Chapter 7
Istriku Sang Terapis - 17 Juni 2026 - 3.099 kata
Dua minggu setelah malam itu, aku mulai mengerti bahwa sebuah rumah tidak selalu berubah karena ledakan besar. Kadang, rumah berubah karena hal-hal kecil. Satu nama yang dicoret dari buku reservasi. Satu pesan pelanggan yang minta jadwal diundur. Satu struk belanja yang nominalnya lebih panjang dari biasanya. Satu helaan napas istriku yang terdengar terlalu pelan untuk disebut keluhan, tapi terlalu berat untuk disebut biasa saja. Sabtu pagi itu, aku libur. Seharusnya, dua hari tanpa seragam dinas membuat tubuhku terasa lebih ringan. Tidak ada absensi. Tidak ada apel pagi. Tidak ada meja kantor yang penuh map cokelat dan disposisi. Tidak ada suara kepala seksi memanggil dari balik sekat ruangan. Aku hanya ingin bangun sedikit siang, minum teh hangat, lalu duduk di depan televisi sambil membiarkan rumah berjalan dengan ritmenya sendiri. Tapi sejak membuka mata, aku sudah mendengar suara kalkulator dari ruang tengah. Tik. Tik. Tik. Suara itu pendek dan kering, seperti tetes air yang jatuh satu-satu ke lantai kosong. Aku keluar dari kamar dengan kaus lusuh dan celana pendek. Di ruang tengah, Ayu duduk bersila di depan meja kecil. Rambutnya diikat asal, beberapa helai jatuh di pipinya. Di sebelahnya ada buku reservasi, buku kas, beberapa lembar uang pecahan lima puluh ribu dan
Chapter ini membutuhkan 4 Ink untuk dibaca. Saldo kamu saat ini 0 Ink.
Akses chapter ini bersifat pribadi dan dilindungi hak cipta. Distribusi ulang tanpa izin tidak diperbolehkan.
Masuk untuk MembeliKonten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.