Chapter 1
Istriku Yang Terampas - 4 Agustus 2026 - 1.343 kata
Empat tahun. Usia pernikahan kami, dan rumah ini masih terasa hening. Lantai granit mengkilap tanpa jejak kaki mungil, dinding putih bersih tanpa coretan. Terlalu rapi. Terlalu sunyi. Satu-satunya suara yang memecah keheningan ruang tamu hanyalah detak jarum jam dinding.
Aku duduk di meja makan, menatap punggung Maya yang sibuk membagi sayur asam ke piringku. Ia masih mengenakan daster krem yang itu-itu saja. Aroma lavender dari diffuser menguar, kali ini terasa agak menyesakkan. Di hadapannya, deretan botol suplemen berbaris rapi—asam folat, madu, vitamin prenatal. Jadwal harian yang wajib ia telan demi sebuah harapan.
"Besok kontrol jam delapan, Mas," suaranya pelan. Ia meletakkan gelas air di depanku, tatapannya tertuju pada motif taplak meja.
Aku mengangguk, menyentuh punggung tangannya yang dingin. "Iya. Besok Mas temenin."
Maya tersenyum tipis. Senyum otomatis yang ia pakai saat lelahnya sudah melebihi batas. Aku tahu ia muak dengan jadwal USG, jarum suntik, dan pil-pil itu. Semua demi dua garis biru yang tak kunjung muncul. “Aku harus sabar,” batinku. “Kalau bukan aku yang jadi sandarannya, siapa lagi?”
Makan malam berakhir dalam diam.
Malamnya, di bawah lampu tidur yang temaram, Maya melepas dasternya di depan cermin. Bukan baju tidur biasa yang ia kenakan, melainkan lingerie hitam berenda. Sutra tipis itu membungkus tubuhnya, membalut kulit pucat dan lekuk pinggangnya dengan cara yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Aku menelan ludah.
Maya tidak bersuara. Ia melipat dasternya rapi, lalu melangkah ke tepi ranjang. Tapi sebelum naik, ia berhenti. Kedua tangannya terangkup di depan dada, bibirnya bergerak pelan merapal doa. Suaranya nyaris tak terdengar.
Hatiku mencelos. Ia tidak sedang bersiap untuk bercinta. Ia sedang memohon.
Setelah doa singkat itu, ia naik ke ranjang. Berbaring di sampingku dengan posisi kaku, tangan terlipat di atas perut. Aku bergeser mendekat, menyentuh pinggangnya. Sutra licin yang dingin, namun kehangatan kulitnya terasa menembus renda.
"Sayang..." bisikku.
Dia tidak menjawab. Hanya memejamkan mata rapat. Aku menarik pinggangnya pelan. Tubuhnya mengikuti, tapi pasif. Tidak ada tangan yang merangkul, tidak ada respon yang berarti.
Aku mencium lehernya. Wangi sabun mandi yang lembut bercampur dengan aroma samar—sesuatu yang lebih manis, lebih mahal. Aku mengesampingkan pikiran itu. Tanganku menyusuri pinggulnya, menarik celana dalamnya ke bawah. Maya mengangkat pinggul sedikit, gerakan kecil dan mekanis untuk membantuku.
Saat aku masuk, gerakanku tetap terukur. Tubuhnya hangat, licin karena pelumas yang dia pakai diam-diam, tapi tetap kaku. Napasnya teratur. Setiap dorongan pelan, terdengar helaan kecil dari bibirnya—bukan desahan, melainkan hembusan lega. Seperti sedang berkata: “tugas malam ini hampir selesai.”
Tangannya hanya bertumpu ringan di bahuku. Dingin dan pasif. Beberapa menit kemudian, aku mencapai klimaks. Tubuhku bergetar, lalu diam.
Begitu aku mundur, Maya langsung menarik celana dalamnya, merapikan lingerie, dan menarik selimut sampai dada. Dia memutar badan membelakangiku tanpa sepatah kata. Dalam hitungan detik, napasnya terdengar teratur. Terlelap.
