia mematahkan kerupuknya menjadi dua bagian dengan bunyi krak yang renyah, lalu meletakkan potongan yang lebih besar tepat di sisi piringku. “Aku cuma mau muter-muter sebentar aja, Mas... Cari angin.”
“Muter ke mana?”
“Belum tahu…”
“Lah?”
Maya tertawa kecil. Suara tawanya terdengar begitu renyah dan hangat di ruangan yang sunyi ini. “Kalau sudah tahu mau ke mana, namanya bukan muter-muter dong, Mas...”
Aku tidak bisa menahan senyum, ikut tertawa pelan. “Bener juga...”
“Nah, makanya...”
“Sendiri?”
Sendok di jemari lentiknya mendadak berhenti tepat di depan bibir merah mudanya yang basah. Matanya menyipit geli, menatapku dengan kerlingan manja yang menggemaskan.
“Masa aku harus ngajak ibu-ibu satu kompleks sih, Mas?”
“Boleh.... Sekalian konvoi.”
“Terus bajunya harus seragaman sama semua?”
“Iya.. biar kompak...”
Maya menutup mulutnya dengan punggung tangan. Tawanya pecah pelan, hangat, dan renyah, lalu cepat-cepat diredam dengan bahu yang berguncang halus ketika ia hampir tersedak nasi.
“Ih, Mas ini…. Ada-ada aja, deh.”
Aku mendorong gelas berisi air putih hangat ke arah tangannya yang sedingin es. “Makanya jangan ketawa sambil makan.”
“Mas sih, yang bikin ketawa.” Ia mengerucutkan bibirnya sedikit, pura-pura sebal dengan cara yang teramat manis.
“Berarti salah Mas?”
“Iya...”
“Enak banget...”
Maya tersenyum lebar, menampakkan barisan giginya yang rapi. Ia mengambil potongan putih telur dari piringnya, lalu memindahkannya dengan hati-hati ke piringku. “Nih, biar Mas nggak protes lagi.”
Aku menatap potongan telur itu, lalu mendongak menatapnya. “Kamu nggak mau?”
“Udaah cukup, Mas... Ini aja udah kenyang.”
“Diet?”
“Nggak, Mas...” Ia menyendok nasinya lagi dengan gerakan tertib. “Tadi pas masak udah nyicip terus, jadinya perutnya udah penuh duluan.”
“Pantes tinggal sedikit.”
Maya menggeleng-geleng pelan sambil terus tersenyum, matanya memancarkan kehangatan yang seolah melunturkan dinginnya pagi.
Obrolan kami mengalir begitu ringan, seolah kalimat yang menggantung semalam di antara kami tidak pernah ada. Maya masih sesekali meledekku dengan nada manjanya yang khas. Jemari halusnya masih merapikan letak sendokku yang hampir merosot jatuh dari tepi piring porselen. Ia bahkan masih sempat mengulurkan tangan, menyeka sudut bibirku dengan tisu sambil mengingatkanku agar sambal tidak menetes ke kaus rumahanku yang putih.
Hanya satu hal yang tidak berubah sejak aku duduk di meja makan ini.
Aku tetap tidak tahu ke mana sebenarnya ia akan pergi.
Setelah sarapan selesai, Maya mengumpulkan piring kotor ke wastafel. Aku baru saja hendak mengangkat piringku ketika pinggulnya menyenggol lenganku pelan, gerakan manja yang canggung namun selalu berhasil membuat dadaku berdesir.
“Udah, Mas. Taruh aja... Biar aku yang cuci.”
“Mas bantu...”
“Nggak usah, nanti malah pecah.”
“Man ada….”
Maya memutar keran air. Bunyi gemercik air yang menabrak logam wastafel terdengar nyaring. “Gelas hadiah nikahan kemarin siapa coba yang mecahin?”
“Itu kan licin.”
“Iya, iya, Mas... Gelasnya yang salah, Mas nggak pernah salah,” sahutnya tanpa menoleh, diiringi tawa kecil yang diredam.
