Chapter 1
Istriku Yang Terampas - 2 Juni 2026 - 2.891 kata
Tahun 2024.
Tahun keempat pernikahan kami.
Rumah kami selalu bersih. Terlalu bersih. Lantai granit mengkilap sampai bisa memantulkan bayangan, tidak ada mainan berserakan, tidak ada jejak tangan kecil di dinding. Hanya suara detak jam dinding di ruang tamu yang berdetak pelan, seperti jantung yang lelah menunggu sesuatu yang tak kunjung datang.
Aku duduk di meja makan, mengamati Maya yang menyendokkan nasi putih dan sayur asam ke piringku dengan gerakan yang rapi, sopan, seperti biasa. Daster rumahnya panjang sampai mata kaki, motif bunga kecil yang tidak pernah mencolok. Bau lavender dari diffuser-nya menyelimuti ruangan, manis dan menenangkan. Di tengah meja, barisan botol suplemen Maya berjajar rapi: asam folat, madu promil, vitamin E, ramuan herbal pahit yang dia minum setiap pagi tanpa pernah mengeluh.
“Besok pagi jadwal dokter Sp. OG jam delapan, Mas,” katanya pelan sambil menuang air putih ke gelasku. Suaranya lembut, penuh kepatuhan.
Aku mengangguk, tanganku meraih tangannya di atas meja. Kulitnya hangat, tapi selalu terasa seperti sedang menahan sesuatu. “Iya, Sayang. Aku antar besok... kita coba lagi ya… aku tetap di sini. Meski susah, aku tetep sayang kamu.”
Maya tersenyum tipis. Senyum yang selalu sama—penuh syukur, tapi matanya tidak pernah benar-benar bersinar. Aku tahu dia sedang berusaha keras. Tubuhnya yang harus menelan pil-pil itu setiap hari, yang harus dibuka lebar-lebar di ruang USG, yang harus disuntik hormon berkali-kali. Semua demi garis dua yang tak kunjung muncul.
Kasihan sekali dia. Aku laki-laki yang beruntung punya istri sebaik ini. Meski dia tidak bisa memberiku anak, aku tetap sabar. Lelaki macam apa aku kalau meninggalkan dia gara-gara ini?
Makan malam berlalu dalam diam yang nyaman. Hanya denting sendok dan deru kulkas yang terdengar terlalu jelas karena tak ada suara anak kecil yang ribut. Aku mengusap punggung tangannya lagi, merasa bangga pada diriku sendiri karena masih bisa mencintainya dengan cara ini.
Di kamar tidur, lampu tidur kuning redup menyala di sisi ranjang Maya, cahayanya lembut menelan separuh ruangan. Aku berbaring lebih dulu, punggung bersandar ke headboard, memperhatikannya dari balik selimut tipis.
Lintang GelapMaya berdiri di depan cermin meja rias, punggungnya tegak. Dengan gerakan yang sangat pelan, dia mengusap wajahnya menggunakan kapas putih, menghapus sisa skincare malam. Setiap sapuan kapas terdengar samar — swish… swish… — seperti sedang membersihkan sesuatu yang rapuh dan berharga. Matanya terfokus ke cermin, bibirnya sedikit terkatup. Daster rumahnya yang panjang masih menutupi tubuhnya sampai mata kaki, kain katun tebal berwarna krem pucat, motif bunga kecil yang sopan sekali.
Setelah selesai, dia tidak langsung ke ranjang.
Dia berjalan ke lemari pakaian, membuka pintu pelan hingga hanya berderit kecil. Tangan kanannya merogoh ke dalam, mengeluarkan sesuatu yang terlipat rapi. Aku mengerjap. Itu bukan daster biasa.
Maya membalikkan badan sedikit, seolah tidak ingin aku melihat terlalu jelas. Dengan gerakan hati-hati, dia melepaskan daster panjangnya dari bahu. Kain itu meluncur turun pelan, jatuh ke lantai dengan suara lembut shhh. Di bawahnya… bukan baju tidur biasa.
