Chapter 8
Istriku Sang Terapis - 4 Agustus 2026 - 3.589 kata
Pagi itu, hari Minggu, rumah terasa lebih tenang dari biasanya.
Ayu ingin memasak nasi goreng untuk sarapan. Ia mengenakan daster warna hitam, rambutnya dicepol asal. Sedangkan Aku duduk di meja makan, mengupas bawang tambahan karena ia memintaku membantu.
Lintang Gelap“Mas, itu jangan tebel-tebel ngupasnya...”
Aku menatap kulit bawang yang menumpuk di talenan.
“Lho, ini masih tipis.”
“Tipis dari mana?” Ayu terkekeh kecil sambil mengaduk nasi di wajan. “Kalau semua orang ngupas bawang kayak Mas, pedagang bawang bisa cepet kaya.”
“Ohh gitu…, sekarang aku ikut jadi penyebab inflasi?”
“Bisa jadi.”
Aku sengaja mengupas satu siung lagi dengan lebih tebal.
Ayu langsung melirik dari sudut matanya.
“Nah, tuh kan!”
Aku tertawa pelan. “Bawang juga harus efisien sekarang?”
“Semuanya harus efisien sekarang.”
Ia mengatakannya sambil tersenyum.
Aku ikut tersenyum, tapi ada rasa pahit di belakang lidahku.
Dari ruang tamu, suara berita pagi terdengar samar sampai ke dapur. Penyiar sedang membahas antrean kendaraan di SPBU dan kenaikan harga yang mulai berdampak pada kebutuhan pokok. Sesekali terdengar suara narasumber mengeluhkan harga sayur yang ikut naik karena ongkos kirim bertambah.
“Makanya pada hemat,” katanya pelan.
Aku tidak menjawab.
Kami sarapan dengan suasana yang berusaha dibuat ringan. Ayu bercerita soal Bu Hartati yang kemarin mengeluh pundaknya seperti batu. Aku menimpali dengan cerita kantor yang sebenarnya tidak lucu, tapi Ayu tetap tertawa kecil. Untuk beberapa saat, rumah terasa seperti rumah.
Tapi setelah piring dicuci dan meja dibersihkan, Ayu kembali membuka buku reservasi.
Aku melihatnya dari ruang tengah.
Ia duduk di lantai, punggungnya bersandar pada sofa. Buku itu terbuka di hadapannya. Di sebelahnya ada pensil, penghapus, dan ponsel.
“Katanya hari ini istirahat,” ujarku sambil melirik buku di pangkuannya.
Ayu tidak mengangkat kepala. “Ini istirahat kok.”
Aku mendengus kecil. “Kamu bilang cuma ngecek, tapi dari tadi yang dipikirin pelanggan lagi… jadwal lagi.. pemasukan lagi... Itu bukan istirahat namanya.”
Ia tersenyum tipis.
“Cuma ngecek jadwal aja mas...”
“Dari tadi juga ngecek jadwal.”
“Ya siapa tahu ada yang berubah.”
“Yang berubah biasanya pelanggan yang batal.”
Ayu berhenti sejenak, lalu menatapku. “Makasih ya, Mas Wawan. Sangat membantu semangat pagi saya.”
Aku mengangkat kedua tangan tanda menyerah. “Aku cuma ngomong fakta.”
“Fakta nggak harus diucapin atuh...”
“Kalau nggak diucapin, nanti kamu lupa istirahat.”
“Bawell ihh… iyaa sebentar lagi.”
“Kamu bilang gitu setengah jam lalu.”
“Mas ngitungin?”
“Kan aku duduk di sini lihatin kamu dari tadi.”
Ayu menggeleng pelan sambil kembali menunduk ke buku. “Bentar ya sayangku… suamiku...”
Lintang GelapNada suaranya lembut, tapi aku tahu itu artinya pembicaraan selesai.
Aku tidak mendebat.
Aku duduk di sofa, kembali menonton TV. Namun mataku tidak benar-benar melihat layar. Dari sudut pandangku, aku bisa melihat halaman buku reservasi itu.