“Nah, pinter...”
Aku menyandarkan pinggang ke tepi meja dapur, melipat tangan di dada sambil memperhatikan punggungnya yang berbalut gamis tipis.
“Mas antar ya..?”
“Nggak usah, Mas.” Maya membilas piring dengan teliti, busa sabun putih menutupi punggung tangannya yang halus, lalu menaruhnya perlahan di rak pengering. “Mas istirahat aja di rumah. Kan seharian kemarin udah capek kerja.”
“Mas bisa sekalian jalan-jalan.”
“Nanti yang ada Mas malah ngikutin aku terus di belakang.” Ia melirikku dari balik bahu, matanya mengerling menggoda.
Aku mengangkat alis. “Memangnya nggak boleh?”
Maya berbalik sepenuhnya. Busa sabun masih menempel di ujung jari kelingkingnya yang lentik. Tatapannya melunak, begitu dalam dan teduh.
“Bukannya nggak boleh, Mas,” nadanya tetap selembut sutra, mengalun tenang. “Aku cuma pengen keluar sendiri sebentar. Cari suasana baru.”
Kalimat itu sama sekali tidak terdengar seperti penolakan yang dingin. Tidak ada nada tinggi, tidak ada tatapan tajam yang defensif. Maya mengatakannya sambil tersenyum manis, persis seperti seorang istri yang sedang meminta izin manja untuk membeli keperluannya sendiri tanpa ingin merepotkan suaminya.
Aku mengangguk pelan. “Ya udah.”
“Makasih ya, Mas.”
“Tapi jangan sampai malam.”
“Nggak akan, Mas.” Ia kembali menghadap wastafel, melanjutkan bilasannya. “Nanti juga langsung pulang kok.”
Aku berdiri bersandar di dekat pintu depan ketika Maya selesai bersiap.
Gamisnya berwarna biru muda polos, longgar dan jatuh cantik hingga menutup mata kakinya. Hijab abu-abu segi empat menutup rambut lurus dan lehernya dengan sangat rapi, tanpa ada satupun anak rambut yang berani keluar. Tas kulit kecil berwarna cokelat menggantung di bahunya, sementara kunci mobil berada di genggaman tangan kanannya yang pucat.
Maya memasukkan ponselnya ke dalam tas, lalu menarik resletingnya dengan bunyi srek pelan.
“Aku pergi dulu ya, Mas.”
Aku melangkah mendekat, meraih ujung hijabnya yang sedikit melipat tidak rapi di bahu kanan, lalu meluruskannya perlahan dengan jemariku. Aroma bedak bayi yang lembut menyengat indra penciumanku.
“Hati-hati.”
“Iya, Mas.”
“Kalau nyasar telpon ya….”
Maya tersenyum lebar, menatapku lurus. “Memangnya aku anak kecil?”
“Kadang-kadang.”
“Ihhh….” Tangannya yang halus mencubit pelan sisi lenganku, sebuah cubitan manja yang hampir tidak terasa sakit sama sekali.
Aku membukakan pintu kayu untuknya. Maya melangkah keluar ke udara Minggu pagi yang mulai hangat, lalu berhenti sejenak di teras.
Lintang Gelap“Mas jangan lupa makan siang nanti, ya...”
“Siap, Bu...”
“Terus jangan cuma minum kopi aja…”
“Iya, Bu.”
Ia menggeleng-geleng geli, jilbab abu-abunya ikut bergoyang halus. “Dibilangin malah ngeledek terus….”
“Kan biar kamu tenang perginya...”
Maya turun dari anak tangga teras, membuka pintu mobil, lalu kembali menatapku dengan senyum teduhnya yang paling damai sebelum masuk ke balik kemudi.
“Aku nggak lama kok, Mas...”
“Katanya mau muter-muter…”
“Iya, tapi nggak sampai pindah provinsi juga kali…”
Aku tertawa lepas. “Ya udah//. Sana.”