Dia mengenakan lingerie hitam tipis. Bukan yang murahan atau terlalu terbuka — model simpel, bra berenda halus yang menutupi dada dengan sopan, celana dalam senada yang masih menutup sebagian besar pinggulnya, tapi bahan sutra tipis itu mengikuti lekuk tubuhnya dengan cara yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Kulitnya yang putih terlihat samar di balik renda, cahaya kuning lampu tidur membuat bayangan lembut di lekukan pinggang dan paha.
Aku menelan ludah.
Maya tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya melipat daster lama dengan rapi, meletakkannya di kursi, lalu berjalan ke tepi ranjang. Sebelum naik, dia berhenti sebentar, kedua tangannya bertemu di depan dada, bibirnya bergerak pelan membaca doa malam. Suaranya hampir tak terdengar, hanya hembusan napas yang membentuk kata-kata. Setelah selesai, baru dia naik ke ranjang, berbaring di sampingku dengan posisi rapi, tangan terlipat di atas perut, napasnya tenang.
Aku bergeser mendekat. Tangan kananku menyentuh pinggangnya — kali ini bukan lagi kain tebal, melainkan sutra dingin yang licin di bawah jari-jariku. Teksturnya jauh lebih tipis, lebih… menyerah. Aku bisa merasakan kehangatan kulitnya yang samar-samar menembus renda. Jantungku berdegup lebih cepat.
“Sayang…” bisikku pelan.
Dia tidak menjawab. Hanya memejamkan mata lebih rapat, seolah sedang menjalankan tugas suci yang berat. Aku menarik pinggangnya pelan ke arahku. Tubuhnya mengikuti, tapi tetap pasif. Tidak ada tangan yang merangkul leherku, tidak ada pinggul yang mendekat dengan sendirinya.
Aku menunduk, mencium lehernya. Wangi sabun mandi yang lembut masih menempel di kulitnya, bercampur sedikit dengan aroma baru yang samar — sesuatu yang lebih manis, lebih mahal. Aku tidak terlalu memikirkannya. Tangan kiriku menyusuri pinggulnya, merasakan renda tipis yang hanya menjadi penghalang kecil sekarang. Aku menarik celana dalamnya ke bawah perlahan, hanya sampai pertengahan paha. Maya mengangkat pinggul sedikit — gerakan kecil, mekanis — untuk membantuku.
Saat aku masuk ke dalamnya, gerakanku tetap terukur, penuh kasih sayang seperti biasa. Tubuhnya hangat, licin karena sedikit pelumas yang dia pakai diam-diam tadi, tapi tetap kaku. Napasnya teratur di telingaku. Setiap dorongan pelan ku berikan, aku mendengar helaan kecil yang keluar dari bibirnya — bukan desahan, melainkan hembusan lega yang pendek. Seperti sedang berkata dalam hati: tugas malam ini sudah hampir selesai.
Tangannya hanya bertumpu ringan di bahuku. Jari-jarinya tidak mencengkeram. Tidak menggaruk. Tidak menarikku lebih dalam. Hanya ada di sana, dingin dan pasif, seolah tubuhnya sedang dipinjamkan untuk tujuan yang lebih besar daripada kenikmatan.
Beberapa menit kemudian, aku mencapai klimaks di dalamnya. Tubuhku bergetar sebentar, lalu diam.
Maya tetap diam. Matanya masih terpejam. Begitu aku mundur, dia langsung menarik celana dalamnya kembali ke tempatnya dengan gerakan cepat tapi rapi, merapikan lingerie hitam tipis itu, lalu menarik selimut sampai dada. Dia memutar badan membelakangiku tanpa sepatah kata.
Dalam hitungan detik, napasnya sudah menjadi tenang dan teratur. Terlelap.
Aku terbaring telentang, menatap langit-langit. Dada naik turun. Masih ada sisa getaran di tubuhku, tapi di dalam dada… kosong.
Di kamar mandi, garis satu di kalender dinding sudah dicoret merah tipis pagi tadi. Bulan ini pun gagal lagi.
