Chapter 6
Istriku Sang Terapis - 4 Agustus 2026 - 3.329 kata
Sore itu, rumah kami tidak lagi beraroma cendana.
Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari terakhir, udara di ruang tengah terasa seperti rumah biasa lagi.
Ada bau nasi hangat dari magic com yang baru saja dimasak untuk makan malam, sisa tumis sawi di meja makan, dan aroma sabun cuci piring murah yang mengering di sekitar wastafel. Tidak ada suara ranjang pijat berderit. Tidak ada gumaman laki-laki dari balik tirai. Tidak ada suara minyak dituang ke telapak tangan.
Hanya ada Ayu.
Istriku tertidur di sofa ruang tengah dengan posisi miring, satu tangannya menjuntai ke bawah, hampir menyentuh lantai. Rambutnya yang hitam panjang terurai berantakan menutupi sebagian pipi. Daster batik rumahan yang ia pakai tampak kusut di bagian pinggang. Di pangkuannya, sebuah buku kas terbuka, dengan pulpen masih terselip di antara jemarinya yang lemas.
Lintang GelapAku berdiri cukup lama di ruang tamu, masih mengenakan celana bahan dan kaus dalam putih setelah pulang dari kantor dan melepas seragam dinas. Seharusnya aku membangunkannya. Seharusnya aku menyuruhnya pindah ke kamar agar punggungnya tidak sakit. Namun entah kenapa, melihatnya tertidur seperti itu membuatku enggan bergerak. Ada sesuatu pada pemandangan sore itu yang menahanku untuk tetap diam di tempat.
Ayu terlihat sangat kelelahan.
Entah kenapa, hari itu aku baru benar-benar menyadarinya.
Selama ini aku selalu melihatnya sibuk. Pagi beres-beres rumah, siang melayani pelanggan, malam masih sempat menghitung pemasukan sambil mengecek kebutuhan untuk besok. Aku terbiasa melihat Ayu bergerak terus sampai lupa kalau sebenarnya dia juga bisa kelelahan.
Sekarang ia tertidur di sofa dengan buku kas terbuka di pangkuannya. Pulpen masih terselip di sela jari. Rambutnya berantakan menutupi sebagian wajah. Tak ada senyum ramah yang biasa ia pasang saat menerima pelanggan. Tak ada nada ceria yang selalu terdengar seolah semuanya baik-baik aja.
Yang ada hanya Ayu.
Istriku yang kehabisan tenaga sebelum sempat menyelesaikan catatannya.
Aku melangkah pelan mendekat. Kursi ruang tamu sedikit berdecit saat tersenggol lututku, tapi Ayu tidak bergerak. Napasnya tetap teratur. Di meja kecil depan sofa tergeletak kalkulator tua, beberapa lembar uang tunai, botol minyak kayu putih, dan struk belanja minimarket yang belum sempat dirapikan. Semuanya tampak seperti ditinggalkan begitu saja ketika rasa kantuk akhirnya mengalahkannya.
Aku mengambil buku kas dari pangkuannya dengan hati-hati.
Di halaman itu, tulisan tangan Ayu memenuhi baris-baris tabel sederhana yang ia buat sendiri.
Senin.
Bu Rima. Punggung dan pundak. Lunas.
Rabu.
Ibu Hartati. Totok wajah. Lunas.
Kamis.
Pak Danang. Full body therapy. Tambahan.
Mataku berhenti pada kata terakhir.
Tambahan.
Tulisan itu kecil, lebih kecil dari tulisan lainnya. Seolah Ayu sendiri ragu apakah kata itu pantas dicatat di sana. Tidak ada nominal di sampingnya. Hanya tanda garis kecil, lalu halaman itu berhenti. Pulpen yang tadi berada di tangan Ayu mungkin jatuh dari genggamannya sebelum ia sempat menyelesaikan catatan.
Aku menatap jemarinya.
Telapak tangan Ayu kemerahan. Di pangkal ibu jarinya ada kulit yang sedikit menebal. Kukunya pendek, bersih, tanpa kuteks. Jari-jari itu bukan jari perempuan manja yang tidak pernah bekerja. Itu tangan yang setiap hari menekan otot orang lain, mengurut punggung yang kaku, menahan beban tubuh klien yang lebih besar, meredakan pegal orang asing, lalu pulang ke dapur untuk mengaduk sayur dan mencuci piring.
