Chapter 18
Istriku Yang Terampas - 24 Juni 2026 - 3.203 kata
Aku masih duduk di sofa gelap, punggung bersandar ke bantalan. Tangan kananku masih membungkus penisku yang sudah tegang lagi, ibu jari sesekali mengoleskan cairan yang keluar dari ujungnya. Layar ponsel di tangan kiriku menyala redup, menampilkan pemandangan yang belum berubah. Maya masih telentang di ranjang. Nafasnya sangat berat, dada naik-turun cepat. Kakinya terbuka lebar, tangan kanannya jatuh lemah di sisi tubuh. Cairan bening masih merembes pelan dari dalam vaginanya yang berkedut kecil. Handuk putih sudah benar-benar tidak menutupi apa-apa lagi. Ia tidak berusaha menutup kakinya. Seolah seluruh tenaganya sudah habis. Pak Broto duduk di sampingnya. Tidak bergerak menjauh. Nafasnya sedikit lebih berat dari tadi. Matanya masih menatap ke arah paha Maya yang terbuka dan basah. Tangan kanannya yang licin cairan Maya melayang di udara sebentar, jari-jarinya terbuka. Lalu tangan kirinya perlahan bergerak ke arah ikat pinggang celananya. Aku menelan ludah. Jantungku berdegup lebih kencang. Bukan karena takut. Tapi karena aku tiba-tiba sadar — aku tidak tahu apakah malam ini sudah benar-benar selesai. Di dalam hati, aku sudah menetapkan batas. Malam ini cukup sampai sini. Cukup sampai Maya meledak seperti tadi. Cukup sampai tubuhnya gemetar dan menyembur karena jari pria itu. Aku sudah puas. Aku bahkan sudah merencanakan bahwa yang lebih
Chapter ini membutuhkan 6 Ink untuk dibaca. Saldo kamu saat ini 0 Ink.
Akses chapter ini bersifat pribadi dan dilindungi hak cipta. Distribusi ulang tanpa izin tidak diperbolehkan.
Masuk untuk MembeliKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.