Chapter 7
Istriku Sang Terapis - 4 Agustus 2026 - 3.099 kata
Dua minggu setelah malam itu, aku mulai mengerti bahwa sebuah rumah tidak selalu berubah karena ledakan besar.
Kadang, rumah berubah karena hal-hal kecil.
Satu nama yang dicoret dari buku reservasi.
Satu pesan pelanggan yang minta jadwal diundur.
Satu struk belanja yang nominalnya lebih panjang dari biasanya.
Satu helaan napas istriku yang terdengar terlalu pelan untuk disebut keluhan, tapi terlalu berat untuk disebut biasa saja.
Sabtu pagi itu, aku libur.
Seharusnya, dua hari tanpa seragam dinas membuat tubuhku terasa lebih ringan. Tidak ada absensi. Tidak ada apel pagi. Tidak ada meja kantor yang penuh map cokelat dan disposisi. Tidak ada suara kepala seksi memanggil dari balik sekat ruangan. Aku hanya ingin bangun sedikit siang, minum teh hangat, lalu duduk di depan televisi sambil membiarkan rumah berjalan dengan ritmenya sendiri.
Tapi sejak membuka mata, aku sudah mendengar suara kalkulator dari ruang tengah.
Tik.
Tik.
Tik.
Suara itu pendek dan kering, seperti tetes air yang jatuh satu-satu ke lantai kosong.
Aku keluar dari kamar dengan kaus lusuh dan celana pendek. Di ruang tengah, Ayu duduk bersila di depan meja kecil. Rambutnya diikat asal, beberapa helai jatuh di pipinya. Di sebelahnya ada buku reservasi, buku kas, beberapa lembar uang pecahan lima puluh ribu dan dua puluh ribu, serta ponsel yang layarnya menyala-mati karena pesan masuk.
Lintang GelapIa tidak memakai minyak wangi. Tidak berdandan. Tidak mengenakan kemben kerja atau kaus polos yang biasa ia pakai saat menerima pelanggan. Hanya daster rumahan warna biru muda yang bagian lengannya sudah sedikit melar.
Tetap saja, pemandangan itu membuatku berhenti sejenak.
Bukan karena cantik.
Tapi karena ia tampak seperti seseorang yang sedang berusaha mengalahkan sesuatu yang tidak terlihat.
“Udah bangun, Mas?” tanyanya tanpa menoleh. Jemarinya masih menekan tombol kalkulator.
“Udah.”
“Tehnya di dapur. Udah Aku bikinin tadi.”
“Tumben pagi-pagi udah sibuk.”
Ayu tersenyum kecil, tapi matanya tetap turun ke buku. “Ngecek jadwal aja.”
Aku melangkah mendekat. Di halaman buku reservasi itu, kulihat deretan nama yang biasanya rapi kini penuh garis.
Beberapa dicoret satu kali.
Beberapa dicoret dua kali.
Ada yang diberi tanda panah ke minggu depan.
Ada yang diberi catatan kecil di sampingnya.
Bu Rima — undur dulu.
Mbak Sari — bulan depan.
Ibu Hartati — ganti totok singkat.
Bu Lilis — batal, lagi hemat.
Mbak Nia — nunggu gajian.
Aku duduk di seberang meja, menatap halaman itu lebih lama dari yang seharusnya.
“Banyak yang reschedule ya?” tanyaku.
Ayu mengangguk pelan. “Iya. Dari minggu kemarin mulai banyak yang reschedule.”
“Kenapa?”
“Macem-macem.” Ia membalik halaman sebelumnya, memperlihatkan coretan yang tidak kalah banyak. “Ada yang bilang kebutuhan belanja lagi mahal. Ada yang anaknya mau bayar sekolah. Ada yang suaminya lagi ngurangin pengeluaran. Ada yang bilang bensin naik, jadi kalau nggak penting-penting banget, ditahan dulu.”
Aku menatap tulisan tangan Ayu. Biasanya tulisan itu bulat dan rapi. Tapi di beberapa catatan terakhir, huruf-hurufnya mulai mengecil, seperti ditulis sambil menahan sesuatu.