Ayu mengetuk ujung pensil ke bibirnya. Kebiasaan kecil yang selalu muncul setiap kali ia sedang berpikir keras. Dulu, ia bisa melakukan hal yang sama hanya untuk memilih warna tirai ruang terapi; putih tulang atau krem muda, karena menurutnya warna yang salah bisa membuat ruangan terasa murahan.
Sekarang, pensil itu berhenti di bawah daftar layanan.
Tulisan-tulisan itu sudah akrab di mataku. Berkali-kali kulihat Ayu menjelaskannya pada pelanggan baru, menghitung durasinya, atau mencatatnya di buku reservasi.
Namun di bawah daftar itu, masih ada ruang kosong.
Cukup lebar untuk satu layanan baru.
Atau satu keputusan baru.
Ayu menunduk, lalu menulis sesuatu dengan huruf kecil. Terlalu kecil untuk kubaca dari sofa. Tangannya berhenti beberapa detik di atas halaman itu, sebelum akhirnya ia mengambil penghapus.
Butiran putih jatuh di atas kertas.
Ia meniupnya pelan.
Tulisan itu hilang, tapi bekasnya masih tertinggal samar di sana.
Seperti sesuatu yang buru-buru disangkal, padahal sudah sempat diberi tempat.
Aku menunggu beberapa saat sebelum akhirnya bertanya.
“Nulis apa?”
Ayu langsung menoleh.
Sangat cepat. Seperti orang yang baru saja ketahuan memegang sesuatu yang seharusnya belum ia pegang.
“Hah?” Ia berkedip sekali, lalu buru-buru menutup sebagian halaman dengan telapak tangan. “Nggak kok. Cuma coret-coret aja.”
Aku melirik buku di pangkuannya.
Telapak tangannya memang menutupi tulisan itu, tapi bekas hapusan masih terlihat samar di bawah jarinya.
“Coret-coret layanan baru?”
Ayu tidak langsung menjawab. Pensil yang sejak tadi ia putar di antara jari mendadak berhenti. Matanya turun ke halaman, lalu naik sebentar ke wajahku.
“Mungkin..,” katanya pelan. “Buat pelanggan lama.”
“Pelanggan lama?”
Ia mengangkat bahu kecil, seolah kalimat itu tidak berarti apa-apa. Tapi caranya menghindari tatapanku membuatnya justru terdengar lebih berarti.
“Ya... biar mereka nggak bosen mas.” Ia mencoba tersenyum. “biar pada mau balik lagi.”
Aku tetap memandangnya. Senyum Ayu pelan-pelan hilang.
“Bukan yang aneh-aneh ya, Mas,” katanya cepat.
Aku belum mengatakan apa-apa, tapi ia sudah membela diri lebih dulu.
“Oh ya?” Aku memaksa tertawa kecil. “Aku belum bilang apa-apa loh...”
“Tapi aku tahu kamu mikir apa.”
“Aku mikir apa emangnya?”
Ayu menatapku sebentar, lalu mendesah pelan. Ia mengusap bekas hapusan di halaman itu dengan ujung jarinya, seolah ingin memastikan tulisan yang tadi sempat muncul benar-benar hilang.
“Pokoknya bukan yang macem-macem,” katanya. “Maksudku cuma durasi khusus. Treatment tambahan. Yang bikin pelanggan lama jadi makin betah.”
“Pelanggan lama,” ulangku pelan.
Kali ini Ayu tidak menjawab.
Di luar, suara motor lewat sebentar, lalu hilang. Ruang tengah kembali sepi, menyisakan buku reservasi di antara kami dan bekas hapusan yang masih samar di bawah jari Ayu.
Ia tidak menyebut nama siapa pun.
Aku juga tidak.
Tapi kami sama-sama tahu, dari semua pelanggan lama yang ia maksud, hanya ada satu nama yang sejak tadi tidak benar-benar pergi dari ruangan itu.
…
Ponsel Ayu menyala.