Aku terbaring telentang menatap langit-langit kamar. Dadaku naik-turun. Di dalam dada ini… terasa kosong. Di meja rias, kalender dinding terbayang di kepalaku. Satu coretan merah tipis sudah dibuat Maya pagi tadi. Bulan ini pun gagal lagi.
Aku menoleh ke arahnya. Besok dokter pasti akan bicara soal hormon atau sel telur lagi. Aku harus kuat untuknya.
Pagi itu kami bangun lebih awal. Jam weker berbunyi pelan pukul setengah enam. Samar-samar aku mendengar suara air di kamar mandi, lalu aroma jamu pahit menyeruak dari dapur.
Di dapur, sarapan sudah tersaji. Maya sendiri hanya menyendok sedikit bubur, di sebelahnya gelas ramuan herbal masih mengepul. Dia sudah rapi dengan gamis krem dan hijab senada. Wajahnya tampak segar, tanpa bekas kantung mata.
“Pagi, Mas. Sarapan dulu, ya.”
“Makasih, Sayang. Wiih.. kamu udah rapi aja….”
Kami makan dalam diam, hanya denting sendok dan sesekali helaan napas Maya saat menelan jamunya. Dia mengerutkan kening setiap kali meminum ramuan itu, berjuang melawan rasa pahit demi garis dua yang kami harapkan.
Setelah selesai, aku mandi cepat. Air hangat mengguyur tubuhku, tapi pikiranku masih melayang ke lingerie hitam tipis semalam. Nyeri kecil yang biasa muncul di selangkangan kulewatkan begitu saja—pasti karena kelelahan bekerja.
Aku mengenakan kemeja putih, celana chino, dan loafers. Maya sudah menunggu di ruang tamu dengan tas selempang berisi berkas hasil USG. Kami berangkat jam tujuh tepat.
…
Jalanan Jakarta sudah begitu macet. Mobil merayap pelan di Jalan Sudirman. Aku memegang setir dengan satu tangan, tangan kiriku sesekali meraih tangan Maya yang dingin di pangkuannya.
“Macet banget ya, Mas. Semoga nggak telat,” gumamnya pelan.
“Tenang aja… pasti nyampe tepat waktu ini..”
Dia mengangguk, menggenggam balik tanganku lemah. Perjalanan memakan waktu hampir lima puluh menit. Kami sampai di pelataran RSCM pukul 7.50. Bau disinfektan langsung menyerbu hidung saat kami menyusuri koridor rumah sakit.
Kami masuk ke ruang tunggu poli kandungan tepat saat nomor antrian muncul. Maya duduk tegak, memegang tasnya dengan erat.
“Mas… makasih ya udah nemenin terus,” ucapnya tiba-tiba.
Aku menggenggam tangannya lebih erat. “Iya sayang… kan kita sama-sama berusaha.”
Pintu ruang periksa terbuka. Dokter Sp. OG yang sudah kami kenal sejak tahun lalu tersenyum ramah. “Selamat pagi, Pak Arya, Bu Maya. Mari kita lihat hasil pemeriksaan terbaru.”
Dokter menunjuk gambar USG di layar. “Dari USG transvaginal kemarin, rahim Bu Maya terlihat normal secara struktur, tapi lapisan endometrium masih agak tipis. Hasil pemeriksaan hormon juga menunjukkan FSH agak tinggi, dan kadar progesteron belum optimal. Ini yang menjelaskan kenapa setiap siklus masih sulit untuk implantasi.”
Aku mengangguk pelan. Lapisan rahim yang tipis… lagi. Tubuh Maya harus menahan probe dingin dan suntikan hormon yang membuatnya pegal berhari-hari.