“bensin naik”
Dua kata itu beberapa hari terakhir memang ada di mana-mana. Di berita televisi, di percakapan kantor, di antrean minimarket, di grup WhatsApp RT. Orang-orang membicarakannya sambil tertawa pahit, seolah kenaikan harga bisa dibuat lebih ringan jika dijadikan bahan candaan.
Tapi di buku Ayu, kenaikan itu tidak lucu.
Di sana, BBM naik berubah menjadi nama pelanggan yang dicoret.
“Padahal mereka pelanggan tetap aku mas…,” gumam Ayu.
Aku mendengar kekecewaan yang ia coba sembunyikan.
“Ya mungkin sementara aja,” kataku.
Ayu mengangguk, tapi tidak langsung menjawab.
Ia menekan kalkulator lagi.
Tik.
Tik.
Tik.
Aku memperhatikan tangannya. Telapak itu masih sama seperti dua minggu lalu. Kemerahan di beberapa bagian. Ada kulit menebal di pangkal ibu jari. Kukunya pendek dan bersih. Tangan yang dulu ia bilang akhirnya dipercaya orang.
Sekarang, tangan itu sedang menghitung berapa banyak kepercayaan yang mulai menunda datang.
Ponselnya menyala.
Ayu mengambilnya, membaca pesan, lalu menghela napas kecil.
“Siapa?” tanyaku.
“Bu Rima.”
“Batal lagi?”
Ayu menyerahkan ponselnya padaku.
Aku membaca pesan itu.
Bu Rima: “maaf ya Mbak Ayu, minggu ini saya skip dulu. belanja dapur lagi naik semua, nanti kalau udah longgar saya kabari lagi ya…”
Ayu tersenyum, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya.
Lintang Gelap“Kasihan juga sebenarnya,” katanya. “Mereka bukan nggak mau... cuma emang lagi pada ngurangi pengeluaran.”
Aku mengembalikan ponselnya.
“Ya sudah, nggak apa-apa. Nanti juga balik lagi kalau udah normal.”
Ayu mengangguk. “Iya mas...”
Tapi dari caranya menunduk, aku tahu kata normal terdengar terlalu jauh pagi itu.
Ia membuka halaman lain, lalu mencoret nama Bu Rima dengan garis pelan.
Tidak kasar. Tidak kesal. Seolah ia takut garis itu menyakiti seseorang.
Aku memandang coretan itu.
Ada sesuatu yang ganjil dari buku reservasi Ayu. Coretan-coretan itu membuat halaman tampak seperti sedang sakit. Mimpi kecil yang dulu ia bayangkan di warung nasi goreng pinggir jalan, tentang ruang bersih, handuk putih, rak minyak, dan pelanggan yang percaya, kini berubah menjadi jadwal kosong yang harus ia hadapi sambil tetap tersenyum.
“Ish.. Minyak juga naik,” kata Ayu tiba-tiba.
Aku menoleh.
Ia menarik struk belanja dari bawah buku kas. “Kemarin aku cek di toko langganan. Minyak lavender yang biasa kupakai naik dua belas ribu per botol. Cendana juga naik. Sabun cair naik. Botol kecil buat racikan juga naik.”
Aku mengambil struk itu.
Nominalnya tidak besar jika dilihat satu-satu. Dua belas ribu. Delapan ribu. Lima ribu. Tapi ketika semuanya dikumpulkan, angka kecil itu menjadi pagar yang lebih tinggi dari biasanya.
“Laundry handuk?” tanyaku.
“Naik juga.”
“Berapa?”
“Dua ribu per kilo.”
Aku hampir tertawa karena angka itu terdengar kecil. Tapi aku menahan diri saat melihat wajah Ayu.
Bagi kantor dinas, dua ribu mungkin tidak berarti. Bagi orang yang menghitung handuk, sabun, minyak, listrik, air, dan pelanggan batal, dua ribu bisa ikut menentukan apakah satu hari kerja terasa untung atau hanya dapet capeknya saja.