Kali ini ia tidak langsung mengambilnya. Ia hanya menatap layar yang menyala di dekat buku.
Nama itu muncul.
Pak Danang.
Aku bisa membaca potongan pesannya dari tempatku duduk.
Pak Danang: “pagi, Mbak Ayu. saya masih serius soal pa...”
Ayu mengambil ponselnya dan membaca pesan itu sampai selesai. Wajahnya berubah sedikit, bukan takut, tapi juga bukan senang.
Lintang GelapLebih seperti seseorang yang melihat jalan lebih mudah di depan, hanya saja jalan itu harus dilewati dalam gelap.
“Apa katanya?” tanyaku.
Ayu menyerahkan ponselnya padaku. Aku membaca pesan lengkapnya.
Pak Danang: “pagi, Mbak Ayu. saya masih serius soal paket khusus itu. kalau Mbak setuju, saya bayar di depan hari ini. sekalian saya mampir sebentar. saya percaya sama tangan Mbak Ayu.”
Kalimat terakhir itu membuatku menahan napas.
“Saya percaya sama tangan Mbak Ayu.”
Aku teringat foto lama Ayu saat masih memakai name tag senior therapist. Teringat warung nasi goreng, juga suara Ayu yang mengobrol di belakang motorku sepanjang perjalanan pulang.
“Soalnya sekarang ada yang percaya ama tanganku, Mas.”
Pak Danang tidak tahu kalimat itu pernah hidup di masa lalu kami. Tapi entah bagaimana, ia menyentuh tempat yang sama.
Aku mengembalikan ponsel itu kepada Ayu.
Ia menatapku, seperti menunggu aku mengatakan sesuatu.
“Menurut Mas gimana?” tanyanya.
Pertanyaan itu seharusnya mudah.
“Tolak”
Satu kata itu sempat muncul di kepalaku, pendek, bersih, dan hampir terlalu sederhana.
Tapi kata itu berhenti sebelum sampai ke mulut.
Ayu menatapku, menunggu.
Aku tahu ia butuh jawaban yang tegas.
Namun yang kuberikan justru jeda.
Jeda kecil.
Jeda yang cukup untuk membuat sesuatu di antara kami bergeser sedikit lebih jauh.
“Kalau cuma bahas layanan ya.., nggak apa-apa.”
Ayu diam.
“Tapi...” Ia menggigit bibir bawahnya. “Dia ngomongnya suka, eee... ya Mas tahu sendirilah.”
Aku mengangguk. “Aku tahu.”
“Aku nggak mau dia bisa seenaknya aja sih mas.”
“Jangan kasih celah kalau gitu.”
Kalimat itu meluncur begitu saja.
Jangan kasih celah.
Padahal, kalau kupikir-pikir, akulah yang sedang membantu membuka celah itu sedikit demi sedikit.
Ayu menatap layar ponselnya lagi, lalu mengembuskan napas pendek.
“Dia sempat bercanda aneh, lagi.”
Aku diam.
Kata “lagi” itu seperti menekan tombol kecil di tengkukku. Jantungku berdegup satu ketukan lebih berat dari biasanya.
“Bercanda apa emangnya?” tanyaku pelan.
Ayu menoleh. Beberapa detik ia hanya menatapku sambil ibu jarinya mengusap pinggir sampul buku reservasi yang sudah mulai kusam. Lalu ia menarik napas, seolah kata-kata berikutnya berat untuk dikeluarkan.
“Dia bilang... petik mangga.”
Kata itu jatuh di meja makan.
“Petik mangga.”
Aku pernah mendengarnya.
Dari balik tirai linen. Dari suara Pak Danang yang waktu itu terdengar terlalu santai, terlalu mudah, seolah kalimat semacam itu memang biasa dilemparkan kepada perempuan yang sedang bekerja di ruang terapi.
Saat itu, aku memilih menganggapnya lelucon kotor pelanggan.
Sesuatu yang lewat.
Sesuatu yang tidak perlu diperpanjang.
Tapi sekarang Ayu yang mengucapkannya.