Tangan yang sama.
Tangan yang dulu menggenggam lenganku di bawah gerimis, ketika kami masih belum punya apa-apa selain motor bebek tua dan keyakinan konyol bahwa cinta bisa mengalahkan cicilan.
Aku duduk di lantai, bersandar pada sofa, dekat dengan kaki Ayu. Tanganku masih memegang buku kas. Dari jarak sedekat itu, aku bisa mencium aroma tubuhnya yang samar. Bukan cendana. Bukan lavender. Bukan minyak pijat mahal yang biasa ia pakai untuk pelanggan.
Hanya bau sabun mandi, keringat tipis, dan lelah.
Aroma yang jauh lebih jujur daripada semua botol minyak di rak ruang terapi.
Di antara halaman buku kas itu, ada selembar kertas tua yang terselip. Warnanya sudah agak menguning di pinggir. Lipatannya rapuh, seolah sudah terlalu sering dibuka lalu disimpan kembali. Aku menariknya perlahan.
Sebuah foto kecil jatuh ke lantai.
Aku mengambilnya.
Ayu tampak jauh lebih muda di foto itu. Mungkin lima atau enam tahun yang lalu. Rambutnya diikat rapi ke belakang. Ia mengenakan seragam krem dengan name tag kecil di dada kananya.
Sekar Ayu.
Senior Therapist.
Senyumnya canggung. Ia berdiri di depan lobi spa hotel yang terang, dengan lampu kristal menggantung di belakangnya. Di sebelahnya ada tiga perempuan lain, semuanya memakai seragam yang sama. Tapi mataku hanya tertuju pada Ayu. Pada caranya tersenyum. Ia terlihat bangga, tapi tetap malu-malu menunjukkannya.
Lintang GelapAku masih ingat malam setelah foto itu diambil.
Waktu itu aku menjemputnya di depan hotel, hampir pukul sebelas malam. Hujan baru saja reda, menyisakan jalanan licin dan bau aspal basah. Aku datang dengan motor bututku, jas hujan biru masih menggantung di stang, sementara Ayu berdiri di bawah kanopi lobi sambil memeluk tas kain.
Begitu melihatku, ia tersenyum.
Senyum yang sama seperti di foto itu, tapi lebih hidup karena matanya ikut menyala.
“Mas,” panggilnya waktu itu, setengah berlari kecil menghampiriku. “Aku naik jabatan.”
Aku pura-pura tidak terlalu kaget, padahal dada rasanya ikut mengembang. “Naik jabatan gimana?”
Ayu mengeluarkan name tag dari tasnya, menunjukkannya seperti anak kecil menunjukkan nilai ulangan. “Senior Therapist.”
Aku membaca tulisan itu di bawah cahaya lampu lobi. Name tag itu kecil. Murah mungkin. Hanya potongan logam berwarna emas dengan huruf hitam. Tapi di tangan Ayu, benda itu seperti piala.
“waaaah,” kataku waktu itu. “Istriku udah senior.”
Ayu tertawa malu. “isshhh.. belum istri, Mas... masih calon.”
“Sebentar lagi juga jadi istri...”
Ia menunduk, menggigit bibir bawahnya. Di bawah lampu lobi, wajahnya tampak lelah, tapi bahagia. Ada kantung mata tipis. Rambutnya yang diikat rapi mulai berantakan di dekat telinga. Bau minyak lavender dan peppermint menempel di seragamnya. Saat ia naik ke jok belakang, tangannya melingkar di pinggangku. Telapak tangannya terasa panas.
“Tanganmu kenapa sayang?” tanyaku.
“Nggak apa-apa mas...”
“Kok hangat gini...”
“Biasa... tadi banyak klien.”
Aku menyalakan motor, tapi belum menarik gas. “Sakit ngga?”
Ayu diam sebentar. Lalu jawabannya keluar pelan, hampir kalah oleh suara kendaraan yang lewat.
“Sakit sih... tapi seneng.”
Aku menoleh sedikit. “Kok bisa sakit, tapi seneng?”