“Kalau dicuci sendiri?” tanyaku.
Ayu berhenti membalik halaman. Perlahan ia mengangkat kepala.
“Sendiri?” ulangnya.
Aku baru sadar bagaimana pertanyaan itu terdengar.
“Iya... maksudku biar hemat gitu.”
Ayu mengeluarkan tawa pendek yang sama sekali tidak terdengar lucu.
“Mas pernah nyuci handuk terapi?”
“Eeeee... belum.”
“Berat banget, Mas. Capek. Ingat ya, kalau habis itu badanmu yang encok, aku enggak mau mijitin. Lagi malas terima pasien rewel.”
Aku nyengir kaku.
“Terus handuknya tebel. Kalau nggak kering, baunya apek. Sekali pelanggan nyium bau nggak enak, selesai. Mereka nggak bakal bilang langsung, tapi bisa nggak balik lagi.”
“Iya juga ya…”
“Belum lagi kalau musim hujan.” Ayu menunjuk ke arah belakang rumah. “Jemuran penuh dua hari aja, aku bisa pusing sendiri.”
Aku mengangkat kedua tangan tanda menyerah.
“Oke… Ide jelek berarti.”
“banget...”
Aku terkekeh kecil. “Maaf ya.. mas cuma mau bantu.”
Wajah Ayu akhirnya sedikit melunak.
Ia menghela napas, lalu kembali menatap buku kas di depannya. “Aku cuma lagi mikir. Kalau pelanggan tetap mulai jarang, mungkin aku harus atur ulang paket.”
“Atur ulang gimana?”
“Ya entahlah...” Ia memutar pensil di antara jarinya. “Mungkin bikin sesi yang lebih pendek? Biar yang lagi ngirit masih bisa datang.”
“Kalau diskon?”
“Kalau kebanyakan diskon, nanti orang nunggu diskon terus.”
“Promo bundling?” kataku sok pintar.
Ayu melirikku.
“Mas habis ikut seminar marketing?”
“Kan aku bantu mikir, yang..”
“Bantu bikin pusing, iya..”
Aku tertawa pelan.
Ayu ikut tersenyum tipis, tapi hanya sebentar. Senyum itu cepat hilang saat matanya kembali jatuh ke deretan nama yang dicoret.
“Atau...” katanya pelan.
Kalimatnya menggantung.
“Atau apa?”
Ia mengetuk ujung pensil ke meja beberapa kali.
“Belum tahu.”
Kali ini suaranya lebih kecil.
Bukan karena tidak punya ide.
Lebih seperti karena semua ide yang muncul terasa sama-sama tidak menyenangkan.
Aku ingin mengatakan sesuatu yang terdengar bijaksana. Sesuatu yang pantas keluar dari mulut seorang suami. Tapi yang muncul di kepalaku justru deretan angka.
Cicilan rumah.
Token listrik.
Belanja bulanan.
Servis motor.
Minyak terapi.
Handuk.
Pelanggan yang batal.
Dan di antara semua angka itu, ada satu nama yang tidak dicoret.
Pak Danang.
Namanya tertulis di halaman Jumat lalu. Bersih. Tidak ada garis. Tidak ada tanda panah. Tidak ada catatan “undur” atau “batal”. Di samping namanya, Ayu menulis nominal yang lebih besar dari pelanggan lain.
Full body therapy.
Tambahan.
Lunas.
Aku berhenti di nama itu lebih lama daripada nama-nama lain.
Entah karena penasaran.
Entah karena alasan lain yang tidak ingin kuakui.
Ayu yang sedang menghitung uang pecahan lima puluh ribuan mendongak sebentar. Tatapannya mengikuti arah mataku, lalu jatuh ke halaman yang sama.
“Kenapa?” tanyanya ringan.
Aku pura-pura masih membaca catatan lain.
“Nggak. Cuma lihat jadwal.”
“Hmm…”
Ia kembali menunduk, tapi aku tahu ia sadar aku sedang melihat nama siapa.
