Chapter 17
Istriku Yang Terampas - 15 Juni 2026 - 5.198 kata
Jam di pojok kanan bawah laptop menunjukkan pukul 14.37 ketika pesan dari Maya masuk. Aku sedang duduk di ruang meeting kecil lantai empat belas, setengah mendengarkan penjelasan vendor soal integrasi API yang sejak tadi hanya berputar-putar di masalah yang sama. Layar proyektor menampilkan diagram alur data yang penuh garis dan kotak. Udara ruangan dingin, terlalu dingin, sampai ujung jariku terasa kaku di atas keyboard. Ponsel di samping laptop bergetar pelan. Maya. Aku melirik sekilas, berniat hanya membaca lalu kembali mencatat. Namun kalimat pertama yang muncul di layar membuat telunjukku berhenti di atas touchpad. “Maya: Mas… pijat rahim itu sebenernya aman nggak sih?” Aku membacanya dua kali sebelum sadar telunjukku belum bergerak. “Pijat rahim” Bukan aku yang membuka topik itu hari ini. Jantungku berdetak lebih keras, membuat dada terasa sedikit sesak di balik kemeja. Aku melirik ke kanan dan kiri. Rian sedang menatap layar proyektor sambil mencoret-coret buku catatan. Dika menguap kecil. Tidak ada yang memperhatikanku. Aku menunduk lagi ke ponsel. Di bawah pesan pertama, muncul pesan kedua dari Maya. “Maya: Aku kepikiran omongan Pak Broto yang kemarin. Katanya ada orang yang ngerasa lebih enakan setelah dipijat. Tapi aku masih bingung, itu memang ada manfaatnya atau cuma perasaan aja ya, Mas?”
Chapter ini membutuhkan 5 Ink untuk dibaca. Saldo kamu saat ini 0 Ink.
Akses chapter ini bersifat pribadi dan dilindungi hak cipta. Distribusi ulang tanpa izin tidak diperbolehkan.
Masuk untuk MembeliKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.