"Kasihan istriku. Besok dokter pasti bilang lagi masalahnya ada di hormon atau sel telurnya. Aku harus kuat buat dia. Aku harus tetap jadi suami yang selalu disampingnya."
Mungkin besok semuanya akan berbeda.
…
Pagi itu kami bangun lebih awal dari biasanya. Jam weker berbunyi pelan pukul setengah enam, suaranya hampir tenggelam dalam keheningan rumah. Maya sudah bangun duluan. Aku mendengar samar-samar suara air mengalir di kamar mandi, lalu aroma jamu pahit yang mulai merebak dari dapur.
Aku duduk di tepi ranjang, mengusap wajah. Tubuh terasa berat, sisa semalam masih menempel di dada seperti lapisan tipis yang tak mau lepas. Tapi aku bangkit juga. Hari ini ada jadwal dokter. Aku harus kuat untuk Maya.
Di dapur, meja sarapan sudah tersedia. Nasi goreng sederhana dengan telur mata sapi, irisan timun, dan segelas air putih hangat untukku. Maya sendiri hanya menyendokkan sedikit bubur ayam ke mangkuk kecilnya, di sampingnya sudah ada gelas ramuan herbal pagi yang uapnya masih mengepul. Dia sudah rapi. Gamis panjang berwarna krem muda yang longgar menutupi seluruh tubuhnya, hijab segi empat senada sudah terpasang rapi, jarum pentul kecil berkilau di bawah lampu dapur. Wajahnya fresh, tidak ada bekas kantung mata meski kami tidur larut.
“Pagi, Mas,” katanya pelan, suaranya lembut seperti biasa. “Sarapan dulu yuk, biar kuat nemenin aku ke dokter nanti.”
Aku duduk, mengangguk sambil tersenyum. “Makasih, Sayang. Kamu sudah siap banget pagi ini.”
Dia hanya mengangguk kecil, duduk di depanku dengan tangan terlipat di pangkuan. Kami makan dalam diam yang nyaman, hanya denting sendok dan sesekali helaan napas Maya saat menelan jamunya. Aku memperhatikan bibirnya yang sedikit mengerut setiap tegukan — wajahnya tetap teduh, tapi aku tahu dia sedang menahan rasa pahit itu demi garis dua yang kami harapkan.
Setelah selesai, aku mandi cepat. Air hangat mengguyur tubuhku, tapi pikiranku masih melayang ke lingerie hitam tipis yang semalam. Aku menggeleng, mengusap sabun ke dada dan bawah perut dengan gerakan mekanis. Nyeri kecil yang biasa muncul di selangkangan setelah malam seperti kemarin kulewatkan begitu saja — pasti karena kelelahan kerja. Aku keringkan tubuh, lalu memilih kemeja putih lengan panjang yang rapi, celana chino abu-abu gelap, dan sepatu loafers hitam. Sebagai programmer di salah satu bank swasta di SCBD, penampilan tetap harus terjaga meski jam kerjaku fleksibel. Asal delapan jam kerja dalam sehari, atasan tidak terlalu ribet. Hari ini aku bisa masuk jam 10 atau 11 untuk nemenin Maya.
Maya sudah menunggu di ruang tamu. Gamis dan hijabnya tetap sempurna, tas selempang kecil berisi berkas hasil USG dan rekam medis tergantung di bahunya. Kami berangkat jam tujuh tepat.
Jakarta pagi itu sudah mulai macet seperti biasa. Mobil kami merayap pelan di Jalan Sudirman, klakson saling bersahutan, asap knalpot mengepul di antara gedung-gedung tinggi. Aku memegang setir dengan satu tangan, tangan kiriku sesekali meraih tangan Maya yang dingin di pangkuannya.
“Macet banget ya, Mas,” gumamnya pelan, matanya menatap lurus ke depan. “Semoga nggak telat.”
“Tenang aja, Sayang. Kita ada waktu. Dokter biasanya nunggu kok kalau pasien rutin kaya kita.”