Mobilnya mundur perlahan dari garasi otomatis. Maya melambaikan tangan kanannya dari balik kaca jendela yang diturunkan setengah, sebelum mobil itu berbelok keluar pagar dan hilang di ujung jalan kompleks.
Aku masih berdiri diam di depan pintu, membiarkan keheningan rumah kembali merayap turun seiring hilangnya suara deru mesin mobilnya.
…
Sudah hampir empat jam sejak mobil Maya meninggalkan rumah.
Ponselku tergeletak diam di samping laptop kerja yang layarnya masih menyala biru. Percakapan WhatsApp terakhir kami masih terbuka statis di layar digital.
Arya
Masih di luar?
Balasan Maya masuk beberapa menit kemudian.
Maya
Iya, Mas 😊 Sebentar lagi pulang.
Tidak ada share location. Tidak ada kiriman foto suasana sekitar.
Aku mengetik satu kalimat panjang, menanyakan posisinya, lalu menghapusnya kembali. Mengetik pertanyaan lain, kemudian menghapusnya lagi. Pikiranku terasa bising dan kotor oleh paranoid yang kurajut sendiri. Akhirnya, hanya satu kata balasan pendek yang kukirimkan.
Arya
Hati-hati.
Centang dua biru langsung muncul seketika.
Aku meletakkan ponsel kembali ke atas meja dengan gerakan lambat. Satu bagian baris kode di layar laptop sudah kubaca berulang kali sejak sejam lalu, tetapi tidak ada satu pun baris perintah yang benar-benar bisa masuk ke kepalaku. Fokusku mati total. Aku menutup laptop dengan bunyi plek pelan ketika suara deru mesin mobil akhirnya terdengar memecah sunyi dari depan rumah.
Pintu garasi bergeser pelan.
Mobil Maya masuk perlahan dan berhenti.
Aku segera membuka pintu depan sebelum ia sempat mengetuk. Maya baru saja turun dari balik kemudi, tubuhnya sedikit membungkuk berusaha meraih beberapa kantong belanja dari kursi penumpang.
“Banyak banget bawaannya...”
“Nggak banyak kok, Mas,” sahutnya dengan napas sedikit terengah namun suaranya tetap terdengar ceria saat ia berbalik menghadapku.
Aku melangkah mendekat, mengambil alih dua kantong plastik terbesar dari tangannya yang terasa dingin.
“Ini kalau nggak banyak, yang banyak harus pakai truk tronton?”
Maya tertawa renyah, pipinya memerah halus akibat hawa hangat luar ruangan. “Lebay, deh...”
Ada satu paper bag butik berisi pakaian, dua kantong belanja supermarket, dan satu plastik kecil berlogo apotek. Tidak ada benda aneh di sana. Tidak ada detail yang bisa menjelaskan empat jam yang baru saja berlalu di luar rumah.
Aku mengangkat plastik kecil apotek. “Beli apa?”
“Vitamin sama skincare, Mas.” Maya menutup pintu mobil dengan siku, lengannya mendekap paper bag butik. “Yang di rumah udah mau habis, Mas.”
“Terus ini?” Aku menunjuk paper bag cokelat di dekapannya.
“Jilbab.”
“Cuma satu?”
“Dua.”
“Empat jam milih jilbab?”
Maya menghentikan langkahnya di anak tangga teras. Ia menatapku dengan sepasang mata yang menyipit menahan senyum geli yang tertahan di bibirnya yang kemerahan.
“Mas mau aku jawab jujur?”
“Boleh.”
“Aku tadi bingung banget pilih warnanya, Mas... Bagus-bagus semua.”
“Empat jam cuma buat milih dua warna?”
“Nggak selama itu juga kali, Mas...” Ia berjalan mendahuluiku masuk ke dalam rumah. Langkahnya terasa lebih ringan, meninggalkan aroma parfum bunga melatinya yang lembut menyapu dadaku saat ia melewatiku. “Tadi mampir makan dulu sebentar, terus lihat-lihat yang lain.”