“Pak Danang masih rutin?” tanyaku akhirnya, berusaha terdengar santai.
“Masih.”
Jawabannya cepat.
Terlalu cepat.
“Dia nggak pernah batal?”
Ayu menggeleng sambil membalik beberapa lembar uang. “Nggak.”
Lalu setelah jeda pendek, ia menambahkan,
“Malah kadang minta tambah jam.”
Tanganku yang tadi memegang struk belanja berhenti bergerak.
“Tambah jam?”
“Iya.” Ayu mengangkat bahu kecil. “Kalau habis perjalanan jauh biasanya badannya pegel semua. Katanya satu jam kurang.”
Aku mengangguk pelan.
“Ohhh...”
Hanya itu yang keluar dari mulutku.
Ayu melirikku lagi, kali ini dengan senyum tipis yang sulit ditebak.
“Kenapa siiiihh?”
“Nggak kenapa-kenapa.”
“Nanya terus soal Pak Danang.”
Aku tertawa kecil, terlalu cepat. “Ya karena nama dia doang yang nggak dicoret.”
“Ya syukur dong kalau ada yang nggak dicoret.”
Kalimat itu sederhana.
Masuk akal.
Tapi entah kenapa membuatku diam.
Ayu kembali menekan tombol kalkulator.
Tik.
Tik.
Tik.
Tik.
Seharusnya cukup sampai di situ.
Tapi mataku masih tertahan pada nama itu.
Pada tulisan tangan Ayu yang rapi.
Pada kata lunas yang ditulis dengan tinta biru.
Seharusnya aku merasa terganggu.
Atau mungkin memang aku merasa terganggu.
Tapi ada bagian lain dalam diriku yang langsung menghitung.
Bukan menghitung siapa Pak Danang sebenarnya.
Bukan menghitung apa niatnya.
Melainkan menghitung uang yang masuk dari namanya.
Saat pelanggan lain satu per satu mengundur jadwal, saat nama-nama di buku reservasi mulai dicoret, hanya namanya yang tetap ada. Tidak pernah batal. Tidak pernah minta mundur. Bahkan sering menambah durasi.
Aku membencinya karena alasan itu.
Karena semakin aku merasa tidak nyaman dengan kehadirannya, semakin sulit pula mengabaikan kenyataan bahwa uang dari laki-laki itu membantu usaha Ayu tetap berjalan.
Dan aku mulai menangkap diriku sendiri sedang mencari pembenaran.
Mungkin dia cuma pelanggan loyal.
Mungkin cara bicaranya saja yang berlebihan.
Mungkin selama Ayu bisa menjaga batas, semuanya tetap aman.
Pikiran-pikiran seperti itu terdengar masuk akal. Terlalu masuk akal.
Padahal jauh di dalam hati, aku tahu aku sedang melakukan sesuatu yang lebih buruk daripada sekadar curiga.
Aku sedang menimbang harga dari ketidaknyamanan ku sendiri.
“Pelanggan lama memang biasanya lebih pasti,” kataku.
Ayu tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap nama Pak Danang di buku itu, lalu menutup halaman dengan pelan.
…
Sabtu siang berlalu dengancepat, tak terasa seperti hari libur.
Ayu membersihkan ruang terapi, meski tidak ada pelanggan hari itu. Ia mengganti seprei ranjang pijat, menggulung ulang handuk, mengelap botol minyak satu per satu, dan menyapu lantai di balik tirai linen. Aku membantunya sedikit, lebih banyak berdiri daripada benar-benar berguna.
Dari pintu ruang terapi, aku melihat papan nama kuningan kecil di dekat jendela.
Sekar Ayu – Traditional Spa & Therapy.
Khusus Reservasi.
Cahaya matahari mengenai permukaannya, membuat tulisan itu berkilau tipis. Dulu, saat papan itu baru dipasang, Ayu memotretnya berkali-kali. Ia memposting foto itu di akun sosmednya, dengan caption yang ia susun lama sekali sebelum akhirnya berani mengunggahnya.