Dia hanya mengangguk, jari-jarinya sedikit menggenggam balik tanganku. Tapi genggamannya lemah, seperti sedang memegang sesuatu yang rapuh. Aku merasa dada ini hangat sekaligus berat.
"Kasihan dia. Harus bolak-balik RSCM cuma karena tubuhnya yang susah menerima kehamilan."
Perjalanan memakan waktu hampir lima puluh menit. Kami baru sampai di pelataran RSCM pukul 7.50. Parkir agak jauh, jadi kami berjalan cepat menyusuri koridor rumah sakit yang sudah ramai dengan pasien pagi. Bau disinfektan dan obat-obatan langsung menyerbu hidung. Maya berjalan di sampingku dengan langkah kecil tapi tegas, gamisnya bergoyang pelan, hijabnya tetap rapi tak terganggu angin AC.
Kami masuk ke ruang tunggu poli kandungan tepat saat nomor antrian kami muncul di layar digital. Maya duduk tegak di kursi plastik, tangannya memegang tas dengan erat. Aku duduk di sebelahnya, bahu kami bersentuhan.
Di dalam hati aku berpikir, Hari ini pasti dokter bilang masalahnya masih di hormon Maya atau kualitas sel telurnya. Aku harus siap mendengarnya lagi. Aku harus jadi tiang yang kuat buat dia.
Maya menoleh sebentar, senyum tipisnya muncul di balik hijab. “Mas… makasih ya udah nemenin terus.”
Aku balas menggenggam tangannya lebih erat. “Nggak apa-apa, sayang. Kita sama-sama berusaha.”
Di dalam ruang periksa, pintu sudah terbuka menunggu kami. Perawat memanggil nama Maya dengan suara datar. Kami berdiri bersamaan, melangkah masuk ke ruangan ber-AC dingin itu.
Dokter Sp. OG yang sudah kami kenal sejak tahun lalu tersenyum ramah dari balik meja. “Selamat pagi, Pak Arya, Bu Maya. Mari kita lihat hasil pemeriksaan terbaru ya.”
Maya duduk di kursi pasien dengan punggung lurus. Aku duduk di sebelahnya, siap mendengar apa pun yang akan dikatakan dokter.
Apa pun hasilnya hari ini, aku akan tetap sabar. Demi Maya.
Dokter Sp. OG menunjuk gambar USG di layar dengan ujung pulpennya, suaranya tetap tenang dan lugas seperti biasa dokter di rumah sakit rujukan nasional.
“Baik, Bu Maya, Pak Arya. Dari USG transvaginal kemarin, rahim Bu Maya terlihat normal secara struktur, tapi lapisan endometrium masih agak tipis dibandingkan bulan lalu. Hasil pemeriksaan hormon juga menunjukkan FSH agak tinggi, LH sedikit tidak seimbang, dan kadar progesteron yang belum optimal. Ini yang menjelaskan kenapa setiap siklus masih sulit untuk implantasi.”
Aku mengangguk pelan, mata tertuju pada gambar hitam-putih itu. "Lapisan rahim yang tipis… lagi. Tubuh Maya yang harus menahan semua prosedur ini, probe dingin masuk ke dalamnya, lalu suntikan hormon yang membuatnya pegal berhari-hari. Kasihan sekali dia."
Dokter melanjutkan sambil membalik halaman rekam medis, “Untuk siklus ini kita tambah dosis Clomiphene citrate mulai hari ke-3, dan kalau folikel sudah cukup matang, kita beri injeksi HCG. Selain itu, saya tambahkan suplemen penguat dinding rahim berbasis antioksidan dosis tinggi — vitamin E khusus dan CoQ10 — untuk membantu thickening endometrium. Bu Maya tetap minum sesuai jadwal ya, pagi dan malam.”
Maya mengangguk patuh, suaranya pelan tapi jelas.
“Iya, Dok. Berapa kali suntikannya nanti?”
“Dua sampai tiga kali di siklus ini, Bu. Sama seperti sebelumnya, dilakukan di poli rawat jalan. Kita pantau perkembangan folikel lewat USG serial setiap tiga hari sekali.”