“Sendirian?”
Maya melirik dari balik bahunya dengan senyum manis yang menggoda.
“Iya, Mas…. Sendirian.”
“Kasihan amat.”
“Kenapa kasihan?”
“Nggak ada yang bayarin...”
Ia tertawa kecil, suara tawanya memantul lembut di dinding ruang tamu saat ia meletakkan tas kecilnya di atas sofa.
“Kan ujung-ujungnya pakai uang Mas juga..”
Aku terdiam sesaat, meraba sisa logikaku yang mendadak beku.
Maya tersenyum bangga, menatapku lurus. “Pinter, kan?”
“Istri siapa dulu, Mas?” sambungnya dengan nada manja, kepalanya mendongak kecil penuh kemenangan.
Aku membawa kantong-kantong belanja ke dapur. Maya menyusul di belakang, langsung mengeluarkan isinya satu per satu untuk disusun di atas meja makan.
Minyak goreng. Sabun cuci piring. Bumbu dapur instan. Beberapa makanan ringan kemasan. Dua kotak vitamin tebal. Barang-barang biasa yang sebenarnya bisa dibeli siapa saja di minimarket kompleks dalam waktu tidak sampai satu jam.
Maya berjinjit, merentangkan tangannya tinggi-tinggi untuk memasukkan satu bungkus tisu tebal ke dalam lemari kabinet atas dapur. Tangannya baru saja terangkat setengah jalan ketika bahu kanannya mendadak turun dengan gerakan yang tersentak kaku.
“Kenapa, Sayang?”
“Nggak apa-apa, Mas...”
Ia mencoba mengangkat tangannya kembali, tetapi telapak tangan kirinya reflex menahan bahu kanannya yang tampak kaku. Wajahnya sedikit mengernyit menahan ngilu.
Aku segera melangkah mendekat, mengambil alih bungkus tisu itu dari jemarinya yang gemetar, lalu memasukkannya ke dalam lemari atas.
“Sakit?”
“Agak pegal aja, Mas.” Maya memutar bahu kanannya perlahan dengan gerakan melingkar, suaranya terdengar sedikit parau. “Mungkin kebanyakan bawa kantong belanjaan yang berat tadi.”
“Makanya tadi Mas tawarin ikut buat bawain.”
“Iya, iya, Mas... dimaafin,” senyum teduhnya kembali muncul, manis dan tulus. “Besok-besok kalau belanja lagi, aku suruh Mas bawain semuanya deh.”
“Besok belanja lagi?”
“Nggak dong.”
“Syukurlah.”
Maya membungkuk, mengambil botol minyak goreng dari kantong terakhir di lantai. Saat tubuhnya berdiri tegak kembali, tangan kirinya mendadak berpindah menahan pinggang sampingnya. Gerakannya sangat kecil, tetapi wajah manisnya mengernyit sesaat menahan nyeri.
“Pinggang kamu juga sakit?”
Ia mengusap sisi pinggangnya perlahan di balik kain gamis biru mudanya.
“Kayaknya kelamaan nyetir sama jalan tadi, Mas. Agak kaku...”
“Duduk dulu.”
“Nanti aja, Mas... Ini dikit lagi selesai.”
Aku menarik kursi kayu terdekat dari meja makan dengan tegas. “Duduk, sayang...”
Maya menatapku, matanya melembut, melahirkan senyum manis yang patuh.
“Mas kalau nyuruh udah kayak dokter aja, deh...”
“Dokter ganteng.”
“Siapa yang bilang?”
“Pasien.”
“Pasiennya siapa?”
“Kamu...”
Maya tertawa kecil, pipinya bersemu merah muda sebelum akhirnya menuruti perintahku dan duduk di kursi. Jemari halusnya mulai memijat bahu kanannya sendiri, menekan-nekan bagian otot yang terasa kaku di balik jilbabnya.