“Mulai hari ini, Sekar Ayu menerima reservasi terapi rumahan. Mohon doa dan dukungannya.”
Aku masih ingat wajahnya waktu itu. Malu. Bangga. Takut. Bahagia.
Sekarang ia berdiri di bawah papan yang sama, memegang lap kain yang sudah mulai kusam di ujungnya. Di rak minyak terapi yang berjajar rapi, beberapa ruang kosong mulai terlihat di antara botol-botol kaca berwarna cokelat. Tidak mencolok, tapi cukup untuk menarik perhatian orang yang tahu bagaimana rak itu biasanya tampak.
Ayu mengusap satu botol, lalu memindahkannya sedikit ke depan, seolah kerapian bisa membuat kekosongan itu terlihat lebih kecil.
“Besok aku harus beli minyak cendana lagi,” katanya.
Aku melirik rak itu. “Bukannya masih ada?”
Ayu mengambil satu botol kecil, mengangkatnya ke arah cahaya. Cairan keemasan di dalamnya bergerak pelan mengikuti kemiringan tangannya.
“Tinggal setengah.” Ia mengguncangnya perlahan. “Kalau Pak Danang ambil sesi panjang, habis.”
Pak Danang lagi.
Namanya muncul begitu saja di tengah percakapan tentang minyak, handuk, dan biaya operasional. Seperti aroma parfum yang tertinggal di ruangan bahkan setelah orangnya pergi jauh.
Lintang GelapAku memandang punggung Ayu. Daster birunya sedikit basah di bagian tengkuk. Ada garis tipis keringat yang membuat beberapa helai rambut menempel di kulit lehernya. Ia membuka tutup botol, menghirup aromanya sebentar, lalu menutupnya kembali dengan hati-hati.
“Kalau mahal, beli yang biasa dulu aja,” kataku.
Ayu menoleh cepat. “Nggak bisa.”
“Kenapa?”
“Pelanggan bisa tahu bedanya.”
“Semua???”
“Mungkin nggak semua. Tapi aku tahu.”
Jawaban itu membuatku diam.
Ayu bukan hanya menjual pijatan. Ia menjual rasa percaya. Dan untuk perempuan seperti dia, menurunkan kualitas terasa seperti mengkhianati dirinya sendiri.
. . .
Sore harinya, satu pesan lagi masuk.
Ayu membaca pesan itu saat sedang menjemur handuk di belakang. Ia tidak mengatakan apa-apa. Hanya memasukkan ponsel ke saku daster, lalu melanjutkan menggantung handuk basah di tali jemuran.
Aku berdiri di pintu belakang, memperhatikannya.
Angin sore bergerak pelan. Handuk putih bergoyang, sebagian sudah tidak seputih dulu. Ada noda minyak yang tidak sepenuhnya hilang meski dicuci berkali-kali.
“Batal lagi?” tanyaku.
Ayu mengangguk.
“Siapa?”
“Mbak Sari.”
Aku tidak tahu harus berkata apa.
“Besok mungkin kita istirahat aja,” kataku akhirnya. “Minggu nggak usah buka. Kamu juga capek.”
Ayu tersenyum kecil. “Kalau nggak ada yang reservasi, ya mau gimana lagi mas...”
Kalimat itu ringan, tapi membuat dadaku terasa tidak enak.
. . .
Malamnya, Ayu kembali duduk di ruang tengah dengan buku reservasi.
Aku menonton televisi, tapi tidak benar-benar mengikuti acara yang sedang tayang. Suara presenter tertawa terlalu keras. Iklan minyak goreng, obat maag, dan cicilan elektronik bergantian muncul di layar. Semua tampak seperti dunia lain yang lebih terang dan lebih mudah.
Lintang GelapDi meja kecil, Ayu membuka halaman minggu depan. Ia menulis beberapa nama yang masih bertahan, lalu berhenti di satu baris kosong.
Ponselnya menyala.
Ia membaca pesan itu cukup lama.
Aku pura-pura tidak melihat.