“Untuk siklus ini kita tambah dosis Clomiphene citrate,” lanjut dokter. “Kalau folikel sudah matang, kita beri injeksi HCG. Saya tambahkan juga suplemen penguat dinding rahim berbasis antioksidan dosis tinggi. Bu Maya tetap minum sesuai jadwal ya.”
“Iya, Dok. Berapa kali suntikannya?” tanya Maya pelan.
“Dua sampai tiga kali di siklus ini. Kita pantau lewat USG serial setiap tiga hari sekali.”
Aku meraih tangan Maya, menggenggamnya erat. Dia harus disuntik lagi. Tapi dia tetap tegar.
Dokter menoleh ke arahku. “Pak Arya juga tetap support ya. Kadang faktor stres memengaruhi proses, tapi secara keseluruhan kendala utamanya memang masih di kualitas pembuahan. Kita optimalin dulu dari sisi rahimnya.”
Aku mengangguk cepat. Kualitas pembuahan. Tentu saja. Dengan kondisi rahim seperti itu, dokter sudah mengatakannya dengan halus: kendalanya ada di tubuh Maya.
Maya menandatangani formulir persetujuan dengan tangan yang sedikit gemetar. Aku mengusap punggung tangannya, merasa lega karena masih bisa mencintainya di saat seperti ini.
Setelah konsultasi selesai, kami berjalan menyusuri korong menuju lift. Tiba-tiba ponselku bergetar. Nama Project Manager muncul di layar.
“Haloo, Ya. Maaf ganggu. Ada meeting dadakan sama tim core dan vendor jam 10 nanti di kantor. Topiknya urgent soal delay deployment minggu ini. Lo harus ikut, bisa langsung ke kantor sekarang?”
Aku melirik jam: 09.12. Macet Jakarta akan membuat perjalanan pulang ke rumah lalu balik ke Sudirman jadi mustahil.
“Iya, Pak. Saya langsung gas ke kantor ya.”
Telepon ditutup. Aku berhenti di tengah lorong. Maya menoleh, matanya sedikit lebar.
“Mas… ada apa?”
Aku mengusap tengkuk. “Meeting dadakan di kantor jam 10. Urgent banget. Aku nggak mungkin antar kamu pulang dulu, yang. Macetnya pasti parah.”
Maya diam sebentar, lalu tersenyum tipis. Senyum sopan yang selalu bilang ‘nggak apa-apa’. “Nggak apa-apa, Mas. Aku pulang sendiri aja. Kamu buruan ke kantor.”
Dadaku sesak. Dia baru saja dapat kabar rahimnya tipis lagi, harus tambah suntikan, dan sekarang aku meninggalkannya. Tapi meeting itu benar-benar penting.
“Maaf banget, ya sayang…. Aku pesenin taksi online ya. Biar kamu langsung pulang istirahat.”
Aku memesan taksi online tipe mobil nyaman. Kami berjalan ke drop-off zone. Taksi silver datang tepat waktu. Maya masuk dengan gerakan pelan, merapikan gamisnya yang tersingkap sedikit di mata kaki. Hijabnya tetap sempurna.
Aku menunduk di jendela yang terbuka. “Hati-hati ya, Sayang. I love you.”
“Iya, Mas. Kamu juga hati-hati. Semangat kerjanya.”
Pintu tertutup. Mobil bergerak pelan meninggalkan area RSCM. Aku berdiri beberapa detik, memperhatikan taksi itu hilang di belokan, lalu berbalik menuju parkiran.
Mobilku menyala halus. Di dashboard, foto pernikahan kami masih terpasang—Maya tersenyum sopan dengan hijab putih, aku memeluk bahunya.
Aku menggenggam setir lebih erat.
Di lampu merah, aku melirik ponsel. Tidak ada pesan dari Maya. Hanya notifikasi aplikasi taksi: Perjalanan dimulai.
Aku menarik napas panjang, menyalakan musik pelan, dan menginjak gas. Mobil melaju menuju Sudirman, meninggalkan RSCM semakin jauh di spion belakang.
bersambung…
Konten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.