Aku melangkah ke belakang punggungnya, meletakkan kedua telapak tanganku yang hangat di atas bahunya yang ringkih.
“Yang sebelah mana yang pegal?”
“Yang kanan, Mas... di situ.”
Ibu jariku memberikan tekanan lembut, menekan pelan simpul otot di pangkal lehernya.
Maya langsung mengangkat bahunya kaku, napasnya tersentak pendek. “Aduh...!”
“Segini aja udah sakit?”
“Iya, Mas... Pelan-pelan aja... kaku banget rasanya.” Suaranya terdengar begitu manja dan rapuh.
Aku mengurangi tekanan jemariku, menggantinya dengan urutan melingkar yang sangat lambat. “Memang keras banget ototnya.”
“Makanya sakit, Mas...” gumamnya pelan, kepalanya sedikit tertunduk menikmati hangatnya telapak tanganku.
Aku memijatnya selama beberapa menit, tetapi otot di bawah telapak tanganku tetap terasa kaku seperti batu, menolak untuk melunak.
“Kalau kaku begini, Pak Broto yang lebih ngerti cara ngelemesinnya.”
Jemari Maya yang sedari tadi sibuk merapikan ujung jilbab abu-abunya di pangkuan mendadak berhenti bergerak.
Hanya sepersekian detik.
Ia lalu menundukkan kepalanya lebih dalam, melanjutkan lipatan kain itu dengan gerakan yang mendadak terasa lambat.
“Pak Broto?” tanyanya lembut, suaranya mengalun sangat pelan, nyaris seperti bisikan yang tertahan di tenggorokan.
“Iya… Kemarin pas mijat aku, dia juga bilang kalau badan kamu sebenarnya masih banyak yang tegang.”
Maya mengusap permukaan jilbab di pangkuannya dengan telapak tangan, meratakan lipatan kain yang sebenarnya sudah terlipat sangat rapi tanpa kerutan.
“Nggak usah deh, Mas, kalau cuma pegal biasa begini mah...” suaranya mengalun pelan, mencoba menolak dengan nada manjanya yang manis, namun ada getaran canggung yang tipis di sana.
Tanganku tetap bertahan di bahunya, merasakan kehangatan kulitnya menembus kain. “Kalau dibiarin terus, nanti pinggang kamu malah tambah sakit.”
“Mungkin dibawa tidur besok juga hilang sendiri, Mas.”
“Kalau nggak?”
Maya menolehkan kepalanya sedikit ke belakang. Sudut wajahnya yang memerah halus terlihat jelas dari posisi berdiri ku.
“Mas... emangnya mau panggil Pak Broto lagi ke sini?”
“Kalau kamu mau.”
Ia kembali memalingkan wajah, menatap jilbab di pangkuannya kaku.
“Aku kan nggak bilang mau, Mas...”
“Mas juga nggak bilang kalau kamu mau.”
Maya tersenyum tipis, senyum malu-malu yang teramat manis.
“Terus?”
“Mas cuma nawarin aja...”
Ia diam.
Dari luar jendela kaca dapur yang terbuka setengah, terdengar suara riuh anak-anak kompleks bersepeda melewati depan rumah. Bel sepeda mereka berdering nyaring dua kali, disusul suara tawa bocah yang perlahan menjauh ke ujung jalan yang sepi.
Maya memasukkan jilbab yang sudah dilipatnya dengan sangat rapi ke dalam paper bag butik cokelat.
“Kalau... menurut Mas memang perlu...” katanya sangat pelan, suaranya hampir tenggelam oleh dengung rendah mesin kulkas di sudut dapur.
Aku menarik kursi di sebelahnya, lalu duduk menghadapnya.
“Bukan soal Mas perlu atau nggak, Sayang… Ini badan kamu yang pegal-pegal.”
“Iya, aku tahu, Mas.”