Ia menyandarkan dagunya di bahuku. Suaranya terdengar dekat di telinga.
“Soalnya sekarang ada yang percaya ama tanganku, Mas.”
Kalimat itu masih menempel di kepalaku bahkan setelah bertahun-tahun.
"Ada yang percaya sama tanganku."
Bagi orang lain, tangan mungkin hanya bagian tubuh. Bagi Ayu, tangan adalah harga dirinya. Ia tidak punya ijazah tinggi. Tidak punya keluarga kaya. Tidak punya koneksi pejabat. Ia hanya punya tangan, ketekunan, dan kesabaran yang kadang membuatku merasa malu sebagai laki-laki.
Malam itu, setelah aku menjemputnya, kami tidak langsung pulang. Ayu memintaku berhenti di warung tenda pinggir jalan. Ia memesan nasi goreng satu porsi, lalu membaginya berdua denganku karena uangnya ingin ia simpan.
Lintang Gelap“Buat apa disimpan?” tanyaku.
“Buat nanti...”
“Nanti apa?”
Ia mengaduk nasi goreng dengan sendok plastik, tidak langsung menjawab. Di sekitar kami, suara wajan beradu dengan spatula terdengar nyaring. Uap panas naik dari piring, membuat wajah Ayu tampak berkabut.
“Nanti... aku pengen punya tempat sendiri, Mas.”
Aku tertawa kecil. Bukan mengejek. Hanya merasa mimpinya terlalu jauh dari posisi kami waktu itu. Aku masih pegawai honorer yang menunggu kepastian yang tak kunjung datang. Ayu masih pulang malam dengan tangan pegal. Tabungan kami bahkan sering habis untuk bensin dan makan.
“Tempat sendiri gimana?”
“Aku pengen buka spa sendiri mas...” Ia tersenyum, tapi matanya serius. “nggak harus yang mewah kayak hotel... yang penting bersih, wangi, tenang, terus orang yang datang karena percaya sama aku.”
Aku ingat bagaimana ia menjelaskan semuanya malam itu: tentang rak minyak yang akan diletakkan di sudut ruangan, handuk putih yang digulung rapi, musik pelan yang mengalun tanpa mengganggu, serta lampu hangat yang membuat siapa pun merasa tenang begitu masuk. Ia juga membayangkan adanya buku reservasi yang tertata rapi, ruang khusus perempuan, dan aturan yang jelas agar tempat itu tetap nyaman. Baginya, tidak boleh ada layanan aneh-aneh, dan tidak boleh ada pelanggan yang merasa berhak bersikap kurang ajar hanya karena mereka membayar.
“Kalau ada yang kurang ajar gimana?” tanyaku sambil menyendok nasi goreng ke piring kecilnya.
Ayu langsung mendengus. “Yaaa aku usir lah.”
“Segampang itu?”
“Iyaaaa.”
“Kalau dia ngotot?”
Ayu meletakkan sendoknya. Lalu dengan wajah serius yang dibuat-buat, ia melipat lengan baju seragamnya sampai siku.
“Aku kunci tangannya…”
Aku tertawa. “Wiiihh… sok jago.”
“iihhh beneran... aku kan belajar anatomi.”
“Ooh iya? terus habis dikunci?”
“Aku teriak.”
“Terus?”
“Aku lapor suamiku.”
Aku mengangkat alis. “Suamimu siapa?”
Ayu menahan senyum, lalu mencolek pinggangku dari belakang sampai aku hampir menjatuhkan sendok.
“Yaaa kamu, Mas.... siapa lagi?”
“Laaah, kita aja belum nikah.”
“kan nanti….”
“Nanti kapan?”
“pokoknya nanti...”
Ia menjawab sambil menunduk malu, tapi sudut bibirnya tidak bisa berhenti tersenyum.
Saat itu, entah kenapa, dadaku terasa penuh oleh sesuatu yang sederhana. Bukan karena aku merasa hebat. Bukan karena aku merasa kuat.
Tapi karena dalam semua rencana gilanya tentang masa depan, dalam spa kecil yang bahkan belum ada bentuknya, dalam pelanggan-pelanggan imajiner yang belum pernah datang, Ayu selalu menempatkanku di sana.