“Dari siapa?” tanyaku akhirnya, tanpa menoleh.
Ayu tidak langsung menjawab. Ia membaca ulang pesannya sekali lagi sebelum berkata,
“Pak Danang.”
Tanganku otomatis meraih remote dan menurunkan volume televisi.
Lintang Gelap“Pak Danang lagi?”
Ayu melirikku sekilas. “Iya.”
“Ada apa?”
“Dia nanya jadwal minggu besok.”
“Ohhh...”
Ayu masih menatap layar. Jempolnya menggantung di atas keyboard ponsel, tapi belum mengetik.
“Dia mau bayar paket di depan,” katanya pelan.
Aku menoleh.
“Paket?”
“Iya...”
“Paket apa?”
“Dia bilang mau ambil dua kali seminggu.”
Aku mengangkat alis. “Dua kali???”
Ayu mengangguk.
“Rajin amat...”
“Katanya badannya sering pegel akhir-akhir ini.” Ia mengangkat bahu kecil. “Banyak kerja luar kota, katanya.”
“Katanya...”
Ayu menatapku sebentar, seperti tahu nada suaraku berubah sedikit.
“Aku cuma nyampein omongannya, Mas.”
“Iya, aku tahu.”
Di layar televisi, seorang perempuan tersenyum sambil mengangkat deterjen. Semua noda hilang dalam sekali kucek. Semua masalah selesai dalam tiga puluh detik iklan.
Andai hidup sesederhana itu.
“Bayar di depan berapa?” tanyaku.
Ayu menyebut nominalnya.
Aku sampai berkedip sekali.
“SEGITU???”
“Iya.”
“Buat dua kali seminggu?”
“Iya.”
“Lunas di depan?”
Ayu mengangguk lagi.
Aku bersandar ke sofa.
Nominal itu cukup untuk membeli minyak, membayar laundry handuk, menutup sebagian belanja, dan membuat cicilan bulan berikutnya terasa sedikit lebih jauh dari tenggorokan kami.
“Wah,” gumamku. “Lumayan juga ya...”
“Lumayan,” sahut Ayu pelan.
“Bukan lumayan lagi itu.”
Ayu tersenyum tipis, tapi senyum itu tidak bertahan lama.
“Harusnya kamu senang dong,” kataku.
“Harusnya.”
“Lah?”. Aku menatapnya lebih serius. “Kok malah kayak habis dimarahi pelanggan?”
Ayu menggeser ponselnya ke meja, lalu memutar-mutarnya dengan ujung jari.
“Gatau.”
“Gatau gimana?”
Ia diam beberapa detik.
“Aku cuma nggak enak aja.”
“Nggak enak kenapa?”
“Kalau terlalu bergantung sama satu pelanggan itu nggak sehat mas...”
Aku mengangguk pelan.
Masuk akal.
Tapi tetap aja, di kondisi sekarang, uang tetaplah uang.
“Ya tapi pelanggan tetap memang begitu kan?”
“Beda.”
“Bedanya apa?”
Ayu menunduk.
Lintang Gelap“Kalau pelanggan lain batal, aku masih santai. Kalau satu orang ini berhenti...” Ia menghela napas. “Rasanya langsung kerasa banget.”
Aku tidak menjawab.
Karena aku tahu ia benar.
Ayu mengusap layar ponselnya yang sudah gelap.
“Dan aku nggak suka perasaan itu.”
“Perasaan apa?”
“Kayak... terlalu berharap.”
Aku memandang wajahnya.
Ada kelelahan di sana. Dan sedikit kekhawatiran yang tidak ia ucapkan terus terang.
“Apalagi Pak Danang,” lanjutnya lebih pelan.
Aku menangkap perubahan nada suaranya.
Bukan sekadar menyebut nama pelanggan.
Ada sesuatu yang lain di baliknya.
“Pak Danang kenapa?” tanyaku.
Ayu tersenyum tipis, tapi kali ini senyumnya terasa hambar.
“Ya... Pak Danang aja.”
Nama itu jatuh di antara kami.