“Jadi kamu mau dipijat lagi atau engga?”
Maya tidak langsung menjawab. Ia memilin pegangan kertas paper bag-nya perlahan, menyisipkan ujung tali kainnya ke bagian dalam tas dengan teliti.
“Nanti... Pak Broto nggak keberatan kalau datang lagi malam-malam?” Pertanyaannya keluar begitu lembut, sarat akan keraguan yang disembunyikan di balik kepatuhan.
Aku menatap sisi wajahnya lekat-lekat.
“Harusnya nggak keberatan.”
Maya mengangguk kecil, sangat lambat.
“Ya sudah kalau gitu, Mas.”
“Ya sudah gimana?” pancingku sengaja mendesaknya.
Ia menoleh sepenuhnya menatapku. Ada rona merah malu yang teramat manis menghiasi pipinya, bibirnya mengulas senyum tertahan yang menggemaskan.
“Mas ini... harus dijelasin terus secara detail deh biar puas.”
“Biar jelas...”
Maya menarik napas pendek yang hangat, lalu menurunkan tatapan matanya ke meja.
“Kalau Pak Broto bisa datang… ya gapapa, Mas...”
Tidak ada suara lain di dapur setelah kalimat itu terucap.
Aku meraih ponsel dari atas meja makan, mulai menyalakan layar sentuhnya. Maya segera bangkit dari kursi sebelum layar ponselku sempat terbuka sepenuhnya.
“Aku masukin sisa belanjaannya ke lemari dulu, ya…”
“Kamu duduk aja, yang... Pinggang kamu kan sakit.”
“Nggak apa-apa kok, Mas.” Ia mengambil dua kotak vitamin dari meja dengan gerakan luwes. “Cuma pegal dikit aja, Mas...”
Langkahnya menuju lemari kabinet dapur tetap pelan dan anggun. Ia tidak menoleh kembali ketika bunyi klik papan ketik ponselku mulai terdengar nyaring di dalam ruangan yang sunyi.
Aku membuka ruang percakapan dengan Pak Broto. Pesan terakhir darinya seminggu lalu masih terpampang di layar.
Pak Broto:
Kalau masih kaku, nanti saya bisa bantu lagi. Ndak usah sungkan.
Aku mengetik pesan singkat dengan cepat.
Arya:
Pak, Maya bahu dan pinggangnya pegal-pegal lagi. Besok bisa datang ke rumah?
Pesan langsung terkirim dengan centang dua.
Maya sedang menyusun botol-botol vitamin di rak lemari atas ketika ponsel di genggamanku bergetar kuat.
Pak Broto:
Besok siang saya bisa, Mas... Sekitar jam satu gimana?
Aku membaca pesan itu sekali lagi, mengunci layar, lalu mendongak.
“Yaang….”
Maya menoleh dari depan lemari es. “Hmm?”
“Pak Broto besok siang bisa datang.”
Tubuhnya tetap menghadap lemari es. Tangannya memegang satu kotak sereal yang belum sempat dipindahkan ke rak.
“Jam berapa, Mas?”
“Jam satu siang.”
“Oh...”
Ia memasukkan kotak itu ke dalam rak dengan perlahan, lalu menutup pintu lemari es dengan bunyi klik yang sangat pelan.
“Gimana? Jadi?”
Maya berdiri diam beberapa langkah dariku. Ujung-ujung jarinya saling bertaut kaku di depan perutnya—sebuah gestur kecil pertahanan diri yang selalu ia lakukan jika sedang merasa gugup.
“Kan Mas sudah bilang sendiri sama Pak Broto.”
“Kalau kamu nggak mau, gapapa yang.. ini aku bilangin ke Pak Brotonya buat batalin...”
“Nggak usah, Mas.” Senyum manisnya kembali muncul, kecil, teduh, dan penuh kepatuhan yang menyenangkan. “Nanti malah nggak enak sama Pak Broto-nya, Mas.”