Pelan.
Ragu.
Dengan wajah yang membuat istilah itu tidak lagi terdengar seperti gurauan.
Aku menelan ludah.
“Dia ngomong gitu?” tanyaku, berusaha membuat suaraku tetap biasa.
Ayu mengangguk kecil.
“Katanya kalau ada layanan tambahan khusus, dia bayar khusus juga.” Suaranya mengecil. “Terus dia bilang... layanan petik mangga.”
Aku tidak langsung menjawab.
Seharusnya aku marah.
Atau setidaknya langsung merasa cukup terganggu untuk menyuruh Ayu menolak.
Tapi yang terjadi di dalam dadaku tidak sesederhana itu.
Ada sesuatu yang bergerak di sana.
Kecil.
Panas.
Memalukan.
Aku menggeser posisi duduk, lalu pura-pura meraih gelas kosong di depanku, hanya agar tanganku punya alasan untuk tidak diam terlalu lama di atas meja.
“Terus kamu jawab apa?” tanyaku.
“Aku bilang nggak bisa.” Ayu cepat-cepat menatapku, seperti takut aku salah paham. “Aku bilang aku cuma terapis biasa.”
Aku mengangguk.
Ayu menunduk sebentar sebelum melanjutkan.
“Dia bilang cuma bercanda.”
Ayu menggeleng pelan.
“Tapi aku tahu maksudnya nggak sekadar bercanda.”
Ruangan mendadak terasa lebih sempit.
Dari luar, terdengar suara anak-anak tetangga bermain sepeda. Seorang ibu memanggil anaknya untuk makan. Motor lewat dengan knalpot kasar.
Semua suara itu normal dan terasa hidup.
Tapi di ruang tengah, aku dan Ayu sama-sama terdiam.
Setelah istilah itu keluar dari mulutnya, rumah kami tidak lagi terasa sama.
“Aku nggak harus ambil tawarannya kan, Mas?” tanya Ayu.
Aku menatapnya.
Pertanyaannya sederhana, tapi aku tahu yang ia minta bukan sekadar jawaban.
Ia sedang mencari kepastian bahwa aku akan berdiri di pihaknya. Bahwa aku akan bilang tidak usah. Bahwa uang tambahan itu tidak sebanding dengan rasa tidak nyaman yang sejak tadi ia sembunyikan.
Aku membuka mulut.
Jawaban yang benar sudah ada di ujung lidahku.
Tapi sebelum sempat menjawab, pikiranku terpecah ke arah yang bahkan tidak ingin kuakui.
Memang ada cicilan, tagihan, dan angka-angka yang beberapa hari terakhir terus berputar di kepalaku. Tapi bukan cuma itu.
Ada bagian lain dalam diriku yang diam-diam ikut bergerak setiap kali membayangkan Ayu berada di ruangan terapi bersama pelanggan-pelanggan itu. Perasaan yang membuatku tidak nyaman sekaligus sulit kutolak. Sesuatu yang selama ini selalu kutepis sebagai rasa penasaran, lalu kusimpan rapat-rapat karena aku sendiri tidak mengerti apa namanya.
Aku tidak pernah berani memikirkannya terlalu jauh.
Tapi sekarang, ketika Ayu menatapku dan menunggu jawaban, bayangan itu muncul lagi tanpa diminta.
Aku terlambat menjawab.
Saat itu, ponselnya menyala lagi. Bukan pesan baru dari Pak Danang. Kali ini dari pelanggan lain.
Mbak Nia: “Mbak Ayu, maaf ya. minggu depan aku belum jadi dulu. uangnya kepakai servis motor. bensin juga lagi boros banget sejak naik. nanti aku kabari lagi.”
Ayu membaca pesan itu, dan aku ikut melirik dari samping.
Selama beberapa detik, tak ada satu pun dari kami yang bicara.
Pelan-pelan, Ayu meletakkan ponselnya di meja. Ia lalu mengambil pensil dan menulis catatan kecil di sebelah nama Mbak Nia.
Batal.