Di ruang tengah yang sama, di rumah yang sama, dengan tirai linen yang sama, aku pernah duduk mendengar laki-laki itu memuji istriku terlalu jauh, membuat sesuatu dalam diriku menyala. Aku pernah membiarkan pikiranku berjalan ke tempat yang seharusnya tidak boleh disentuh seorang suami.
Dan sekarang, saat Ayu sendiri menyebut ketidaknyamanannya, aku seharusnya menangkapnya sebagai tanda bahaya.
Aku seharusnya berkata: “kalau kamu ngga nyaman, tolak saja.”
Tapi mataku turun ke buku reservasi.
Ke nama-nama yang dicoret.
Ke halaman yang semakin kosong.
Ke satu nama yang tetap bersih.
“Mungkin sementara aja,” kataku.
Ayu menoleh pelan.
Tatapannya membuatku berharap ia tidak melanjutkan pertanyaan ini. Karena begitu aku mengucapkan kalimat itu, aku langsung tahu ada sesuatu yang salah di dalamnya.
Seolah aku sudah berkali-kali mengulang jawaban itu di kepala sebelum Ayu sempat bertanya.
“Sementara?” ulangnya.
Aku mengangguk. “Iya. Sampai keadaan agak normal lagi.”
“Normal yang gimana?”
Pertanyaan itu membuatku terdiam sesaat.
“Ya... sampai pelanggan lain mulai balik lagi,” jawabku akhirnya. “Kalau jadwalmu udah penuh lagi, kamu nggak perlu terlalu bergantung ama dia.”
Ayu tidak langsung bicara.
Ia hanya menatapku, seolah sedang mencoba memastikan apakah aku benar-benar percaya pada kata-kataku sendiri.
“Aku tetap harus jaga batas, Mas.”
“Iya...”
“Nggak peduli dia bayar berapa.”
“Iya….”
“Aku nggak mau yang aneh-aneh.”
Aku mengangguk lebih cepat dari yang seharusnya. “Ya jangan.”
“Kalau dia mulai macam-macam, aku tolak.”
“Harus.”
“Walaupun dia pelanggan royal.”
Kalimat itu menusuk lebih tepat dari yang Ayu sadari.
Aku menarik napas pendek.
“Harus,” ulangku, kali ini lebih pelan.
Ayu masih memandangku.
Ada ragu di wajahnya. Bukan karena ia bingung harus bagaimana. Justru karena ia sudah tahu apa yang harus dilakukan. Mungkin ia hanya menunggu apakah aku akan berkata lebih tegas.
Misalnya: “kalau gitu jangan diterusin…”
Tapi aku tak mengatakan itu.
Aku hanya diam dan membiarkan suasana menjadi canggung.
Jawaban-jawabanku terdengar masuk akal.
Bahkan terlalu masuk akal.
Seolah aku sedang mendukung prinsip Ayu dan membantunya menjaga batas.
Padahal jauh di dalam hati, aku tahu itu tidak sepenuhnya benar.
Aku tidak benar-benar menghentikannya.
Aku hanya memberi alasan agar semuanya bisa tetap berjalan dengan normal.
…
Ayu mengambil ponselnya lagi.
Ia mengetik sebentar.
Lalu berhenti.
Menghapus.
Mengetik lagi. Cahaya layar ponsel yang berpendar di kegelapan kamar membuat kerutan di dahinya terlihat jelas.
Aku menunggu, memandangi profil wajahnya dari samping, tapi memilih tidak bertanya.
Akhirnya ia meletakkan ponsel dengan posisi layar menghadap ke bawah.
“Besok aja aku balas,” katanya, suaranya terdengar seperti sedang meyakinkan dirinya sendiri.
Aku mengangguk dalam gelap.
Malam itu, kami tidur tanpa membicarakan Pak Danang lagi.
Tapi nama itu seperti tertulis dengan tinta hitam di langit-langit kamar kami. Menatapku balik, menunggu salah satu dari kami membuat kesalahan.
bersambung...
Lintang GelapKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.