Sebagai orang pertama yang akan ia panggil kalau dunia mulai kurang ajar padanya.
Dan saat itu, rasanya aku adalah laki-laki paling dibutuhkan di dunia.
Lintang GelapBukan karena aku punya banyak uang. Bukan karena aku bisa membeli rumah besar. Tapi karena dalam bayangan masa depan Ayu, aku ada di sana. Bukan sebagai penonton. Bukan sebagai bayang-bayang. Melainkan sebagai pagar. Sebagai tempat ia pulang. Sebagai laki-laki yang akan berdiri di depan kalau ada orang yang mencoba merendahkan kerja kerasnya.
Aneh, bagaimana waktu bisa mengubah bentuk seseorang tanpa perlu mengubah wajahnya.
Sekarang rumah kecil itu benar-benar ada. Ruang terapi itu benar-benar berdiri di ruang tamu kami. Rak minyak ada. Handuk putih ada. Lampu hangat ada. Buku reservasi ada. Nama Ayu ada di papan kuningan kecil yang menghadap jalan.
Semua yang dulu ia impikan sudah hampir lengkap.
Hanya satu yang mulai bergeser.
Aku.
Aku tidak lagi yakin sedang menjadi pagar atau justru menjadi orang yang diam-diam membuka gerbang.
Ayu bergerak di sofa. Napasnya berubah. Aku segera melipat kembali kertas tua itu dan menyelipkan foto ke halaman buku kas. Ia membuka mata perlahan, masih setengah sadar.
“Mas?”
“hmmm?”
Kelopak matanya bergerak-gerak beberapa kali sebelum benar-benar terbuka. Ia mengucek mata dengan punggung tangan, lalu mendadak menegakkan badan saat melihat buku kas sudah berpindah ke tanganku.
Lintang Gelap“Lho...” Ia berkedip. “aku ketiduran ya?”
“Iyaaa.”
Aku menahan senyum. “Lumayan... Sampai ngorok dikit.”
“Apaan sih!” Ayu langsung duduk tegak dan menepuk lenganku pelan. “aku nggak pernah ngorok tau!”
“Ya udah, mungkin suara sofa.”
“Mas...” Ia mendelik setengah mengantuk, lalu buru-buru merapikan rambutnya yang berantakan. “aduh, maaf yaa mas... aku belum sempet beresin rumah.”
“Tenang aja. Udah mas beresin tadi.”
Padahal belum. Piring masih ada di wastafel, lantai masih berdebu. Tetapi aku tak ingin ia langsung berdiri dan bekerja lagi hanya karena merasa bersalah.
Ayu otomatis melirik ke arah dapur, seolah ingin memastikan sendiri. Setelah itu pandangannya berpindah ke jam dinding.
“Sekarang jam berapa mas?”
“Hampir magrib.”
“Ya ampun...” Ia menghela napas panjang sambil memijit pangkal hidungnya. “Aku niatnya cuma nyatet pemasukan sebentar… Sebentar doang... Eh malah tumbang di sini.”
“Itu tandanya kamu kecape’an...”
“Enggak kok.”
“Huuuuuuuu.”
“Apa mas?”
“Capek ya capek.”
Ia mendecak pelan, lalu menyandarkan punggung ke sofa. “Mas tuh ya...”
“Apa lagi?”
“Kalau aku bilang nggak capek, ya nggak capek.”
Aku hanya menatapnya.
Ayu membalas tatapanku beberapa detik, lalu akhirnya menyerah sendiri.
“Ya... sedikit,” gumamnya. “sedikit banget.”
Itu kebiasaan Ayu yang paling keras kepala. Kalau capek, dia jarang mengaku. Dia selalu bilang baik-baik saja, meski sebenarnya sudah lelah. Seolah kalau dia mengaku capek, semua yang sudah susah payah dia bangun akan ikut goyah.
“Tanganmu merah,” kataku.
Ayu menoleh ke telapak tangannya sendiri. Ia membuka dan menutup jemarinya beberapa kali sebelum tersenyum kecil.
“Biasa. Tadi pelanggan terakhir pundaknya keras banget... Serius, Mas. Kayak lagi mijet tembok.”
“Separah itu?”