Ujung pensilnya berhenti di sana.
Satu nama lagi tercoret dari daftar.
Aku menatap wajah Ayu. Lelah itu kembali muncul.
Bukan lelah tubuh seperti setelah memijat pelanggan seharian. Bukan lelah yang bisa hilang setelah mandi air hangat atau tidur lebih awal. Ini lelah yang lebih dalam. Lelah yang membuat bahunya sedikit turun, membuat matanya kehilangan cahaya sebentar, membuat jari-jarinya berhenti di atas layar ponsel tanpa tahu harus mengetik apa.
Lelah karena berusaha menjaga sesuatu yang terus bergeser dari genggaman.
“Sayang...” panggilku pelan.
“Hmmm?”
Ia tidak langsung menatapku. Matanya masih tertahan pada nama Pak Danang di layar ponsel, seolah nama itu punya berat sendiri.
“Mungkin...” Aku menelan ludah. “Untuk sekarang, kamu fokus dulu ke pelanggan yang pasti-pasti.”
Ayu akhirnya mengangkat wajah.
Tatapannya tidak tajam. Tidak marah. Justru itu yang membuatku lebih sulit menahannya. Ia hanya menatapku seperti seseorang yang sedang memastikan apakah ia baru saja mendengar kalimat yang benar.
“Pelanggan yang pasti-pasti?” ulangnya.
Aku mengangguk pelan.
“Bukan berarti kamu nurutin semua maunya Pak Danang,” kataku cepat, seolah perlu segera membersihkan kalimatku sendiri sebelum terdengar terlalu kotor. “Maksudku... kalau dia mau layanan tambahan, ya bisa kamu ambil. Tapi tetep dengan aturan kamu.”
Ayu diam.
Di luar, suara motor lewat di depan rumah. Suaranya sebentar saja, lalu hilang. Tapi setelah itu ruang tengah terasa jauh lebih sepi.
“Aturanku?” tanyanya.
“Iya.” Aku memaksa suaraku tetap tenang. “Kamu yang nentuin batasnya.”
Ayu menunduk.
Ibu jarinya mengusap sudut sampul buku reservasi yang sudah mulai kusam, pelan sekali, seperti sedang mencari pegangan pada benda yang tidak akan membantunya.
“Kamu yang nentuin batasnya,” kataku.
Kalimat itu terdengar tenang.
Terdengar seperti kepercayaan.
Ayu mengangguk kecil, tapi matanya tidak langsung terangkat.
Entah kenapa, anggukan itu tidak membuatku lega.
Justru di sana aku merasa sesuatu dari jawabanku tadi bergeser. Sedikit saja. Hampir tidak kelihatan.
Tapi cukup untuk membuat Ayu tampak semakin sendirian di hadapanku.
“Aku cuma takut dia salah paham terus keterusan, Mas,” katanya pelan.
“Kalau dia salah paham, kamu kasih tau.”
“Kalau dia tetep maksa?”
Pertanyaan itu membuatku terdiam sedikit lebih lama dari seharusnya. Seharusnya aku bisa langsung menjawab bahwa kalau laki-laki itu memaksa, ia harus membatalkan semuanya. Seharusnya aku bisa bilang bahwa ia tidak perlu menerima, bahwa aku sendiri yang akan menghadapinya kalau keadaan sudah melewati batas.
Tapi semua kalimat itu hanya berhenti di kepalaku.
Ayu melihat jeda itu. Aku tahu dari caranya menatapku sebentar, lalu menurunkan pandangan ke meja sebelum kembali pada ponsel di tangannya.
“Ya...” kataku akhirnya, terlambat. “Kamu tahu harus gimana.”
Ayu tersenyum tipis.
Bukan senyum yang lega. Lebih seperti senyum seseorang yang baru saja sadar bahwa pada akhirnya, ia tetap harus menjaga dirinya sendiri.
“Iya,” gumamnya. “Aku tahu.”
Ayu mengambil ponselnya.