Aku meraih tangan Maya yang dingin di pangkuannya, menggenggamnya erat. Kulitnya terasa rapuh sekali di ruangan ber-AC ini. "Dia harus disuntik lagi… dibuka lagi untuk USG berulang… semua demi dinding rahim yang tipis itu. Aku bisa bayangkan betapa beratnya setiap kali jarum masuk ke pinggulnya. Tapi dia tetap tegar. Aku beruntung punya istri yang sekuat ini."
Dokter menoleh sebentar ke arahku, senyum profesionalnya tidak berubah.
“Pak Arya juga tetap support ya. Kadang faktor stres rumah tangga bisa memengaruhi proses, tapi secara keseluruhan kendala utamanya memang masih di kualitas pembuahan. Kita optimalkan dulu dari sisi rahimnya ya.”
Aku langsung mengangguk lebih cepat dalam hati. “Aku langsung mengangguk. Kualitas pembuahan. Tentu saja. Dengan rahim sesempit dan setipis itu, bagaimana mungkin benihku bisa bertahan? Dokter sudah mengatakannya dengan halus, dan aku cukup cerdas untuk menangkap maksudnya: kendalanya ada di tubuh Maya”.
“Baik, Dok. Saya akan usahakan lebih sering nemenin Maya di rumah. Ada pantangan lain yang harus dihindari?”
Dokter menjelaskan singkat tentang diet tinggi protein dan istirahat yang cukup, tapi pikiranku sudah terpaku pada kata-kata tadi: "sulit untuk implantasi… lapisan endometrium tipis… kualitas pembuahan Bu Maya."
Semua gambar di kepalaku hanya berputar pada Maya. Pada tubuhnya yang harus terus dibedah, disuntik, dan diukur setiap bulan. Aku merasa dada ini penuh iba sekaligus kebanggaan yang aneh. Lihat dia. Masih duduk tegak dengan gamis dan hijab rapi meski baru saja mendengar kabar yang berat lagi. Aku tetap di sini. Aku suaminya yang sabar. Meski dia yang susah memberikan keturunan, aku nggak akan ke mana-mana.
Maya menandatangani formulir persetujuan prosedur berikutnya dengan tangan yang sedikit gemetar. Aku mengusap punggung tangannya pelan, merasa aku adalah lelaki yang baik karena masih bisa mencintainya di saat seperti ini.
Setelah konsultasi selesai, kami keluar dari ruangan dengan resep suplemen yang lebih panjang dan jadwal USG kontrol ketat. Maya berjalan di sampingku menyusuri koridor RSCM, gamis kremnya bergoyang pelan, hijabnya tetap rapi tak terganggu angin AC.
Di lift turun ke lantai dasar, aku memeluk bahunya pelan.
“Kamu hebat, Sayang. Kita tambah suplemen dulu ya. Insyaallah kali ini berhasil.”
Maya mengangguk kecil, suaranya hampir berbisik.
“Aamiin, Mas. Makasih udah nemenin terus.”
Aku tersenyum, tapi di dalam dada ada rasa hangat yang aneh bercampur sesuatu yang lebih gelap. Dia benar-benar berusaha keras. Aku nggak boleh lelah duluan.
Kami keluar dari lift dan berjalan menyusuri lorong panjang RSCM yang ramai. Bau disinfektan bercampur aroma kopi dari kantin karyawan. Gamis krem Maya bergoyang pelan di sampingku, hijabnya tetap rapi. Aku merasa dada ini hangat karena masih bisa jadi suami yang baik di saat seperti ini.
Tiba-tiba ponselku bergetar di saku kemeja. Aku melirik layar — nama Project Manager muncul. Aku mengangkat dengan cepat.
“Haloo Arr... Sorry ganggu pagi-pagi. Ada meeting dadakan sama tim core dan vendor jam 10 nanti di kantor. Topiknya urgent soal delay deployment minggu ini. Lo harus ikut, ya. Bisa langsung ke kantor sekarang?”
Aku melirik jam di ponsel: 09.12. Macet Jakarta pasti akan membuat perjalanan pulang ke rumah lalu balik ke Sudirman jadi mustahil. Aku menelan ludah.