Aku menekan tombol balas di layar ponsel.
Arya:
Baik, Pak. Besok jam satu siang ya.
Balasan dari Pak Broto datang tidak sampai satu menit kemudian.
Pak Broto:
Baik, Mas Arya. Insyaallah saya datang tepat waktu.
Aku meletakkan ponsel kembali ke atas meja makan. “Udah Mas balas...”
Maya mengangguk lembut. “Iya, Mas.. Makasih.”
Ia melangkah mendekat, mengambil paper bag berisi jilbab barunya, lalu berjalan lambat menuju kamar tidur utama kami. Aroma parfum melatinya yang tipis dan segar tertinggal di udara dapur saat ia melewatiku.
…
“Mas, seprai putih yang ini masih bersih dan wangi, kan?”
Aku menolehkan kepala dari atas sofa ruang tamu.
Maya sedang berdiri di koridor tengah yang remang, kedua tangannya mendekap selembar seprai putih bersih yang terlipat tebal dan rapi di dadanya.
“Masih bersih kok... Kenapa memangnya?”
“Buat kamar tamu besok.” Ia mengucapkannya sambil merapikan ujung lipatan seprai di dekapannya, nadanya begitu tenang dan biasa, seolah sedang membicarakan persiapan menyambut tamu keluarga yang biasa datang berkunjung.
“Yang kemarin kan belum lama diganti, May.”
“Udah dipakai tidur kemarin, Mas...”
“Ya memang, tapi kan masih bersih.”
Maya mengangkat wajahnya, menatapku lurus. Senyum tipisnya terkembang, tetap lembut dan manis tanpa riak defensif.
“Biar Pak Broto juga nyaman pas mijat besok, Mas.”
Ia berbalik, melangkah anggun menuju kamar tamu di koridor sebelah.
Aku bangkit dari sofa, mengikutinya perlahan sampai berdiri di ambang pintu kamar tamu, tetapi memilih untuk tidak melangkah masuk ke dalam ruangan yang kedap itu.
Maya meletakkan seprai putih tebal itu di sudut kasur. Tangan kirinya reflex menekan bahu kanannya sekali lagi, mengusapnya pelan sebelum mulai menarik ujung kain seprai lama yang terpasang di ranjang tamu.
“Mau Mas bantu pasang?”
“Nggak usah, Mas... Tinggal ganti sebentar aja kok, gampang.”
“Katanya pundak kamu pegal...”
“Iya, pegal sedikit.” Maya tertawa kecil, suara tawanya terdengar manis sekali di ruangan yang sepi ini. “Makanya besok siang dipijat Pak Broto, kan?”
Tangannya kembali bekerja dengan terampil. Kain seprai putih baru itu terbuka perlahan, membungkus kasur tamu dengan sangat rapi tanpa kerutan.
Aku tetap berdiri diam mematung di depan pintu, memperhatikan punggungnya ketika Maya merapikan sudut seprai yang terakhir.
“Besok jam satu siang ya…,” kataku memastikan.
Maya menepuk-nepuk permukaan kasur yang sudah terbungkus sprei putih baru, memastikan permukaannya rata sempurna. “Iya, Mas...”
Ia mengambil bantal tamu, mengganti sarungnya dengan sarung putih yang senada, lalu meletakkannya kembali tepat di tengah-tengah ranjang.
“Nanti... sebelum Pak Broto datang ke rumah, Mas panggil aku dulu ya di kamar,” ucapnya lembut.
Gerakan tangannya yang sedang merapikan sudut bantal mendadak terhenti.
Hanya sepersekian detik yang tak kentara.
Setelah itu, Maya kembali merapikan sudut bantal tersebut dengan sapuan telapak tangannya yang halus, lalu berbalik menatapku di ambang pintu. Senyumnya yang adem, manis, dan polos terkembang sempurna seperti biasa.
“Biar aku bisa siap-siap dulu sebelum dia datang, Mas.”
bersambung…
Konten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.