Beberapa detik ia hanya menatap layar, lalu mulai mengetik. Jempolnya berhenti sekali, seolah ada kalimat yang terasa salah, sebelum akhirnya ia menghapusnya dan menulis ulang dengan lebih pelan.
Aku duduk di depannya, melihat semua itu terjadi tanpa bergerak.
Sebenarnya masih ada waktu untuk menghentikannya.
Masih ada waktu untuk berkata, “Ngga usah.”
Tapi aku hanya diam.
Ayu membaca ulang pesannya sebentar, lalu menekan kirim.
Bunyinya kecil.
Hampir tidak berarti.
Tapi setelah itu, ruang tengah terasa lebih hening daripada sebelumnya.
Ayu meletakkan ponselnya pelan-pelan di atas meja.
Untuk beberapa detik, kami sama-sama hanya menatap benda itu.
“Dia bales apa?” tanyaku.
Ayu menggeleng pelan.
“Belum bales mas.”
“Jadi belum pasti?”
Ayu terdiam sebentar.
“Belum pasti sih,” katanya pelan. “Tapi biasanya kalau Pak Danang udah nanya begitu, dia pasti datang.”
Aku tidak langsung menjawab. Karena aku juga tahu itu benar.
Ayu menarik buku reservasi ke dekatnya. Ia membuka halaman kosong di bagian belakang, lalu menulis nama Pak Danang dengan pensil.
Di sebelah nama itu, ia memberi tanda tanya kecil.
Aku memperhatikannya.
“Kan belum pasti,” kataku.
“Belum,” jawab Ayu.
“Kok udah ditulis?”
“Biar gampang kalau dia jadi datang.”
Ia menunduk lagi, lalu menambahkan catatan kecil di bawah nama itu.
“Terapi punggung dan kaki.”
Tulisan itu tampak biasa.
Seolah yang sedang disiapkan sore itu memang hanya sesi terapi seperti hari-hari sebelumnya.
Ayu menatap tulisannya sendiri sebentar, lalu menoleh padaku.
“Mas,” katanya pelan.
“Hm?”
“Kalau nanti dia mulai ngomong aneh, aku hentiin yah...”
Aku mengangguk cepat. “Iya...”
“Beneran...”
“Iya.. mas percaya sama kamu”
Ayu menatapku beberapa detik, lalu tersenyum tipis.
Setelah itu, ia tidak bertanya lagi.
Ia hanya menarik buku reservasi lebih dekat, merapikan pensil dan penghapus di sampingnya, lalu berdiri seolah keputusan itu memang sudah cukup jelas.
“Aku siapin ruangan dulu ya,” katanya.
Aku mengangguk.
Dan entah kenapa, anggukan kecil itu terasa lebih berat daripada jawabanku sebelumnya.
Ayu berjalan ke ruang terapi.
Tirai linen disibakkan, lalu dibiarkan terbuka setengah. Dari tempatku duduk, aku bisa melihat ranjang pijat yang sudah rapi, handuk putih di meja kecil, dan botol minyak cendana yang ia letakkan dekat mangkuk kaca.
Tidak banyak yang ia ubah.
Hanya merapikan seprei, menepuk bantal wajah, lalu membuka tutup botol minyak sebentar.
Aroma cendana mulai samar di udara.
Ayu menutup botol itu lagi dengan hati-hati.
Gerakannya sudah kembali tenang. Terlalu tenang malah. Seperti dengan menyiapkan ruangan sebagaimana biasanya, ia bisa meyakinkan dirinya bahwa sore ini juga akan berjalan seperti biasa.
Aku berdiri dan berjalan ke dapur.
Tidak ada yang benar-benar perlu kulakukan di sana. Aku hanya membuka rice cooker, menutupnya lagi, lalu melihat jam dinding.
Dari ruang terapi, suara Ayu terdengar.
“Mas, nanti makan malam mau apa?”
“Beli sate aja kali ya.”
“Sate?”
“Iya. Aku sekalian cuci motor di steam depan jalan. Udah kotor banget dari kemarin. Nanti pulangnya tinggal ambil sate.”