“Iya, Pak. Saya bisa ke sana sekarang. Tapi saya lagi di RSCM nemenin istri. Kalau gitu saya langsung gas ke kantor ya.”
“Bagus. Cepet ya, meetingnya di ruang biasa ya. Thanks.”
Telepon ditutup. Aku berhenti di tengah lorong, tangan masih memegang ponsel. Maya menoleh, matanya sedikit lebar.
“Mas… ada apa?”
Aku mengusap tengkuk, merasa bersalah. “Meeting dadakan di kantor. Urgent banget katanya. Aku nggak mungkin antar kamu pulang dulu, yang. Macetnya pasti parah kalau bolak-balik.”
Maya diam sebentar, lalu tersenyum tipis seperti biasa. Senyum yang sopan, yang selalu bilang ‘nggak apa-apa’.
“Nggak apa-apa, Mas. Aku pulang sendiri aja. Kamu buruan ke kantor.”
Aku merasa dada ini sesak. Dia baru saja dapat kabar rahimnya tipis lagi, harus tambah suntikan, harus minum suplemen baru… dan sekarang aku malah ninggalin dia sendirian di RSCM. Tapi meeting itu benar-benar penting. Proyek ini lagi di ujung tanduk.
“Maaf banget, Sayang,” kataku sambil mengusap lengannya. “Aku pesanin taksi online sekarang ya. Biar kamu langsung pulang, istirahat. Nanti sore aku usahain pulang cepet.”
Aku membuka aplikasi di ponsel, memesan taksi online tipe mobil nyaman. Harga langsung muncul, estimasi tiba 4 menit. Maya berdiri di sampingku, tangannya memegang tas berisi resep dan hasil USG dengan erat. Aku mengantarnya sampai drop-off zone depan gedung poli.
Taksi silver datang tepat waktu. Sopirnya keluar sebentar untuk membuka pintu belakang. Maya masuk dengan gerakan pelan, gamisnya tersingkap sedikit di mata kaki sebelum dia merapikannya kembali. Hijabnya tetap sempurna.
Aku menunduk di jendela yang terbuka.
“Hati-hati ya, sayang. Langsung istirahat di rumah. I love you.”
Maya mengangguk, senyumnya teduh meski matanya terlihat lelah.
“Iya, Mas. Kamu juga hati-hati di jalan. Semangat kerjanya.”
Pintu taksi tertutup. Mobil itu mulai bergerak pelan meninggalkan area RSCM. Aku berdiri di trotoar beberapa detik, memperhatikan taksi silver itu hilang di belokan pertama, lalu berbalik menuju parkiran tempat mobilku berada.
Mobilku menyala dengan suara halus. Aku keluar dari pelataran RSCM, langsung bergabung dengan arus lalu lintas Jakarta yang sudah semakin padat. AC dingin meniup wajahku. Di dashboard, foto pernikahan kami yang kecil masih terpasang — Maya tersenyum sopan dengan hijab putih, aku di sampingnya memeluk bahunya.
Aku menggenggam setir lebih erat.
"Maaf ya, Sayang. Hari ini aku ninggalin kamu lagi. Tapi aku harus kerja keras biar kita tetap bisa bayar semua suplemen, suntikan, dan USG itu. Kamu di rumah istirahat aja. Aku pulang secepatnya."
Di lampu merah, aku melirik ponsel sekali. Tidak ada pesan dari Maya. Hanya notifikasi aplikasi taksi yang bilang “Perjalanan dimulai”.
Aku menarik napas panjang, lalu menyalakan musik pelan untuk mengusir rasa bersalah yang mulai menggerogoti dada.
"Dia pasti ngerti. Maya istri yang sabar. Aku tetap suami yang baik… meski hari ini aku harus meninggalkannya sendirian setelah mendengar kabar rahimnya yang tipis lagi."
Mobil melaju menuju Sudirman, meninggalkan RSCM semakin jauh di spion belakang.
bersambung...
Konten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.