“Lebih.” Ia terkekeh pelan. “Aku sampai curiga dia tidur sambil meluk batu bata.”
Aku ikut tersenyum.
“Pelanggan perempuan?”
Ia mengangguk. “Iyaa… Ibu Hartati. Yang punya toko kue itu lhoo..”
“Oh...”
“Katanya habis bantu angkat oven… ovennya segede mobil kali yaa”
Aku ikut mengangguk, meski pikiranku masih tertahan pada satu nama di buku kas.
Pak Danang.
Tambahan.
Ayu meraih buku kas dari tanganku. Gerakannya biasa saja, tapi agak cepat. Mungkin ia hanya ingin membereskan pekerjaannya. Mungkin ia takj ingin aku melihat catatan yang belum selesai. Mungkin aku aja yang mulai terbiasa mencurigai hal-hal kecil agar bisa merasakan sesuatu yang tidak seharusnya.
“Uangnya udah kamu masukin semua?” tanyaku.
Ayu membuka halaman buku, lalu menghitung sekilas lembaran uang di meja. “Baru sebagian sih mas…. yang buat belanja besok udah aku pisahin, terus handuk putih harus beli lagi, beberapa udah mulai kusam.”
“Pakai uang dari laci aja.”
“Jangan... itu buat cicilan.”
Ia menjawab cepat. Sangat cepat.
Aku memandang wajahnya. Di bawah cahaya lampu ruang tengah, garis lelah di sekitar matanya terlihat jelas. Tapi ada juga sesuatu yang lain. Semacam kebanggaan kecil yang ia tahan agar tidak tampak berlebihan.
“Cicilan bulan ini aman, Mas,” katanya pelan. “Kalau pelanggan tetapnya nggak batal, mungkin kita bisa bayar sebelum tanggal lima.”
"Sebelum tanggal lima."
Kalimat sederhana itu seharusnya membuatku lega. Bagi pasangan seperti kami, bisa membayar cicilan sebelum jatuh tempo adalah kemenangan kecil yang pantas dirayakan. Tak ada surat peringatan. Tak ada telepon dari bank. Tak ada wajah tegang di meja makan saat akhir bulan datang.
Tapi entah kenapa, malam itu kemenangan kecil itu terasa punya bau yang asing.
Bukan bau cendana.
Bukan bau sabun.
Bukan bau nasi hangat.
Bau parfum mahal yang pernah tertinggal di ruang terapi kami.
“Bagus dong,” kataku akhirnya.
Ayu tersenyum. Senyum itu tulus. Lelah, tapi tulus.
“Iya, Mas. aku seneng…. akhirnya usahaku ada hasilnya.”
Aku menelan ludah.
"Usahaku."
Bukan usaha kami.
Ayu mungkin tak bermaksud apa-apa saat mengucapkan kalimat itu. Tapi entah kenapa, kata “usahaku” membuat dadaku terasa sedikit aneh.
Selama ini aku selalu menganggap semua yang terjadi di rumah ini adalah hasil kerja kami berdua. Aku yang membayar listrik dan kebutuhan rumah. Aku yang mengizinkan ruang tamu berubah menjadi ruang terapi. Aku juga yang berdiri di samping Ayu saat usaha ini baru dimulai.
Tapi kalau dipikir-pikir lagi, yang benar-benar menjalankannya setiap hari adalah Ayu.
Yang berdiri berjam-jam melayani pelanggan adalah Ayu. Yang telapak tangannya memerah karena bekerja adalah Ayu. Yang harus tersenyum ramah kepada orang-orang yang datang adalah Ayu. Yang mendengarkan keluhan mereka, menahan komentar-komentar yang kadang tak nyaman, lalu pulang dalam keadaan lelah juga Ayu.
Dan yang perlahan mengubah mimpinya menjadi penghasilan nyata, lembar demi lembar, memang Ayu.
Aku hanya mencatatnya dalam kepala sebagai pembenaran.
“Mas kok diem?” tanyanya.
“Engga… mas cuma inget dulu...”
“Inget apa?”
Aku menunjuk buku kas di tangannya. “Kamu pernah bilang pengen punya tempat sendirikan? yang kecil aja, yang penting orang percaya sama tanganmu.”