Ayu memandangku.
“Sekarang?”
Aku mengangkat bahu, berusaha terdengar santai. “Iya, sekalian.”
Ia tidak langsung menjawab.
Matanya bergerak sekilas ke arah ponsel di meja, lalu kembali kepadaku.
“Kalau Pak Danang jadi datang gimana?”
Aku menelan ludah.
Pertanyaan itu seharusnya menjadi tempatku berhenti.
Seharusnya aku berkata: “ya udah, aku temenin.”
Tapi yang keluar justru kalimat lain.
“Ya kamu mulai aja terapinya. Aku paling nggak lama.”
“Nggak lama?”
“Cuci motor paling setengah jam. Sate juga biasanya lama dibakar. Aku tinggal pesan dulu, nanti kuambil pas pulang.”
Ayu masih menatapku.
Beberapa detik saja.
Tapi cukup lama untuk membuat alasan cuci motor itu terdengar tidak terlalu meyakinkan.
Ayu akhirnya mengangguk kecil.
“Ya udah.”
Dua kata itu terdengar seperti izin.
Atau mungkin penyerahan.
Aku mengambil kunci motor dari gantungan. Bunyinya kecil, tapi cukup untuk membuat suasana rumah terasa lebih nyata. Logam beradu dengan gantungan paku, lalu berhenti di telapak tanganku.
“Kalau dia datang dan kamu nggak nyaman, telpon aku,” kataku.
Ayu tersenyum tipis. “Kan kamu nyuci motor.”
“Yakan.. masih bisa aku angkat.”
“Pokoknya telpon aja.”
Ayu mengangguk. “Iyadeh iyadeh....”
Aku memakai sandal, lalu berjalan ke pintu depan.
Sebelum keluar, aku menoleh sekali.
Ayu masih berdiri di dekat ruang terapi, memegang handuk putih. Tirai linen di belakangnya terbuka setengah, dan aroma cendana mulai samar memenuhi ruang tengah.
“Mas keluar dulu ya,” kataku.
“Iya, Mas. Hati-hati.”
Aku keluar.
Mesin motor menyala setelah dua kali starter. Saat melewati pagar yang terbuka sedikit, aku melihat rumah kami di kaca spion.
Lampu ruang tengah sudah menyala.
Dan entah kenapa, dari kejauhan, rumah itu tampak seperti sedang menunggu seseorang selain aku.
Tempat cuci motor ada di ujung jalan.
Aku melewatinya.
Tanpa menoleh.
Motorku memang kotor. Debu menempel di spakbor. Bekas cipratan air hujan masih mengering di bagian bawah bodi. Kalau benar-benar ingin mencucinya, aku tinggal belok sedikit dan berhenti di sana.
Tapi sore itu, cuci motor hanya terdengar seperti alasan yang cukup rapi untuk diucapkan.
Bukan tujuan.
Aku terus melaju sampai ke warung sate di seberang minimarket. Asap dari bakaran sudah naik ke udara, membawa bau arang, kecap, dan lemak ayam yang menetes ke bara. Ada beberapa orang berdiri menunggu pesanan.
Aku memarkir motor di pinggir jalan.
“Sate ayam dua puluh, lontongnya dua ya, Bang,” kataku.
“Dibungkus?”
“Iya.”
“Agak lama ya, Pak. Banyak antrean.”
Aku mengangguk.
“Nggak apa-apa. Nanti saya ambil.”
Abang sate mengangguk tanpa peduli. Baginya aku hanya pelanggan lain yang memesan lalu pergi sebentar.
Bagiku, kalimat itu menjadi bagian dari alibi yang sedang kususun sendiri.
Aku kembali ke motor, tapi tidak langsung pulang.
Aku menyalakan mesin, lalu melaju pelan ke arah mulut perumahan. Tidak sampai masuk gang rumah. Aku berhenti di dekat pos ronda kecil yang menghadap jalan utama, di tempat orang biasa menepi untuk menerima telepon atau menunggu ojek online. Dari sana, aku bisa melihat kendaraan yang masuk ke arah rumahku.
