Chapter 8
Istriku Sang Terapis - 25 Juni 2026 - 3.589 kata
Pagi itu, hari Minggu, rumah terasa lebih tenang dari biasanya. Ayu ingin memasak nasi goreng untuk sarapan. Ia mengenakan daster warna hitam, rambutnya dicepol asal. Sedangkan Aku duduk di meja makan, mengupas bawang tambahan karena ia memintaku membantu. “Mas, itu jangan tebel-tebel ngupasnya...” Aku menatap kulit bawang yang menumpuk di talenan. “Lho, ini masih tipis.” “Tipis dari mana?” Ayu terkekeh kecil sambil mengaduk nasi di wajan. “Kalau semua orang ngupas bawang kayak Mas, pedagang bawang bisa cepet kaya.” “Ohh gitu…, sekarang aku ikut jadi penyebab inflasi?” “Bisa jadi.” Aku sengaja mengupas satu siung lagi dengan lebih tebal. Ayu langsung melirik dari sudut matanya. “Nah, tuh kan!” Aku tertawa pelan. “Bawang juga harus efisien sekarang?” “Semuanya harus efisien sekarang.” Ia mengatakannya sambil tersenyum. Aku ikut tersenyum, tapi ada rasa pahit di belakang lidahku. Dari ruang tamu, suara berita pagi terdengar samar sampai ke dapur. Penyiar sedang membahas antrean kendaraan di SPBU dan kenaikan harga yang mulai berdampak pada kebutuhan pokok. Sesekali terdengar suara narasumber mengeluhkan harga sayur yang ikut naik karena ongkos kirim bertambah. “Makanya pada hemat,” katanya pelan. Aku tidak menjawab. Kami sarapan dengan suasana yang berusaha dibuat ringan. Ayu bercerita soal Bu Hartati yang kemarin mengeluh pundaknya seperti batu.
Chapter ini membutuhkan 4 Ink untuk dibaca. Saldo kamu saat ini 0 Ink.
Akses chapter ini bersifat pribadi dan dilindungi hak cipta. Distribusi ulang tanpa izin tidak diperbolehkan.
Masuk untuk MembeliKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.