Ayu terdiam.
Matanya yang tadi masih mengantuk perlahan berubah lunak. Ia menunduk, mengusap sampul buku kas dengan ibu jari.
“Mas masih inget?”
“Mas ngga akan pernah lupa...”
Ia tersenyum malu, seperti gadis di foto lama itu. “Aku aja hampir lupa pernah ngomong begitu.”
“Kamu ngomongnya sambil makan nasi goreng pinggir jalan sih...”
Ayu tertawa kecil. Tawa yang pelan, pecah sedikit karena kantuk. “Iya yaaa? waktu itu aku baru naik jadi senior therapist.”
“Iyaa… kamu pamer name tag.”
“ih, bukan pamer tau!”
“Pameeerrrr…..”
“Engga, Mas... aku cuma seneng aja...”
“Iyaa itu namanya pamer tapi versi sopan...”
Ayu mencubit pelan lenganku. Tidak sakit. Hanya cukup untuk mengembalikan sesuatu yang hangat di antara kami. Sesuatu yang akhir-akhir ini sering tertutup oleh tirai linen, buku kas, dan suara klien laki-laki dari ruang depan.
Untuk beberapa detik, aku melihat Ayu yang dulu.
Ayu yang makan nasi goreng sepiring berdua denganku. Ayu yang menyimpan uang receh di dompet kecil. Ayu yang menganggap name tag senior therapist sebagai pencapaian terbesar. Ayu yang percaya bahwa kalau seseorang bekerja dengan bersih, hidup akan membalas dengan cara yang bersih juga.
Aku ingin memeluknya saat itu.
Tapi sebelum tanganku bergerak, ponsel Ayu di meja kecil menyala.
Cahayanya memantul di wajah kami.
Ayu menoleh lebih dulu. Matanya membaca nama pengirim sebelum aku benar-benar siap.
Pak Danang.
Tak ada suara yang heboh. Hanya layar yang menyala beberapa detik disertai getaran, lalu menampilkan potongan pesan.
Pak Danang: Mbak Ayu, soal paket khusus itu saya serius. nanti saya bayar di muka.
Ayu langsung mengambil ponselnya.
Gerakannya tidak panik. Tapi juga tidak sepenuhnya santai.
Ia membaca pesan itu, lalu menghela napas kecil.
“Pak Danang?” tanyaku, meski jawabannya sudah jelas.
“Iyaaa.” Ayu meletakkan ponsel dengan layar menghadap ke bawah. “dia nanya jadwal.”
“Malam-malam?”
“Mungkin dia baru sempet, tau sendiri mas.. orang kaya, pasti sibuk.”
Aku mengangguk pelan.
Di dalam kepalaku, kata-kata itu menyusun dirinya sendiri seperti berkas yang menunggu disposisi.
Paket khusus.
Bayar di depan.
Secara ekonomi, kalimat itu masuk akal. Sangat masuk akal malah. Pelanggan tetap. Pembayaran di muka. Jadwal lebih rapi. Risiko pembatalan lebih kecil. Dalam bahasa kantor, itu efisiensi. Dalam bahasa rumah tangga, itu bantuan. Dalam bahasa cicilan, itu napas tambahan.
Tapi dalam bahasa yang tak berani kuucapkan, itu terdengar seperti pintu yang mulai diketuk dari sisi yang salah.
Ayu menatapku. “Mas ngga apa-apa?”
Aku menatap tangannya. Tangan yang dulu ia banggakan karena orang percaya padanya. Tangan yang malam ini merah karena bekerja. Tangan yang ingin membangun tempat kecil, bersih, tenang, dan terhormat.
Lalu aku menatap ponsel yang terbalik di meja.
“Ngga apa-apa,” kataku.
Ayu masih menatapku beberapa detik, seperti ingin memastikan. Lalu ia tersenyum tipis.
“Aku juga belum jawab kok... besok aja, sekarang aku ngantuk banget.”
“Tidur sanaaa.”
“piringnya—”
“Mas yang cuci.”
“bener?”
“beneerrrrrrr.”
Ia menatapku dengan wajah ragu, lalu tertawa pelan. “tumbeen...”
“Pegawai negeri juga bisa kali nyuci piring.”