Aku mematikan mesin motor.
Udara sore terasa lembap. Ada bau selokan, asap sate dari kejauhan, dan debu jalan yang terangkat setiap kali mobil lewat. Di seberang, anak-anak kecil bermain bola plastik di depan warung kelontong.
Hidup berjalan biasa saja.
Seolah aku tidak sedang duduk di atas motor dengan dada yang makin berat.
Aku membuka ponsel.
Tidak ada pesan dari Ayu.
Aku menutupnya.
Lalu membukanya lagi.
Tetap tidak ada apa-apa.
Kalau Pak Danang tidak jadi datang, seharusnya aku pulang.
Seharusnya aku lega.
Tapi aku tetap di sana.
Di dekat pos ronda.
Di luar rumahku sendiri.
Menunggu mobil laki-laki lain.
…
Beberapa menit berlalu.
Satu motor masuk. Bukan.
Mobil pick-up kecil lewat. Bukan.
Lalu dari arah jalan besar, sebuah mobil hitam berbelok perlahan memasuki jalan perumahan. Mesinnya halus. Gerakannya tenang. Tidak ada klakson. Tidak terburu-buru. Mobil itu masuk seperti sudah tahu persis ke mana harus menuju.
Dadaku langsung mengeras.
Aku mengenali mobil itu.
Aku menunggu sampai mobil itu melewatiku lebih dulu. Kaca sampingnya gelap. Aku bisa melihat bayangan laki-laki di balik kemudi, tapi ia tidak menoleh ke arahku. Atau mungkin ia menoleh dan aku tidak bisa melihatnya.
Setelah jaraknya cukup jauh, aku menyalakan motor.
Tidak langsung mengejar.
Hanya mengikuti pelan, menjaga jarak dua rumah, tiga rumah. Setiap kali motor Pak Danang berbelok, aku ikut berhenti sebentar di tikungan, seperti orang yang takut ketahuan.
Aku tahu ini salah.
Tapi aku tetap melanjutkan.
Aku memarkir motor di dekat tembok rumah kosong, beberapa rumah sebelum rumah kami. Lalu aku turun dan berjalan kaki menyusuri pinggir jalan. Setiap langkah terasa berat, tapi kakiku tidak berhenti.
Aku berhenti di depan pintu samping.
Tanganku meraih gagangnya. Tidak terkunci.
Aku membukanya pelan. Engselnya berdecit halus. Aku langsung diam, menahan napas. Tidak ada suara langkah dari dalam. Aku menyelinap masuk, lalu menutup pintu dengan hati-hati.
Bau sabun cuci piring masih menggantung di dapur. Rice cooker menyala dengan lampu kuning kecil. Gelas yang tadi kupakai masih ada di wastafel.
Aku melepas sandal. Lantai keramik terasa dingin di telapak kakiku.
Dari ruang tengah, terdengar samar suara ranjang pijat berderit. Pendek. Pelan.
Aku melangkah mendekati sekat dapur. Tirai linen ruang terapi terlihat setengah tertutup. Tidak rapat. Tidak terbuka penuh. Di baliknya, ada dua bayangan samar — satu berdiri, satu berbaring.
Tanganku meraih tepi meja dapur. Kayunya dingin.
Aku tahu aku masih bisa pergi. Masih bisa kembali mengambil sate, lalu masuk lewat pintu depan seperti suami yang baru pulang membeli makan malam.
Tapi kakiku tidak bergerak.
Aku maju setengah langkah lagi. Cukup dekat untuk mendengar, cukup jauh untuk tetap tidak terlihat.
Dari balik tirai, terdengar suara Ayu dan Pak Danang. Masih samar. Hanya gumaman rendah yang tidak bisa kutangkap jelas.
Dan di saat itu, aku sadar sesuatu yang membuat dadaku terasa kosong dan panas sekaligus.
Aku tidak sedang memergoki siapa pun.
Aku sedang menunggu.
bersambung…
Lintang GelapKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.