“iya deh.. iyaa dehh, Pak PE EN ES.”
Ayu berdiri, membawa buku kas dan ponselnya. Langkahnya lambat menuju kamar. Di depan pintu, ia berhenti sebentar, menoleh padaku.
“Mas.”
“hmmmm?”
“Makasih ya.”
“Buat apa?”
Ia mengangkat buku kas sedikit. “Udah percaya sama aku.”
Kalimat itu jatuh pelan, tapi bekasnya sangat dalam.
Aku tidak langsung menjawab.
Ayu mungkin mengira kepercayaanku adalah bentuk cinta. Mungkin memang begitu awalnya. Dulu, saat ia takut membuka spa di rumah karena khawatir omongan tetangga, akulah yang bilang bahwa orang baik tidak perlu takut pada pekerjaan baik. Akulah yang meyakinkan bahwa selama ia menjaga batas, semua akan aman. Akulah yang berdiri di sampingnya saat papan nama kuningan itu pertama kali dipasang.
Tapi malam itu, ketika ia mengucapkan terima kasih karena aku percaya padanya, ada bagian dari diriku yang justru terasa kotor.
Karena aku tahu, kepercayaanku tidak lagi sepenuhnya bersih.
Kepercayaanku sudah bercampur rasa ingin tahu.
Bercampur diam.
Bercampur pembiaran.
Bercampur sesuatu yang tidak pantas tumbuh di dada seorang suami.
“Iyaaa, yang,” jawabku akhirnya. “Mas percaya...”
Ayu masuk ke kamar.
Pintu tertutup pelan.
Aku berdiri sendirian di ruang tengah. Di meja kecil, cahaya lampu menimpa kalkulator, struk belanja, dan beberapa lembar uang yang belum sempat dimasukkan ke amplop. Rumah kami kembali hening.
Aku berjalan ke dapur, membuka keran, lalu mulai mencuci piring satu per satu.
Air dingin mengalir di sela jemariku. Sabun berbusa di atas piring makan. Sendok beradu pelan dengan wastafel stainless. Semua terdengar sangat biasa. Terlalu biasa untuk rumah yang diam-diam mulai menyimpan sesuatu di bawah lantainya.
Saat mengeringkan tangan, mataku tertuju pada sofa tempat Ayu tadi tertidur.
Di sana, di dekat kaki meja kecil, foto lama Ayu masih tergeletak. Rupanya belum ikut terselip kembali ke dalam buku kas.
Aku mengambilnya.
Istriku yang masih muda tersenyum canggung di depan lobi hotel, dengan name tag senior therapist di dadanya. Matanya bersih. Penuh harapan. Penuh keyakinan bahwa kerja keras akan membawanya ke tempat yang lebih baik.
Aku menatap foto itu lama sekali.
Lalu dari kamar, suara ponsel Ayu bergetar lagi.
Pendek.
Sekali.
Tak ada yang keluar. Tak ada Ayu yang membukanya. Tak ada percakapan. Hanya getaran kecil dari balik pintu kamar, cukup pelan untuk diabaikan, tapi cukup jelas untuk kudengar.
Aku masih memegang foto itu.
Di wajah Ayu muda, senyum itu tetap tidak berubah.
Lintang GelapSaat melihat foto itu, aku tiba-tiba mengerti sesuatu.
Pak Danang tidak datang dengan cara yang kasar atau memaksa. Ia tidak langsung merusak apa pun.
Ia datang lewat hal yang selama ini paling dijaga Ayu.
Lewat pekerjaannya.
Lewat kebanggaannya pada kemampuannya sendiri.
Lewat mimpi kecil yang pernah ia bangun dari nol.
Aku berdiri di dapur dengan tangan masih basah, memandangi foto lama itu cukup lama.
Lalu terdengar lagi ketukan dari arah kamar.
Kali ini lebih panjang.
Dan entah kenapa, suara itu membuat dadaku terasa tidak nyaman.
Seolah yang sedang diuji bukan sekadar batas rumah kami, melainkan sesuatu yang jauh lebih dalam dari itu.
bersambung…
Konten LGU dilindungi hak cipta dan hanya untuk akses pribadi di platform ini.